Belajar dari Maudy Ayunda, Si Duta Mindfulness dan Anti Kurir Kecemasan


Aduh, saya kasihan sama Maudy Ayunda.

Wanita secantik dan sehebat itu bisa jadi samsak netizen se-Indonesia Raya. Tentu kita sudah tahu penyebabnya. Tak lain karena statemennya soal berita buruk yang terjadi di negeri ini. Ia mengatakan bahwa sebaiknya menjauh dari berita buruk yang terjadi akhir-akhir ini.

Mulanya, Maudy mengatakan bahwa kini ia merefleksikan diri tentang menjaga kondisi emosional ketika terus berhadapan dengan berbagai berita yang bikin pikiran dan perasaan ikut terkuras. Yah intinya kalau ada berita buruk ya di-skip demi kewarasan mental. Berita buruk adalah kurir kecemasan yang sebaiknya dihindari.

Oke, saya mengerti pendapat ini dan mengerti pula orang-orang seperti Maudy ini. Di dunia nyata dan media sosial juga sering saya temui mereka yang berusaha sepositif mungkin menjalani hidup. Melakukan hobi dan lain sebagainya. Itu tidak salah. 

Yang salah adalah mereka ini, yang secara tidak langsung nyinyir terhadap kondisi bangsa yang carut marut. Mereka yang berusaha untuk denial bahwa bangsa dan negara ini sedang dalam keadaan kacau sekacau-kacaunya. Dengan sok bijak dan sok wise, mereka ini secara tidak sadar menjadi corong bagi mereka yang sedang berkuasa untuk menjaga “stabilitas kekuasaan” walau rakyat dalam kondisi yang mengerikan.

Bagaimana bisa saya mengatakan seperti ini? Ya karena mereka hanya mau hidup di dalam bubble mereka sendiri. Hidup abai dengan lingkungan sekitar yang membutuhkan empati dan suara. Saya lho sampai sekarang masih tidak bisa makan dengan enak saat masih mendengar berita kebakaran, keracunan MBG, dan lain sebagianya. Lah padahal saya bisa skip itu semua. Mengapa saya tidak melakukannya?

KARENA SAYA MASIH PUNYA HATI NURANI.

Saat saya mencoba skip, yang ada malah ingatan bahwa mereka yang di luar sana sedang berjibaku menahan asap kebakaran hutan. Mereka yang antre panjang demi seliter bensin. Yang membuat saya tidak bisa menelan makanan saya adalah saat teringat korban gempa NTT yang justru lebih banyak meninggal di tenda pengungsian.

Berita itu lewat sekejap dan tidak saya teruskan untuk membaca karena mengikuti anjuran Maudy Ayunda. Saya juga tidak mau lagi disebut kurir kecemasan jika terus mengumbar berita tersebut. Pada awalnya, ya pada awalnya. Namun, hati nurani saya mengatakan saya harus membaca sampai selesai mengapa korban gempa NTT bisa berjatuhan. Saat membaca sampai selesai, saya makin yakin bahwa berpikir positif kepada penguasa agar masalah tersebut bisa teratasi adalah hal yang SIA-SIA.

Dalam kaitannya dengan sikap yang dilakukan Maudy Ayunda, saya juga berprinsip pada Rasulullah SAW. Beliau bisa dikatakan memiliki privilege yang cukup mapan seperti Maudy Ayunda karena keluarga beliau adalah dari kalangan pemuka Suku Quraisy.

Namun, Rasulullah tidak acuh terhadap kondisi sekitarnya yang penuh dengan kemiskinan dan penindasan. Beliau keluar dari zona nyaman dan sangat mindful menjadi penyuara dari mereka yang butuh pertolongan. Beliau sadar, bahwa hanya Allah lah yang patut untuk menundukkan segalanya. Bukan penguasa yang melakukan tindakan sewenang-wenang. Maka, dengan bersuara adalah cara terbaik agar konsep ini bisa berjalan dengan semestinya. Bukan diam dan pasrah penguasa akan melakukan segalanya.

Jadi, ketika ada seuatu hal atau keadaan yang tidak baik, ya sudah sewajarnya kita bersuara. Sudah sewajarnya kita melakukan apa yang kita bisa. Bukan malah merasa bahwa orang yang bersuara adalah kurir kecemasan. Percayalah, kalau mindset seperti tertanam pada para pendiri bangsa, seperti Bung Karno dan Bung Hatta, yang ada malah negara ini akan terus terjajah.

Ada banyak sekali parameter dan fakta yang sudah seharusnya membuka mata mereka yang tone deaf seperti ini. Walau demikian, saya yakin, mereka sangat pengecut bermain aman atau memang menjadi corong penguasa. Bukan pepesan kosong saya mengatakannya karena saat penguasa ini akan naik tahta, mereka yang paling getol membela cara yang tidak baik yang dilakukan oleh para penguasa. Kini, dengan bekal mindfulness dan bla bla bla, mereka mencoba untuk membuat berita yang katanya berita cemas itu tidak muncul ke permukaan.

Satu hal yang ingin saya sampaikan pada mereka bahwa kita hidup di dunia tidak selamanya. Ada saatnya kita akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kita lakukan. Termasuk, abai terhadap penderitaan orang sekitar.

Post a Comment

Sebelumnya Selanjutnya