Agar Kegiatan "Class Meeting" Lebih Berfaedah

Kegiatan kampanye memilah sampah yang dilakukan kakak kelas 5 kepada adik-adik kelas 1 saat class meeting berlangsung

Hari-hari penghabisan semester gasal seperti minggu ini bisa jadi merupakan hari paling melelahkan bagi seorang guru.

Mereka tidak mengajar ataupun melakukan kegiatan di kelas. Namun, rasa capai yang melanda mereka bisa jadi jauh berlipat dibandingkan dengan mengajar biasa. 

Pasalnya, pada pertengahan Desember ini, hampir semua sekolah mulai melaksanakan pembagian rapor semester gasal. Bahkan, ada beberapa sekolah yang jauh-jauh hari sudah membagikan hasil belajar siswa sehingga mereka bisa libur dengan lebih cepat.

Membagikan rapor tentu berkaitan dengan pengerjaan rapor. Uniknya, pengerjaan rapor ini tidak serta merta bisa dilakukan secara maksimal jika masih ada tanggung jawab lain. 

Selepas Penialaian Akhir Semester berakhir, sebelum wabah covid-19, siswa-siswi masih masuk seperti biasa. Mereka masih masuk ke kelas dan tentu saja masih menjadi tanggung jawab dari Bapak/Ibu guru. Masa-masa semacam ini lebih dikenal sebagai class meeting (CM).

Alhasil, masa-masa penantian CM ini dikenal sebagai masa unfaedah di sekolah. Sudah tidak ada pelajaran kenapa masih saja masuk? Begitu keluh kesah dari beberapa orangtua. Mau sekolah kok malas. Tidak masuk tetapi masih dilakukan presensi. Serba repot kan?

Makanya, banyak orangtua yang menggunakan masa CM ini untuk kegiatan keluarga. Ada yang menghitankan anak laki-lakinya dan ada pula yang sebelum PAS berlangsung sudah mengizinkan seminggu tak masuk sekolah saat CM. Apalagi, kalau bukan ikut mereka untuk menghadiri acara pernikahan saudara di luar kota, luar pulau, bahkan luar negeri.

"Pak, saya mau mengizinkan putra saya seminggu setelah PAS ya. Mau saya ajak hajatan ke Venezuela".

Sebagai guru kelas, saya sebenarnya tidak keberatan. Dengan catatan, jika siswa tersebut sudah tidak memiliki tanggungan tugas ataupun kegiatan remedial. 

Silakan saja. Namun, jika siswa tersebut masih punya banyak cicilan tugas, nilai PAS yang didapatkan masih kurang, dan ada beberapa catatan pelanggaran, biasanya saya menahannya terlebih dahulu beberapa hari selepas PAS. 

Untungnya, selama saya menjadi guru, kejadian seperti ini baru sekali terjadi. Walau sang orangtua awalnya keberatan, akhirnya ia pun luluh. Tak lain, saya bertanya balik kepadanya.

"Mau diisi nilai berapa, Bu putranya?"

Maka dari itu, walau tidak ada pelajaran, orangtua sebaiknya tidak menyepelekan untuk membiarkan sang anak tidak masuk. Selain menunggu adanya informasi penting semisal jadwal penerimaan dan pengembalian rapor, dengan tetap masuk saat CM anak juga belajar untuk bersabar.

Ketika mereka dewasa, mereka juga akan menanti masa-masa menunggu sebuah kabar. Entah pengumuman kerja, pengumuman tes CPNS, beasiswa, dan lain sebagainya. Kalau mereka tidak diajarkan untuk stand by akan datangnya pengumuman tersebut, bisa-bisa mereka akan selalu meremekan sesuatu yang penting. 

Jika memang kegiatan tersebut memang tak bisa ditinggal atau sakit yang memang parah, itu tak masalah. Namun, kalau menuruti rasa malas berangkat ke sekolah lantaran sudah dianggap tidak ada pelajaran, rasanya kok sayang.

Bagi guru, sebenarnya kegiatan CM ini juga simalakama. Di satu sisi, mereka ingin berkonsentrasi untuk mengerjakan rapor. Di sisi lain, perhatian mereka masih tercurah kepada siswa-siswi yang masuk kelas. Kalau siswa SMP atau SMA mungkin tak menjadi masalah karena biasanya ada kegiatan pertandingan sepak bola atau apapun yang dilalukan oleh OSIS. Lha bagaimana jika siswa-siswi SD seperti di sekolah saya?

Jika tak diberi kegiatan, mereka akan berkelahi, memetik bunga, naik pohon, bermain pintu kelas, dan lain sebagainya. Terlebih siswa kelas kecil (1, 2, 3) harus tetap dalam pengawasan guru walau sudah tak ada pelajaran. 

Guru kelas 1 biasanya memberikan mereka kertas bergambar untuk kegiatan mewarnai. Jadi, selama dua minggu CM, kegiatan mereka ya hidup mati mewarnai gambar.

Kalau kelas besar, biasanya saya memutarkan video mengenai pembelajaran atau video lain yang menarik. Saya pantang memutar film lantaran nantinya siswa-siswi jadi ketagihan. Dari video yang saya putar, biasanya saya meminta mereka merangkumnya. Ya standar lah seperti guru-guru lainnya.

Kalau saya sedang mood dan kebetulan rapor saya sudah hampir rampung, biasanya saya pergunakan untuk lomba cerdas cermat kecil-kecilan. 

Biasanya, saya menggunakan bel listrik yang sudah dibuat pada kegiatan pembelajaran sebelumnya. Selain menambah wawasan, kegiatan ini juga dilakukan agar mereka tidak bosan dan masih semangat untuk masuk sekolah. Kadangkala, siswa yang masih masuk sekolah akan bercerita keseruan apa saja yang mereka dapatkan.

Jika masih memungkinkan, kegiatan CM juga bisa digunakan untuk menyaring siswa yang akan mengikuti lomba mewakili sekolah pada kegiatan bina kreativitas siswa dan kegiatan lain pada semester berikutnya. Ketika sudah mendapatkan nama siswa yang sudah disaring pada CM semester gasal, maka guru atau pelatih akan lebih fokus dalam melatih mereka.

Mengisi majalah dinding dan melakukan reportase sekitar juga bisa dilakukan (Dokumentasi pribadi)

Makanya, tujuan lomba cerdas cermat yang saya lakukan, selain sebagai hiburan juga sebagai ajang untuk melakukan hal ini. Sebagai pembina lomba siswa teladan dan olimpiade MIPA, saya langsung menemukan nama-nama yang bisa diajukan untuk kegiatan tersebut. 

Terlebih, pesan Bapak KS untuk menjaga asa tetap masuk 50 besar olimpiade MIPA tingkat kota dan 3 besar siswa teladan di tingkat kecamatan cukup berat. Untuk itu, kegiatan class meeting masih menjadi andalannya.

Guru-guru lain yang membina aneka lomba juga melakukan hal sama. Mereka juga mengadakan lomba puisi dan pidato kecil-kecilan sehingga siswa lebih siap. 

Kegiatan seperti ini sudah berlangsung lama di sekolah saya dan hasilnya memang cukup memuaskan. Banyak prestsi yang didapat dari penjaringan siswa saat CM ini. Kegiatan CM pun tidak sia-sia.

Para guru cukup terbantu ketika ada pihak luar yang akan melakukan kegiatan di sekolah kami. Entah demo memasak, demo cuci tangan, kampanye anti narkoba dan keselamatan dari kepolisian, hingga try out dari sebuah bimbingan belajar. Rentang waktu panjang siswa-siswi saat mengikuti kegiatan tersebut bisa kami gunakan untuk mengerjakan rapor.

Kalau sudah benar-benar mentok karena saking panjangnya CM yang berlangsung hingga dua minggu lebih, maka guru olahraga dan guru agama akhirnya yang bertanggung jawab. 

Berhubung mereka sudah menyetor nilai dan tidak ikut mencetak rapor, maka saya biasanya meminta mereka untuk mengajak siswa berkegiatan. Entah lomba agama kecil-kecilan, khotmil quran, penjelajahan, ataupun berenang. Saya selalu bilang, "Pak, plis ajak mereka apa. Rapor saya belum selesai, hiks".

Untuk kegiatan kemah pramuka, biasanya sekolah saya melakukannya setelah penerimaan rapor selesai. Bapak KS sangat paham tugas guru-guru sangatlah banyak dan tidak bisa diganggu gugat. Makanya, kegiatan ini biasanya dilakukan pasca penerimaan rapor sekaligus berdarma wisata.

Yah itulah beberapa cerita mengenai kegiatan CM yang seringkali dianggap unfaedah oleh beberapa orangtua. Apapun itu, satu hal yang pasti, saat kegiatan CM siswa pun dipulangkan lebih pagi. Siswa senang karena bisa bermain dan guru pun senang bisa kembali mengerjalan rapor yang njlimet ini. Bukan begitu?

7 comments:

  1. Haloo mas, udah lama nih ga main ke sini. Udah berubah yaa tema blog nya eehehe

    Class meeeting, semasa sekolah itu agak ambigu menurutku mengenai presensi/absensi (mana yang benar?), itu tidak diabsen. Jadi, sebenarnya kami tidak masalah kalo ga masuk ketika class meting, tapi kalo ga masuk, kek ada rasa berdosa gitu hahaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. tema blognya tetap kok mas
      iya makanya nanggung kan ya
      mau masuk ya engga ngapa2ian mau absen kok ya masih dipresensi hehe

      Delete
  2. Seingat saya zaman SD tuh memang enggak ada CM sebagaimana di SMP-SMA, yang lazimnya diadakan turnamen futsal, atau penampilan beberapa perwakilan ekskul (silat, teater, tari tradisional, tari modern, sama band). SD ya bebas aja itu bocah sekarepe dewe. Yang paling saya ingat tuh pada bawa bekel, karet, gambaran, tazos. Inisiatif teman-teman saya.

    Tapi kayaknya ada pula kegiatan bersih-bersih kelas buat menunggu pengambilan rapor, jadi nanti biar kelasnya kinclong banget. Haha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, zaman SD saya dulu juga engga ada class meeting mas
      ya baru baru ini aja buat ngisi kekosongan
      biara anak-anaknya enggak diumbar gitu aja

      dan tetep bersih bersih kelas nomor 1 ya sebelum rapotan haha

      Delete
  3. Jadi pelajaran juga nih buatku saat nanti mulai mengajar.

    Masa setelah ujian semester emang nggak enak sih. Guru-guru repot ngisi rapor siswa.
    Sedangkan siswanya males datang karena nggak belajar lagi.
    Tapi jika ada kegiatan yang seru, bisa juga biar siswanya senang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas memang bingung ya antara masuk dan tidak
      bisa jadi pelajaran ya nanti pas udah ngajar

      Delete
  4. Class meeting di tingkat MA, muridnya malah makin rewel. Pengen bikin kegiatan ini itu tapi tetap gurunya yg sibuk.

    Padahal ga tau aja, gurunya jg mumet mau nyusun nilai, apalagi yg merangkap operator kayak saya dulu. Eh, maaf malah jd kebablasan curhat di sini hehehe

    ReplyDelete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.