![]() |
| Mural yang sudah ditimpa. Times Indonesia |
Kemarin, ada huru-hara yang terjadi di Malang terkait dengan Arema.
Bukan kericuhan suporter atau hal negatif lain. Melainkan sebuah tindakan yang sangat mengganggu kenyamanan Arema dan warga Malang khususnya. Jika kalian pernah ke Malang dan melewati sekitar alun-alun, pasti kalian tahu sebuah Gereja Protestan yang berdiri megah.
Di seberang gereja tersebut, ada sebuah hotel heritage yang menjadi ikon. Nah, di dinding hotel itu, terlukislah sebuah mural yang bertuliskan “Malang the Glory Land’ atau berarti Malang Tanah Kejayaan.
Mural ini digambar sekitar tahun 2016. Saat itu, di dalam tubuh Arema, masih ada dualisme yang menimbulkan konflik di dalamnya. Nah, adanya mural tersebut menjadi salah satu titik persatuan kembali Arema dan Aremania. Tidak hanya Arema dan Aremania, mural dengan moto the glory land juga menjadi doa dan harapan agar Kota Malang selalu jaya.
Alhasil, mural yang digambar oleh salah seorang kreator Aremania bernama Sam Nyek bersama kreator Aremania lain itu pun menjadi kenangan yang tak terlupakan. Keberadaannya menjadi ikon yang sama berharganya dengan ikon lainnya. Saya sendiri saat melewati jalan tersebut juga sangat bangga bisa melihat mural itu karena sebagai warga Malang rasanya ada harapan dan kebanggaan.
![]() |
| Mural asli |
Namun, politik membuat mural itu hilang. Sebuah festival bernama mboas mbois mbuh wis mbosok mblekenek mbuki pun digelar di Stadion Gajayana. Tiba-tiba, mural tersebut ditutup dan ditimpa dengan mural baru dengan bertuliskan Malang Menyala.
Praktis, penimpaan mural ini membuat marah warga Malang dan Aremania. Mereka marah karena kenangan dan kebanggan sebagai warga Malang dihapuskan begitu saja. Mereka pun melampiaskan kekecewaan mereka kepada penyelenggara festival aneh tersebut. Mereka meminta penyelenggara bertanggung jawab.
Meski penyelenggara sudah meminta maaf dan bertanggung jawab, tetap saja kemarahan warga dan Aremania tidak bisa dibendung. Mural ikonik tersebut adalah sejarah yang tidak bisa digantikan dengan apapun. Terlebih, salah satu penggagasnya Sam Nyek telah wafat dan mural itu adalah kenang-kenangan terhadap jasanya yang sangat berharga. Makanya, tidak sesederhana cuma menimpa mural kok marah. Proses, kenangan, dan makna yang mendalam adalah hal yang tidak bisa digantikan.
Kemarahan pun berlanjut dengan seruan boikot terhadap festival aneh itu. Terlebih, festival ini dianggap sebagai bahan politik walikota. Seruan untuk tidak datang ke acara tersebut pun didengungkan. Banyak influencer kena getahnya kena marah aremania. Mereka banyak yang meminta maaf dan mengatakan bahwa itu di luar kendali mereka. Ada salah satu influencer yang kena geruduk aremania. Kebetulan penampilannya kemayu meski ia adalah pria tulen. Alhasil, banyak yang mengatakan bahwa festival tersebut adalah festival mboti.
Selain itu, banyak pengisi acara terutama band yang terkait dengan Arema memutuskan tidak tampil di acara tersebut. Keputusan mereka sangat tepat karena suasana sudah dianggap tidak kondusif. Tentu, mereka sangat menghargai aremania dan karya mural di dalamnya.
Kejadian ini juga menjadi pelajaran untuk tidak seenaknya memasang, mengganti apapun sebelum ada izin. Tak hanya itu, cancel culture yang bisa saja terjadi membuat kita memang harus hati-hati.
.jpg)
.jpg)