![]() |
| Hanya ilustrasi |
Pasti kalian sudah mendengar berita makar yang dilakukan oleh para jendral wercok.
Asli, huru-hara ini mirip-mirip dengan peristiwa G30S. Ada upaya kudeta terhadap pemerintahan yang sah oleh lingkaran terdekat presiden. Kalau pada peristiwa G30S tahun 1965 dilakukan oleh petinggi Cakrabhirawa alias pengawal presiden, kini malah dilakukan oleh para jendral wercok.
Yah memang tidak sampai menculik jendral werjo seperti pada tahun 65. Namun, kegiatan mereka juga tak kalah mengerikan seperti yang dilakukan pada tahun-tahun tersebut. Mereka menyadap ponsel presiden, menteri, dan para petinggi partai selama beberapa tahun. Uniknya, kejadian ini terbongkar karena kesalahan yang menurut saya konyol.
Mereka lupa menghapus riwayat log saat melakukan penyadapan. Asli. saat saya membaca berita ini, saya pikir cara kerja mereka rapi dan intelijen bisa membongkar kejahatan mereka seperti film James Bond. Yah ternyata lupa log out. Khas boomer dan Gen X sekali.
Riwayat kasus yang saya pahami adalah jadi wercok ini kan sudah tidak menjadi petinggi. Nah, dia mengusung alat sadap yang sebenarnya milik negara ke beberapa rumah jenderal wercok. Tiba-tiba, ada salah satu wercok yang tahu kalau ada aktivitas mencurigakan. Maka, jenderal wercok yang sering ngetweet tersebut pun digeledah dan sempat melakukan perlawanan. Ia pun akhirnya mengaku disuruh mantan petinggi wercok. Beberapa jenderal wercok yang terlibat pun diseret.
Oke, kita kesampingkan kasus ini dulu. Satu hal yang jadi hikmah adalah sekelas presiden saja bisa disadap, apalagi rakyat jelata seperti kita? Makanya tak heran power wercok yang luar biasa saat penyadap itu menjadi petinggi. Berbagai teror dan ancaman terhadap warga yang kontra benar-benar dilakukan dengan sistematis.
Tak hanya itu, sebenarnya elit di atas sana memang sedang berjuang untuk dirinya masing-masing. Mereka memang acuh tak acuh terhadap kondisi bangsa yang sudah bobrok dan mau ambruk. Coba saja lihat, baru saja kasus ini mencuat, eh werjo sudah siap menerjunkan ribuan pasukan di ibukota. Padahal, saat kebakaran hutan di Borneo, hampir tak banyak dari mereka yang turun. Malah, relawan yang banyak berjibaku memadamkan api yang sudah sangat membara.
Kasus yang menggegerkan ini juga jangan sampai membuat tuntutan kita kepada pemerintah surut. Gerakan tiga jari yang makin masif harus tetap disuarakan. Kemarin, saya lihat beberapa masjid dan gereja juga sudah mulai menyuarakan hal ini. Biarlah mereka yang saling sikut, tetapi misi kita untuk mengevaluasi pemerintahan besar-besaran harus tetap terlaksana.
Entah apa yang terjadi pada jenderal-jenderal werjo nanti yang pasti mereka dikendalikan oleh salah satu pihak. Saya tak sebut nama pasti kalian sudah tahu siapa dalangnya. Pihak ini masih ingin berkuasa meski eranya sudah berakhir. Entah apa yang juga akan terjadi pada pihak tersebut apakah nasibnya seperti PKI.
Walau demikian, saya yakin sisa-sisa kekuatan pihak tersebut masih ada. Mereka akan wait and see menunggu perkembangan lebih lanjut. Jujur, kasus makar ini membuat saya makin eneg dengan wercok. Mereka boleh setiap hari membuat konten yang simpatik, tetapi saya makin tak tertarik.
Kalau kalian sendiri, bagaimana menyakapi isu “Dewan Jenderal” ini?
