Karma Orang Serakah

Gambar hanya pemanis. - Sumber: Radar Malang

Membicarakan kehebohan Festival Mbois 11 kemarin, rasanya tidak ada habis-habisnya.

Festival yang digadang-gadang dihadiri puluhan ribu orang tersebut bisa dikatakan gagal. Jangankan puluhan ribu, ribuan orang saja seakan susah untuk ditembus. Dari berbagai footage yang dikeluarkan oleh panitia dan media, masyarakat yang hadir amatlah minim. Saat acara konser berlangsung pun juga tak banyak penonton yang hadir.

Sebenarnya, alasan sepinya Festival Mbois 11 kemarin bukan hanya karena kasus penimpaan mural Malang the Glory Land. alasannya tidak sesederhana itu. Iya sih, Aremania sangat kecewa dan marah dengan kasus tersebut. Namun, kasus itu bukan hanya salah satu penyebabnya meski juga merupakan sebuah akumulasi dari sebuah hal yang tidak patut untuk dilakukan.

Event yang berbarengan dengan momen Agustusan juga merupakan penyebab sepinya festival tersebut. Ada banyak kegiatan warga untuk memeriahkan Agustusan diselenggarakan. Mulai pentas seni, karnaval, jalan sehat, hingga horeg. Tentu, masyarakat lebih memilih menghadiri acara-acara yang bagi mereka lebih menarik dan tidak memerlukan banyak biaya. Coba bandingkan dengan Festival Mbois yang tiket masuknya saja seratus ribuan.

Momen yang tidak tepat ini menjadikan Festival Mbois sepi. Bahkan, banyak pelaku UMKM yang sudah menyewa stan di lokasi tersebut mengeluh kondisi yang sepi. Padahal, mereka sudah diberi gambaran akan ada puluhan ribu orang yang datang. Siapa sih yang tidak tertarik dengan iming-iming sebesar itu. Walaupun, pemilik stan UMKM harus menyewa lapak sejuta sehari.

Nah, diantara sekian alasan tersebut, ada satu yang sebenarnya bisa dijadikan pelajaran. Tak lain adalah begitu serakah dan sombongnya orang di balik layar acara ini. Ia adalah D -  seorang pemilik agensi periklanan besar di Malang. Ia memiliki banyak koneksi dengan banyak tokoh pemerintahan, baik di tingkat kota maupun provinsi. Saat acara ini berlangsung. Tak heran banyak instansi pemerintahan hadir untuk menyukseskan walau acaranya sendiri tidak banyak dihadiri masyarakat. 

Lantas, mengapa si D ini begitu dijadikan samsak?

Alasannya karena ia sebenarnya telah ingin membuat mural bertema Malang Menyala yang menjadi tagline festival ini. Beberapa orang sudah memperingatkan bahwa ia jangan melakukannya di tempat yang sudah ada muralnya. Terlebih, di tembok tempat mural the Glory Land digambar.

Akan tetapi, peringatan tersebut tidak diindahkan. Praktis, kemarahan Aremania dan warga Malang benar-benar tidak bisa dibendung. Ajakan untuk memboikot acara ini begitu masif. Banyak pengisi acara batal tampil dan akhirnya acara ini bisa dibilang gagal.

Kemarahan terhadap D ini juga muncul karena yang bersangkutan juga pernah melakukan tindakan tidak terpuji. Sebuah utas di X menyatakan bahwa ada sekelompok pedagang di Pasar Klojen yang berusaha sekuat tenaga membuat branding terhadap pasar tersebut agar dikenal oleh masyarakat luas.

Mereka menata ulang pasar sedemikian rupa sehingga sangat enak untuk dijadikan wisata kuliner. Mereka juga mencoba membuat branding baru dengan tagline Klojen Nikmat. Dalam perjalanan proses tersebut, munculah beberapa PNS yang datang dan tertarik dengan ide tersebut. Bantuan dari pemerintah pun diberikan meski tentu saja pedagang di sana selaku pemilik ide meminta keleluasaan dalam proses tersebut. Artinya, mereka proses desain gambar dan sebagainya masih di tangan mereka.

Namun, tiba-tiba munculah si D ini yang mengaku vendor rekanan pemerintah. Ia punya desain sendiri dan akhirnya mencetak desain tersebut. Desain tersebut pun dicetak dan ditempelkan di berbagai sudut di Pasar Klojen. Tak lama, si D pun mengklaim bahwa ide Klojen Nikmat yang turut membuat Pasar Klojen ramai adalah miliknya.Dengan berat hati, para penggiat ide Klojen Nikmat pun mundur teratur. Mereka tidak lagi mempermasalahkan ide ini dan berjualan seperti biasa.   

Hingga tibalah, kasus Festival Mbois kemarin pecah. Kolektif masyarakat atas kasus Pasar Klojen ini pun kembali bangkit. Mereka mengungkit kembali perilaku D kepada pegiat kreatif. Mereka juga banyak yang bercerita bahwa si D ini kerap membuat pegiat kreatif geram. Kebanyakan sih mengklaim ide kreatif seperti kasus Pasar Klojen ini. Alhasil, saat D terkena kasus Festival Mbois kemarin, banyak orang menjatuhkannya sejatuh-jatuhnya. Branding yang ia buat seakan hancur dalam beberapa hari saja.

Dari kejadian ini, kita banyak belajar mengenai sifat serakah yang amat menjatuhkan. Sifat ini kadang tidak dilakukan secara gamblang. Ia muncul dengan halus untuk menguasai sesuatu yang bukan haknya. Di dalam industri kreatif, sifat serakah ini kerap muncul untuk mengklaim ide yang sudah dihasilkan oleh orang lain, terlebih jika pekerjaan kreatif dilakukan dalam sebuah tim. 

Alasan inilah yang membuat saya tidak begitu tertarik berkolaborasi dengan banyak orang dalam menciptakan ide kreatif. Kalau pun ada, saya harus tahu dulu rekam jejaknya. Saya harus punya Term and Condition batasan seperti apa terhadap ide dan hasil karya masing-masing. 

Saya sendiri pernah bekerja sama dalam sebuah komunitas kreatif yang di dalamnya ada beberapa orang serakah. Kalau orang ambisius sih masih saya toleransi dengan batasan mereka masih menghargai karya orang lain. Namun, orang serakah ini daya rusaknya benar-benar luar biasa. Makanya, banyak orang tak ragu menjatuhkan orang serakah sejatuh-jatuhnya, terutama saat mereka kepeleset seperti si D ini.


Post a Comment

Sebelumnya Selanjutnya