Cerpen | Penumpang Bus Kecil


Aku paling benci naik bus ini. Sejak harus bersekolah di kota kecamatan, rasanya bus ini menjadi momok bagiku yang kerap membawa segudang buku di tas. Bus kecil yang tak sanggup menampung lebih dari 20 orang ini tak ubahnya neraka kecil dengan bau penumpang yang menyesakinya.

Aku tak punya pilihan lain karena hanya bus inilah yang melewati desaku. Walau tak begitu terisolasi, nyatanya sejak bertahun-tahun tak ada peningkatan yang bisa dibanggakan. Tetap terpencil, orang-orangnya yang suka mengeluh, dan bau busuk dari peternakan ayam begitu menyengat.

“Si Maslikah ternyata ditemukan di samping jasad suaminya,” kata seorang ibu paruh baya yang duduk di depanku.

Ibu itu menyerocos seputar kematian suami istri yang diduga bunuh diri di rumahnya. Ia meninggalkan empat orang anak dan beberapa petak kebun.

Ibu muda yang duduk di sebelahnya tak menimpali. Wajah sayunya mencoba menyunggingkan senyum. Sayang, aku bisa merasakan kelesuan wajahnya dari tatapannya yang kosong.

“Jadi orang kok enggak bersyukur. Padahal si Maslikah itu kan sudah punya simpanan banyak di bank. Belum lagi sawah suaminya. Mau cari apa lagi dia”, cerocos wanita paruh baya itu.

Aku tak begitu antusias mendengarkan ceritanya. Lamunanku hanyut pada makian atasanku karena ia tahu aku sudah banyak pinjam uang di pinjaman online. Entah, apa bisa aku kembali ke kota dengan banyak tagihan yang membengkak. Mereka tak hentinya menerorku tak peduli siang dan malam.

“Pal desa mas turun!” Aku bergeges berteriak ketika tempat tujuanku sampai. Ini kepulangan pertamaku sejak merantau. Sebenarnya, aku sudah berniat kembali ke desa tiap bulan. Niatan itu hanya tinggal niatan lantaran jeratan hutang yang terus memperdayaku.

Selembar lima ribuan kuberikan pada kondektur yang mengambilnya dengan dingin. Tak ada ucapan terimakasih dan tatapannya juga kosong sekosong tatapan ibu muda tadi.

Langkah gontaiku menuju rumah seakan sama beratnya dengan langkah kakiku ke tempat kerja. Walau kampung halaman bagi banyak orang adalah sebuah kenyamanan, itu tak berlaku untukku.

Hanya adik terkecilku yang ada di rumah. Sementara, ibu masih sibuk menjajakan nasi ke tetangga. Jangan tanyakan ayah, ia sudah lama meninggalkan kami semua. Semua karena tetangga sebelah yang nekat masuk ke kehidupan kami. Entah di mana mereka sekarang aku sudah tak peduli.

Aku hanya berpindah tidur dan menghindar dari penagih hutang. Sebenarnya, aku juga berniat untuk meminta ibu menjual tanah bagianku untuk melunasi hutangku. Walau begitu, niatan itu hanya fatamorgana belaka. Aku masih teringat empat adikku yang butuh uang untuk biaya mereka. Ketika ibu menanyakan kabarku, dengan kebohongan yang terus aku tutupi, tentu aku mengatakan baik-baik saja.

Sejak saat itu, tiap minggu aku pulang. Tiga jam perjalanan menjadi harga yang harus kubayar dengan omongan dan gerutuan dalam bus kecil. Di kepulanganku yang kedua, aku baru tahu kalau ibu muda yang berwajah sayu juga bunuh diri. Ia tak kuasa dengan kelakukan suaminya yang main pukul.

Dan lagi-lagi, ibu paruh baya yang kembali naik bus itu bercerita panjang seputar kelakuan ibu muda itu yang main serong. Dia bercerita pada penumpang lain yang tak terlalu semangat mendengar ceritanya. Pun demikian dengan kernet bus yang bekerja bagai mesin. Aku hanya mengangguk-angguk ketika ibu itu menyerocos masalah pribadi ibu muda yang gantung diri.

Kepulanganku hari itu masih dalam kebimbangan apakah aku jadi meminta ibu untuk menjual sepetak tanah untuk melunasi hutangku. Para penagih itu sungguh membuatku kembali berniat melakukan hal itu. Aku tak punya pilihan lain. Kuputuskan untuk memberi tahu ibu.

“Ibu setuju saja. Tapi kenapa kau bisa berhutang sebanyak itu?”

Aku tak bisa menjawab banyak selain biaya hidup di kota yang amat tinggi. Cerita tentang kebodohanku bermain saham dengan meminjam uang di aplikasi itu tak kubuka. Biarlah itu aib yang harus ditutup rapat tanpa banyak orang tahu.

Pada kepulanganku yang ketiga kali, aku tak menemui ibu paruh baya itu di bus. Ia yang berdagang di pasar kecamatan rupanya baru saja meninggal beberapa hari lalu. Kata kondektur yang sedang menarik uang padaku, ibu itu terkena serangan jantung. Aku tak peduli ia sudah berapa lama terkena serangan itu. Yang jelas, aku merasa kematian penumpang bus ini mulai kurasakan satu per satu.

Ya, di kepulanganku yang keempat, sang kondektur malah yang meregang nyawa lantaran jatuh saat bus menaikkan penumpang di sebuah tikungan. Tubuhnya dihantam sebuah truk dan ia kehilangan banyak darah. Cerita itu kuketahui dari sang sopir yang kini merangkap menjadi kondektur bus. Padahal, pada jadwal sore yang merupakan jadwal ia menarik, sebenarnya tak banyak penumpang yang naik.

Di kepulanganku itu, aku berhasil  menjual tanah milik ayahku dengan harga lumayan. Tapi itu belum cukup untuk melunasi hutangku yang membengkak. Masih ada sisa beberapa juta lagi sebelum semua hutang itu bisa terlunasi. Ibu memang mengizinkanku menggadaikan sertifikat rumah yang kami tempati. Walau begitu, aku tak bisa melakukannya. Jumlahnya pun belum cukup untuk melunasi semua hutangku.

Di kepulanganku yang kelima dan seterusnya, lagi-lagi kisah pilu dari penumpang yang bunuh diri kembali kudengar. Ada seorang pemuda yang kalut lantaran baru saja menghamili pacarnya dan seorang duda yang tak sanggup lagi membiayai anaknya. Hanya ada empat penumpang tersisa di bus kecil yang jalannya kian lamban dan tak bertenaga.

Aku masih tidak berniat untuk menggadaikan rumah yang ditempati keluargaku. Dering ponsel yang menyalak tak kuhiraukan. Umpatan dan makian dari penagih hutang tak kugubris. Aku sudah bertekad hanya membayar hutang pokokku dan sedikit bunga. Yang lain, aku tak mau membayarnya.

Sayang, mereka tak mau rugi. Mereka datang ke kosku dan mencoret pintu kosku dengan cat merah saat aku kembali ke kota. Aku makin muak tapi tak bisa berbuat banyak. Lalu, ada sekelebat pikiran timbul agar aku seperti orang-orang  di dalam bus itu. Niatan ini aku ulur sambil mencari jalan bagaimana aku bisa melunasi hutangku.

Naas, hingga akhir pekan, jalan itu belum kutemui. Aku masih bimbang apakah pagi itu akan pulang atau tidak. Pulang pun aku tak mendapat jalan keluar. Tapi kalau di kota ini, lama-lama aku bisa gila.

Aku melihat sebuah pisau yang tergeletak di dekat dapur kos. Kuambil pisau itu untuk kugoreskan ke lenganku. Darah segar pun mengalir cukup deras dan aku mulai pusing dan entah aku mulai tak sadarkan diri.

Ketika aku bangun, darah itu tiba-tiba saja hilang. Barangkali tadi aku hanya bermimpi. Aku kembali segar dan memutuskan untuk pulang saja. Siapa tahu aku bisa menemukan jalan keluar lagi. Bus kecil yang berangkat dari kota kecamatan itu pun kuhentikan. Di dalam bus itu, aku merasa cukup aneh karena penumpangnya begitu banyak. Akan tetapi, aku baru menyadari bahwa kondektur bus dan ibu muda yang meninggal bunuh diri ada di dalam bus itu. Bersama dengan orang-orang lain yang sudah kuketahui telah meninggal.

Aku panik dan meminta sopir untuk berhenti. Ia tetap tancap gas dan kakiku merasa tak bisa bergerak lagi. Aku baru bisa bergerak ketika bus itu sampai di desaku. Bergegas turun, aku segera berlari secepat mungkin saat hari mulai petang. Aku berari ke rumahku dan di sana banyak orang datang. Entah apa yang terjadi, aku melihat bendera palang hitam terpasang di halaman rumahku yang besar. Berkibar akibat embusan angin petang yang begitu kencang.

  

20 comments:

  1. Ngeri.....'bus penuh kutukan', siapapun yang menaikinya niscaya akan dijemput maut...mulai dari ibu yang dibicarakan ibu paruh baya dan ibu muda dengan pandangan mata sayu, lalu keesokannya si ibu bermata sayu, lalu keesokannya lagi si ibu paruh baya, n then kenek...pria muda, duda...mungkin setelahnya sopir dan kemudian sampailah pada tokoh aku yang beneran ngiris nadinya pake pisau di kosan...cuma pas ruhnya udah cabut dari raga dia kira tadi ngimpi...aslinya uda tewas mengenaskan....karena pas nyegat bus lagi dia ketemu mantan penumpang yang uda ninggal semua...pas nyampe rumah tandanya orang orang lagi layat jenazahnya ya kan karena ditandai dengan bendera tanda lelayu...

    apik mas penggambaran deskripsi penumpang bus maut dengan segala pelik kehidupannya ini terasa 'hidup'...si tokoh aku yang tadine masa bodo karena lebih mikirin gimana caranya ngelunasin hutang setelah kalah stratego main saham dan terjerembab dalam hutang pinjaman online berikut bunganya akhirnya sampai juga pada upaya untuk mengakhiri hidup seperti kisah penumpang yang lain yang matinya ada yang wajar ada pula yang tak wajar (tapi banyakan tak wajarnya sih)..

    btw koreksi dikit itu menunggingkan senyum mungkin aslinya menyunggingkan senyum kali ya πŸ˜„

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak ngeri ini kematiannya berantai ya smeoga ini cuma fiksi aja huhu
      dapat inspirasi dari bus hantu aja pas liat YT kemarin hehe
      wkwkwkw terima kasih soale masalah pinjol ini belum banyak diangkat dalam fiksi

      oh ya makasih koreksinya mbak Nita :)
      sudah kuganti...

      Delete
  2. Woaaa alur ceritanya keren, Kak Ikrom πŸ‘πŸ»
    Endingnya bikin bergidik, jadi ngeri sendiri πŸ˜‚
    Kalau ada bus kayak gini, aku nggak mau sih naik sampai ke3x-nya, takutt 🀣

    ReplyDelete
  3. Seru juga ceritanya mas...Keluhan para warga disebuah desa karena akan sebuah tuntutan hidup..😊😊


    Sampai akhirnya datang sebuah bus kutukan, Atau mungkin juga warga satu desa tersebut yang memang terkena kutukan dengan pelantara sebuah bus.😊😊


    Intinya hikmah dari cerita ini sebagai orang yang tinggal didesa harus lebih banyak2 bersyukur. Agar tak terlena dalam godaan kehidupan kota yang mengharuskan selalu bergelimang harta..😊😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya bersyukur adalah kunci ya bang
      terima kasih

      Delete
  4. suka sama pemilihan kata-katanya yang baik bang.. alur ceritanya cakep!

    ReplyDelete
  5. Itu bus kayaknya ada kutukannya, yang naik bus itu sepertinya akan mati, mulai dari ibu muda, ibu yang suka ngoceh, kondektur, supir dan akhirnya tokoh utamanya.

    Hutang memang bisa bikin gelap mata dan akhirnya bunuh diri, selain hutang biasanya masalah hidup seperti kena penyakit yang tidak sembuh-sembuh juga bisa bikin orang bunuh diri.

    ReplyDelete
  6. Hutang online bener2 menggiurkan.. tapi saya sedih, sosok yang bercerita di dalamcerita ini apakah nasibnya sama dengan penumpang lain bus itu? Jadi ..???

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya makanya harus hati hati sama pinjol ya bang

      Delete
  7. bendera palang hitam? hmmm saya belum tahu arti dari bendera ini, apakah tanda adanya bencana atau apa

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini di jawa mas artinya tanda ada orang meninggal

      Delete
  8. Serem kisahnya juga alurnya bagus
    Bikin keingetan sama kejadian nyata kereta hantu Jakarta Bogor.

    ReplyDelete
  9. Alurnya menarik,
    lokasi dimana ya mas?
    soalnya klo di kampungku tanda orang meninggal masih bendera kuning

    ReplyDelete
    Replies
    1. yg pasti di Jawa
      oh baru tau klo ada bendera kuning di mana itu ya
      terima kasih

      Delete
  10. Emak-emak kalau udah ngumpul, di bus, apalagi di tepian mandi, pasti ceritanya selilit bumi.
    Untung mereka tidak mengetahui kalau si aku lagi banyak hutang. Kalau tahu, pasti jadi tema cerita untuk hari berikutnya . He he .... Selamat malam Mas Ikrom.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya emak emak suka gibah ya bu nur hehe
      selamat pagi terimakasih sudah rawuh...

      Delete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.