Ospek kok Masih Dibantu Mamanya

Ilustrasi Ospek. Sumber: Republika


Minggu ini, dunia nyata dan maya disibukkan oleh kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru atau disingkat sebagai PKKMB.

Kegiatan yang dulu bernama ospek ini merupakan kegiatan pengenalan lingkungan kampus. Berbeda dengan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), PKKMB berlangsung lebih lama dan kompleks.

Calon mahasiswa baru harus mengikuti berbagai aturan yang telah ditentukan oleh pihak kampus dan panitia PKKMB. Salah satunya adalah membawa berbagai barang selama kegiatan PKKMB berlangsung.

Kegiatan membawa barang ini seakan menjadi tradisi ospek alias PKKMB. Sejak zaman saya kuliah dulu dan jauh sebelumnya, pasti sebelum hari-H, panitia mewajibkan peserta ospek membawa aneka barang yang kadang saya sendiri bingung peruntukannya untuk apa. Kadang, yang membuat puyeng adalah informasi mengenai barang apa yang wajib dibawa diberikan sehari sebelum kegiatan berlangsung. 

Alhasil, mahasiswa baru pasti kelimpungan mencari barang-barang tersebut. Walau di dekat kampus sering terdapat penjual dadakan yang menjajakan barang-barang khas ospek, tetap saja masih banyak barang yang belum tersedia.

Kalau sudah begini, maka orang terdekat, terutama orang tua juga ikut puyeng. Jujur, saya dulu juga membuat bingung ayah, tante, dan om saya. Kebetulan ibu saya bekerja di luar kota sehingga tidak bisa membantu secara langsung. Hanya melakukan update lewat telepon sambil menanyakan barang apa yang harus dibawa.

Meski sempat menghebohkan orang sekitar, tetapi saya berprinsip saya harus bisa mencarinya sendiri dulu. Kalau barang tersebut dirasa di luar nalar ya wis lebih baik saya tidak membawanya. Kalau dihukum paling ya push up dan dimaki-maki. Saya lebih memilih melakukan itu karena pengalaman saat MOS SMA, saya sampai pingsan gara-gara mencari barang-barang sampai malam. Lebih baik saya menyimpan energi untuk keesokan harinya.

Makanya, seingat saya, saat opsek dulu saya sudah tidak terlalu ngoyo. Kehebohan hanya terjadi di hari pertama karena barang bawaannya banyak. Pada hari selanjutnya, saya sudah pasrah. Asal saya tidak dip*k*l senior atau diperlakukan tidak manusiawi, saya sih masih oke-oke saja.

Nah, yang unik saat ini ospek alias PKKMB sangat berubah. Banyak orang tua, terutama mama mama yang turut andil dalam mempersiapkan perlengkapan anaknya. Mereka sampai bergabung dalam WAG ibu-ibu yang anaknya PKKMB.

Ya tuhan, sampai ada WAG-nya lho.

Orang tua saya sendiri baru kenal orang tua teman-teman saya saat wisuda. Itu pun hanya papasan dan salaman karena sama-sama lulus. Ini sampai buat WAG lho.

Di dalam WAG tersebut, riuh rendah berbagai persiapan PKKMB. Jadi, mereka akan sama-sama mencarikan anaknya berbagai barang. Mereka juga ikut berpikir nama barang yang harus dibawa karena memang panitia ospek sering menyamarkan nama barang tersebut dengan sesuatu yang lucu.

Yah memang kegiatan ini membantu calon mahasiswa. Namun, mama mama tersebut lupa kalau status anaknya sudah mahasiswa. Bukan lagi siswa. Ada kata maha yang berarti lebih. Jadi, mereka bukan lagi anak-anak yang harus diberi kemudahan.

Biarkan mereka mencari solusi atas permasalahan sendiri. Biarkan mereka mendapatkan pengalaman dari berbagai kesulitan yang dihadapi. Kalau terus dibantu, ya mau sampai kapan?

Pada hari kedua dan seterusnya, tadi saya mengatakan sudah tidak lagi mengandalkan bantuan keluarga dan orang terdekat. Alasannya ya saya sudah kenal dengan teman baru. Setelah kenal, kami bagi tugas. Saya beli apa mereka beli apa. Kami berkumpul di satu titik sebelum masuk gerbang kampus.

Pemecahan masalah seperti ini yang tidak saya dapatkan saat saya SMA. Saya sampai mencari barang hingga larut malam dan akhirnya pingsan di aula keesokan harinya. Saat ospek, saya belajar dari kesalahan. Makanya, saya hanya mencari beberapa barang sekaligus membelikan untuk teman baru saya. Jam 9 malam kegiatan saya mencari ini itu selesai dan saya bisa istirahat. Keesokan harinya, saya bisa prima. 

Kalaupun ada barang yang tidak bisa saya atau kami dapatkan, ya terpaksa kena hukuman bersama. Saya baru merasa tidak enak badan karena muntah pada hari terakhir. Itu pun setelah saya minta kayu putih dan obat mag, saya sudah sehat lagi.

Dengan begini saya juga belajar untuk belajar keterampilan mencari koneksi yang sangat penting bagi kehidupan setelah kuliah. Kalau dibantu mama mama terus, kapan bisa majunya. Untuk itulah, bagi kalian yang sudah punya anak yang kuliah, yuk mulai sekarang biarkan mereka mencari solusi atas permasalahan mereka sendiri. Gak lucu kan kalau mereka dibantu terus sampai skripsi?

Post a Comment

Sebelumnya Selanjutnya