Kemarin, grup WA salah satu komunitas blogger ramai dengan masalah job buzzer yang terciduk netizen.
Salah seorang pendiri komunitas tersebut memberikan satu pernyataan yang menurut saya luar biasa. Beliau menekankan untuk selektif dalam memilih job dalam media manapun, terutama blog. Blogger yang masih menerima job tanpa memperhatikan etika maka akan dipersilakan keluar dari komunitas.
Walau mungkin agak berlebihan, tapi saya salut dengan idealisme beliau dalam bersikap. Paling tidak, beliau adalah oase dari banyaknya blogger dan - yang memberi label dirinya influencer - di tengah gencarnya tawaran saat ini. Saya sering mendapat job dari komunitas tersebut dan beberapa diantaranya untuk mendengungkan hastag tertentu. Namun, semuanya masih dalam batas wajar dan tidak bertentangan dengan hati nurani.
Saya masih ingat, beberapa saat setelah bencana tsunami Tanjung Lesung tahun 2018, beberapa rekan blogger dengan entengnya mendengungkan bahwa wisata Tanjung Lesung baik-baik saja. Ada pula yang dengan lantangnya mendengungkan hastag #sawitbaik saat kebakaran hutan terjadi. Saat itu masih sebelum covid. Job seperti inilah yang menurut saya bertentangan dengan hati nurani. Saat menyuarakan hal positif di tengah kondisi kritis.
Saya tahu, saat ini keadaan ekonomi sedang tidak baik-baik saja. Uang 100 ribu 200 ribu rasanya sangat berarti walau jika dibelikan beras nilainya tidak seberapa. Job-job receh pun akan diambil walau isinya bisa saja membuat banyak orang seakan merasa sakit karena apa yang didengungkan jauh dari kenyataan. Contohnya ya saat warga Tanjung Lesung berupaya menghilangkan trauma malah dibuat seakan keadaannya baik-baik saja. Padahal pemulihan trauma tentu butuh waktu yang panjang.
Tak hanya soal job yang membuat hati nurani tertutup, saya juga kadang merasa risih dengan blogger yang diam saat banyak ketidakadilan terjadi. Saya tak masalah mereka tetap mengunggah kebahagiaan seperti kulineran, staycation, dan lain sebagainya. Manusiawi sekali dan saya juga melakukannya.
Akan tetapi, tidak peka sama sekali dan diam juga bukan blogger sejati. Alasannya, blogger semestinya bersikap kritis terhadap kondisi sekitar. Lewat media blog yang dimilikinya, sudah sepantasnya blogger turut andil dalam menyuarakan kebenaran. Sudah sepantasnya blogger berisik saat ada ketidakadilan muncul ke permukaan. Tidak semua orang punya blog dan mau jadi blogger. Di sinilah keistimewaan blogger yang tidak dimiliki oleh banyak influencer. Blogger punya kemampuan bernarasi lebih panjang dan dalam. Kalau kemampuan ini tidak digunakan sebaik-baiknya, buat apa jadi blogger?
Saya kan mau yang positif-positif saja.
Begitu pemikiran beberapa blogger di sekitar saya. Saat saya memposting hal-hal berbau kritis, biasanya mereka tidak mau membaca atau berkomentar. Menghindar dan merasa tulisan saya bukan bagian dari pemikirannya. Saya tidak menyalahkan mereka. Saya tahu mereka bermain aman. Menggunakan blog hanya untuk have fun.
Namun, kemarin saya membaca sebuah utasan dari Siskae, seorang aktris film dewasa yang sangat vokal bersuara dan menulis keresahannya terhadap kondisi bangsa. Ia tidak takut sama sekali jika aibnya dikuliti. Tindakannya ini menurut saya jauh lebih terhormat dibandingkan para blogger yang bermain aman. Siskae telah memberi dampak besar bahwa ia boleh dicap buruk, tetapi ia tidak boleh diam saja saat ada ketidakadilan. Masak enggak malu dengan Siskae?
Jadi, momen hari blogger kali ini menjadi momen penting bagi blogger untuk menjadi penyambung lidah rakyat. Saat ada ketidakadilan, maka tulislah dengan berimbang. Perbanyak bacaan agar lebih banyak referensi yang bisa dijadikan tulisan.akhir2 ini sisakeee lagi bersuara banget semoga siskaee gapapa aman2 aja dan ga diserang lewat kasus dia di masa lalu https://t.co/DEkIYl4cpG
— unmag (@unmagnetism) October 18, 2026
Walau demikian, semua kembali kepada pribadi masing-masing. Kalau saya sih, tidak mau jadi blogger yang hanya untuk have fun. Alasannya, semua akan dipertanggungjawabkan.
