Benarkah Masyarakat Makin Enggan Merayakan Kemerdekaan?

Ilustrasi. - detik.com

Bulan Agustus yang identik dengan nuansa peringatan HUT RI rasanya tahun ini terasa hambar.

Meski belum ada huru-hara semasif tahun sebelumnya, tetap saja ada sesuatu yang berbeda jika dibandingkan dengan peringatan serupa beberapa tahun sebelumnya. Salah satu alasannya adalah enggannya masyarakat ikut andil dalam perayaan HUT RI kali ini.

Keengganan masyarakat tersebut bisa disebabkan oleh dua hal. Pertama, rasa ketidakpuasan kepada pemerintah. Kedua, kondisi ekonomi negara yang sedang tidak baik-baik saja. Kedua alasan inilah yang menjadi pemicu banyak masyarakat seakan enggan dan apatis untuk merayakan kemerdekaan/

Salah satu yang menjadi tanda keengganan masyarakat adalah tidak banyaknya kendaraan yang dipasang bendera merah putih. Dulu, selama bulan Agustus, banyak mobil, sepeda motor, truk, bus, dan tentunya kereta api dipasang bendera merah putih. Tanda bahwa kemeriahan bulan Agustus sudah tiba adalah bendera merah putih yang berkibar di berbagai macam kendaraan.

Saat ini, banyak pengguna kendaraan enggan memasang bendera merah putih. Kalau ada jumlahnya tak sebanyak dulu. Itu pun kebanyakan dilakukan oleh instansi dan angkutan yang dijalankan negara. Semisal, bus-bus BRT. Kalau kendaraan yang dijalankan pribadi rasanya tidak terlalu banyak.

Tak hanya pada kendaraan, banyak masyarakat juga enggan memasang bendera merah putih di sekitar rumah atau instansi mereka bekerja. Entah sebagai pelampiasan rasa kesal pada pemerintah atau ada hal lain, yang jelas pemasangan bendera merah putih juga tidak semasif tahun sebelumnya.

Keengganan masyarakat merayakan HUT Ri juga tampak pada tidak banyaknya lomba yang diadakan oleh warga. Di tempat saya memang masih ada lomba bagi anak-anak dan dewasa. Namun, di kampung sebelah, rasanya lomba-lomba tersebut tak lagi diadakan. Padahal, di kampung tersebut banyak warga yang masih berusia anak-anak. Tentu, momen 17an semacam ini adalah momen yang semestinya menjadi momen yang membahagiakan.

Pun demikian dengan aktivitas karnaval. Di tempat saya yang tiap tahun sebelumnya ada kegiatan karnaval, tahun ini tidak diadakan. Alasan dari pengurus RW sih karena efisiensi dan kondisi ekonomi masyarakat yang kurang baik. Saya paham sih karena kegiatan karnaval memang membutuhkan biaya banyak. Paling tidak, satu rumah iuran 100 ribu rupiah. Jumlah yang cukup banyak untuk sebagian orang saat ini.

Namun, meniadakan lomba-lomba rasanya kok gimana gitu. Biaya untuk lomba sederhana juga tidak banyak. Seperti lomba makan kerupuk, kelereng, atau lomba lain yang membutuhkan alat sederhana. Hadiah yang diberikan juga bisa hadiah yang biasa saja. Asal partisipasi masyarakat tetap ada, warga bisa berkumpul, itu saja sudah luar biasa.

Satu hal yang masih patut disyukuri adalah masih berlangsungnya acara tirakatan pada malam menjelang 17 Agustus. Hampir semua kampung masih melakukan ini dengan merayakannya. Entah dengan memotong tumpeng atau hanya dengan menukar nasi kotak. Yang penting acara sakral ini jangan sampai hilang. Bagaimana pun, acara sakral ini adalah wujud nyata kita menghargai jasa para pahlawan yang sudah bersusah payah memperjuangkan kemerdekaan. Sekecewanya kita dengan pemerintah yang makin lama makin ngaco, jangan sampai acara ini dilupakan. 

Nah, bagaimana dengan acara kemeriahan HUT RI di tempat kalian? Komentar yuk.  

Post a Comment

Sebelumnya Selanjutnya