Belum Ada WAG, Bagaimana Dulu Info dari Sekolah Bisa Tersebar ke Semua Siswa?


Pertanyaan ini muncul dari beberapa siswa bimbel beberapa waktu lalu.

Mulanya mereka menanyakan tahun berapa saya SMA. Dengan sedikit merasa risih, saya mengatakan bahwa saya mengalami masa SMA pada tahun 2000 sekian. Saat mereka masih berada di alam sana. 

Tentu, mereka langsung bingung bagaimana jika saat itu ada tugas atau pengumuman dari sekolah. Saat itu kan belum ada WAG dan sejenisnya. Informasi belum bisa semasif sekarang penyebarannya. Padahal tentu, informasi yang up to date sangat diperlukan. Semisal tugas tambahan, info jika ada kegiatan, atau yang paling ditunggu adalah jika ada informasi pulang pagi karena guru rapat. 

Nah, saya membagi cara penyebaran informasi ini dalam tiga masa, yakni SMP, SMA, dan kuliah. Tiga masa ini punya cara yang berbeda mengikuti perkembangan zaman yang asyik untuk diceritakan.

Bunyi lonceng sekali tanda ada pengumuman di SMP

Saya mengalami masa SMP saat bel sekolah masih menggunakan lonceng. Belum bel listrik. Meski sekolah saya tergolong sekolah favorit di tengah kota, tetapi sekolah saya masih menggunakan lonceng  yang dipukul oleh penjaga sekolah. Kalau tak salah, lonceng ini berada di depan ruang TU. saat penjaga sekolah memukul lonceng ini, ia langsung menutup salah satu telinganya.

Seingat saya, ada 3 macam bunyi lonceng. Pertama, lonceng dibunyikan sebanyak 3 kali sebagai tanda masuk kelas, istirahat, dan pulang sekolah. Kedua, lonceng dibunyikan 2 kali sebagai tanda pergantian jam pelajaran. Nah yang ketiga, lonceng dibunyikan sekali sebagai tanda ada pengumuman penting.

Jika lonceng dibunyikan sekali, maka ketua kelas atau perangkat kelas lain wajib datang ke depan ruang guru. Mereka wajib membawa kertas dan alat tulis untuk mencatat pengumuman apa yang akan disampaikan. Setelah mereka selesai mendapatkan informasi, maka mereka kembali ke kelas. Guru yang sedang mengajar juga wajib menghentikan sementara kegiatan mengajarnya agar ketua kelas bisa menyampaikan kepada siswa di kelas.

Saya yakin cara ini sudah ada sejak zaman penjajahan. Mungkin sudah tidak ada lagi sekolah -  termasuk SMP saya - melakukan cara ini karena benar-benar tidak efektif. Pernah sekali saya menjadi wakil ketua kelas dan ketua kelas saya tidak masuk. Saya mendengar bunyi lonceng sekali dan bergegas turun ke guru. Kebetulan saat itu kelas saya di atas karena berlaku moving class. 

Sudah capai turun ternyata penjaga sekolah lupa membunyikan lonceng sekali lagi sebagai tanda pergantian jam. Asli, saya jengkel karena sedang ulangan matematika dan saya hampir menemukan jawaban soal yang sulit. Saat kembali, ingatan saya ambyar dan saya tak bisa mengerjakan soal tersebut. Namun, kadang kesalahan ini juga membuat siswa lain senang karena bisa kabur sementara dari guru killer.

Bunyi speaker kelas yang mengagetkan masa SMA

Saat SMA, teknologi sudah mulai canggih. Tiap kelas terpasang speaker untuk menyampaikan pengumuman. Suara pembukanya seperti suara announcer di stasiun. Ting tung tung tung.

Suara seorang guru, terutama guru piket akan terdengar dari speaker itu. Jadi, sudah tidak ada ketua kelas yang harus datang ke ruang guru. Kadang, jika ada pengumuman yang menyenangkan seperti pulang pagi, maka suara riuh rendah dari kelas sebelah akan terdengar. Pernah sekali saat ada pengumuman tersebut, kelas saya diajar oleh seorang guru killer. Walau senang dan ingin meluapkan kegembiraan, tapi kelas saya tetap hening sementara kela sebelah hebohnya luar biasa. Berasa berada di Korea Utara dan Selatan.

Untuk pengumuman yang ditujukan untuk internal kelas, biasanya sekretaris kelas akan menulis di papan. Saat itu sebenarnya sebagian siswa sudah punya HP, termasuk saya. Namun, harga pulas SMS yang masih mahal jadi kendala penyampaian pesan. Saya yang memakai Kartu AS sering tidak mendapat info karena pesan terkirim ke siswa yang memakai nomor IM3. Saat itu memang IM3 memiliki paket hemat SMS ke sesama IM3.

SMS berantai saat kuliah

Zaman kuliah yang sudah mulai canggih, pesan singkat atau SMS menjadi andalan. Semua siswa sudah punya HP. Rasanya susah jika tidak punya HP karena informasi disampaikan melalui ponsel. Pernah sekali HP saya rusak alhasil saya ketinggalan banyak info.

Nah yang tidak adalah saat menjadi ketua offering. Tugasnya berat harus memfollow up dosen jika ada sesuatu hal, semisal ada dosen lain yang minta pindah jam. Yang sering sih melobi dosen memindahkan jam karena mendekati liburan. Asli, saya males banget kalau mendapat tugas seperti ini. Belum lagi saat menyampaikan ke mahasiswa lain, ada saja yang komplain. Harusnya begini lah begitu lag. Dohhh.

Alasan inilah yang menyebabkan saya tidak begitu suka tampil atau berkomunikasi dengan rekan kuliah. Ribetnya bukan maen. Yah saya paham mungkin mereka juga ingin pulang karena jauh, tapi kan ya enggak harus semau gue.

Ada kalanya juga nomor mahasiswa tidak aktif atau berganti. Sudah saya SMS eh tidak nyampai. Saat ia tahu kalau ketinggalan info, ia malah komplain. Lah, yang salah siapa?

Kadang dengan dosen pun, saya juga empet. Bagaimana tidak, pernah saya menjadi ketua salah satu matkul dan menghubungi seorang dosen karena tak kunjung datang. Saya yang tidak telaten langsung ke kantornya dan ternyata sang dosen lupa kalau ada kuliah. Saat itu HPnya sedang dicas di rumahnya. Hadoooooo.

Pokoknya zaman kuliah ini meski paling canggih, tetapi misinformasi kerap terjadi. Tidak adanya grup membuat japri japri yang liar bermunculan akhirnya kerap memunculkan konflik. 

Yah itulah masa peralihan penyampaian info kepada teman sekelas. Walau sekarang sudah ada WAG, tetapi yang saya lihat misinformasi masih saja terjadi. Terutama, mereka yang tidak mau membaca info dengan cermat.

1 Comments

  1. kalo dulu aku biasanya ada surat edaran atau pengumuman di mading sekolah

    ReplyDelete
Sebelumnya Selanjutnya