Peta politik Oktober ini memang benar-benar plot twist.
Pengumuman rencana untuk memasukkan IHSG atau pasar saham Indonesia ke dalam jajaran negara standalone membuat kegaduhan terjadi hampir di seluruh lapisan negeri. Belum lagi, karhutla yang semakin hari entah bagaimana kabarnya membuat banyak orang seakan muak dengan pemerintahan saat ini.
Biasanya, untuk meredam gejolak masyarakat, pihak yang berkuasa - dalam hal ini pemerintah - mencoba berbagai cara untuk kembali meningkatkan kepercayaan masyarakat. Salah satunya dengan adanya survey abal-abal yang menyatakan tingkat kepuasan rakyat kepada pemerintah.
Namun, cara paling mujarab yang sering dilakukan adalah pengerahan buzzer di berbagai media sosial. Buzzer ini bertugas menyerang mereka yang kontra kepada pemerintah dan memberikan opini terbalik dari apa yang mereka katakan. Biasanya, buzzer ini hadir dalam kelompok besar yang mempunyai misi utama untuk menyelamatkan muka pemerintah.
Pada periode terakhir, buzzer ini seakan berada di atas angin. Mereka yang kontra sering dianggap antek-antek asing lah, kurir kecemasan lah, dan lain sebagainya. Pokoknya jangan sampai ada yang bisa membuat muka pemerintah buruk di mata masyarakat.
Akan tetapi, rontoknya IHSG, kelangkaan BBM, dan sejumlah hal buruk lain membuat masyarakat sudah jenuh dengan buzzer ini. Mereka tidak lagi menyerang buzzer dengan komentar, tetapi memburu para buzzer hingga mereka seperti anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Ada banyak masyarakat yang membagikan banyak akun buzzer lengkap dengan data lengkap seperti nomor KTP dan alamat. Tentunya, nomor telepon mereka juga turut kesebar. Bahkan, ada pula yang dengan terang-terangan mencari alamat para buzzer dan berencana menciduk mereka layaknya simpatisan PKI yang diburu sampai ke ujung bumi.
Semua terjadi secara cepat dan masif. Layaknya Oktober 1965, maka pada Oktober 2026 ini peta politik benar-benar berubah. Jika sebelumnya para buzzer ini masih bisa adu kuat dengan netizen, kali ini mereka banyak yang tiarap. Beberapa dari mereka akhirnya memberikan klarifikasi dan permohonan maaf atas apa yang sudah mereka lakukan.
Salah satu momen yang membuat masyarakat berani adalah momen saat Windah Basudara, seorang Youtuber yang juga gamer menyuarakan atas apa yang terjadi. Ia sangat keras mengkritik pemerintah karena gagal dalam menangani karhutla dan berbagai masalah lain. Pemilik julukan bocil ke***ian ini sangat berpengaruh dalam mengubah persepsi masyarakat. Pengikutnya juga dikenal bisa melakukan banyak hal di dunia siber. Maka dari itu, saat Windah juga diancam dengan pembukaan data rekeningnya, maka kemarahan kepada buzzer sampai pada puncaknya.Busett dah bocor lagi ni daftar daftar akun buzzer bayaran pemerintah, ada beberapa akun yang masih aktif ternyata. kalo soal doxxing mendoxxing warganet facebook jujur lebih effort wkwkw. https://t.co/3wBzgeevYN
— vyooo (@vyowiz_) October 19, 2026
Masyarakat sangat marah saat tahu bahwa ada sejumlah dana yang dipakai untuk membayar buzzer. Mereka juga menemukan file excel berisi nama-nama buzzer yang telah menerima kontrak untuk melakukan tugas melakukan pembersihan nama. File ini dengan cepat tersebar ke masyarakat. Satu per satu dari mereka pun dikuliti identitasnya. Sebagian hilang sebagian meminta maaf. Proyek itu pun akhirnya terhenti. Sebuah kemenangan besar atas keburukan rezim saat ini.
Entah bagaimana November ini peta politik akan berembus. Yang jelas, mengerahkan buzzer saat ini sudah tidak efektif lagi karena mereka akan langsung didoxing. Tempat kerja mereka juga tidak luput dari sasaran. Jika dulu komen positif kepada pemerintah masih bisa terlihat, kini mulai hilang.
