Olahraga Senam Indonesia yang Suram dan Semangatnya yang Padam

Abiyu Rafi, pesenam Indonesia saat tampil di PON Papua. - Kompas.com


Dalam dua hari berturut-turut, saya mendengarkan lagu kebangsaan Lupang Hinirang berkumandang.

Dalam dua dua hari tersebut, saya melihat sosok yang sama naik ke podium tertinggi cabang olahraga senam. Tak lain dan tak bukan, ia adalah Carlos Yulo, peraih dua medali emas Asian Games 2026 di Aichi - Nagoya.

Yulo tak sendirian. Ia datang bersama adik laki-lakinya, Karl Eldrew Yulo, yang meraih perunggu. Kedua bersaudara itu berhasil mengibarkan bendera Filipina dan menjadikan negara itu salah satu kekuatan olahraga senam baru di Asia. Walau tak mendapatkan medali, saya melihat beberapa atlet Malaysia dan Vietnam masuk dalam babak final nomor tertentu. 

Pertanyaannya, ke mana atlet Indonesia, terutama atlet pria?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya masih ingat satu nama atlet senam pria legendaris Indonesia. Tak lain dan tak bukan adalah Jonathan Sianturi. Saya kenal beliau dari Majalah Bobo saat duduk di bangku SD.

Saat itu, saya melihat foto beliau sedang melayang di udara di sebuah perlombaan. Dalam benak saya, wah keren sekali ya orang ini bisa terbang. Seperti superman. Kalau tidak, seperti pemain sirkus yang dari dulu saya kagumi. Kok bisa ya tubuhnya meliuk-liuk sempurna dan tidak jatuh. Saat mereka menapak tanah kembali, mereka tak jatuh dan berdiri sempurna. 

Jonathan Sianturi dalam kisah yang saya baca sudah mendapatkan banyak medali. Mulai PON, SEA Games, dan Asian Games. Prestasi yang membuat saya tercengang, beliau berhasil menyabet 5 medali emas SEA Games 1997 yang diadakan di Jakarta. Lima lho, bukan satu. Keberadaannya juga meneguhkan dominasi Indonesia dalam olahraga senam. Lantas, ke mana dominasi itu kini?

Jonathan Sianturi, legenda senam Indonesa. - Dok, istimewa

Jika menelisik ke belakang, memang ada tiga olahraga lumbung medali pada setiap perhelatan multi event yang tidak dapat diikuti Indonesia dengan baik. Selain senam, ada atletik dan renang. Tiga olahraga ini tidak bisa ditembus oleh atlet Indonesia. Makanya, prestasi Indonesia dalam olahraga multievent seperti Asian Games ya gitu-gitu aja selain saat menjadi tuan rumah.

Setidaknya, ada dua hal yang menyebabkan olahraga tersebut, terutama senam makin mundur. Pertama, pembinaan atlet yang kurang. Kedua, minat masyarakat yang rendah. Untuk renang dan atletik sebenarnya minat masyarakat cukup tinggi. Hanya saja fasilitas yang tak mendukung dan orang-orang di dalam federasi yang ya begitulah membuat prestasi Indonesia begitu-begitu saja. Padahal Thailand sudah mendapatkan medali emas dari cabang atletik.

Yulo bersaudara yang menjadi tumpuan Filipina dalam olahraga senam. gmanews.tv

Nah, sekarang berbicara olahraga senam. Nasibnya jauh lebih miris dibandingkan renang dan atletik. Minat masyarakat amat rendah. Indonesia seakan tertinggal jauh di belakang negara tetangga. Fasilitas yang amat minim juga menjadi kendala. Yang paling parah, federasi senam seakan tidak begitu memperhatikan atlet.

Salah satunya dialami oleh atlet senam wanita Indonesia, Rifda Irfanaluthfi.  Pada Juni 2022, ia mengunggah cuitan di media sosial saat bertanding di Kejuaraan Senam Asia di Doha, Qatar. Ia mengkritik pemerintah dan pengurus karena tidak adanya tenaga therapist atau masseur medis yang mendampingi atlet saat cedera di ajang penting. Dari kisah Rifda ini, tampak sekali olahraga senam menjadi anak tiri. Bandingkan dengan sepak bola yang mendapatkan gelontoran dana luar biasa.

Persepsi masyarakat terhadap olahraga ini, terutama pria juga menjadi kemunduran olahraga senam. Olahraga senam sering dipersepsikan dengan pria lemah gemulai membuat banyak anak laki-laki tidak begitu antusias terhadap olahraga ini. Banyak orang tua tidak begitu mendukung anak laki-lakinya menekuni olahraga senam. Mereka akan lebih bangga jika anaknya bermain sepakbola.

Berbagai alasan ini yang membuat olahraga senam Indonesia mati suri. Pada Asian Games 2026 ini, Indonesia hanya mengirimkan dua wakil, yakni Dylanov Clara yang turun di senam artistik dan Tri Wahyuni yang turun di senam ritmik. Tidak ada satupun atlet pria yang bertanding. 

Padahal, pada SEA Games 2025, ada beberapa nama atlet senam pria Indonesia yang bertanding, seperti Abiyu Rafi, Satria Tri Wira Yudha, dan beberapa nama lain yang bertanding. Bahkan, pada SEA Games kemarin, Abiyu Rafi berhasil meraih emas pada nomor Men's Horizontal Bar. Lalu, mengapa mereka tidak bertanding di Asian Games?

Pertanyaan ini belum terjawab sambil saya melihat beberapa pesenam pria Filipina kembali tampil dan cukup meyakinkan. Olahraga ini menjadi salah satu lumbung medali negara atas Sulawesi tersebut. 

Post a Comment

Sebelumnya Selanjutnya