Pilih Retur Barang atau Voucher Belanja?

Ilustrasi - SAPX

Untuk kesekian kali, saya kesal dengan layanan ekspedisi sebuah platform belanja online.

Ceritanya, saya membeli sebuah wadah penyimpanan detergen. Tujuan saya membeli barang tersebut agar detergen yang saya gunakan tidak tumpah. Sebenarnya sih saya lebih senang pakai detergen cair karena memang sangat kompatibel dengan mesin cuci. 

Namun, orang rumah masih banyak yang lebih suka menggunakan detergen bubuk. Masalahnya, detergen bubuk ini sering sekali tumpah. Kalau terbuka dan tidak ditutup dengan baik, ada saja ceceran bubuk detergen di mana-mana. Sayang, kan lalau terbuang percuma. Makanya, saya membeli wadah tersebut agar lebih enak menggunakan detergen bubuk.

Setelah melakukan check out dan membayar dengan COD, saya pun membuka bungkusan paket yang saya terima. Saya langsung kecewa karena barang yang saya inginkan datang dalam kondisi rusak. 

Bagian bawahnya sudah pecah. Pecahannya cukup besar sehingga tidak bisa digunakan lagi. Saya sempat ingin mengelem bagian tersebut, tetapi kerusakannya sudah sangat parah. Barang ini sudah tidak lagi digunakan.

Tentu, saya langsung memfoto barang yang rusak tersebut karena saya lupa melakukan video unboxing. Saya memilih pengajuan dana dan melakukan retur barang. Saya baca sekasama bagaimana cara melakukan retur. Dulu pernah sih sekali dan ada kurir yang datang k erumah untuk megambil barang returan.

Namun, kini pembeli harus datang sendiri ke pusat penyortiran paket terdekat. Waduh, saya sudah mulai malas tapi sayang juga karena harga barang tersebut lumayan. Saya pun berniat membungkus kembali barang yang rusak itu dengan rapi. Masih ada tenggat waktu sekitar seminggu untuk bisa menyerahkan kepada pihak ekspedisi.

Baru saja melakukan pengajuan retur, saya mendapat pesan dari penjual bahwa saya diminta untuk tidak melakukan retur. Mereka bersedia memberi saya voucher agar bisa berbelanja kembali. Yah sebagai kompensasi.

Saya mulanya akan menolak voucher tersebut karena saya takut jika barang yang datang rusak lagi. Rugi dong saya. Akan tetapi, saya juga malas datang ke pihak ekspedisi. Di sana pasi chaos dan banyak orang yang melakukan retur. Saya tak punya banyak waktu juga kalau antre lama hanya untuk mengirim returan barang.

Setelah menimbang beberapa hal, akhirnya saya menerima voucher tersebut. Saya pun membeli barang lain yang kemungkinan rusaknya kecil. Saya pun membalas pesan dari penjual saya menerima voucher itu dengan catatan pengemasan barang harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. Syukur-syukur kalau diberi tanda barang mudah pecah.

Mereka pun membalas akan melakukannya dan meminta maaf jika barang sebelumnya rusak. Saya pun menunggu paket dan saat datang, saya tinggal membayar sebesar 10 ribu rupiah. Saat saya buka, barang dalam kondisi utuh tidak rusak sekecil pun. Hingga kini, barang tersebut bisa saya gunakan.

Keputusan menerima voucher tersebut bagi saya tepat. Selain tidak perlu ribet mengurus returan, kita juga membantu pedagang mempertahankan performanya. Iya sih mereka salah tapi pihak ekspedisi juga turut andil. Makanya, menerima voucher belanja adalah solusi jika barang rusak asal nonimalnya sesuai.

Post a Comment

Sebelumnya Selanjutnya