Kala Hatiku Ambyar Sementara Berpisah dengan Kompasiana

Selain Tuhan, keluarga, dan si “ehem”, ada satu hal yang tak bisa jauh-jauh dari saya.

Kompasiana.


Kenangan bersama rekan di acara ICD yang diselenggarakan oleh Kompasiana. Tak hanya menulis blog, Kompasiana juga memberikan makan berkolaborasi dan berkomunitas.

Ah, K –sapaan sayang saya kepada portal blog keroyokan itu – benar-benar tak bisa jauh dari hidup saya dan segala tetek bengek mengenai diri saya. Tidak percaya? Silakan ketik nama saya, Ikrom atau Ikrom Zain di laman Google. Bisa dipastikan, laman profil Kompasiana saya akan menjadi yang terdepan dan teratas, bahkan di atas laman blog saya pribadi.

Apakah saya sedih?

Tentu tidak. Walau saya juga ingin blog pribadi ini juga dikenal, nyatanya hanya Kompasianalah yang membuat saya – ehem – sedikit terkenal. Berkat Kompasiana, saya yang mulanya hanya dikenal tetangga RT dan RW mendadak dikenal sentero dunia. Asyik!

Nama saya sudah identik dengan Kompasiana dalam laman pencarian.
Tulisan saya di Kompasiana jelas memiliki keterbacaan yang cukup tinggi dibandingkan tulisan di blog pribadi. Lebih memiliki efek yang besar dibandingkan saya bercuap-cuap di blog ini. Dan pastinya, lebih banyak komentar yang silih berganti, baik pujian, tambahan, saran, nyinyiran, bahkan hinaan. Semuanya itu malah membuat saya semakin terpacu untuk menulis dan menulis. Bahkan, kalau saya akan menulis tentang sebuah kontroversi, saya kerap bertanya di dalam hati. Kira-kira, kritik dan komentar pedas apa ya yang saya dapat? Hujatan atau cacian apa yang akan saya terima?

Terdengar mengerikan, tapi sesungguhnya itulah yang saya cari di Kompasiana. Saat tulisan kita benar-benar diapresiasi dan dibaca serta dijangkau oleh masyarakat luas. Yang tidak saya dapatkan ketika saya menulis di blog pribadi maupun di media sosial. Hormon adrenalin di dalam tubuh saya seakan bekerja keras untuk menikmati penilaian dari tulisan saya di Kompasiana.

Mendapatkan komentar terlebih saran dan masukan adalah hal menggembirakan di Kompasiana.
 Ketika satu artikel saya sudah tayang di Kompasiana, maka saya dengan keinginan kuat untuk mencari ide lain tulisan berikutnya. Apalagi, ketika admin mengganjar tulisan saya dengan label Artikel Utama, rasanya saya sedang menaklukkan level dalam sebuah gim. Gim yang memacu saya untuk membuat tulisan lebih baik daripada tulisan sebelumnya.

Makanya, di saat saya memutuskan rehat sejenak dari Kompasiana karena merampungkan buku perdana saya, rasanya ada yang hilang di relung hati ini. Ada sesuatu yang “ambyar”. Kok ada yang kurang ya? Kok ada yang hilang ya?

Saya kerap mencuri-curi kesempatan dengan membuat draft tulisan dahulu sebelum merampungkannya saat buku saya usai tercetak. Terlebih, saya selalu melakukan ritual selepas sebuah tulisan terpublikasikan di Kompasiana. Apalagi kalau bukan mengunggahnya di Instastory. Saya konsisten melakukan hal ini lantaran rekan nyata saya ada yang senang dengan tulisan terbaru saya di Kompasiana. Karena mereka sering aktif di IG, maka hanya dengan mengunggahnya melalui instastory-lah tulisan saya bisa dipromosikan. Meski, di media sosial lain pun kegiatan tersebut juga saya lakukan.

Dengan menjeda tidak menulis di Kompasiana, tak ada lagi karya yang bisa saya pajang di Instastory. Tak ada lagi kebahagiaan dari interaksi yang saya dapat ketika rekan nyata saya menanggapi tulisan saya. Terlebih, saat ramai kasus korupsi oknum KS di sekolah saya dulu, tulisan saya di Kompasiana begitu dinanti walau sejujurnya masih banyak hal yang harus saya benahi.

Oh ya, selain mengunggah artikel di Instastory, satu hal yang cukup menggelikan adalah kegiatan bernyanyi lagu-lagu JKT48 selepas artikel bisa saya unggah. Rasanya lega sekali. Terlebih, jika artikel yang saya tulis memakan waktu satu hingga dua jam. Atau, jika artikel yang saya tulis sebenarnya biasa-biasa saja, eh tiba-tiba mendapatkan label Artikel Utama. Sebuah lagu berjudul “Karena Ku Suka Dirimu” menjadi lagu wajib yang saya nyanyikan. Menyanyi, menari sebebasnya!

Walau demikian, sesungguhnya bukan itu saja yang membuat saya tak bisa meninggalkan Kompasiana. Alasan lain yang membuat saya harus mengusap tisu basah kala tidak bisa menulis di sana adalah karena saya adalah Kompasiana dan Kompasiana adalah saya. Sungguh, tak ada perbandingan lain yang bisa saya berikan.

Sebentar, pada bagian ini saya ingin mengehela nafas…. Ada setitik air mata saya yang ingin keluar….

Saya ingat di akhir tahun 2013 dan 2014 awal, ketika masa terendah dalam hidup saya, Kompasiana adalah teman terbaik saya. Ketika saya mendapatkan banyak cobaan dan berbagai tantangan hidup, otak dan hati saya hanya bisa mengatakan : Ayo Menulis di Kompasiana. Makanya, saat itu saya hampir setiap hari menulis di sana. Membaca berbagai artikel para Kompasianer yang sudah malang melintang, memberanikan diri menyapa Kompasianer lain, dan pada puncaknya, saya bisa membuat buku antologi pertama di Kompasiana.

Perlahan tapi pasti, kesulitan yang saya dapatkan bisa saya hadapi dengan banyak membaca artikel dari Kompasianer. Dari saling berbalas pesan dan mendapatkan wejangan terutama para Kompasianer senior. Saya belajar makna kehidupan dari beberapa nama terkenal seperti Pak Tjip, Bu Ellen Maringka, Mbah Ukik, Mbak Gana, Mbak Weedy, dan lain sebagainya. Bahkan, Bu Ellen, yang saya masukkan dalam 5 Kompasianer Favorit saya (baca di sini) begitu terngiang di sanubari. Beliau yang notabene menjadi Kompasianer papan atas rela lho membaca artikel saya dan memberi saran dan wejangan di dalamnya. Akhirnya, Kompasiana pun menjadi sebuah rumah besar yang penuh dengan kehangatan.

Kehangatan itu menjalar di dunia nyata, ketika saya bertemu dengan beberapa Kompasianer Malang seperti Mbak Lilik dan Mbak Desol – dua ratu fiksi di K – dan beberapa Kompasianer lain. Kalau kami bertiga – saya, Mbak Lilik dan Mbak Desol – mbakso cambah, alias makan bakso kecambah bersama, obrolan kami ya seputar Kompasiana. Seputar event seru apa yang bisa kami ikuti hingga pergosipan apa saja yang ada di dalamnya. Sudah lima bulan kami tak bertemu. Ditambah dua bulan tidak menulis di Kompasiana, sungguh, tak lagi yang bisa saya ucapkan selain rasa kangen yang mendalam.
Bersama dua ratu fiksi di Kompasiana, Mbak Lilik (kiri) dan Mbak Desol (tengah)
Sebagai terminasi, satu hal terakhir yang membuat saya benar-benar tak bisa lepas dari Kompasiana adalah pesan pribadi dari beberapa orang yang tidak saya kenal. Mereka adalah para penyintas penyakit GERD yang memiliki tingkat kecemasan cukup tinggi. Uniknya, mereka menemukan akun media sosial saya dari tulisan yang saya unggah di Kompasiana.

Dari tulisan saya, mereka bertanya bagaimana saya menghadapi penyakit ini hingga kami pun berdiskusi panjang lebar. Lagi-lagi, Kompasiana benar-benar mewadahi pemikiran saya yang bisa jadi perlu diketahui oleh orang banyak. Dengan begitu, saya merasa hidup saya sangat berharga. Saya semakin yakin untuk tidak meninggalkan Kompasiana dan berjuang sekuat tenaga untuk tetap menulis apa yang dibutuhkan orang banyak dan tak jauh-jauh dari masalah kehidupan sehari-hari. Inilah alasan terakhir saya tak bisa lepas dari Kompasiana dan makin sayang padanya.

Sepakat dengan apa kata Bu Majawati Oen, salah satu sahabat saya di Kompaisana. Meski tidak bisa bertemu, rasanya sangat akrab dengan Kompasianer yang sering berbalas komentar. Itulah yang hanya bisa saya dapatkan di Kompasiana

Ah, entah apa lagi ya yang bisa saya tulis. Hanya harapan #11TahunKompasiana bisa lebih baik lagi dan tentunya tetap menjadi portal #BeyondBlogging nomor 1 dan terbaik di Indonesia.

18 comments:

  1. Saya punya akun juga di kompasiana, tapi sama sekali belum bisa aktif menulis.
    Kelebihan kompasiana ya itu, korang kompas atau televisi kompas ikut terlibat mempromosikannya.
    Sehingga bisa menjangkau banyak pembaca

    ReplyDelete
  2. Wah mantaap aku mau juga dong terkenal nggak cm ditingkat rt dan rw, Mas.. Keren perjuangannya.. Ku blm pernah menulis di kompasiana btw.. Kapan2 pengin nyoba deh

    ReplyDelete
  3. Ya Allah, Mas....saya kaget. Tak pikir Kompasiana mau tutup juga kaya Blogdetik (sedih) karena aku juga kadang masih nulis di Kompasiana. Bener tentang sudut pandang kenapa nulis di Kompasiana, lebih dapat impact kalau berkaitan dengan issue-issue yang sednag in. Sukses buat bukunya, yaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. enggam mbak saya aja yang sibuk hehehe

      iya impactnya lebih gede ya

      amin makasih dan sukses juga buat mbak Hanila

      Delete
  4. Eciehh anak kompasiana...


    Gw mah males kalo nulis di platform kaya gitu. Apalagi di Kompasianam takut dirimu langsung kalah pamor ketimbang akuh mas...


    WKWKWKWKWK


    *congkak*

    ReplyDelete
  5. Huhu, aku jadi inget akun Kompasiana-ku yang terbengkalai. Keasyikan di blog sendiri. Kepengen deh bisa aktif keduanya. Tapi susah deh :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya juga mbak
      kadang kalau di sini aktif di K ga aktif

      dan sebaliknya huhu

      emang susah ya bagi waktu

      Delete
  6. Keren sekali pak. Aku gara gara baca tulisan ini jadi pengen aktif di kompasiana. Daftar ah...

    -Fajarwalker.com

    ReplyDelete
  7. Whaaaa, saya punya akun kompasiana juga sih, tapi belom pernah nulis di sana. Mikirnya, ah, kayaknya ku lebih suka nulis untuk blog sendiri deh wgwgw

    ReplyDelete
    Replies
    1. tergantung preferensi sih mas
      kalau saya suka di Kompasiana

      tapi ada hal-hal yang cuma saya tulis di blog pribadi hehe

      Delete
  8. saya juga punya akun kompasiana tapi jarang di update karena sibuk ngurus blog pribadi. tapi kompasiana bagus jika ingin terkenal seperti mas

    ReplyDelete
    Replies
    1. enggak ingin terkenal mas
      tapi impact tulisan lebih besar dibandikan di blog pribadi

      ayo nulis di sana mas dicoba

      Delete
  9. Dilema...... Kalau saya dilema. Antara blog pribadi atau kompasiana. Akhirnya pilih blog prbadi

    ReplyDelete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.