Mana yang Benar; “Inggih” atau “Injih”?



Di suatu hari,,,,,,, 

Saya (S)

Bapak Penjual (P)


(S): “Menawi siyos, mbenjing kulo aturi arthanipun Pak, Nggih?”

(Jika jadi, besok saya beri uangnya, ya Pak?)

(P): “Oh injih, Mas. Pun keseson mawon. Kulo njih badhe tumbas bahanipun rumiyin”.

(Oh, iya Mas. Tidak perlu terburu. Saya ya baru akan beli bahannya dulu).

(S): “Oh, ngaten, nggih, Pak. Nggih sampun. Mangke kulo kabari malih.”

(Oh begitu ya, Pak. Ya sudah. Nanti saya beri kabar lagi).

(P): “Njih, Mas. Sumonggo. Nomer kula ingkang wingkingipun 45 njih”.

(Iya, Mas. Silakan. Nomor saya yang belakangnya 45 ya).

(S): “Oh, inggih, Pak. Matur nuwun sanget, Nggih Pak.”

(Oh iya, Pak. Terima kasih banyak ya, Pak).

(P): “Injih, Mas. Sami-sami,”

(Iya, Mas. Sama-sama).

Hmmm, membaca percakapan tadi, mungkin Anda sudah bisa menebak ke mana arah bahasan tulisan kali ini. Percakapan nyata ini terjadi ketika saya ingin memesan vandel untuk kenang-kenangan seorang rekan di sebuah ruko di daerah Tempel, Sleman, Jogja. Nah, jika diamati lebih dalam, ada satu poin percakapan yang memiliki perbedaan sangat mencolok.

Apalagi, kalau bukan adanya kata “inggih” dan “injih”. Dalam percakapan tersebut, saya selalu menggunakan kata “inggih” sedangkan bapak penjal vandel konsisten menggunakan kata “injih”. Setiap percakapan yang saya lakukan, sebenarnya sih tidak masalah dengan perbedaan tersebut. Namun, ada seorang rekan yang bukan orang Jawa bertanya kepada saya. Ia begitu bingung ketika ingin mencoba berbahasa Jawa Krama dengan baik dan menemukan kata yang artinya sama namun berbeda pengucapannya.

Lantas, mana yang benar, “inggih” atau “injih”?

Sebelum saya meneruskan, saya jawab dulu. Keduanya, baik “inggih” maupun “injih” adalah benar. Keduanya merepresentasikan dari kata “ya” dalam bahasa Indonesia. Keduanya juga menunjukkan sikap akomodatif dan merefleksikan sikap hidup orang Jawa yang menjaga harmoni dan prinsip rukun. Menjunjung tinggi perasaan lawan bicaranya sehingga merasa dihormati, baik tua maupun muda. Makanya, sang bapak penjual selalu menggunakan kata “injih” pada setiap kalimat yang keluar meskipun saya jauh lebih muda dari beliau.

Beliau akan memastikan saya tetap nyaman berkomunikasi dengannya begitupun saya meskipun ada sedikit perbedaan paham dari tujuan percakapan kami. Saya terus mencoba menghormati beliau agar tetap menjalin komunikasi dengan saya lantaran saya sangat membutuhkan jasa beliau. Di sini, peran “inggih” dan “injih” sangat sentral.

Lalu, mengapa kami menggunakan dua kata berbeda meski artinya sama? Bukankah sama-sama masih bahasa Jawa?


Perbedaan ini bermula pada peristiwa Palihan Nagari atau keterbelahan Pulau Jawa menjadi dua bagian saat Perjanjian Giyanti. Kerajaan Mataram Islam yang begitu perkasa harus dibelah menjadi dua menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Akibat keterbelahan itu, masyarakat Jawa pun ikut terbelah dalam hal budaya.

Menurut Prof Djoko Suryo, Guru Besar ilmu sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM), akibat adanya Palihan Nagari, beberapa waktu kemudian ada semacam pilah klaim kebudayaan. Mulai timbul yang namanya klaim “wong Solo” dan “wong Yogya”. Klaim kebudayaan ini terdiri dari pakaian adat yang digunakan, seperti blangkon. Jika blangkon Solo lebih pipih pada bagian belakang maka blangkon Yogya memiliki semacam “punuk” di bagian belakang tersebut. Dalam hal tarian, “wong Solo” lebih ke bentuk gerakan halus dan merendah sedangkan “wong Yogya” lebih menonjolkan kegagahan.
Baca juga: Antara Je dan Jeh 
Nah, pilah kebudayaan ini kemudian juga diikuti oleh pilah bahasa walau tak terjadi seketika. Yang satu “inggih” dan yang lainnya “injih”. Wong Solo akan menggunakan kata “inggih” dan wong Yogya akan mengatakan “injih” meskipun keduanya memiliki arti sama. Varian “inggih” dan “injih” inipun menjadi fitur pembeda wong Solo dan wong Yogya.

Dalam sebuah studi masalah perbedaan dua varian bahasa ini, seorang penjual batik orang Imogiri Yogyakarta di makam Pajimatan (makam raja-raja di Imogiri) menceritakan bagaimana pandangannya tentang “injih” dan “inggih”. Imogiri sendiri merupakan bekas wilayah enklave Surakarta yang berada di wilayah Yogyakarta. Di sana, masih banyak “wong Solo” yang begitu setia mempertahankan budayanya, termasuk bahasa meski dikepung oleh budaya “wong Yogya”.

“Menawi Solo utawi bagongan rak inggih, menawi Yoja rak injih. Kula injih. Kaliyan Kanjeng Ratu Hemas menika kula rak asring pun timbali. Njih, sok komunikasi kaliyan Ibu Ratu Hemas”.

“Kalau Solo atau bagongan yaitu inggih, sedangkan Yogya itu injih. Saya (menggunakan) injih. Kanjeng Ratu Hemas (permaisuri Sultan HB X) sering memanggil saya. Ya, sering berkomunikasi dengan Ibu Ratu Hemas”.

Dari petikan pengakuan tersebut, terlihat jelas bahwa klaim kebudayaan kedua wilayah itu masihlah terasa hingga kini. Meski pada akhirnya dengan sendirinya “wong Solo” yang hidup di Jogja akhirnya harus bisa membiasakan diri menggunakan “injih” dan bukan “inggih”. ''

Wilayah enklave Solo yang dikelilingi Jogja ditunjukkan oleh warna putih. Enklave ini terbentuk akibat Perjanjian Giyanti yang tidak merujuk daerah mana saja yang dibagi diantara keduanya dengan jelas. Beberapa diantara wilayah ini adalah Kotagede, Imogiri, dan Ngawen. (Wikipedia).
Klaim kebudayaan ini ternyata juga pernah dituliskan dalam sebuah narablog saat sang penulis blog tersebut menggunakan variasi “inggih” padahal ia adalah asli wong Yogya. Sang penulis pun ditegur oleh ayahnya lantaran seharusnya dia menggunakan “injih” sebagai penegas bahwa ia adalah orang Jogja. Petikan narasi blog tersebut seperti tertera di bawah ini.
Aku orang Jogja. Aseli. Bokap aseli dari Jogja, uda beberapa turunan tinggal di Jogja. [...] Orang bapakku aja, sewaktu aku SMA, menegur aku dengan tajam, hanya karena aku bilang “nggih, inggih” dengan orang tua. Harusnya “njih, injih”...

‘Saya orang Jogja asli. Bapak asli dari Jogja, sudah beberapa turunan tinggal di Jogja. [...] Bapak saya, sewaktu saya SMA, menegur saya dengan tajam, hanya karena saya bilang “nggih, inggih” (ya) dengan orang tua. Harusnya “njih, injih”...’

Dengan demikian, “inggih” dan “injih” menjadi penegas klaim kedua kebudayaan itu. Hingga sekarang pun, saya masih bisa mendengar para penglaju Jogja-Solo di KA Prameks yang mengucapkan dua varian bahasa tadi. Dan akhirnya, saya bisa sedikit menebak, dari mana asal orang tersebut. Oh ini “wong Yogya” dan oh ini “wong Solo”.


Identitas wong Solo dan wong Yogya memang masih kental hingga sekarang. Walau demikian, keduanya saling membutuhkan. Dan KA Prambanan Ekspres menjadi pemersatunya
Pertanyaan unik pun muncul. Lho, Mas Ikrom tinggal di Jogja. Tapi kok malah menggunakan “inggih”?

Pertanyaan ini saya jawab dengan simpel. Saya bukan “wong Yogya” atau “wong Solo”. Saya wong Malang, Arema yang hidup lama di Kawasan Arek. Sebuah kawasan besar di Jawa Timur yang jauh dari pusat peradaban Jawa di dua daerah itu. Kalau di Malang, saya jarang menggunkan keduanya dan malah menggunakan varian bahasa “c*k” sebagai identitas Arekan yang dikenal blak-blakan, egaliter, dan tidak mau berbasa-basi.
Baca juga: Kawasan Arek, Orangnya Kasar-Kasar?
Tapi, karena saya tinggal di Jogja dan tidak mungkin juga saya cak cuk cak cuk dengan lawan bicara saya, maka saya pun menggunakan “inggih”. Varian bahasa ini saya pilih karena sejak SD dulu pelajaran bahasa Jawa yang saya terima menggunakan pakem dari Solo. Orang tua saya, tetangga saya dan orang-orang di Malang ketika berbicara basa krama pasti menggunakan varian “inggih” dan bukan “injih”. Saya yakin, teman-teman yang berasal dari Kawasan Arek pasti lebih sreg menggunakan “inggih” daripada “injih”. Yo opo ora, Rek? Arek Malang, Arek Suroboyo, Sidoarjo, Mojokerto, ndi iki suarane?

Makanya, hingga saya dewasa, saya masih menggunakan “inggih” sebagai penegas kalimat yang saya ucapkan. Saya masih memegang teguh amanah dari almarhum kakek saya bahwa berkata “ya” masih menjadi sebuah kewajiban bagi orang Jawa. Berkata “tidak” kepada orang lain akan dianggap tidak “njawani” atau tidak bersikap seperti orang Jawa. Ucapaan “inggih” ataupun “injih” akhirnya bermuara bagaimana menjaga perasaan lawan bicara agar tetap nyaman berkomunikasi dengan kita.

Jadi, jika ditanyakan kembali, mana yang benar, “inggih” atau “injih”, semua kembali kepada klaim kebudayaan yang tersemat kepada seseorang dan sejauh mana ia nyaman menggunakan varian tadi. Satu hal yang perlu digarisbawahi, adanya “inggih” dan “injih” memang akibat dari politik adu domba dan pecah belah yang dilakukan oleh penjajah Belanda. Namun, disadari atau tidak, varian bahasa ini malah memperkaya khazanah kebudayaan kita. Kalau saya sih, ambil positifnya saja. .
Inggih napa injih?

Sing penting, ora inggah injih nanging ora kepanggih. Bener kan cuk?

Eh.


***
Sumber referensi untuk tulisan remeh ini.

(1) (2)

33 comments:

  1. Kalau saya orang solo, lebih suka dan sering menggunakan kata injih. tampak lebih enak dan tampak halus saja.

    ReplyDelete
  2. Ternyata ada sejaranhnya ya. Aku kira hanya sinonim biasa saja jadi terserah mau pakai kata yang mana. Seperti kata bunga atau kembang gitu :D
    Tapi kalau diajak ngomong sama orang jawa yg lebih tua biasanya jawabnya nggih sih. Jarang pakai injih. Selebihnya bahasa indonesia 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak anggun hehe

      aku dulu juga ngiranya gitu
      sama sih sering pakai inggih

      Delete
  3. Kalau aku kebiasaan inggih sih, karena terbiasa di runah seperti itu, mungkin medoknya beda ya😂

    ReplyDelete
  4. Kalau ketemu keluarga besar Bapak saya masih menggunakan kata Inggih, karena di tempat kami di Banyuwangi memang begitu. Tapi serius saya baru tahu kalau perbedaan antara keduanya ada cerita sejarahnya ya. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya ini juga faktor kebiasaan berpengaruh ya

      Delete
  5. kalo aku sering pakai "inggih" dalam sehari-hari. bahasa jawa memang ada beberapa kata yg beda huruf tapi maknanya sama.

    ReplyDelete
  6. Temanya menarik sekali mas ikrom😃. Penggunaan bahasa Jawa yg serupa tapi tak sama. Dan sy jd bljr bahasa jawa nih..walopun sedikit hehe. Kayaknya di bhs sunda jg bnyk penggunaan bhs yg serupa tp tak sama yah? Adakalanya beda daerah beda pengucapan tp artinya sama..

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih mbak Gita

      bener setiap bahasa pasti ada variasnya ya...

      Delete
  7. Takjub saya dengan kekayaan budaya Indonesia. Bahkan perbedaan pelafalan satu kata (yang artinya sama) bisa ditarik nilai historisnya.

    ReplyDelete
  8. Kalau bahasa tulis biasanya aku ngikutin kata sebelum dan sesudahnya. Kalau bahasa lisan mengikuti dialognya dengan siapa. Gak konsisten gitu

    ReplyDelete
  9. Mamaku orang Magelang dan kebanyakan pake Inggih kalau ketemu keluarga di Yogyakarta. Ternyata ada kata yang serupa dengan makna yang sama, ya. Wah wah. Info menarik.

    ReplyDelete
  10. Orang Semarang pakai kata 'inggih' juga dalam percakapan bahasa Jawa. Satu bahasa aja banyak pilihan diksi nya ya, sungguh betapa kaya negeri ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. inggih ini juga mirip solo mbak bicaranya hehe
      iya kaya banget ya..

      Delete
  11. Kebumen inggih mas ikrom
    Klo njeh aku sukae denger ya orang yoggya soloan gitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. kebumen itu masuk Begelen ya sama Purworejo
      lebih deket jogja ya tapi kebiasaan pakai inggih hehe

      Delete
  12. Inggih sih.. Semarang ngedidik gue seperti itu.. wkwkwk
    Sama ada tambahan 'og'.. heheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. oh iya sama og
      kadang akud engar ini seperti kok ya

      Delete
  13. Aku lebih nyaman pakai Injih.
    Karena aku orang Surabaya.
    Hehehe...kerasa sopan sekali, rasanya...kalau pakai inggih (apalagi dengan nada suara yang lemah lembut...mashaAllah, keraton banget yaa...)

    ReplyDelete
  14. Wah jadi tambah pemahaman aku soal bahasa jawa hehe

    Salam
    Kidalnarsis.com

    ReplyDelete
  15. Saya pernah tinggal di Yogya lima tahun dan selama ini mengira injih itu lebih kromo ketimbang inggih. Ternyata anggapan saya keliru banget ya hehehe

    ReplyDelete
  16. Wah aku baru tahu. Sejauh ini, aku masih suka pake dua-duanya. Ikut-ikutan temenku yang orang Jawa. Hehehehe...

    ReplyDelete
  17. hihihi kirain periode baby boomers aja yang masih meributkan mana lebih tinggi, Solo kah atau Jogja
    Sama halnya dengan Sunda dan Jawa .... ^^

    ReplyDelete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.