Akhirnya Keturutan Naik Bus Trans Jateng Borobudur Kutoarjo

Trans Jateng Kutoarjo Borobudur
Bus Trans Jateng di Terminal Kutoarjo

Kalau sedang di Jogja, saya itu tidak bisa main jauh-jauh.

Alasannya ya simpel. Engga ada motor dan tempat tinggal saya lumayan nylempit. Saya baru keluar kalau kebetulan sepupu saya yang punya mobil pick up sedang keluar rumah ke arah kota atau daerah lainnya. Sebenarnya bisa sih saya numpang di rumah teman di Condongcatur atau Congcat. Namun, ya masak tiap minggu kalau jalan-jalan numpang terus. Kan engga enak, hehe. Lagian, masih dalam rangka mencegah penyebaran wabah covid-19, saya juga bakal keluar rumah kalau memang mendesak saja.

Makanya, saat liburan hari Minggu kemarin, saya berkesempatan untuk bisa keluar karena kebetulan yang mengantar saya mau ke Solo. Dan, kebetulan pula saya bisa nebeng selepas subuh. Nah beberapa hari sebelum keberangkatan, saya sudah mempersiapkan diri mau ke mana. Saya memutuskan untuk naik bus Trans Jateng rute Kutorarjo-Borobudur.

Sejak peresmian beberapa bulan lalu, saya belum pernah merasakan sensasi naik bus ini. Saya yakin untuk mencobanya karena saya juga mau ke candi-candi di sekitar Borobudur. Dari Borobudur, saya bisa naik bus tujuan Jogja dan turun di gang depan ruko saya.

Untuk mencapai Kutoarjo, saya memutuskan untuk naik KA Prameks yang berangkat dari Stasiun Yogyakarta pukul setengah 7 pagi. Ini merupakan keberangkatan KA Prameks yang pertama. Sepupu saya tepat menurunkan saya di stasiun sekitar jam 6. Untunglah, saya sudah membeli nasi kap seharga 6.000 rupiah dari tetangga saya yang biasanya berjualan di Pasar Tempel. Hayo, yang kesulitan mencari makanan murah di Jogja, sini saya beri fotonya.

Nasi kap 6.000 rupiah yang dijual tetangga saya di Pasar Tempel

Selepas check in, saya pun makan nasi kap tersebut agar bisa mengganjal perut. Tak lama kemudian, KA Prameks yang akan saya naiki sudah tersedia di jalur 2 berdekatan dengan KRL Jogja-Solo di jalur 1. Penumpang saat itu cukup banyak meski hari libur.

Perjalanan Jogja-Kutoarjo selama 1,5 jam saya lalu dengan cukup flat. Yah sama sih dengan perjalanan-perjalanan sebelumnya dengan KA Prameks. Meski, ini perjalanan pertama saya ke Kutoarjo. Biasanya, saya naik Prameks kalau ke Solo saja. Sekitar pukul 8 kurang seperempat, saya pun sampai di Stasiun Kutoarjo. Sebagai stasiun kelas besar, stasiun ini tetap ramai oleh penumpang yang akan naik dan baru turun. Dan sama dengan stasiun lain, saya pun ditawari oleh para tukang ojek dan becak agar bisa memakai jasa mereka.

Terminal Kutoarjo di suatu pagi

Tawaran itu pun tentu saya tolak karena jarak Stasiun Kutoarjo dan Terminal Kutoarjo hanya 200 meter. Nah di perempatan sebuah jalan (saya lupa jalannya), saya sempat ditawari bus bumel ke  arah Prembun dan Kebumen. Hmm… Ini Mbak Nita sudah melambai-lambai dengan aneka kulinernya. Saya sebenarnya mau mencoba es dawet di Jembatan Butuh yang legendaris itu.

Berjalan kaki dari Stasiun Kutoarjo ke Terminal Kutoarjo

Saya galau, naik bumel ini apa langsung ke Borobudur ya. Lalu, saya pun melihat map dan mengestimasi waktu sejenak. Sebenarnya sih saya masih nutut kalau mau jalan ke arah Kebumen karena waktu tempuh Bus Trans Jateng sekitar 1,5 jam. Namun, saya tidak yakin nanti dari Borobudur apakah masih ada bus ke arah Jogja. Sekadar diketahui, bus bumel dari Jogja ke Borobudur sekarang susah sekali ditemukan. Yang banyak sih yang dari arah Magelang. Akhirnya dengan terpaksa saya pun tidak jadi mencoba kulineran di Prembun atau Kebumen. Nanti kalau sepupu saya mau nebengi, barangkali bisa diagendakan.

Saya lalu menyeberang jalan ke Terminal Trans Jateng Kutoarjo. Di sana, sudah ada bus yang menunggu jam berangkat. Saya bertanya pada kondektur bus tersebut katanya bus Trans Jateng berangkat setiap 15 menit sekali. Calon penumpang pun didominasi simbah-simbah yang mau ke sebuah pasar di Purworejo.

Saat bus sudah akan berangkat, penumpang pun dicek dulu suhu tubuhnya. Kondektur juga menyemprotkan hand sanitizer ke para penumpang. Ia juga langsung mengarahkan penumpang pria duduk di bagian depan dan penumpang wanita di bagian belakang. Saya kebagian tempat duduk di baris kedua. Di belakang saya, masih ada 2 tempat duduk berwarna biru yang menjadi kekuasaan penumpang pria. Sebenarnya, tempat duduk tersebut digunakan untuk para penumpang disabilitas.

Trans Jateng Kutoarjo Borobudur
Dicek dulu suhunya ya

Tak lama, karena penumpang sudah penuh, maka bus pun berangkat menuju Kota Purworejo. Oh ya bagi yang belum tahu, Kutoarjo itu masih bagian dari Purworejo ya. Yah mirip-mirip Purwokerto yang masih bagian dari Banyumas. Statusnya pun hanya kecamatan meski sama-sama memiliki stasiun kelas besar. Kalau melewati Purworejo sih saya beberapa kali terutama ketika naik bus ke Jakarta atau Bandung. Namun, perjalanan tersebut sering saya lakukan saat malam hari dan pasti saya tidur. Ini adalah pengalaman pertama melihat Purworejo saat siang hari melewati jalur lingkar Kutoarjo.

Mari kita berangkat

Kembali ke cerita Trans Jateng, bus yang saya naiki pun berhenti di beberapa halte. Halte pertama adalah Halte GOR Sarwo Edhie. Pemberhentian pertama ini dekat sekali dengan Terminal Purworejo. Bus Trans Jateng tidak masuk Terminal Purworejo sehingga penumpang yang akan ke Terminal Purworejo bisa turun di halte ini.

Sebenarnya, ada dua halte sebelum GOR tersebut yang seharusnya menjadi tempat pemberhentian bus. Sayangnya, dua halte tersebut belum jadi sehingga bus tidak bisa berhenti di sana. Dari total sekitar 19 halte, hanya 9 halte saja yang sudah beroperasi. Itu pun kebanyakan berupa plang bus stop yang sebenarnya belum layak dikatakan halte. Meski begitu, bus akan tetap berhenti di halte tersebut. 

Rute Trans Jateng Kutoarjo-Borobudur. (Dishub Jateng)


Kebanyakan dari halte-halte tersebut berada di dekat kompleks sekolah dan kampus. Bahkan, ada salah satu kampus swasta di Purworejo yang memasang baliho super besar bertuliskan di depan kampus tersebut, terdapat Halte Bus Trans Jateng yang beroperasi. Sungguh promosi menarik karena turut mengkampanyekan gerakan naik angkutan umum.

Beberapa penumpang cukup banyak turun dan naik di Simpang Plaza Purworejo. Kawasan ini merupakan kawasan pertokoan yang cukup ramai. Di sini, bus pun penuh dan beberapa penumpang harus berdiri. Dari kawasan niaga ini, bus melaju ke arah Bener, sebuah kecamatan paling ujung timur laut di Purworejo. Daerah ini berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Wonosobo dan Magelang.

Simpang Plaza Purworejo

Nah, saat memasuki wilayah ini, kontur jalan pun berubah dari yang lurus menjadi berbukit. Saya jadi paham mengapa formasi tempat duduk bus Trans Jateng rute Kutoarjo-Borobudur ini tidak menyamping seperti tiga koridor Trans Jateng lainnya melainkan sejajar seperti bus pada umumnya. Kalau dibuat formasi menyamping, maka penumpang tidak akan nyaman. Formasi tempat duduk pun 2-1 yakni 2 bangku di sisi kanan dan satu bangku di sisi kiri tiap barisnya. Namun, karena masih physical distancing, maka setiap baris hanya bisa diisi oleh 2 penumpang. Total penumpang yang diperbolahkan dalam satu bus pada masa pandemi ini adalah 25 penumpang.

Trans Jateng Kutoarjo Borobudur
Susunan formasi tempat duduk bus Trans Jateng

Jalanan semakin aduhai ketika memasuki perbatasan Purworejo dan Magelang. Beberapa kali saya melihat tanjakan curam dibarengi dengan jalan yang sempit. Dari arah sebaliknya, truk-truk pengangkut pasir hilir mudik sambil disela pengendara motor. Asli, ini adalah rute BRT dengan jalur paling ekstrem se-Indonesia Raya. Kok ya kepikiran membuat jalur BRT di jalur ekstrem ini.

Alemong, jalannya aduhai

Meski begitu, BRT ini amat membantu terutama bagi mereka yang akan bepergian jarak dekat melewati perbatasan Purworejo dengan Magelang. Banyak penumpang dari Simpang Plaza Purworejo tadi turun di halte SMPN Negeri 1 Salaman Magelang. Bus pun mulai lega dan saya bisa lebih leluasa dalam mengamati interior bus ini.

Jarak antara halte SMPN 19 Purworejo dan SMPN 1 Salaman Magelang cukup jauh karena ada 5 halte yang belum bisa difungsikan. Kalau lima halte itu berfungsi, maka otomatis penumpang bisa turun di halte-halte pada jalur ekstrem tersebut. Penumpang juga bisa oper ke bus bumel yang mengarah ke Wonosobo atau tempat lain di sekitar Magelang. Nanti kalau sudah jadi haltenya mungkin saya coba lagi.

Trans Jateng Kutoarjo Borobudur
Protokol kesehatan ketat dilakukan kepada setiap penumpang yang akan naik

Setelah SMPN 1 Salaman, masih ada 4 halte lagi sebelum menuju pemberhentian terakhir di Terminal Borobudur. Beberapa halte malah tepat di dekat pintu masuk kawasan wisata seperti Taman Reptil Borobudur dan Balkoderes Sakapitu. Jadi, bus Trans Jateng ini juga bisa menunjang kegiatan wisata di sekitar Borobudur. Lagi dan lagi, kalau ada waktu dan kesempatan, saya mau mencoba lagi ya.

Akhirnya, setelah sekitar 1,5 jam perjalanan, bus pun sampai di Terminal Borobudur. Kami langsung disambut oleh para tukang becak dan ojek yang menawarkan jasa ke pintu masuk Candi  Borobudur. Saya memilih diam sejenak menunggu bus-bus datang lagi sembari memikirkan tujuan saya selanjutnya dan makan kuaci. 

Trans Jateng Kutoarjo Borobudur
Para tukang becak dan ojek menawarkan jasa mereka kepada penumpang Trans Jateng yang baru turun

Meski masih ada kekurangan, saya sangat puas dengan pelayanan bus Trans Jateng Kutoarjo-Borobudur ini. Kondekturnya ramah dan informatif. Bahkan, ada sepasang simbah yang naik dari sebuah halte harus ia tolak karena tidak menggunakan masker. Ia menolaknya dengan bahasa Jawa yang sangat halus. Ketika ada penumpang yang kesulitan naik atau turun, ia tak segan membantunya. Sopir bus pun juga sangat enak menjalankan bus tersebut meski jalur yang dilewati cukup membuat ngilu. 

Trans Jateng Kutoarjo Borobudur
Bus Trans Jateng sedang parkir di Terminal Borobudur untuk menunggu jam berangkat menuju Kutoarjo

Dengan harga tiket 4.000 rupiah saja, bagi saya Trans Jateng adalah moda transportasi yang sangat murah. Bayangkan dengan tiket semurah itu, saya bisa menjelajah Kutoarjo, Purworejo, Salaman, dan Borobudur sejauh lebih dari 50 km. Tinggal duduk manis dan menikmati pemandangan.

Jadi, yang mau ke Borobudur, yuk coba Trans Jateng rute Kutoarjo-Borobudur ini. Ada banyak kisah perjalanan yang tidak akan terlupakan. 

15 comments:

  1. Wahh, sepertinya menarik
    Jadi tujuannya bukan untuk menuju lokasi tertentu ya Mas Ikro, tapi buat keliling-keliling

    Di Padang aku juga pernah nih ngelakuin ini hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah seru mas ya
      aku ini ke rumah temen juga kok haha

      Delete
  2. Ternyata Kutoarjo ini ga jauh2 amat dr Jogja yaaa. Aku Blm prnh kesana mas. Padahal pas baca tulisan2 mba Nita, udh pengeeeen banget masukin beberapa kuliner yg pernah dia tulis :D. Ternyata ada bus trans jatengnya skr yaaa. Baguuus nih, mana harganya muraaah banget. Udh kayak trans JKT biayanya, beda tipis. Tp setidaknya ini antar kota walo jraknya ga jauh2 banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. cuma sejam mbak engga jauh banget
      iya buat kulineran enak mbak Kutoarjo ini

      Delete
  3. Ah srruuu banget naik bis. Semenjak corona ini gabisa naik bis huhu masih parno sih, padahal pengen banget

    ReplyDelete
  4. Jadi tergiur untuk naik bus trans Jateng juga. Jadi rute Kutoarjo Borobudur sudah diresmikan ya mas.

    Biarpun masih ada kekurangan seperti halte bus yang masih banyak belum jadi tapi dimaklumi ya, soalnya baru peresmian. Lagipula sopirnya ramah ya.

    Waduh tiketnya murah amat cuma 4000, dari Kutoarjo ke Borobudur, padahal kurang lebih 50 km ya.

    Btw, kenapa ngga ke kebumen mampir ke mbul nyicipi dawet Ireng mas.😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. monggo mas
      iya masih baru jadi dimaklumi saja

      waktunya engga nutut mas huhu

      Delete
  5. Oh...ini niate memang jalan2, nyobain transportasi umum ya mas? Soale rutene kok muter2..😀

    Aku trans Jogja pun blm pernah...apalagi trans Jateng. ..

    Pengen nyoba MRT yang Jogja-Solo, blm kelakon...

    Ha mbuh, Corona aku kok jarang kemana2 Iki.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahah iya mbak nyoba tapi juga ke rumah temen si
      aku baru sekali kalau KRL

      Delete
  6. Seru banget keknya sengaja nyobain jalan-jalan naik bus gini jadi kepengen juga 😁

    ReplyDelete
  7. Asik,,, rute bus trans Jateng udah makin banyak. Main ke Borobudur naik Trans Jateng udah bisa,, aku kapan-kapan mau coba juga ah.
    Btw, bus bumel dari Borobudur itu emang makin langka yaa,, kalo naik bus Trans Jateng ke arah Jogja memungkinkan nggak sih?

    ReplyDelete
  8. lain kalibdibaleni maneh mas mbok cubo kulineran kebumen, prembun, kutoarjo, purworejo hehehe

    eh itu kok nasi kap pasar tempel mie gorenge melambai lambai ke arahku yo mas wakakkakakak...

    taman reptil borobudur tuh isine apa ya? ini jadi next destinasikah?

    bus bumel takirain tadi angkot, udu yo mas hahhahaha?

    hahhaha kebayang bengong sambil makan kuaci xixiixi

    iki tujuan akhire arep nyang ndi mas, candi tah?

    ReplyDelete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.