5 Kompasianer Favorit Saya

Kompasiana adalah rumah kedua bagi saya dalam kurun 2012-2015.
Ilustrasi. (Sumber)

Selama kurun waktu itu, saya selalu menyempatkan waktu untuk berbagi artikel dan berbalas komentar. Kelebihan dari Kompasiana kala itu adalah selain banyak penulis handal, ada notifikasi yang kita dapat saat berbalas komentar. Belum lagi, apresiasi dari admin berupa Headline (HL), Highlight, Trending Article (TA), maupun Featured Article (FA) membuat penulis baru seperti saya menjadi lebih bersemangat meski tak ada aliran materi yang masuk ke rekening. Interaksi untuk saling berbagi dan belajar dari para Kompasianer (sebutan blogger Kompasiana) begitu riuh. Kami bisa sangat dekat meski tak pernah bersua. Nah, diantara ribuan Kompasianer tersebut, ada 5 Kompasianer yang menjadi favorit saya. Dari mereka semua, saya banyak belajar mengenai kepenulisan, mulai dari merangkai kalimat, diksi, hingga aneka ilmu lain yang tak saya dapatkan di bangku sekolah. Siapa saja mereka?


Inilah Kompasianer favorit saya yang pertama. Pada laman profilnya tercetak centang biru artinya merupakan akun terverifikasi tingkat lanjut dari artikel yang ia tulis. Mas DhaVe membuat saya ternganga dengan tulisan dan jepretannya. Kekuatan utama tulisan kompasianer ini adalah travelogue (cerita perjalanan) yang begitu mengalir dan didukung oleh foto pendukung yang oke punya.

Tulisan Mas Dhave sering jujur mengungkapkan apa yang ia alami dalam tulisan-tulisannya. Kelebihan lainnya adalah penggunaan frasa antar kalimat yang sangat padu sehingga menarik untuk dibaca. Saya banyak belajar dari beliau ketika mencoba menggabungkan antar paragraf. Saya sadar,  banyak tulisan saya yang belum terkoneksi dengan baik antar paragrafnya. Dari membaca tulisan Mas DhaVe, saya banyak belajar untuk menggabungkannya dengan baik. Nah, yang paling penting dari tulisan beliau adalah kemunculan sisi X atau sesuatu yang jarang dipikirkan orang namun sebenarnya sangat penting bagi khalayak umum. Selain di Kompasiana, Mas DhaVe juga aktif menulis di blog pribadi yakni pada laman http://www.dhave.id dan http://www.dhave.net


Bu Lis, begitu beliau disapa adalah satu fiksianer (sebutan bagi penulis Fiksi di Kompasiana) favorit saya. Beliau cukup rajin menulis aneka macam fiksi, mulai dari puisi, cerpen, cermin, cermis, cerbung, hingga novel. Sudah tak terhitung berapa jumlah karya fiksinya yang ia tulis baik solo maupun kolaborasi.

Tak hanya itu, Bu Lis juga sering berbagi cara menulis fiksi yang asyik. Beliau berbagi cara membangun karakter tokoh, memperkuat jiwa cerita melalui latar, hingga merancang dan membangun konflik. Kekuatan utama dari fiksi Bu Lis bagi saya adalah kombinasi dari beberapa hal tersebut. Tak hanya itu, akhir cerita yang sering tak terduga juga membuat saya sering menerka apa gerangan yang akan terjadi dengan sang tokoh utama.

Bu Lis sendiri sudah menelurkan beberapa antologi cerpen dan novel. Saat ini, beliau lebih aktif menulis di blog pribadinya (http://fiksilizz.blogspot.co.id/). Pembaca bisa memilih fiksi apa yang ingin dibaca. Bu Lis juga menjadwalkan cerbung dan cerpen yang ia tulis tiap minggunya. Cerbung bertajuk Jarik Tantrum Garuda adalah salah satu cerbung yang masih tayang hingga sekarang.


Kompasiner yang tinggal di Jepang ini menjadi salah satu Kompasianer yang tulisannya tak pernah saya lewatkan. Saya bisa melihat Jepang secara nyata berkat tulisan Bu Weedy. Ibu dua anak ini begitu rajin membagikan apa yang ia alami dan ia rasakan selama tinggal di negeri sakura tersebut. Terlebih, apa yang kedua putra beliau alami. Mulai dari penggunaan ponsel di sekolah, hukuman membersihkan kamar mandi, hingga cerita unik lainnya.
Artikel Bu Weedy juga begitu mendalam. Tak hanya sekedar bercerita secara deskriptif, namun sarat makna di dalamnya. Bu Weedy juga sering memberikan masukan beberapa hal yang kiranya bisa diperbaiki oleh orang-orang Indonesia. Berkat tulisannya, Bu Weedy sudah menerbitkan beberapa buku. Salah satunya berjudul Unbeliveble Japan yang telah tercetak sebanyak 2 seri.

4. Gaganawati Stegmann/ Mbak Gana (https://www.kompasiana.com/gaganawati)

Mbak Gana, begitu biasa beliau dipanggil adalah salah satu Kompasianer yang artikelnya juga saya nantikan. Beliau adalah seorang ibu yang tinggal di Jerman. Hampir sama dengan Bu Weedy, Mbak Gana juga bercerita tentang kehidupannya di negeri orang.

Namun, pelajaran hidup yang Mbak Gana bagi adalah hal paling saya suka dalam setiap tulisannya. Bagaimana beliau mengulik sisi kehidupan orang barat yang jika dilihat cenderung bebas namun ada makna di dalamnya. Cerita Mbak Gana membuat cakrawala saya terbuka. Saya bisa belajar banyak dari tulisannya bahwa dunia tak hanya hitam dan putih dalam satu sisi saja. Ada kompleksitas yang luar biasa dari hal-hal remeh yang jika dilihat secara sekilas akan terlihat baik atau buruk saja. Contoh nyata adalah cerita Mbak Gana tentang cerita orang Jerman dalam mengenang Perang Dunia.

Mbak Gana juga telah banyak menelurkan buku yang sangat bermanfaat, yakni Wanita Indonesia Hebat (WIB), Exploring Hungary, dan Exploring Germany. Mbak Gana juga terampil menari dan sering tampil di acara kenegaraan.


Inilah Kompasianer paling favorit bagi saya. Budos Ellen alias Bu Ellen yang menjadi “ibu” saya ketika menulis di Kompasiana. Tulisannya sangat luas dan lebih sering tentang kehidupan. Pernikahan, perselingkuhan, perceraian, kematian, dan lain sebagainya. Ulasan yang mendalam disertai banyak saran bagi pembaca membuat lapak Bu Ellen selalu ramai.

Artikel-artikel Bu Ellen mendominasi panggung Headline maupun Trending Article. Yang saya suka, Bu Ellen tak segan mampir di setiap tulisan yang saya tulis meskipun remeh temeh. Kadang, Bu Ellen juga memberi masukan kepada saya yang masih bau kencur. Masukan tersebut bukan masukan yang menggurui namun spirit semangat agar saya bisa menyelesaikan permasalahan dari apa yang saya tulis.

Diantara tulisan Bu Ellen, saya paling suka tulisan berjudul “Mengapa Pria baik-Baik Bisa Selingkuh Juga?”. Artikel ini menjadi Featured Article beberapa hari yang lalu. Bagi saya, masalah jomblo saat ini belumlah seberat ketika berumah tangga nanti. Termasuk, godaan untuk melakukan perselingkuhan. Di dalam artikel ini, Bu Ellen menelisik sebab-sebab pria bisa berselingkuh dan sulitnya sang wanita menerima hal tersebut. Bu Ellen juga memberi saran bagaimana cara agar kondisi sulit itu bisa diatasi. Meski hal itu masihlah pahit, dari artikel Bu Ellen saya belajar bahwa sesuatu akibat pasti ada sebab. Itulah hidup. Makanya, di setiap penutup artikel, Bu Ellen selalu melakukan terminasi dengan kutipan berbahasa Inggris yang sesuai dengan pokok bahasan artikel tersebut.

Sayang, Bu Ellen mengakhiri tulisannya sejak akhir 2015 ketika ramai masalah PK (Pakde Kartono) = GT (Gayus Tambunan). Kendati keduanya pernah jadi satu tim, namun karena ada hal yang tak baik Bu Ellen lebih memilih pergi. Saya sangat kehilangan Bu Ellen dan tulisannya. Semoga, jika ada kesempatan mengunjungi Kota Manado saya bisa bersua dengan Bu Ellen.

Itulah beberapa Kompasianer favorit saya. Sungguh, saya masih mengenang spirit ngeblog untuk berbagi dalam aneka macam warna di Kompasiana. Tak hanya uang, namun ilmu yang kita peroleh adalah kenikmatan yang tiada terkira.

45 comments:

  1. Gak pernah bikin kompasiana
    Dulu pernah mau bikin pas ada event lomba, tapi gak jadi

    Soalnya dis itu kayaknya fokus ke tulisan ya, kayak wordpress
    Sementara aku anaknya separo tulisan separo visual gitu
    Jadi kalo nagdnelin tulisan doang bakal mati deh, soalnya tulisanku biasa aja malah biasa banget haha

    kaskuser sama wordpresser favorit gak sekalian dishare masss?

    ReplyDelete
    Replies
    1. memang kompasiana lebih ke konten tulisan, tapi yang fokus ke gambar juga banyak. malah ada komunitas pengglila fotografi yang disebut KAMPRET (Komunitas Hobi Jepret)
      kalo blog sih tulisan juga penting mas, malah jadi pendukung utama hehe
      klo wordpress aku suka gak begitu ngikuti, paling Mbak Trinity, atau mas Roy Saputra. Kaskuser aku malah gak punya
      kurang suka aja

      Delete
  2. Sekarang sudah nggak aktif di kompasianan berati mas?

    Saya pas awal-awal aktif ngeblog lagi, juga berasa pengen punya akun di kompasiana. Tapi kalau pas tak baca beberapa artikel disana, kebanyakan lebih ke tulisan-tulisan formal gitu dan minim foto (kayaknya). Sementara saya sendiri lebih suka tulisan yang bersifat personal dan banyak foto / grafis pendukung di blog. Yaudah, akhirnya ngga jadi bikin dan nyoba nelateni di blogspot aja.

    Tapi lumayan ni listnya, bisa jadi referensi bacaan. Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. masih mas, malah kemarin habis ikutan lomba, hehe
      bukan formal sih mas, banyak yang sante kok
      cuma memang aturan plagiarismenya ketat, sebelum tayang akan dilihat dulu.
      yah tergantung pilihan juga mas, saya juga akhirnya ngeblog pribadi
      hanya tulisan teman2 di Kompasiana masih tetap jadi acuan belajar menulis yang baik.

      Delete
  3. Dududu hebat2 bgt ya mereka. Jadi pengin kepo tulisan2nya kak :)

    ReplyDelete
  4. Ndak mudeng saya, ini baru mau mulai menulis di kompasiana, dan tulisan ini sangat bagus buat jadi acuan atau bahan belajar menulis di kompasiana,keren2 mereka...semoga bisa menjadi kompasianer seperti mereka...

    ReplyDelete
    Replies
    1. coba gabung mas, ada cukup banyak kompasianer lain yang hebat belum saya tulis

      Delete
  5. Baca Kompasiana tapi jarang merhatiin penulisnya...Duh!
    Dari sini saya jadi kepo sendiri dan mulai buka akun mereka..Keren-keren memang. Terutama Bu Ellen, sayang sudah enggak aktif lagi. Btw, enggak ada blog Beliau, Mas?

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya dulu juga gitu mbak, hehe
      Bu Ellen sudah tak ngeblog dan berjejaring sosial lagi sejak kasus Gayus Tambunan heboh mbak
      sayang banget padahal tulisannya bermanfaat mbak.

      Delete
  6. Saya sudah lama sekali tidak buka kompasisana
    dulu pernah beberapa kali nulis di sana dan sudah lama.
    Sehabis itu gak pernah lagi mampir kesana. Sesekali saya klo lg ada yg di cari

    ReplyDelete
  7. sepertinya saya juga ingin belajar dari 5 Kompasianer diatas, siapa tahu kemampuan menulis saya bisa ditingkatkan.Betul ngak Mas ? :)

    ReplyDelete
  8. sempet mau join kompasiana karena ada lomba gitu, tapi jadi bingung karena udah punya blogspot. dan pula orientasi tulisan lebih kepada visual dan tulisan dengan gaya santai dan jenaka :D tapi saya lihat memang meereka semua tulisannya keren-keren :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau mau belajar lebih coba nulis di Kompasiana mas

      Delete
    2. pengen sih, mungkin ntar habis UNBK mau coba-coba mas ikrom

      Delete
  9. Kompasiana enak banget sering juga ngadain event event yang bisa buat semangat nulis, dan komunitasnya juga asik asik dan seru ya mas

    ReplyDelete
  10. Jadi pengen gabung, aku udah nulis juga di kompasiana. Kapan kapan mampir dong kak :v

    ReplyDelete
  11. kalo saya masih baru niat mau join kompasiana..tapi sampe sekarang satu blog aja kadang males posting

    ReplyDelete
  12. Diantara mereka tidak ada yang saya kenal. Dan saya entah mengapa belum percaya diri ikut kompasiona

    ReplyDelete
    Replies
    1. loh kenapa mas
      tulisan mas bumi bagus2 loh
      coba saja mas

      Delete
  13. Kelima nama di atas didominasi oleh perempuan. Luar biasa. Bisakah suatu saat saya jadi seperti mereka?

    Saya lebih sering baca artikel di kompas.com daripada di kompasiana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. bisa mbak
      yang menting konsisten nulis

      Delete
    2. Bisa pasti bisa, mbak Sitti.
      Omaigotttt, pak Ikrom terima kasih sanjungannya ... buku terbaru saya 2017 "Unbelievable Germany." Saya masih nulis di Kompasiana, sejak 2011 semoga sampai titik heheheh .. Terima kasih atas tulisan ini.

      Delete
  14. portal kompasiana begitu populer ...di kalangan warganet termasuk saya, banyak info info terupdate dari web ini , mulai bagaiman bikin sambal terasi sampai kampanye presiden, semua ada...ilove you KOMPASIANA

    ReplyDelete
  15. kompasianer.. dengan skill copywriting yang sangat mumpuni dan jam terbang yg tinggi..
    kira2 berapa ya bayarannya?^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. barusan ada K-Reward
      ada honor sesuai page view
      tapi harus terverifikasi dulu

      Delete
  16. Konten2 di kompasiana biasanya saya klik duluan klo pas muncul di search google.
    Pasti kelimanya,kemampuan menulisnya bikin kagum lah. Kapan2 main2 lah untuk belajar

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak selalu Page One Google
      silahkan dicoba mbak

      Delete
  17. 5 kompasianernya mantep-mantep ya

    ReplyDelete
  18. saya tahu artikel kompasiona dari mesin pencari google tulisanya memang bagus bagus, tapi ga hafalin penulisnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas
      ini referensi saja kalau sambil mau belajar menulis

      Delete
  19. Kalau aku paling seneng sama Hendra Wardhana tuh. Tulisannya keren-keren. Apalagi kalau soal review dan cerita perjalanan. Sering menang lomba juga dia, udah kayak langganan. Haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. mas hendra aku juga suka
      ada pula Pak Tjiptadinata,
      banyak mas pokoknya hehe

      Delete
    2. Orang-orang kece semua ya di sana. Haha

      Delete
  20. Saya juga nulis disana, tapi sekarang jarang bngat. Masih level paling bawah.

    ReplyDelete
  21. Udah jarang banget saya baca Kompasiana. Palingan kalau dibagikan sama akun Twitter dan saya tertarik sama judulnya, terus klik dan baca. Tapi Bu Lis sepertinya boleh dicoba nih. Lumayan bisa sekalian belajar nulis fiksi. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. coba kepoin bu Lizz mas
      orannya asyik kok
      cerbungnya tayang senin kamis

      Delete
  22. Thank you so much..ini benar benar membuat saya bahagia. Apa kabar mas ikrom? Mudah mudahan selalu sehat dan terus semangat dalam menulis dan setiap usaha untuk terus maju. Take care always and keep on rocking.

    ReplyDelete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.