![]() |
| Wakil Filipina memenangkan Miss Supranational 2026 |
Gelaran Miss Supranational baru saja usai digelar pada akhir bulan Juli kemarin.
Wakil Filipina, Katrina Llegado menjadi pemenang setelah mengungguli sekitar 60an finalis lain. Kemenangan Filipina ini menjadi kemenangan kedua negara penggemar kontes kecantikan tersebut. Sebelumnya, Filipina pernah memenangkan Miss Supranational pada 2013 melalui wakilnya, Mutya Datul.
Kemenangan Filipina ini cukup mengejutkan. Walau menjadi negara dengan penggemar cukup banyak dan sering memenangkan ajang serupa, tahun ini banyak yang tidak berekspektasi pada kemenangan Katrina. Wakil PH ini tidak terlalu dijagokan.
Malah, banyak portal pageant yang mengunggulkan wakil Indonesia, Agnes Aditya Rahajeng untuk bisa memenangkan ajang ini. Agnes sering masuk hot pics teratas bahkan oleh protal dari negara Latin yang jarang mengunggulkan wakil Indonesia. Sayang, Indonesia harus terhenti di babak 12 besar. Gagal melaju ke babak 5 besar. Prestasi sebelumnya, Indonesia masuk babak 24 besar.
Jika dibandingkan pada tahun sebelumnya, prestasi Indonesia mengalami kenaikan. Namun, tahun ini memang Indonesia ditargetkan meraih mahkota utama atau minimal 5 besar. Agnes yang memenangkan Puteri Indonesia 2026 sangat layak untuk meraih prestasi tersebut.
Sayang, penampilan Agnes malam final kemarin bagi banyak pageant lover dianggap kurang maksimal. Pertama, ia gugup saat membawakan speech pada babak 24 besar. Kedua, gaun yang dikenakan Agnes saat babak 12 besar sangat jauh dari harapan.
Pageant lover Indonesia masih menerima kegugupan Agnes saat sesi speech. Beberapa wakil negara lain pernah cukup gagal tetapi mereka bisa melaju ke babak 5 besar karena gaun malam yang dikenakan luar biasa. Namun, saat Agnes muncul pada babak evening gown, semua harapan itu seakan hilang.
Agnes mengenakan gaun berwarna oranye dengan rumbai-rumbai terlalu besar. Auranya tampak tertutup. Saat melenggang di atas panggung, wajahnya tidak bisa disembunyikan dari rasa kecewa. Benar saja, nama Indonesia tidak dipanggil ke dalam babak 5 besar.
Namun, para pageant lover tidak menyalahkan Agnes. Ia sudah berjuang maksimal dan luar biasa, terlebih persiapan yang dilakukannya sangat mepet. Mereka menumpahkan kekecewaan kepada desainer dan tim dari Agnes yang seakan tidak mau menerima kritik.
Usut punya usut, ternyata tim yang membantu Agnes selama kompetisi adalah tim yang sama saat Agnes berkompetisi di Puteri Indonesia. Artinya, tim dari provinsi, bukan tim yang memang khusus disediakan oleh YPI seperti pada wakil Indonesia sebelumnya. Apalagi, ada salah seorang tim YPI yang sering membantu wakil Indonesia membuat story yang isinya banyak pageant lover ingin ia kembali menangani para puteri yang bertanding ke ajang internasional.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Untuk detailnya, banyak pageant lover masih dalam praduga. Mereka beranggapan bahwa tim Agnes kekeuh mempersiapkan segalanya meski pihak YPI sudah ada tim sendiri. Dalam perjalanannya, mungkin antara tim Agnes dan tim YPI berseberangan akhirnya Agnes dipercayakan pada timnya sendiri.
Padahal, tim dari YPI sudah berpengalaman di ajang internasional. Salah satunya saat batch 2024. Saat itu, Indonesia memenangkan Miss Supranational dan Miss Cosmo. Indonesia juga masuk babak 5 besar Miss International dan Miss Charm. Sebuah pembuktian bahwa tim YPI memang ahli di bidangnya. Walau terjadi penurunan prestasi, pada 2025 bisa dibilang gaun dan look pada puteri juga sangat apik. Saat itu, Indonesia berhasil masuk babak 5 besar Miss International dan Miss Charm.
Nah, saat ada wakil Indonesia yang punya potensi luar biasa seperti Agnes, mengapa justru memakai tim daerah yang belum teruji? Mengapa mereka berani mencoba-coba hal baru yang sebenarnya jauh dari pakem kontes kecantikan? Gaun rumbai-rumbai adalah hasil nyatanya. Terlebih, ada salah satu desainer dari tim Agnes yang begitu jumawa tidak mau dikritik padahal banyak pageant lover berkali-kali mengingatkan. Takut kalau Agnes salah gaun.
Dari pengalaman ini, sudah saatnya YPI tegas melarang tim daerah cawe-cawe. Kalau mereka membantu, mungkin bisa yang tidak terlalu krusial, semisal membantu membuat video profil atau kostum nasional. Untuk yang lain, serahkan semuanya pada YPI karena mereka sudah berpengalaman.
Berkaca pada tim dari Jawa Timur yang selama 5 tahun berturut-turut wakilnya maju ke ajang internasional. Mereka menyerahkan sepenuhnya pada YPI saat anak didiknya maju ke ajang internasional. Mereka cukup mengantarkan wakilnya sampai ajang nasional. Tugas mereka selesai dan mereka support dari balik layar.
Semoga tiga wakil yang tersisa bisa belajar dari kesalahan ini. Namun, kalau dari beberapa isu, mereka akan dipegang penuh oleh tim YPI. Apapun hasilnya nanti, paling tidak gaun malam yang dikenakan tidak mengecewakan dan membuat wakil kita terlihat aneh di panggung.
.jpg)