Suatu Sore Eksklusif di Kawasan Kota Lama Semarang

Saya datang terlalu siang.

Berfotolah sebelum dilarang dan baterai habis.
Saya tahu itu. Matahari masih terik tatkala Bus Trans Jateng menurunkan saya di Halte Layur Semarang. Apesnya, saya ternyata salah turun. Tempat yang saya dambakan masih cukup jauh. Merundungi nasib bukanlah hal yang bisa dilakukan. Seiring langkah kaki yang berirama menuju ke arah selatan, tetiba saya menemukan jembatan besar. Kombinasi warna merah dan jingga jembatan yang menyala sangat pas jika dipadupadankan dengan cuaca terik kala itu. Jembatan Mberok, nama jembatan besar itu. Penghubung tempat yang saya dambakan dengan dunia luar. Tempat para penguasa Belanda begitu digdaya melakukan pemisahan penduduk berdasarkan warna kulit. Kota Lama Semarang. Itulah tempat yang saya maksud.

Jembatan Mberok.
Saya bertemu dengan beberapa wanita baya yang menggendong dagangan atas jembatan. Dari arah Stasiun Semarang Tawang, mereka berjalan keluar dari tempat yang dulu begitu eksklusif ini. Entah berapa pundi rupiah yang mereka dapat, yang jelas mereka kini menuju tempat pemberhentian Trans Semarang. Kembali ke istana mungil masing-masing dan menikmati masa istirahat senja dengan tenang.

Selepas melintasi jembatan, saya menemukan kegamangan kembali. Beberapa percabangan yang menghadirkan aneka bangunan tua membuat saya gamang untuk melangkah. Diantara percabangan itu, saya memutuskan menyusuri Jalan Empu Tantular. Di ujung jalan ini, berdiri megah sebuah bangunan tua dengan kolom-kolom yang menopang jendela. Pandangan saya kemudian teralih kepada motif-motif ukiran candi Jawa yang berada pada dua menara ringan di sisi kiri dan kanan.

Gedung Pelni
Aha, saya tiba-tiba bersorak kegirangan. Saya menemukan bangunan Gaya Ekletisisme dan menduga bangunan bercat putih milik PT Pelni ini dibangun sekitar tahun 1910 hingga 1925. Penemuan bangunan yang mirip dengan bangunan di kawasan Jalan Rajawali Surabaya ini membuat saya semakin semangat. Langkah pun kini beralih ke Jalan Merpati yang tampak cukup ramai dengan para penggila foto. Seperti yang saya duga, mereka akan datang mencari kebanggaan dengan datang ke sini.
Baca juga: Menikmati Restorasi Jalan Tunjungan; Menikmati Sisa Guyubnya Orang Surabaya
Sepanjang jalan itu, gaya bangunan yang saya temui masih hampir-hampir mirip. Antara Gaya Belanda dan Gaya Ekletisisme. Dominasi dua gaya bangunan yang dibangun awal 1900an hingga 1920an itu disebabkan masa itu terjadi pelaksanaan sistem desentralisasi dari pemerintah pusat kolonial di Batavia. Kota-kota di Jawa termasuk Semarang diberi wewenang untuk mengatur sendiri wilayahnya namun dengan pengawasan pemerintah pusat. Sistem desentralisasi ini membuat perkembangan ekonomi yang cukup signifikan. Perkembangan yang sebenarnya sudah terjadi sejak Terusan Suez dibuka sehingga jalur pelayaran Asia-Eropa semakin ramai dan diikuti ramainya kegiatan pelayaran di Semarang. Aneka bangunan pun terbangun yang kini masih bisa saya saksikan di kawasan Kota Lama ini.

Teruslah memotret
Berdiri megah dengan kekhasan masing-masing, aneka bangunan tersebut ternyata menyisakan sebuah masalah. Walau tergambar secara implisit, masalah itu terekam dalam jejak sejarah Semarang. Apalagi, kalau bukan masalah penduduk. Perkembangan kota yang semakin luas membuat daerah di sekitar Kota Lama ini menjadi semakin padat. Lingkungan kumuh seperti drainase buruk menjadi momok bagi warga yang bermukim di kawasan luar sekitar Kota Lama kala itu.

Kematian yang melanda banyak penduduk terutama pribumi ini membuat pemerintah kolonial kala itu membuat desain kota baru dengan membangun pemukiman di kawasan perbukitan seperti daerah Candi. Kini, daerah itu dikenal dengan Semarang atas. Usul pemindahan ini dikemukakan oleh dr. De Vogel, seorang dokter humanis yang tak tega melihat warga Semarang terus berjatuhan akibat wabah penyakit pes. Walau ditentang, proyek perluasan kota ini akhirnya terlaksana. Namun, tetap saja menyisakan sebuah eksklusivitas bagi daerah Kota Lama ini. Sebuah ironi karena seakan tak tersentuh oleh kaum pribumi.

Eksklusivitas yang hingga kini masih bisa saya rasakan ketika melihat sebuah bangunan besar yang dijaga oleh beberapa petugas keamanan. Sebuah museum 3 dimensi dengan harga tiket yang cukup tak terjangkau berdiri megah di depan saya. Sempat ingin merasakan sensasi museum yang diberi nama mirip perbatasan Korea Utara dan Korea Selatan itu, niat tersebut saya urungkan. Menyimpan beberapa lembar rupiah untuk menikmati gemerlap malam dari Bukit Gombel mungkin jadi pilihan tepat.
Museum DMZ
Saya memilih duduk di sebuah bangku yang berada tak jauh dari museum itu. Alunan Lagu Tanjung Mas Ninggal Janji dalam aransemen musik bossa nova pun menghentak. Menyeruak diantara para pengunjung yang terus tanpa ampun memotret diri demi kebanggaannya. Kebanggaan yang begitu paripurna dengan leluasanya ruang gerak bagi mereka. Tak seperti tempat serupa yang saya temui di Malioboro, mereka masih bisa melakukan jepretan tanpa takut tersenggol dengan ramainya pejalan kaki. Kondisi yang akan menghasilkan karya fotografi luar biasa.
Baca juga: Mengenal Gaya Bangunan di Jalan Rajawali, Denyut Nadi Kejayaan Kota Bawah Surabaya
Tempat ini begitu luas. Saya baru merasakan itu ketika kembali menyusuri jalan-jalan dengan nama-nama burung ini. Jalan Branjangan menjadi peristirahatan saya selanjutnya. Di jalan yang cukup teduh ini, saya kembali menemukan gaya bangunan Gaya Ekletisisme dengan motif dan jendela lengkung mendominasi. Dibanding tempat lain, jalan ini cukup sepi. Tak tampak penggila foto yang berseliweran.

Sejenak, saya mencoba menerawang suasana. Membayangkan hidup saat Sarekat Islam mulai tumbuh di kota ini. Menyuarakan ketidakadilan pemerintah kolonial, gelora semangat organisasi itu masih bisa saya rasakan. Apalagi, beberapa pesepeda ontel berseliweran menambah kesempurnaan terawangan saya. Sayang, beberapa mobil yang melintas membuyarkan lamunan saya. Kembali, saya harus realistis. Ini sudah 2018.

Nostalgia paripurna.
Karena harus realistis, saya mencoba realistis terhadap waktu yang ternyata tak terasa semakin sore. Saya pun beranjak menuju Jalan Garuda. Kontras dengan Jalan Branjangan, jalan ini cukup ramai. Tampak anak-anak milenial mengekspresikan kegembiraannya dengan menenteng kamera. Lagi dan lagi, ratusan jepretan kembali terekam. Masih didominasi latar bangunan dengan berjendela lengkung, suasana tampak semarak dengan hadirnya beberapa ikon pemanis seperti becak kayuh.

2018 rasa 1918

Siapkan peralatan perang,
Tak jauh dari sana, suasnaa semakin ramai dengan kehadiran Taman Garuda yang telah dipermak sedemikian rupa oleh Pemkot Semarang. Jajaran tanaman hias memenuhi taman itu ditambah cukup banyak tempat duduk membuat pengunjung betah berlama-lama untuk menikmati nostalgia. Tak jarang, mereka juga menikmati seduhan kopi hangat yang dijajakan warung kopi di sekitarnya. Walau diburu waktu, tak afdol rasanya saya tak menikmati sejenak suasana indah sore itu.

Taman Garuda
Suasana indah namun cukup mengganggu dengan banyaknya anaka-anak kecil hingga orang dewasa yang asyik bermain gawai tanpa melihat kondisi sekeliling. Pasti, mereka adalah penduduk sekitar. Fasilitas internet gratis di taman ini rupanya juga menimbulkan kecenderungan baru. Jika dulu Kota Lama dikenal dengan kawasan eksklusif dengan pemisahan warna kulit, kini sifat eksklusif itu berubah. Tak lain dan tak bukan, eksklusif dengan gawai masing-masing. Ah sudahlah, itu hak mereka menikmati indahnya sore. Toh, sekarang tak ada lagi pemisahan ras antara pribumi dan bukan di kota ini. Semuanya sama, boleh menikmati asal dengan bijak.
Eksklusif bermain gawai
Perjalanan saya akhiri menuju salah satu Gereja Protestan yang begitu saya kagumi. Gereja yang termasyhur ini bernama GPIB Immanuel alias Gereja Blenduk. Bangunan megah dengan kubah besar ini berdiri di dekat taman yang diberi nama Taman Srigunting. Tak seperti tempat sebelumnya, suasana begitu ramai. Memotret dengan nyaman cukup sulit di tempat ini. Padahal, di dalam imajinasi saya, keaslian suasana "tempo dulu" yang dihadirkan di bagian ini tak seasli bagian Kota Lama yang lain. Entah karena selera, yang jelas nuansa jadul tanpa banyak perubahan sana-sini membuat saya lebih kerasan.
Taman Srigunting
Tur singkat ini harus saya akhiri di jalan sempit menuju Satlantas Polrestabes Semarang. Masih banyak pojok-pojok Kota Lama yang belum saya jelajahi. Namun, saya cukup puas dengan perjalanan kaya makna di sebuah "kota kecil" ini. Kota kecil nan eksklusif yang seakan terpisah dari lingkungan sekitarnya.

Sumber:
Luar jaringan
Colombijen, F, dkk. 2005. Kota Lama, Kota Baru. Sejarah Kota-kota di Indonesia Sebelum dan Setelah Kemerdekaan.  Yogyakarta : Penerbit Ombak.
Dalam jaringan
(1), (2)

26 comments:

  1. wah kota lama Semarang memang menarik ya mas.
    saya suka setiap bangunan lama di sana. sekitar 2 tahun lalu saya sempat keliling kota lama dan yang saya suka, kalau malam saya bisa nonton keroncong di belakang gang yang dulunya itu tempat jual beli ayam.
    menarik, bisa nyanyi juga dan request lagu hihi
    jadi rindu semarang, mas :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener mbak
      keroncongnya katanya seru tapi gak liat karena ke gombel huhu
      semarang emang ngangeni

      Delete
  2. Suasana sorenya bikin pengen kesana, bersantai sembari sepedahan. Btw, itu busnya kok desainnya sama ya, Mas. Apa hanya beda warna aja dengan yang di Jogja ya, atau memang dari sananya gitu bus trans itu :)

    Aku yang belum kesana jadi pengen merasakan suasana malamnya..he
    Kok nggak sekalian kulineran nih, Mas? he

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini bus dari kemenhub mas
      di jogja, bandung, BRT batik solo, bus surabaya-sidoarjo, sama Trans semarang juga pakai ini

      ayo ke sini mas

      kulineran dong tapi belum aku tulis mas
      nunggu jadwal hehehe

      Delete
  3. Sore di Kota Lama Semarang emang menyenangkan,, tapi kalo aku pribadi lebih suka pagi, mungkin karena kalau pagi ada lebih sedikit orang yang datang dan berburu gambar. Yang jelas Kota Lama selalu ngangeni, apalagi sekarang ada musik cakep dengan kualitas speaker yang bagus. Semoga selalu terawat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener pagi sama ke ponder deket stasiun sambil liat orang mancing
      ah emang ngangeni semarang

      Delete
  4. Waah enak jalan2 sore di sekitar kota lama Semarang ya.. Dulu aku kesana sekitar waktu dzuhur sedang terik2nya..hhh
    Btw itu museum kok bikin aku penasaran ya *gagal fokus

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah aku gak kuat mbak klo panas
      museum? hampir sama sih kayak yg di XT Square macam 3D gitu mbak
      coba ke ronggowarsito aja mbak seru

      Delete
  5. Saya juga suka berkunjung di tempat-tempat bangunan lama atau kawasan tua, sesekali sambil membayangkan kehidupan jaman dahulu. Terasa mimpi tapi tampak hidup sekali.
    Semua kini ras mulai membaur.

    ReplyDelete
  6. Wah nanti kalau pas ke sana lagi, mudah2an bisa sekalian main ke museumnya. Tapi jalan2 di sekeliling pun juga asyik banget ini, suasana macam tempo dulu dan rapi banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak mending pagi ato sore
      klo siang alamak...

      Delete
  7. awalnya salaah turun tapi justru mendapat spot unik dan luar biasa nih. he he. nasib kadng tdk bisa ditebak lho, mas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha iya itulah serunya jalan2 tanpa arah hehe

      Delete
  8. Saya dulu mampir kesini malah pas sore menjelang malam hari, jadi nggak banyak foto (narsis) yang bisa terabadikan. Iya, maklum, cuma pakai kamera smartphone dengan resolusi rendah. Nggak mumpuni xD

    Pas dianter temen, cuma mampir di sekitaran Taman Srigunting yang khas banget sama Gereja Blenduknya. Ngga eksplore sampai ke gang-gang kecil yang sepi koyok kowe, mas.

    Nemu istilah baru dari tulisan ini 'Gaya Ekletisisme'. FIX! Saya dulu nggak suka sejarah

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku gak suka keramaian sih jadi suka mblasak gak jelas
      lebih tepatnya nyari jarak deket buat order gojek biar murah hehe
      semarang hampir sama surabaya, bangunannya awal 1910-1920an jadi namanya gaya ekletisisme

      Delete
  9. iya nih suasana sejuk banget kalo buat santai santai gitu, apalgi olahraga bersepedaan seperti itu, gak panas panas banget dan gak dingin dingin b anget

    ReplyDelete
  10. Saya baru tau kalau semarang ada kota tuanya. Harus kesana nich saat main ke semarang

    ReplyDelete
    Replies
    1. setiap kota ada mas hehe
      cuma semarang ini agak luas kota tuanya

      Delete
  11. wah tamannya dikasih wifi gratis yaa.. bakal bikin betah berjam2 itu mah ;p.

    semarang ini termasuk yg suasana kota tuanya paling banyak dan paling berasa sih kalo kubilang, dibanding kota2 lain.. yg senengnya bangunan2nya msih bgus dan terawat.. asset banget untuk menarik wisatawan asing :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. betah sih mbak tapi ya gadgetan terus hehe
      iya mbak paling lengkap juga sebenarnya
      aset banget dan makanya ini masih dikembangkan

      Delete
  12. Aih, aku kangen kota lama. Dulu ketika masih single, eaaa... jalan kaki menyusuri kota lama dan nggak capek. Sayangnya waktu itu belum gila foto. Tembok rusak jadi tak menarik. Coba sekarang, setiap sudutnya instagrammable.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wahhh so sweet mbak mengenang masa muda
      sekarang masih ada juga yg rusak tapi udah mulai ditata

      Delete
  13. Apa tuh gaya ekletisisme? hehe :) Kota Lama Semarang ini bersejarah banget ya. Dilihat dari bentuk dan gaya bangunannya aja udah jelas. Tetep fotoan sampai baterai habis ya hahaha mantap deh :D

    ReplyDelete
  14. Yawla cuma sehari doang di sini tah mas

    Hmmm akhire terjawab sudah pertanyaan atas komen aku di post atasnya post ini, yaiyu knapa pas ke semarang aku seperti bernostalgia dengan bukit, malam, n lampu2..,ternyata emang iyu yg disebut semarang atas owalaaaaaa

    Hmmm jadi pengen nyetel tanjungmas ninggal janji euy..syahdu banget keknya menyusuri kota tua semarang yang menarik dari sisi humanis maupun lanscapnya..

    ReplyDelete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.