![]() |
| Ilustrasi |
Kemarin, saya mencoba mengajar kelas matematika kelas X.
Materi yang sedang dipelajari adalah bilangan berpangkat, eksponen, dan logaritma. Materi ini sendiri menjadi materi wajib, tidak hanya untuk SMA tetapi juga untuk SMK.
Materi ini cukup kompleks. Tidak hanya seputar perpangkatan saja, tetapi juga mengenai cara mendapatkan sebuah peubah, semisal x. Jadi siswa disyaratkan menguasai materi yang telah mereka pelajari sebelumnya, terutama di tingkat SMP.
Apesnya, banyak siswa yang saya ajar kurang menguasai materi sebelumnya dengan baik. Bahkan, ada beberapa siswa yang mengatakan bahwa mereka tidak pernah diajarkan sebelumnya.
Saya sampai heran dan bertanya. Emang kamu dulu sekolah di SMP mana sampai guru matematikamu tidak mengajarkan materi tersebut?
Walau agak kesal, tapi saya tidak kaget karena skor PISA untuk matematika siswa di negeri ini amat rendah. Makanya, beberapa materi matematika dasar tidak bisa dikuasai dengan baik saat berada di tingkat lanjut. Lantas, materi apa saja itu?
Menyamakan penyebut pecahan
Materi ini sudah diajarkan sejak di bangku sekolah dasar. Kalau tak salah kelas 4 atau 5. Dulu, guru matematika banyak yang menggunakan KPK sebagai cara untuk menyamakan penyebut. Ada juga yang menggunakan perkalian silang untuk memudahkan.
Pada tingkat SMA, siswa sering bertemu dengan soal yang menyuruh mereka menyamakan penyebut pecahan. Namun, mereka tidak lagi menggunakan bilangan bulat, tetapi menggunakan variabel dan konstanta.
Di sinilah letak kesulitan mereka. Kadang, saya harus menjelaskan ulang bahwa pengerjaan soal harus menggunakan penyamaan penyebut. Padahal, kegiatan ini tidak saya lakukan beberapa tahun sebelumnya saat siswa sudah paham bahwa langkah yang harus dikerjakan adalah menyamakan penyebut.
Perkalian silang pecahan
Selain menyamakan penyebut, siswa SMA saat ini juga sering kesulitan mengerjakan perkalian silang. Perkalian silang pecahan adalah metode mengalikan pembilang suatu pecahan dengan penyebut pecahan lainnya untuk membandingkan, membagi, atau menyelesaikan persamaan pecahan.
Perkalian silang pada pecahan ini sering ditemukan pada operasi hitung yang melibatkan perbandingan. Rasanya hampir semua materi matematika, kimia, dan fisika ada materi ini.
Siswa sering bertanya mengapa ini dikali ini dan itu dikali itu. Saat menjelaskan kembali konsep perkalian silang ini, barulah mereka paham. Oh ternyata begitu ya. Makanya, konsep aljabar ini semestinya dimantapkan dulu dengan benar saat siswa duduk di bangku SMP.
Perkalian Pelangi
Saat saya sekolah dulu, tidak ada istilahnya perkalian pelangi. Dulu adanya sifat distributif yakni mengalikan sebuah bilangan dengan bilangan di dalam sebuah tanda kurung.
Istilah ini kemudian berubah menjadi perkalian pelangi. Perkalian pelangi sendiri merupakan cara cepat dalam aljabar untuk mengalikan suku-suku di dalam tanda kurung menggunakan sifat distributif.
Nah, saat ada beberapa soal yang mensyaratkan untuk melakukan kegiatan perkalian seperti ini, biasanya mereka bingung. Lagi-lagi mereka bertanya mengapa bisa ini dikali ini padahal sudah jelas ada tanda kurung.
Maka dari itu, peran bimbel sangat penting dalam hal ini. Saya bukan mempromosikan bimbel saya, tetapi materi dasar seperti ini tidak diajarkan lagi ketika mereka di kelas.
Guru-guru di kelas sudah berpacu dengan waktu agar materi bisa selesai tepat waktu. Jika mereka masih mengajarkan hal ini, maka mereka akan kehabisan waktu.
Untuk itulah, bimbel-bimbel sering memetakan materi mana saja yang kurang dikuasai siswa pada tingkat sebelumnya. Dengan tambahan waktu, biasanya tutor akan memberikan penjelasan lagi dari awal agar mereka bisa memahami dengan benar.
