Apakah Apinya (Masih) Menyala?

Api kita sudah menyala. Api kita sudah menyala. Api, api, api, api, api. Api kita sudah menyala.


Gambar diambil dari abbscout.blogspot.com

Anda semua tahu petikan lagu itu? Hmm lagu apa ya.Padahal lagunya berhubungan erat dengan hari ini. Hari ini, hari apa memang? Bukankah ini hanya hari kamis biasa. Mungkin banyak yang kurang menyadari bahwa hari ini adalah hari Pramuka. Apa hubungannya Pramuka dengan api?

Secara eksplisit, memang tak terlalu terlihat. Namun, jika anda pernah mengikuti kegiatan pramuka, terutama kemah, pasti benda satu ini pasti akan ditunggu. Ya, api unggun. Saat di mana kita, sebagai anggota pramuka bersama-sama untuk saling menghangatkan diri, saling introspeksi , dan saling berbaur dalam sebuah acara yang meski sederhana tapi sarat makna.

Pramuka. Praja muda karana, begitu bunyinya. Diantara sebuah semangat, sebuah cita-cita, dan hanya sebuah formalitas semata. Sebuah semangat, di dalamnya terkandung semangat pantang menyerah dalam berusaha, semangat kebersamaan untuk bekerja keras. Sebuah cita-cita, untuk mewujudkan generasi yang unggul di berbagai bidang. Dan, sebuah harapan untuk meraih masa depan gemilang. Namun, bisa hanya menjadi sebuah formalitas semata menjadi sebuah rasa yang bisa timbul tatkala gerakan pramuka tak diimbangi dengan keseriusan untuk senantiasa membuatnyab tetap ada, tetap maju, dan tetap berkembang.

Di dalam gerakan Pramuka sebenarnya sudah tercakup berbagai nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Nilai-nilai ini tercakup dalam sebuah pemgamalan nyata yang bisa diambil pelajarannya, terutama generasi muda. Pengajaran nilai-nilai ini menjadi lebih menyenangkan ketika diaplikasikan dalam berbagai permainan dan sederet aktivitas lainnya. Tali-temali, simbol morse, semaphore, hingga bentuk penjelajahan menjadi keunggulan gerakan pramuka. Para generasi muda, yang mengikiti pramuka akan belajar menjalani kehidupan secara nyata melalui kegiatan-kegiatan tersebut.
Memang, kegiatan pramuka, baik dari tingkat sekolahan maupun nasional sudah digalakkan sejak dulu. Namun, dari kacamata saya, gerakan Pramuka hingga saat ini masih belum banyak diminati oleh generasi muda. Entah apa alasan utamanya, yang jelas, mengikuti Pramuka bagi sebagian siswa/siswi hanyalah sebagai formalitas semata, yang tujuan utamanya agar tidak mendapat hukuman dari pihak sekolah.

Saat siswa duduk di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama, kegiatan Pramuka menjadi kegiatan ekstrakulikuler wajib. Biasanya, kegiatan diadakan  setiap hari sabtu siang sepulang sekolah. Itupun, saat SMP, biasanya kegiatan wajib Pramuka hanya diharuskan bagi siswa kelas 7. Saat memasuki bangku SMA/SMK/MA, tidak semua sekolah mewajibkan siswanya untuk mengikuti kegiatan Pramuka. Bahkan, di SMA tempat saya belajar, saat itu tidak memiliki gugus depan. Tidak hanya di SMA saya, tapi juga beberapa SMA lainnya.

Melihat kegiatan Pramuka yang banyak memiliki manfaat sebenarnya cukup disayangkan jika “hanya diikuti oleh anak-anak itu saja”. Artinya, dibandingkan dengan kegiatan ekstrakulikuler lain seperti basket, dance, sepak bola, dan sederet ekstrakulikuler lainnya, peminat Pramuka jauh lebih sedikit, terkecuali di beberapa sekolah yang memang cukup antusias. Nasib yang serupa dengan kegiatan Palang Merah Remaja (PMR). Apa yang salah?

Tidak pasti apa penyebabnya. Namun, menurut opini saya (hanya sebuah opini, bisa benar bisalah) ada beberapa penyebabnya. 

Pertama, adanya mindset (pemikiran) di sebagian bahwa mengikuti Pramuka tidak terlalu prestisius dibandingkan mengikuti kegiatan lainnya. “Ngapain sih ikut Pramuka? Hanya baris-berbaris dan kemah gitu”, kata teman SMP dulu saya saat menunggu pembina Pramuka datang. 

Kedua, kurangnya support dari pihak lain, yang sebenarnya bisa menjadi penggiat Pramuka. Jika dibandingkan kegiatan perlombaan lain seperti basket dan sepakbola, dengan support sponsor yang gila-gilaan, kegiatan perlombaan Pramuka biasanya tak terlalu banyak mendapat perhatian sponsor, terlebih jika even Pramuka diadakan di daerah. Memang, pihak sponsor haruslah yang masih mengikuti aturan yang berlaku, tapi dengan kehadiran mereka, maka akan menambah semangat untuk lebih memajukan kegiatan ini.

Ketiga, kadang kegiatan Pramuka dilakukan oleh banyak siswa dengan rasa terpaksa karena takut mendapat hukuman dari pihak sekolah. Akhirnya, mereka hanya datang saat kegiatan wajib, namun untuk kegiatan yang lebih lanjuta lagi, hanya sedikit siswa yang mau mengikuti. Padahal, jika ada bentuk pengertian yang baik mengenai manfaat gerakan pramuka, maka tak mustahil akan banyak siswa yang ikut. Keempat, ada sebagian orang tua yang tak terlalu rela jika anaknya aktif mengikuti Pramuka. Sama halnya dengan PMR, kegiatan Pramuka juga membutuhkan waktu dan energi yang cukup banyak, terutama jika akan menghadapi lomba. Jangankan mengikuti lomba, saat kegiatan Persami (perkemahan sabtu minggu) di sekolah, orang tua banyak yang cukup parno melepas anaknya untuk berlatih mandiri. Sebentar-sebentar akan dijenguk dengan membawa makanan berlimpah. Kalau sudah begini, apa bedanya dengan pindah tidur saja? Memang sih bagi beberapa anak yang memiliki penyakit khusus wajar, tapi kalau yang baik-baik saja dan tetap semangat kok rasanya cukup berlebihan.

Dari beberapa alasan tadi maka kegiatan Pramuka meski masih terdengar gaungnya, tapi tak terlalu banyak diminati. Penilaian ini berdasarkan pengalaman saya saat sekolah dulu dan melihat kegiatan pramuka di beberapa sekolah saat ini. Semoga saja penilaian saya salah dan berharap api yang masih menyala semakin menyala untuk kemajuan generasi penerus bangsa.


Sekian. Mohon maaf jika ada kesalahan. Salam Pramuka!

Post a Comment

Next Post Previous Post