![]() |
| Sumber: Detik.com |
Asli, saya salut sekali dengan para aktivis Greenpeace - terutama dua srikandi - yang berhasil memanjat Tugu Selamat Datang di Bundaran HI dan membentangkan spanduk kritik pada pemerintah.
Aksi mereka sangat terukur dan jeli memanfaatkan kelengahan aparat yang akhirnya kelabakan mencari cara bagaimana menurunkan spanduk tersebut. Walau sapnduk tersebut akhirnya diturunkan beberapa jam setelah dikibarkan, tetapi aksi mereka sangat nyata terlihat. Aksi mereka sudah diliput oleh media internasional dan menggambarkan betapa tidak becusnya pemerintah Indonesia menangani berbagai masalah yang terjadi di negara kita.
Mulai kebakaran hutan, keracunan MBG, anjloknya IHSG, dan berbagai masalah lain. Segala permasalahan yang tidak ditangani dengan baik ini akhirnya menimbulkan keresahan. Menyuarakan dengan sopan dan bijak tidak akan menimbulkan solusi. Perlu sebuah tindakan yang terukur dan berdampak yang membuka mata dunia bahwa Indonesia tidak baik-baik saja. Maka, para aktivis tersebut menjadi penyelamat bagi banyak masyarakat.
Saya sangat salut dengan cara mereka bertindak. Mereka sudah melakukan ini mungkin sejak dini hari. Saat banyak warga dan aparat tengah tertidur pulas. Mereka sangat rapi dalam menjalankan aksi hingga tiba-tiba saja spanduk terbentang. Bukan tiba-tiba sih, karena pasti kegiatan sudah perlu waktu lama.
Sampai saat ini, saya masih tidak bisa mencerna bagaimana mereka mengaitkan tali, memanjat ke atas, dan membawa spanduk sebesar itu. Asli, ini adalah kegiatan yang luar biasa berbahayanya. Salah perhitungan bisa wassalam. Terlebih, ada dua wanita yang naik ke puncak monumen dengan tinggi sekitar 30 meter.
Saya saja dulu saat olahraga panjat tebing di SMA yang diwajibkan menaiki dinding tebing buatan rasanya udah semriwing. Padahal tinggi tidak sampai 10 meter. Lah ini bisa sampai 30 meteran sungguh sangat luar biasa.
Kembali ke masalah pesan yang disampaikan, saya merasa apa yang dilakukan oleh para aktivis Greenpeace ini mirip dengan para pejuang pada peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949. Saat itu, para pejuang mengejutkan para tentara Belanda di Yogyakarta yang telah mengira bahwa kekuatan para pejuang kita sudah tiada. Terlebih, sejak Agresi Militer Belanda II, banyak pejuang yang harus mundur dari banyak wilayah yang sudah dikuasai Belanda, terutama di Yogyakarta dan Jawa Tengah atau dikenal sebagai garis Van Mook.
Para pejuang memanfaatkan kelengahan tentara Belanda dengan membombardir pusat Kota Jogja dan menguasainya dalam waktu 6 jam. Mereka tidak menargetkan menguasai penuh dan dalam waktu lama. Mereka hanya menargetkan menguasai dalam waktu singkat asal aksi mereka bisa diketahui dunia. Peristiwa ini akhirnya sangat berdampak dengan tekanan besar pada Belanda, terutama oleh Amerika Serikat agar segera mengakui kedaulatan Indonesia.
Sama dengan Serangan Umum 1 Maret 1949, aksi yang dilakukan oleh Greenpeace juga tidak menargetkan spanduk yang dipasang bisa bertahan lama. Yang penting waktunya pas saat pagi hari, saat orang mulai beraktivitas dan lalu lintas padat. Mereka hanya menargetkan gambar dan video tentang spanduk tersebut bisa tersebar dengan cepat ke seluruh dunia, terutama ke berbagai stasiun berita internasional.
Benar saja, saat aparat menurunkan spanduk itu, foto dan videonya sudah tersebar. Pemerintah sudah seakan kelabakan dan bingung harus berbuat apa. Aparat yang menangkap para pemanjat juga bingung mau memberikan pasal apa. Di sinilah letak kemenangan itu terjadi. Sama halnya dengan Serangan Umum 1 Maret 1949.
Walau buzzer yang kini sama derajatnya dengan simpatisan PKI mendengungkan apapun soal spanduk itu, nyatanya kegiatan mereka sudah kepalang basah. Lebih banyak masyarakat yang simpati terhadap spanduk daripada yang kontra.
Spanduk ini juga jadi bukti bahwa untuk melawan penjajahan memang harus dilakukan dengan cerdik dan terukur. Jika tidak, semuanya akan sia-sia. Makanya, kini saya juga sangat semangat berjihad melawan para buzzer itu demi masa depan Indonesia yang lebih cerah.
