Pijat Refleksi dan Segala Kenikmatan Surgawinya

pijat refleksi kaki djemari yogyakarta
Penampakan kaki saya ketika dipijat

Bulan Desember adalah bulan paling malas dalam hidup saya.

Libur panjang Natal dan Tahun Baru membuat saya memiliki lebih banyak waktu luang dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Untuk mengisi waktu luang, selain menulis dan membaca, ada satu kegiatan favorit yang saya lakukan demi menjaga kesehatan mental.


Tak lain dan tak bukan, saya memilih untuk melakukan pelayanan terhadap diri sendiri dengan pijat refleksi. Kegiatan ini sebenarnya merupakan kegiatan rutin bulanan. Saya menganggarkan pemasukan saya untuk pijat refleksi minimal sebulan sekali. Faktor bertambahnya usia menjadi alasan kuat saya melakukannya. Lama-kelamaan, saya kok merasa cepat capai dan ada beberapa organ dalam tubuh saya sudah tak berfungsi secara maksimal. Lambung misalnya.

Uniknya, saya tidak punya langganan tetap pijat refleksi ini. Kadang, saya memanggil pemijat dari aplikasi Go-Massage. Namun, kegiatan ini hanya bisa saya lakukan saat di Malang. Jika di Tempel, tempat saya sekarang, saya selalu kesulitan mendapatkan pemijat. Mereka banyak yang hanya melakukan kegiatannya di seputaran Kota Jogja saja.

Saya biasanya datang ke tukang pijat di dekat Indomaret yang berada di depan SMK Negeri 1 Tempel  - saya lupa namanya apa - karena sang tukang pijat biasanya memberikan service lebih. Berupa kerokan di punggung yang membuat badan terasa hangat. Walau secara medis kerokan tidaklah baik, tapi apa daya, mengingat badan saya meriang, maka saya pun melakukannya. Tarifnya murah, hanya 50 ribu rupiah saja.

Kalau sedang berada di seputaran Kota Jogja, maka saya lebih memilih Djemari Reflexology. Djemari ini sudah saya kenal sejak saya berada di Malang dulu. Bagi saya, terapisnya benar-benar profesional. Mereka bisa mengetahui titik-titik refleksi sehingga meski awalnya rasa sakit yang saya rasakan, tetapi akan berlanjut dengan rasa nyaman kemudian.

Mereka tidak terpaku pada satu titik saja di suatu bagian tetapi menyebar ke bagian lain saat memijat. Berbeda halnya dengan pijat refleksi yang saya rasakan di Mall yang pernah menjamur. Bukannya nyaman, tetapi saya merasa badan saya tambah sakit dan njarem.

Memang tidak semua pijat refleksi di Mall seperti itu tetapi dari beberapa kali mencoba, saya mendapakan kesakitan tersebut. Akhirnya, saya jarang menggunakan jasa ini. Kalau terpaksa, biasanya saya mencari tempat pijat yang ramai oleh pengunjung. Saya coba dahulu pijatan sebentar di kaki untuk mengetes apakah pijatan sang terapis enak atau tidak.

Namun, pijat di Mall memiliki kelebihan. Harganya menurut saya lebih murah dan kadang kita bisa memilih terapis yang akan memijat kita. Tak hanya itu, biasanya ada kupon gratis pijatan setelah kita melakukan beberapa kali pemijatan.

Nah, diantara bagian tubuh yang dipijat, bagian mana yang paling sakit?


Kalau saya, bagian telapak kaki dan jari kakilah yang terasa sangat sakit. Maklum, dari beberapa literatur yang saya baca, bagian tersebut menghubungkan titik-titik syaraf organ tubuh tertentu. Jemari kaki biasanya akan menuju otak dan mata. Saat dipijit, rasanya seperti ditusuk. Maklum saja, saya yang menggunakan laptop seharian memaksa kedua organ ini bekerja secara terus-menerus.

Bagian telapak kaki yang sakit adalah titik refleksi lambung. Berhubung saya memiliki riwayat penyakit GERD, maka saat dipijat, saya langsung merasa sakit dan menjerit. Meski tak sesakit bagian jemari kaki, tetapi rasanya hampir sama seperti ditusuk. Kadang, jika terapis bisa menusuk titik ini dengan tepat, saya langsung bersendawa. Beberapa terapis yang paham akan kondisi saya malah memperkuat pijatannya sehingga sendawa saya semakin hebat.

Pernah suatu ketika karena lambung saya masih berontak, selama hampir setengah jam titik saraf lambung tersebut dipijat secara menyeluruh oleh terapis. Oh ya, selain pada telapak kaki, pijatan untuk penderita GERD dan gangguan asam lambung juga terdapat pada telapak tangan yang dekat dengan ibu jari. Saat malam hari, saya juga kerap melakukan pijatan di titik ini untuk menjaga kesehatan lambung saya.


Titik refleksi pada kaki. - Deposit photos
Bagian lain yang cukup membuat saya menjerit adalah bagian punggung. Orang jawa menyebutnya enthong-enthong. Kata terapis saya di Tempel, biasanya bagian ini yang menjadi penyebab masuk angin. Kalau kata terapis di salah satu Mall, bagian ini menjadi nyawa bagi pekerja yang suka duduk lama seperti saya. Ia akan terasa tegang jika tidak digerakkan atau dipijat dalam waktu lama. Inilah alasan saya selalu menjerit saat bagian ini dipijat. Sensasi sakit dan geli bercampur menjadi satu.

Uniknya, setiap terapis menggunakan teknik berbeda untuk memijat punggung. Ada yang menggunakan uang koin sekaligus melakukan kerokan. Ada yang menggunakan telapak tangan dan ada pula yang menggunakan tekanan jari yang cukup kuat atau sering disebut shiatsu. Biasanya, para terapis akan bergantian memijat bagian kiri dari atas hingga bawah dan berlanjut ke bawah.

Namun, ada pula terapis yang menggunakan sikunya untuk memijat punggung saya. Sungguh, saya pernah menjerit dan mencuri perhatian orang-orang di sekitar saya. Itu belum seberapa. Pernah pula saya diinjak-injak oleh sang terapis dengan perlahan dari atas ke bawah punggung. Ia berpegangan pada dinding ruangan dan telapak kakinya menghujam punggung saya.

Lucunya, saya malah keenakan. Kalau boleh memilih, saya lebih suka diijak-injak daripada dipijat dengan siku. Hanya terapis yang badannya lebih kecil dan kurus yang melakukannya. Jika badannya lebih besar, biasanya ia memberi opsi mau diinjak atau dipijat biasa.

Pijatan biasanya ditutup dengan pijatan kepala dan pundak. Namun, ini hanya bersifat opsional karena ada beberapa pelanggan yang enggan dipijat kepalanya. Kalau saya sih suka-suka saja. Rasanya enak sekali. Pening dan pusing hilang seketika. Apalagi jika pada akhir pijatan ditutup oleh tepukan keras pada punggung. Dunia serasa surga.

Beberapa tempat pijat biasanya menyediakan minuman ekstra setelah pijatan selesai. Ada jahe, teh rosela, dan air putih. Kalau saya lebih memilih air putih karena akan lebih melancarkan perdaran darah dan memaksimalkan hasil pijatan.

Kalau Anda sendiri bagaimana. Suka pijat refleksi di tempat pijat atau pijat sendiri di rumah?

16 comments:

  1. wah, saya kurang suka kalau dunia pijat memijat, biasanya kalau capek lebih suka minum minuman herbal, disitu badan rasanya sudah enakan, kecuali kalau udah mulai parah, biasanya dipijat, itupun di Rumah.

    ReplyDelete
  2. pijat refleksi iki pijet kesel iku ta? wah wes suwe aku gak pijet kesel blas mas. nang manokwari ganok tukang pijet kesel.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya sam semacam itulah wkakaka
      ng malang ae akeh

      Delete
  3. enaknyaa.. huhu :(
    kebalikan yah, kalo saya desmeber gini laporan akhir tahun menanti.. ingin rasanya refleksi sendiri gitu sm org rumah, tp ga ada yg bisa.
    mau keluar, kapan waktunya.. T_T
    tapi boleh lah coba coba nanti sy cari diskonan dulu ><

    ReplyDelete
    Replies
    1. harus dianggarkan dan direncenakan kak
      libur panjang bisa lo itu

      Delete
  4. Sama mas, kl pijat refleksi bagian jari kaki ampun deh rasanya. Nggak sadar air mata smpe netes, huhu
    Tp abis slse pijat lgsg fresh bgt. Entengg

    ReplyDelete
  5. Kalo aku nggak kuat deh
    Liat saudaraku dipijat telapak kakinya sampe nangis-nangis dan menjerit kesakitan, aku langsung mundur

    Pernahnya sih pijat massage sekujur tubuh
    Tapi itu agak bahaya sih, sering ada reaksi listrik
    Bikin malu
    XD

    #IfYouKnowWhatIMean

    ReplyDelete
    Replies
    1. wakakakakakak
      hayo hayo hayo
      bagian apa yang suka berdiri
      udah berapa senti wakakakaaa

      Delete
  6. Bhahahah enthong enthong aku ngerti kui
    Btw yang ahli soal pijet ini pak suami malah, dia klo mijeti aku cuma kayak dipegang biasa e kok rasane ra karu karuan
    Ada lagi klo yang model tukang pijit tradisional tiap mijeti pesti selalu diiringi bunyi sendawa, katanya itu tanda angine kluar, ntah mitos apa fakta xixixi

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwk bener mbak aku gak nemu padanan katanya lo
      tapi emang sakit banget ya itu yg kerasa capek

      iya gelegeken ya tanda udah keluar semua anginnya

      Delete
  7. Tak kira tulisan buat lomba mas. Hahaha *dasar wisnu sang budak lomba*

    Belum pernah pijat refleksi. Tapi pas baca tulisan ini jadi mikir-mikir; kok pengen ya? Apalagi keseharianku kurang lebih juga sama kaya dirimu mas. Gur lunggah-lungguh nang ngarep laptop nggak pernah gerak. Tapi ngomong-ngomong masalah kerokan, saya juga tak rasa-rasa malah cocok dikerok daripada harus minum obat kalau pas mriang XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. mas wisnu harus baca tulisan terbaruku ini masalah lomba blog wakakaka

      enggak apa apa asal bukan budak cinta wkwk

      iya mas penting lo umurmu sudah menua wakakaka
      tapi paling enggak sebulan dua bulan sekali biar lancar perdaran darah

      lek kerokan ku mung lek masuk angin wae gak wani sering sering

      Delete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.