![]() |
| Ilustrasi. - detik.com |
Saat ini, penjual makanan serba 10 ribu seakan menjamur di berbagai kota.
Saya tidak tahu asalnya dari mana. Yang jelas, tiba-tiba saja banyak orang menjual berbagai macam makanan dan minuman dengan harga yang sama, yakni 10 ribu rupiah. Dulu sih seingat saya ada penjual kue basah yang menjual makanan juga dengan harga sama 10 ribu rupiah.
Namun, penjual kue tersebut kini malah berganti menu dengan menjual serba 10 ribu rupiah. Kue-kue yang biasanya dijual dengan rentang harga 1.000 hingga 5.000 rupiah kini dijadikan satu kemasan dengan harga yang sama, yakni 10 ribuan.
Bisa jadi, keputusan tersebut didasarkan pada kemudahan sang penjual saat menjual dagangannya. Mereka tidak perlu mencari kembalian recehan saat pembeli memberikan uang pecahan besar, seperti 50 ribu atau 100 ribu rupiah. Mereka hanya tinggal menyiapkan kembalian dengan pecahan 10 ribuan.
Perubahan tersebut juga bisa terjadi karena sang penjual ingin melakukan branding dengan branding menu serba 10 ribu. Dengan branding baru ini, secara otomatis ia akan lebih dikenal. Pembeli juga tidak perlu menanyakan harga lagi karena semua menu dijual dengan harga 10 ribu rupiah.
Pengalaman saya sih saat membeli menu 10 ribuan kadang untung kadang zonk. Saya pernah membeli pizza cukup enak dengan harga 10 ribu. Saya juga pernah mendapatkan nasi katsu dengan potongan daging besar, empuk, dan bumbu yang pas juga dengan harga 10 ribu. Kemarin, saya juga baru saja membeli nasi briyani dengan potongan daging ayam yang lumayan hanya dengan 10 ribu. Padahal, biasanya saya membeli menu tersebut dengan harga di atas 20 ribu rupiah. Lumayan kan buat sarapan.
Saking banyaknya pilihan di penjual serba 10 ribu, kadang saya bingung pilih yang mana. Kalau tidak pintar memilih, saya bisa kalap membeli banyak makanan padahal tidak begitu saya butuhkan. Kadang juga, saya mendapatkan zonk berupa menu yang tidak sesuai standar.
Contohnya, saya pernah kepincut membeli sate lontong di serba 10 ribu ini. Saat saya buka, lah isinya gajih alias kulit semua. Dagingnya hampir tak ada sama sekali. Padahal, hanya tinggal menambah 5 ribu saja, saya sudah dapat sate ayam yang full daging. Pernah juga saya mendapatkan menu siomay yang keras sekali. Dari tampilannya sih menggoda dengan bumbu kacang yang banyak. Saat saya makan, ya tuhan kerasnya minta ampun. Bahkan meski saya kukus lagi, siomaynya masih keras.
Makanya, penjual serba 10 ribuan harus menyeleksi dulu barang dagangan dari supplier sebelum dijual. Contohnya seperti apa yang dilakukan seorang penjual serba 10 ribuan di Semarang. Ia mewajibkan supplier mengirimkan sampel makanan sebelum bisa dijual di tempatnya.
Kalau sudah di-ACC, barulah ia akan mempersilahkan mereka untuk mengirim barang dagangannya untuk dijual. Ia akan all out berjualan di sosmed, terutama TikTok. Satu per satu barang dagangannya dijajakan sehingga banyak pembeli datang.
Satu hal yang saya suka, ia juga tetap menjaga kualitas barang dagangannya. Ia juga tidak sungkan menegur supplier yang kualitas dagangannya menurun. Ia juga memberi batas waktu pengiriman barang dagangan maksimal jam 5 pagi. Dengan begini, kualitas bahan makanan dan minuman akan tetap terjaga. Apa yang dilakukan pedagang serba 10 ribuan ini patut dicontoh.
Serba 10 ribu memang menjamur saat ini. Walau demikian, stoknya yang hanya ada saat pagi hari membuat saya kesulitan saat ingin menu banyak tersebut saat siang hingga malam. Padahal, saat siang hingga malam, saya kadang malas dengan menu yang mirip seperti lalapan dan sejenisnya. Kalau menu 10 ribuan akan banyak macamnya.
