Sotonya Sih Murah, Tapi…….

Ilustrasi


Untuk pertama kalinya, saya akhirnya mencoba makan di sebuah warung soto bening yang cukup terkenal dan viral.

Tidak perlu saya sebut ya, pasti kalian semua sudah paham warungnya yang mana. Pokoknya warung ini hampir tidak pernah sepi di semua cabangnya. Bahkan, kadang sampai harus antre panjang demi mendapatkan satu porsi soto bening yang segar.

Sebenarnya sih, saya tidak begitu tertarik untuk makan di warung soto bening ini. Alasannya sih saya lebih suka soto buthek alias modelan seperti Soto Lamongan. Soto dengan kuah kaya rempah, lengkap dengan taburan koya dan perasan jeruk nipis. Kalau tidak Soto Lamongan, favorit saya ya Soto Sokaraja arau Coto Makassar. Pokoknya soto yang kuahnya kental dan kaya akan rempah. Bukan soto bening khas Jogja atau Solo yang bagi saya mirip kuah semur.

Ini memang masalah selera. Sedari kecil, saya sudah makan soto kental seperti Soto Lamongan. Lidah dan perut saya sudah terbiasa dengan soto model begitu. Walau saya tidak mengatakan soto bening tidak enak, tetapi jika disuruh memilih, saya lebih suka soto yang kental. Lebih nendang dan kenyang.

Kembali lagi ke topik. Saya belum mau mencoba soto bening tersebut dengan alasan selalu ramai. Malas kan kalau harus mengantre lama. Tak hanya itu, beberapa konten kreator makanan di media sosial sering membagikan pengalaman tidak menyenangkan saat makan di warung soto tersebut.

Mereka sering tak sadar makan banyak makanan pendamping dan harus membayar dengan jumlah banyak. Ya bukan salah warungnya sih karena pengelola warung sudah memberi harga semua menu. Masalahnya, karena merasa belum kenyang, pembeli sering kalap mengambil banyak menu pendamping. Mereka mengira paling-paling hanya menambah 10 ribuan saja. Eh ternyata saat sampai di kasir, harga menu pendamping yang harus mereka bayar jauh lebih mahal daripada harga sotonya. Lah?

Hingga pada suatu siang, saat warung soto itu baru buka, iseng-iseng saya mau mencoba. Kebetulan, saat itu sedang sepi dan saya belum sarapan. Ya, apa salahnya mencoba paling tidak sekali seumur hidup saya pernah makan di sini.

Ternyata, saat baru masuk, kita langsung disuruh pesan menu soto dan minuman. Ada soto yang ukuran kecil dan besar. Kata teman saya, lebih baik beli yang besar. Cuma selisih seribu tapi jauh lebih worth it. Kalau dari harganya sih sama lah dengan warung soto lainnya. Nah, yang beda adalah setelah mendapat nomor meja, kita akan diberi kertas dan pena. Kertas tersebut berisi menu pendamping yang akan kita ambil semau kita. Di sinilah letak godaannya.

Jadi, sambil menunggu menu soto dan minuman kita siap, kita bisa mengambil aneka menu pendamping. Ada gorengan seperti tempe dan tahu. Ada persatean seperti sate ayam, sata usus, dan lain sebagainya. Ada juga jajanan pasar seperti sosis solo. Jujur sih, kalau saya banyak uang pasti bakal ambil sepuasnya. Lantaran this economy, maka saya hanya mengambil beberapa saja seperti tempe kering dan sosis solo.

Bagi saya sih, makan dengan satu porsi ditambah tempe kering sih sudah kenyang. Saya sering makan soto seperti ini di Semarang, Jogja, atau Solo dan ya sudah kenyang. Namun, bagi orang Malang atau Surabaya yang terbiasa dengan soto kental pastilah belum kenyang. Makanya, mereka sering nambah persatean dengan harga 10 ribuan. Kalau mengambil 5 sate, sudah 50 ribu kan?

Makanya, saya lebih memilih mengambil gorengan yang harganya 2 ribu sampai 3 ribuan. Paling mahal sih sosis solo yang harganya 5 ribuan. Saat membayar, eh tiba-tiba tagihan yang harus saya bayar sudah 28 ribu saja. Ya ampun, biasanya saya makan soto paling pol 20 ribu. Itu pun sudah kenyang banget karena saya nambah tempe ukuran besar. 

Walau sedikit kecewa, tapi ya sudahlah sebagai pengalaman. Kalau datang lagi bayar sendiri, saya mungkin berpikir dua kali. Namun, kalau ditraktir, ya ayo aja. Nah, kalau kalian sendiri, apa suka makan di warung soto model begin?

Post a Comment

Sebelumnya Selanjutnya