Sehari Lari dari Revisi Skripsi

Dua hari selepas sidang skripsi. Dengan draft skripsi yang masih berdarah-darah, akhirnya keputusan berani itu saya ambil.

Potret saya tahun 2013
Tepatnya kami, saya dan satu rekan yang berjuang dalam topik skripsi yang sama. Ya, kami memang sudah penat dengan pengerjaan skripsi yang tiada ujung pangkalnya itu. Hendra, teman saya yang asal Tulungagung mendadak memiliki ide untuk pulang kampung dulu. Ia ingin berkumpul bersama keluarganya dulu sebelum maju ke dosen penguji skripsi lagi yang memang terkenal aduhai.

Dan herannya, saya yang suka bermain dengan kereta mendadak ingin ikut. Namun, saya tak mau membawa apapun yang berbau skripsi. Tidak dengan laptop maupun ceceran kertas berisi hitungan matematis dari Kimia Komputasi yang kami hitung.

Kamu jadi ikut? Nanti pulangnya bareng saya. Paling tiga hari.

Saya begidik. Tiga hari? Lama nian kali. Padahal saya masih kepikiran revisian skripsi dan segala rupa coretan itu. Rasanya, saya ingin mengganti coretan-coretan itu dengan stempel petugas PKD di stasiun. Jadi, saya memang ingin rehat sebentar tapi tak selama itu. Satu hari saja cukup.

Wah, sehari aja deh. Di sana krik-krik-krik nanti.

Baik, saya masih ingat olok-olok rekan yang saya tujukan kepada rekan dari Tulungangung (TA). Tak ada Mall yang menarik di sana. Saya bisa gulung-gulung di jalan raya di kota itu. Sarkasme yang benar-benar menohok.

Kami pun lalu menuju Stasiun Malang Kota Lama. Penjual tiketnya masih sama. Ibu-ibu paruh baya yang selalu berteriak ketika berbicara dengan calon pembeli. Uang sebesar 11 ribu rupiah pun berpindah tangan. Kala itu, di tahun 2013, harga tiket KA Penataran Dhoho masih sebesar 5500 rupiah.

Meski Hendra membeli tiket dari stasiun ini, namun ia akan naik dari Stasiun Blimbing, sebuah stasiun kecil sebelum Stasiun Malang Kota Baru. Menurutnya, ia bisa menghemat jarak dari kosnya yang memang berada di utara Kota Malang. Dengan berbekal bismillah, ia yakin bisa mengelabuhi petugas pengecekan tiket.

Ketika hari-H perjalanan, saya masih ragu apakah Hendra bisa naik dengan mudah. Mengingat, kala itu adalah awal-awal program reformasi PT KAI. Jadi, penggalakan tentang kedisiplinan penumpang benar-benar ditingkatkan.

Saya pun datang ke Stasiun Malang Kota Lama beberapa menit sebelum kereta tiba. Penumpang yang datang rata-rata kebanyakan masih memiliki tujuan yang hampir sama. Blitar. Jadi, saya berkesimpulan kami akan berdesakan hingga Stasiun Blitar. Tapi, rupanya persepsi saya salah. Rangkaian yang saya naiki tak seramai biasanya. Memang, saat itu bukan musim liburan. Lebih tepatnya, musim mengerjakan dan melakukan revisi skripsi. Maka dari itu, saya dengan mudah menemukan Hendra pada nomor kereta sesuai tiket yang kami punya.

Kereta pun berjalan menuju arah selatan. Para pedagang masih hilir mudik menjajakan dagangannya. Walau mulai ada pembatasan pedagang, namun program itu masih dilakukan secara bertahap. Untunglah, sebagai mahasiswa miskin, saya sudah sarapan nasi goreng buatan ibu saya di rumah. Lalu-lalang pedagang keripik tempe, nasi rames, dan aneka minuman dingin masih bersahut-sahutan. Saya memandangi mereka antara senang dan kasihan. Senang karena mereka masih bisa berlalu lalang. Namun, keberadaan mereka di atas kereta kini akhirnya sirna juga.

Kami berbincang banyak masalah skripsi, masa depan, dan tanggungan hutang yang masih kami miliki. Dan pastinya, rentetan gibahan kepada dosen penguji skripsi yang tak henti-hentinya keluar dari mulut. Kalau saja kami tahu beban hidup sekarang jauh lebih besar, tentu gibahan itu tak akan ada artinya.

Tak terasa dua jam perjalanan kami lalui hingga tiba di Stasiun Blitar. Stasiun favorit kereta lokal Penataran Dhoho. Di stasiun ini, Kereta Api Penataran yang kami naiki akan berubah nama menjadi Kereta Api Rapih Dhoho. Seperti yang sudah kami duga, kereta pun akhirnya lengang. Kami berdua seakan raja yang bisa saling menyelonjorkan kaki dan semakin tertawa lepas akibat gibahan yang tak berujung.

“Sebentar lagi pasti ke sini!” Hendra tiba-tiba saja berujar. Saya tak mengerti masudnya.

Ternyata, ia telah menunggu seorang penjual lemper bakar yang naik dari Stasiun Rejotangan. Stasiun ini terletak dalam petak Blitar-Tulungagung dan hingga kini masih melayani penumpang. Menurut Hendra, ia sangat suka dengan lemper bakar ini karena cita rasanya yang khas.

Kami pun masing-masing membeli satu buah lemper bakar seharga 2500 rupiah. Penjual makanan tersebut merupakan seorang ibu yang membawa loyang berisi lemper bakar yang masih beruap. Ia akan menjajakan dagangannya hingga ke Stasiun Kertosono dan akan kembali lagi ke Rejotangan setiap harinya. Diantara seluruh pedagang asongan Kereta Api Rapih-Dhoho, lemper bakar inilah yang menjadi ikon.

Wangi beras ketannya benar-benar terasa. Tak lengket dengan daun pisang yang membungkusnya, menyantapnya selagi hangat adalah kenikmatan tiada tara. Belum lagi, isi lemper berupa ayam yang cukup banyak membuat satu buah rasanya tak cukup. Kala saya melintasi jalur kereta sepanjang Daerah Operasi 7 terutama petak Blitar-Tulungagung, saya selalu terkenang ibu ini. Benar-benar melegenda.

Tiga jam perjalanan dari Malang pun tak terasa berkat gibahan tiada akhir. Saya benar-benar bisa menjejakkan kaki di Tulungagung. Saya lantas meminta Hendra mengambil gambar tepat di emplasemen stasiun. Itulah momen paling membahagiakan sekaligus bisa dibilang momen terakhir saya bersama Hendra. Selepas itu, ia merantau ke Papua dan kami tak pernah berkabar lagi.

Rumah Hendra ternyata tak jauh dari stasiun. Kami berjalan kaki melewati rel kereta api dan mengacuhkan beberapa pengayuh becak yang menawarkan jasanya. Di sepanjang jalan, kami masih mengobrol. Kali ini, ia lebih tertarik berbicara masalah Tulungagung. Ada yang unik di kota ini. Bukan tentang sejarah atau makanannya, namun saat itu Tulungagung tak memiliki SMA Negeri. Sesuatu yang bagi saya cukup menggelitik.

Menurut Hendra, SMA Negeri yang ada merupakan SMA Negeri yang berada di kecamatan. Ngunut, Kalidawir, Boyolangu, dan lain sebagainya. Dulu, memang sempat ada sekolah bernama SMA Negeri 1 Tulungagung. Sekolah itu kini berubah menjadi menjadi SMA Negeri 1 Kedungwaru. Barulah di tahun 2014 kemarin, didirikanlah SMA Negeri 1 Tulungagung untuk menjawab keinginan masyarakat Tulungagung agar memiliki instansi pendidikan yang bisa dibanggakan. Rata-rata masyarakat di sekitar Tulungagung lebih memilih bersekolah di kecamatan lain. Hendra sendiri merupakan alumni SMAN 1 Ngunut meski rumahnya di Tulungagung.

Kami sampai di rumah Hendra dan dijamu ayahnya yang mengurusi tambak dan kolam ikan. Selepas makan, Hendra mengajak saya berkeliling Kota Tulungagung meski hanya sebentar. Kami menuju jalan protokol dan pusat keramaian. Saya ternyata salah besar. Di Tulugangung ternyata ada sebuah pusat perbelanjaan bernama Golden. Di sana bahkan ada bioskop yang memutar film terbaru.

Hendra memarkirkan kendaraan di Alun-Alun Tulungagung. Tempat wajib kala berkunjung ke sebuah kota. Beberapa penjaja makanan masih setia menunggu pembeli sambil mengipasi tubuhnya akibat panas terik. Letak Tulungagung yang berada di dataran rendah membuat sinar mentari serasa masuk ke lapisan kulit terdalam.

Perbincangan tanpa arah terus kami lakukan sembari menuju jadwal kereta saya. Tak terasa, sore pun menjelang. Hendra mengajak saya kembali ke rumahnya sambil berpamitan kepada ayahnya. Jelas, beliau sangat kaget dan mencoba menahan saya agar menginap barang semalam. Saya menolak dengan halus. Pikiran revisian skripsi masih terngiang.

Hingga tiba di Stasiun Tulungagung lagi, mendadak kami kaget. Sesosok wanita muda yang kami kenal tampak juga menunggu kereta. Rupanya, ia adalah kakak tingkat di Jurusan Kimia yang belum juga lulus dan entah bagaimana kabar skripsnya. Sambil berbincang bersamanya, saya dan Hendra saling memandang dengan penuh kebahagiaan.

Ada yang lebih tidak beruntung dari kita. Jadi, apa yang harus dikhawatirkan?


*) Tulisan ini adalah bagian dari proyek buku solo yang sedang saya kerjakan. Saya sedang menulis buku perjalanan berbasis Kereta Api mengelilingi Jawa. Mohon maaf jika ada komentar yang belum sempat saya balas. Terima kasih atas dukungan dan doanya.

5 comments:

  1. "Kalau saja kami tahu beban hidup sekarang jauh lebih besar, tentu gibahan itu tak akan ada artinya" LOL! You learned something that way hahaha!

    Iya bener, tenang aja. kadang dlm hidup suka ada orang yang lebih nggak beruntung dr kita kok. jadi santai aja hehe

    btw, smoga bukunya cepet jadi ya :)

    ReplyDelete
  2. wuaw
    hahaha

    aku pernah kayak gini, tapi skripsiku selesai sih, tinggal jurnal.
    mulai angkatanku wajib nerbitin artikel di jurnal.
    nah aku gak ngerjain artikel itu.
    Skripsi beres, nilai sudah dientry, gak bayar spp, aku rehat duluuu
    main ke festival petik laut di Jember
    Main ke Banyuwangi, dan sebagainya
    terus pas sampai kampus, kaget dan syok ternyata teman2 sudah selesai bikin artikel jurnal dan sudah bertahap ndaftar wisuda. dan aku beloooom.
    akhirnya ngebut dah. untungnya bisa wisuda bareng, hehe

    ReplyDelete
  3. Kalau bicara soal kereta api, aduh jadi ingat jaman dulu. Begitu payahnya. Berdesak-desakan, dan memang pedagang yang berlalu lalang. mengjengkelkan tapi juga dibutuhkan kalau pas perut lapar.
    Saya tidurnya dilorong-lorong, kadang di bawah bangku/kursi dan pernah juga di kamar toilet.
    Soal skipsi, saya tidak punya pengalaman. Karena belum sempat kuliah :)

    ReplyDelete
  4. Kui tenan awakmu mas?

    Ah ngapusi, wong kuru ngono...

    ReplyDelete
  5. Yeayy sukses bukunya

    Kalau menurutku sih rehat diantara ujian-ujian dan revisi-revisi itu WAJIIBBBB

    Harus ditunaikan, daripada mumet sendiri dan eneg nya sampe bikin makan aja nggak napsu

    Mood dan feel nya mesti dicari lagi
    Dengan escape dulu kayak begitu wkwkwk

    ReplyDelete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.