Teman Pinoy dan Indeks Kebahagiaan

Anak-anak Filipina - Goodnowsphilippines.

Setelah saya menghanguskan tiket Denpasar-Manila PP gara-gara corona, tetiba ada keinginan untuk mencoba mencari penerbangan kembali ke sana.

Ini tak lepas dari seorang Pinoy yang tiba-tiba mengikuti akun IG saya. Biasanya, saya hanya membalas pesan yang diberikan seperlunya mengingat kesibukan saya yang luar biasa. Namun, entah kenapa, saya kok nyambung dengan Pinoy satu ini.

Ia adalah seorang perawat di selatan Manila. Saya bisa nyambung dengannya karena kami memiliki kesukaan yang sama, yakni mengenai beauty pageant dan bangunan heritage. Ya, dua hal tersebut adalah kesukaan saya. Makanya, di blog ini saya kerap membahas dua bahasan tersebut yang bisa jadi tidak begitu nyambung atau tidak terlalu disukai oleh orang terdekat saya.

Rupanya, ia pernah ke Indonesia. Kalau tidak salah ke Bandung dan Jakarta. Ia pun berencana datang lagi ke Indonesia untuk mengunjungi Jogja dan Malang. Atas dasar ini pula, ia menyemangati saya agar kembali bisa merencanakan pergi ke Filipina. Ia bersedia menjadi tour guide ke manapun saya ingin berkunjung. Demikian pula saya juga menawarkan diri menjadi tour guide-nya jika ia benar-benar datang ke Indonesia.

Di samping rencana besar tersebut, ada banyak percakapan menarik seputar kontes kecantikan dan kebudayaan yang mengiringinya. Kami saling kepo antara dua kontes kecantikan di dua negara tersebut, yakni Puteri Indonesia dan Binibining Pilipinas.

Saya takjub saat ia begitu mengidolakan Dea Rizkita – PuteriIndonesia Perdamaian 2017 – yang juga mendapatkan predikat sebagai Top 10 Miss Grand International 2017. Ia juga takjub ketika saya mengatakan bahwa Catriona Gray adalah Miss Universe terbaik yang pernah saya tahu. Kami pun akhirnya bertukar informasi mengenai serba-serbi kontes kecantikan di dua negara tersebut.

Mulai dari bagaimana persiapan peserta kontes asal Filipina yang sudah siap tempur ikut pageant sedari SMP. Saya baru tahu kalau di sana, training yang dilakukan juga kerap dimulai dari bangku sekolah. Ketika usia mereka semakin dekat dengan usia matang untuk mengikuti kontes kecantikan, maka kegiatan training pun semakin keras. Malah, ada beberapa yang hampir menyamai latihan militer. Itulah sebabnya wakil Filipina hampir selalu mendominasi berbagai ajang kecantikan duia, terutama Miss Universe.

Namun, rekan Pinoy saya juga sangat takjub dengan transformasi dunia kontes kecantikan di Indonesia. Dari yang dilarang, tidak diperhitungkan, hingga kini menjadi kekuatan baru yang patut disegani. Ia juga menyukai format kontes yang diselenggarakan YPI dalam memilih Sang Puteri. Baginya, kontes kecantikan di Indonesia - terutama Puteri Indonesia - selalu menunjukkan kelasnya tanpa harus mengubah adat dan tradisi yang ada di Indonesia. Pemakaian kebaya batik bagi para peserta misalnya. Format seperti ini tidak akan ditemui di konte kecantikan dunia manapun.

Kami pun bertukar pikiran mengenai dunia hiburan yang ada di dua negara. Ia dengan gamblang menjelaskan berbagai tayangan dan artis yang kerap menghiasi layar kaca Filipina. Sementara saya, walau hampir tidak pernah menonton siaran TV Indonesia, tetapi mencoba menceritakan film dan industri musik di sini. Meski kalau boleh jujur,  saya tidak begitu tertarik dengan siaran televisi Indonesia.

Meski demikian, kami tetap nyambung dalam bertukar pikiran mengenai masalah ini. saya kagum dengannya yang mau mencari informasi dengan teliti sebelum memberinya kepada saya. Saya juga senang lantaran kami juga membahas hal-hal yang cukup sensitif mengenai sebuah isu di kedua negara, semisal LGBT atau perundungan terhadap peserta kontes kecantikan. Ia cukup suportif membatasi opininya akan sebuah isu sehingga saya pun juga berlaku demikian. Sesuatu yang jarang sekali saya dapatkan dari orang terdekat beberapa waktu terakhir.

Dari obrolan ngalor ngidul tersebut, saya juga baru tahu bahwa banyak produk Indonesia yang dijual di sana. Tidak hanya Indomie saja, tetapi ada produk yang bagi saya sulit ditemukan di luar Indonesia. Tolak Angin misalnya. Ia mengatakan bahwa Tolak Angin juga umum digunakan di sana ketika badan terasa tidak enak. Alias, masuk angin.


Dalam kaitannya dengan pelajaran bahasa Tagalog, ia juga membantu saya untuk berlatih menuliskan kalimat yang mulai bisa saya kuasai. Jika ada yang salah, ia tak segan untuk membenarkan. Saya jadi punya guru baru selain beberapa rekan yang tergabung dalam Line Pembelajar Bahasa Tagalog.

Sayangnya, kami harus berkomunikasi lewat DM Instagram. Saya sudah memberinya nomor WA agar bisa saya respon dengan cepat. Tentu, saya dan Anda semua lebih terbiasa berkirim pesan lewat WA. Nyatanya, sama dengan Pinoy yang saya kenal lain, mereka kurang suka menggunakan WA. Jadi, mau tak mau saya harus menyesuaikan diri sering membuka Instagram. Walau sebenarnya saya cukup alergi membuka IG, tetapi demi pertemanan itu tidaklah masalah. Apalagi sejak beberapa hari ini, saya merasa kosong dalam hubungan pertemanan dengan orang sekitar.

Kosong dalam arti sulit nyambung ketika diajak berbicara mengenai sebuah topik. Bukannya saya pilih-pilih teman ya tetapi kadang saya juga butuh obrolan yang saya juga nyambung. Nah beberapa waktu belakangan ini, obrolan dari orang sekitar tak begitu saya gemari, semisal menggunjingkan orang atau membahas topik lain yang saya tidak paham. Itulah alasan mengapa saya cukup nyambung jika ada Pinoy yang menghubungi saya meski kadang akhirnya jarang komunikasi juga akibat kesibukan.

Pada obrolan beberapa waktu lalu, saya menyinggung sedikit mengenai kenapa orang Filipina memiliki tingkat kebahagiaan jauh lebih tinggi dibandingkan Indonesia dari survei yang dilalukan olehsalah satu badan PBB. Posisi Filipina berada nomor 2 di ASEAN setelah Singapura sedangkan Indonesia tercecer di urutan ke-6.

Indeks kebahagiaan tersebut diukur dalam 6 aspek, yakni pendapatan per kapita, suport sosial, angka harapan hidup sehat, kebebasan untuk memilih jalan hidup, kemurahan hati (generosity), dan persepsi dari korupsi. Keenam aspek tersebut memiliki poin tersendiri yang ditotal menjadi indeks kebahagiaan.

ASEAN HAPPINEST REPORT 2020

Country GDP per Capita Social Support Freedom Health Life Generosity Perception Index
to Make Life Choice Expectancy of Corruption
Singapore 1.520 1.395 1.138 0.635 0.219 0.533 6.377
Philippines 0.775 1.245 0.602 0.622 0.129 0.130 6.006
Thailand 1.007 1.348 0.794 0.609 0.377 0.032 5.999
Malaysia 1.168 1.174 0.789 0.597 0.275 0.062 5.384
Vietnam 0.718 1.253 0.819 0.651 0.136 0.090 5.353
Indonesia 0.892 1.155 0.610 0.568 0.543 0.038 5.286
Laos 0.715 0.987 0.486 0.612 0.273 0.194 4.889
Cambodia 0.545 1.071 0.588 0.675 0.233 0.073 4.848
Myanmar 0.678 1.098 0.495 0.597 0.570 0.188 4.308

Dari data tersebut, ia mengatakan bahwa meski orang Filipina amat miskin dan memiliki masalah korupsi serta ketimpangan ekonomi, tetapi mereka menghargai perbedaan. Tidak saja pada poin LGBT, penerimaan perbedaan tersebut juga pada berbagai aspek, semisal pekerjaan, agama, pendidikan, selera makanan, kegemaran, berat badan, hubungan percintaan, dan berbagai aspek kehidupan lain. Mereka akan suportif memberikan dukungan pada orang terdekatnya asal tidak mengganggu lingkungan sekitar.

Jujur, dengan berat hati alasan inilah yang saya rasakan berbeda dengan apa yang saya alami di sini. Kata “nyinyir” mengenai  kehidupan sesorang begitu agung. Makanya, ketika belum menikah, kenapa tidak jadi PNS, kelebihan berat badan, atau bekerja tidak sesuai jurusan, maka seseorang akan mudah sekali mendapatkan cap kurang baik. 


Ini juga yang pernah saya alami ketika bertemu keluarga besar. Rasanya, kerja keras saya membangun usaha mandiri dan menulis di blog sia-sia saja. Saya merasa, dukungan sosial terhadap pilihan mengenai kehidupan di Indonesia masihlah rendah. Jika tidak sesuai dengan apa yang dilakukan oleh banyak orang dan "standar bahagia" orang Indonesia seperti menjadi PNS dan lain sebagainya, maka rasanya akan sulit untuk bisa berkembang dan bahagia kalau tidak ada nyali dan usaha yang besar.

Meski sudah tidak memperdulikan, tetapi tetap saja banyak diantara kita atau orang terdekat saya yang masih terbebani oleh pikiran semacam itu. Ini bisa jadi yang membuat indeks kebahagiaan orang Indonesia begitu rendah walau sebenarnya kebahagiaan seseorang tidak bisa diukur dari satu parameter saja.

Dari Pinoy yang saya kenal, saya belajar bahwa kebahagiaan sejati bukanlah pada kedudukan, kekayaan, atau pujian semata. Yang terpenting kita bisa mengeksplorasi diri sesuai kesukaan kita, maka kebahagiaan itulah yang kita dapat. Tentunya, ketika kita mendapatkan orang yang sefrekuensi, maka rasa syukur akan nikmat ini akan mudah terucap. Kebahagiaan pun sebenarnya bersumber pada diri kita sendiri tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan sekitar.

Oh ya, meski bahasa Inggris saya tidak begitu sempurna, tetapi puji syukur saya masih bisa mengerti dan menjelaskan kembali akan sebuah isu. Saya bersyukur beberapa bulan lalu pernah ikut kursus singkat bahasa Inggris secara daring yang cukup meningkatkan kemampuan saya. Ia juga bertoleransi jika grammar saya banyak yang salah karena ia tahu bahasa Inggris tidak digunakan setiap hari di Indonesia.

Jadi, pada penutup tulisan kali ini, saya ingin mengambil pelajaran dari Pinoy yang suportif terhadap perbedaan juga merupakan sumber kebahagiaan. Bukankah negara kita memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika? Mengapa kita mudah sekali mencela mereka yang tidak sama dengan kita? Apalagi kalau membaca perang opini yang berseliweran di media sosial, rasanya cuma bisa mengelus dada.

Meski demikian, saya masih salut dengan skor generosity orang Indonesia yang amat tinggi. Saya selalu takjub dengan kemurahan hati orang Indonesia yang begitu spontan menolong orang lain, terutama orang terdekat yang sedang mengalami kesusahan. Kemurahan hati ini sesuai dengan pengamalan Pancasila terutama sila kedua. 

Lalu, kalau ditanya, apakah saya bahagia hidup di Indonesia?

Tentu, saya bahagia, tetapi pada beberapa kondisi. Ketika saya bertemu teman di blog, naik kereta api, mengajar setiap hari, menulis, mengunjungi candi, membeli bakso keliling dengan harga murah, bisa pijat refleksi dengan kenikmatan yang tiada tara, saya bisa mengatakan cukup bahagia tinggal di Indonesia. Bagaimana dengan Anda? Apakah bahagia tinggal di Indonesia?

Salam.


Tambahan Informasi

*) Sumber: World Happines Rank 2020 . Negara Brunei Darussalam tidak disurvei dalam penelitian tersebut.

*) Filipina juga memberikan layanan kesehatan gratis yang adil kepada masyarakatnya melalui Universal Health Care (UHC). Layanan ini termasuk konsultasi gratis dan tes laboratorium. 

13 comments:

  1. wah tulisan yang penuh dengan informasi bang..

    untuk teman ngobrol yang semakin sedikit itu biasa bang, soalnya saya juga ngalamin :)) semakin sedikit circle pertemanan, maka semakin tinggi kualitasnya.. beda kalau kita jaman sekolah dulu ya, lebih penting kuantitas daripada kualitas..

    saya termasuk orang yang bahagia hidup di Indonesia bang, selama tidak ada perang dan masih diperbolehkan beribadah.. cuma ya emang ati-ati aja kalau ngomong di medsos, kena ITE ntar :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya bang lebih ke kualitas ya
      tapi ya memang kadang pingin punya temen

      sebenarnya ada banyak yang bisa disyukuri
      asal engga sering main medsos si kalau menurut saya haha

      Delete
  2. Keren banget jalinan komunikasinya yang dari negara tetangga. Lebih keren lagi ketika kalian sama sama saling mengerti dan memahami. Apalagi dari indeks kebahagian mereka yang respect banget ya dengan orang lain, menghargai perbedaan itu sangat luar biasa

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya yang penting paham dan saling respect ya bang

      Delete
  3. Wah asyik ya bisa nyambung dengan orang luar sampai membahas segala macam topik..

    ReplyDelete
  4. Kalo saya juga bahagia tinggal di Indonesia. Walau kita memang masih kurang menghargai perbedaan.
    Semoga kedepannya rakyat Indonesia bisa lebih menghargai perbedaan yang ada agar kita semua bisa lebih bahagia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya semoga saja karena saling menghargai adalah kunci

      Delete
  5. Menarik sekali pertemanannya, Mas...

    Saya juga begitu, sering merasa tidak ada teman gara-gara nggak nyambung. Tapi kayaknya emang semakin berumur ((BERUMUR)), circle pertemanan kita makin menyempit deh

    Saya bahagia hidup di Indonesia, apapun yang terjadi. Karena kayaknya nggak mungkin juga saya jadi warga negara lain. hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya bener ya mbak
      kualitas penting daripada kuantitas

      wah iya si tapi siapa tahu ada kesempatan pindah warga negara mbak hehe

      Delete
  6. nambah konco luar negeri siji neh ki mas, alhamdulilah nambah paseduluran dunia maya ya mas...ntar nek jadi ke malang utawa peyan ke filipin bisa meet up tuh...ntar bahasannya pijen hihi


    tapi bener loh...nek kontes kecantikan di Indonesia kini udah mulai ga sekolot dulu ya, tetep mempertahankan heritage yang ada juga dari segi busananya...dan aku suka upaya melestarikan batiknya juga mas


    trus aku wes mbatin nek di luar tuh selain Indomie juga tolak angin sing sering mejeng keren di supermarket...soale dua brand iki sik sering nungul di tvc pas shootinge ndek luar negeri sih

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak alhamudillah mbak ornag e ya baik

      dan bener mulai bersinar pejen di sini

      tolak angin soale katae murah si
      dan multitasking juga jadi sering dipakai di sana

      Delete
  7. Saya senang tinggal di Indonesia, dan bahagia mas hihihi, banyak hal yang membuat saya bahagia, banget banget banget, ya meski ada satu dua hal pula yang membuat kesal 😂

    Ehya soal tingkat kebahagiaan di Filipina termasuk tinggi di ASEAN, kayaknya saya pun merasakannya. Buat saya, jadwal biztrip ke Filipina adalah salah satu yang paling saya suka selain ke Singapura dan beberapa negara ASEAN lainnya. It feels so warm, apa yaaaa, hangat saja rasanya seperti berada di rumah sendiri hahahahaha 😆

    Orangnya ramah-ramah, dan mostly mereka mirip kita perawakannya, jadi betul-betul kayak di rumah sendiri, oh dan mereka nggak beda-bedakan kita sama sekali, suka sih, makanya betah kalau ada jadwal ke Filipina. Semoga soon mas Ikrom bisa ke sana, ya 😍

    ReplyDelete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.