![]() |
| Event pasar rakyat yang makin menjamur |
Minggu kemarin, saya berkesempatan mengunjungi sebuah event pasar rakyat di dekat rumah saya.
Event ini merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan pada saat bulan Agustus. Tepatnya untuk memperingati HUT RI. Jadi, ada sebuah kampung yang memang rutin mengadakan event ini. Mereka tidak pernah mengadakan karnaval atau lomba sejenisnya. Namun, mereka rutin mengadakan event pasar rakyat ini sebagai salah satu usaha memperingati kemerdekaan.
Saya salut sih dengan perangkat RW di kampung tersebut. Mereka punya cara berbeda dalam merayakan kemerdekaan. Dengan adanya event pasar rakyat ini, maka banyak arga di luar kampung mereka bisa datang. Alhasil, event ini juga sekaligus sebagai promosi UMKM yang berada di kampung tersebut.
![]() |
| Punakawan |
Event sejenis sebenarnya juga dilaksanakan di kampung lain. Malah, ada yang sudah melaksanakannya saat bulan Juli kemarin. Bisa jadi, mereka tidak ingin berbarengan dengan momen 17an agar tenaga kepanitiaan tidak terpecah belah. Yah sah-sah saja namanya juga event yang bagus dan harus didukung. Makanya, saya sering menyempatkan hadir pada berbagai event tersebut.
Akan tetapi, dalam penyelenggaraannya, ada beberapa kekurangan yang sekiranya bisa dibenahi. Alasannya, event ini digelar tahunan yang semestinya bisa dijadikan evaluasi. Siapa tahu ke depannya bisa lebih baik lagi.
Pertama, soal parkir. Saya kaget harga parkir motor pada event ini adalah 5.000 rupiah. Padahal, harga parkir resmi saat ada event sesuai aturan pemerintah kota untuk motor adalah 3.00 rupiah.
![]() |
| Parkir 5000 |
Saya paham sih mungkin harga parkir yang tinggi digunakan untuk operasional event ini mengingat membutuhkan banyak tenaga dan biaya. Walau demikian, kenyamanan parkir yang disediakan menurut saya kurang. Petugas parkir kurang tanggap dengan pengunjung yang datang atau akan keluar dari area event. Semestinya, panitia harus menyediakan petugas yang stand by di lokasi agar memudahkan pengunjung yang parkir.
Kedua, area event yang sempit. Event ini menggunakan jalan perumahan yang tidak terlalu lebar. Stan penjual makanan dan pernak-pernik menggunakan hampir setengah badan jalan. Kondisi ini menyebabkan pengunjung agak susah untuk membeli makanan. Belum lagi, masih ada beberapa kendaraan yang terparkir di sana.
Kondisi diperparah dengan adanya event bantengan yang berada tak jauh dari lokasi stan. Meski saya tahu adanya event bantengan ini adalah cara menarik penonton, tapi alangkah lebih baik diberikan tempat yang jauh lebih luas. Saya takut kalau ada bantengan yang kalap dan membuat penonton kalang kabut sehingga bisa mengganggu kenyamanan pengunjung yang datang ke stan.
![]() |
| Event bantengan |
Ketiga, jenis makanan tradisional yang minim. Saya mengira event pasar rakyat ini akan menyediakan berbagai makanan tradisional. Memang ada sih makanan tradisional seperti tahu, cenil, dan lain sebagainya. Namun, jumlahnya masih kalah dengan makanan kekinian seperti dimsum mentai, jasuke, dan kawan-kawannya.
Namanya juga pasar rakyat kalau bisa sih porsi makanan tradisional diperbanyak. Boleh lah makanan kekinian dijual, tetapi jangan sampai jumlahnya mendominasi. Saya malah kepingin kupang lontong yang saya beli tahun sebelumnya. Eh ternyata tahun ini tidak ada. Sayang kan?
![]() |
| Makanan kekinian yang banyak dijual |
Terakhir, event ini rasanya kurang jika hanya diselenggarakan tiga hari. Paling tidak ya 4-5 hari. Sayang kan sudah bangun stan capai-capai tapi hanya sebentar. Beberapa event serupa yang saya datangi juga paling tidak 5 harian. Ada yang bahkan seminggu. Walau tentu harus memperhatikan kondisi lalu lintas di sekitar event.
Yah semoga saja event serupa bisa lebih baik lagi. Sayang kan kalau pengunjung sudah berekspektasi ternyata malah nge-zonk. Apapun itu, kita harus tetap mendukung event serupa di manapun berada.




