Mengulik Jejak Kawasan Pecinan Kota Malang

Sosok tinggi besar dengan senyumnya yang khas itu terus menarik perhatian orang di sekelilingnya.


Ia membalas setiap sapaan yang ditujukan padanya di sebuah acara. Sudah hampir lima tahun ini masyarakat Kota Malang dipimpin oleh seorang walikota beretnis tionghoa. Terlahir dengan nama Goei Hing An (魏廷安), Abah Anton, begitu ia disapa mencetak salah satu sejarah bagi dunia politik Indonesia. Tak hanya DKI Jakarta, Kota Malang juga pernah memiliki pemimpin dari etnis tionghoa. Pada tahun 2013, masyarakat Kota Malang yang didominasi etnis jawa dan madura mempercayakan sosok dari etnis tionghoa untuk menjadi pemimpin mereka.

Wali Kota Malang, M. Anton/ Goei Hing An (Sumber)
Foto Abah Anton yang cukup besar menghiasi jalan yang saya lalui di suatu minggu siang. Jalan ini merupakan salah satu jalan poros yang menghubungkan Kota Malang dengan Kota Blitar dan Kota Surabaya. Jalan bernama Laksamana Martadinata ini tak pernah sepi dari aktivitas ekonomi yang menyertainya. Inilah salah satu pusat ekonomi awal Kota Malang sebelum berkembang menjadi sebuah kota yang otonom. Selain Jalan Martadinata, terdapat pula Jalan Gatot Subroto yang dikenal dengan Jalan Pertukangan. Kedua jalan ini akan bermuara ke Embong Brantas, tempat Kampung Warna-Warni Jodipan berjajar. Ketika malam tiba, keriuhan denyut ekonomi tetap terasa. Pedagang barang bekas akan menggelar barang dagangan di depan toko-toko yang sudah tutup. Pasar Roma (Rombengan Malam), begitu keramaian ini sering disebut akan berlangsung hingga malam semakin larut. Pusat ekonomi ini terletak di kawasan pecinan Kota Malang.

Beberapa toko dengan bangunan lawas di Jalan Kyai Tamin yang masih merupakan kawasan pecinan.
Diantara riuhnya denyut ekonomi tersebut, berdiri sebuah bangunan klenteng dengan kombinasi warna merah, kuning, dan putih. Klenteng bernama Eng An Kiong ini tepat berada di persimpangan jalan yang berada tak jauh dari Pasar Kebalen, salah satu pasar yang didominasi oleh orang-orang Madura. Dibangun pada 1825, klenteng yang memiliki 12 altar ini tak pernah sepi dari umat yang beribadah. Pembangunan klenteng tersebut tak lepas dari peran Kwe Sam Hway, seorang tokoh Tionghoa asal Sumenep, Madura. Mendapatkan gelar Liutnan (Letnan), ia merupakan salah satu pemimpin masyarakat tionghoa kala itu. Beberapa sumber menyatakan, Kwe Sam Hway adalah keturunan ketujuh dari seorang jendral masa Dinasti Ming berkuasa. Setelah Dinasti Ming jatuh dan kemudian berganti dengan Dinasti Qing, para pengikut setia Dinasti Ming pun kemudian banyak yang melarikan diri karena tekanan politik. Salah satu tempat pelarian mereka adalah ke berbagai daerah di nusantara.


Seperti pada kebanyakan kawasan pecinan di berbagai kota, klenteng Eng An Kiong ini juga menjadi sentral dari kawasan ekonomi dan pemerintahan yang berada di dekatnya. Selain Pasar Kebalen, tak jauh dari klenteng tersebut berdiri pula Pasar Besar Malang yang merupakan sentra ekonomi Kota Malang. Letak klenteng juga tak jauh dari Alun-Alun Kota Malang. Dua stasiun utama di Kota Malang yakni Malang Kotalama dan Malang Kotabaru turut pula berdekatan memagari klenteng tersebut.


Pembentukan kawasan pecinan sebenarnya merupakan salah satu hasil dari aturan Wijkenstelsel yang dikeluarkan oleh pemerintah kolonial Belanda. Di dalam aturan tersebut, masyarakat Malang juga dikelompokkan menjadi empat jenis berdasarkan etnis yakni eropa, tionghoa, arab, dan pribumi. Masing-masing etnis harus menempati wilayah yang sudah ditentukan. Di Kota Malang, orang eropa menempati daerah yang cukup luas dan lapang seperti Jalan Ijen, Klojen, Kidul Dalem, dan daerah pusat kota lain. Orang arab dipusatkan di daerah Kasin yang hingga kini dikenal sebagai Embong Arab. Orang pribumi ditempatkan di gang-gang sempit dan bantaran kali yang kumuh seperti Jodipan. Nah, orang tionghoa sendiri membentuk daerah pecinan yang dekat dengan klenteng. Aturan rasis ini merupakan kebijakan akibat pemberontakan orang-orang tionghoa saat Geger Pacinan yang dimulai di Batavia tahun 1740.
Peta pembagian permukiman berdasarkan etnis saat pemerintah kolonial (Sumber)
Selain Wijkenstelsel, aturan lain yang harus ditaati oleh orang tionghoa adalah aturan Passenstelsel. Di dalam aturan ini, orang tionghoa yang ingin berpergian ke luar daerah diwajibkan membawa sebuah kartu yang disebut dengan kartu pas. Jika tak membawa kartu tersebut, maka mereka akan dikenakan denda sebesar 10 gulden. Untuk mendapatkan kartu tersebut, masyarakat tionghoa harus mendaftarkan diri ke pemerintah kolonial. Kalau diibaratkan pada masa sekarang, mereka harus mengurus semacam visa. Tentu, kebijakan ini sangat memberatkan orang-orang tionghoa terutama yang ingin berdagang dan melakukan aktivitas ekonomi.

Aturan rasis tersebut membuat orang-orang tionghoa cenderung berkumpul membentuk komunitasnya sendiri. Maka terbentuklah pecinan di Malang sekitar tahun 1760. Sejak saat itu,  masyarakat tionghoa mulai mengembangkan aktivitas ekonominya. Nah yang unik, walaupun orang-orang tionghoa dikenal ulet dalam berdagang, mereka akan berdagang sesuai dengan suku mereka masing-masing. Setiap suku akan berdagang satu jenis barang dagangan yang berbeda dengan suku lain.

Pedagang bahan jamu di Pecinan.Setiap suku memiliki spesialisasi dalam berdagang.
Di Kota Malang sendiri, ada 6 suku dari etnis tionghoa yang menempati daerah pecinan. Ada suku Hok Ciu, suku Hokkian, suku Khek/Hakka, suku Hing Hua, suku Kwantung, dan suku Hupri. Suku Hok Ciu akan berdagang emas dan berbagai perhiasan lain. Suku Hokkian akan berdagang onderdil sepeda atau mobil dan suku Khek akan berdagang sembako dalam toko kelontongnya. Suku Hing Hua berusaha di bidang penjualan sepeda pancal, suku Kwantung berjualan mebel dan perabotan rumah tangga, sedangkan suku Hupri biasanya bekerja sebagai tukang gigi.

Suku Hupri memiliki spesialisasi membuat gigi palsu. Meski teknologi ini sekarang semakin maju, masih banyak dari mereka yang membuka usaha ini di Pecinan Malang.
Keberadaan kawasan pecinan di Kota Malang sebagai sentra ekonomi sempat terusik dengan kebijakan yang akan diambil oleh pemerintah kolonial. Mereka berencana mengambil alih kawasan pecinan dan akan merelokasi ke tempat baru yakni di daerah Spleendid yang dekat dengan Balai Kota Malang. Saat itu, orang-orang tionghoa menolak dan melakukukan perlawanan. Hasil dari perlawanan itu bukanlah pemberontakan berdarah namun Pasar Besar Malang yang kini berdiri megah. Menjulang tinggi dan menjadi tumpuan warga Malang untuk memenuhi kebutuhannya, pembangunan pasar ini disokong oleh orang-orang tionghoa pada tahun 1920. Mayoritas orang-orang tionghoa rela melepaskan tanah mereka yang berada di sekitar pasar untuk proyek perluasan pasar. Sokongan pembangunan Pasar Besar Malang ini juga dilakukan oleh orang arab dan pribumi meskipun tidak sebesar orang-orang tionghoa.

Pasar Besar Malang yang pernah terbakar beberapa kali.
Pada masa kemerdekaan hingga kini, batas-batas pecinan sudah tak tampak lagi. Pembangunan kota yang pesat membuat beberapa bangunan khas Tionghoa berganti dengan bangunan baru. Masyarakat dari berbagai etnis juga mulai memenuhi daerah pecinan untuk melakukan berbagai usaha. Meski begitu, orang Tionghoa masih setia dan bertahan dengan usaha dagangnya.

Pasar Besar Malang saat zaman kolonial dengan latar Gunung Kawi. (Sumber)
Walaupun telah dimakan usia, jejak-jejak pecinan masih terasa hingga sekarang. Bahkan, Pemerintah Kota Malang telah membangun gapura yang penuh ukiran naga di area pecinan ini. Selain deretan Roma, jalan di timur Pasar Besar Malang akan menjadi pasar senggol yang menjual aneka makanan beserta pernak-pernik khas Kota Malang.Menjadi ikon kota Malang, daerah pecinan adalah salah satu potret kesuksesan toleransi antar etnis di Indonesia yang terjalin sejak dahulu kala.
Selamat Tahun Baru Imlek dari saya yang masih kurus :)
Itulah sekilas tentang pecinan Kota Malang. Semoga bermanfaat dan selamat merayakan Tahun Baru Imlek.

Sumber : (1) (2) (3)


53 comments:

  1. Baca artikel ini jadi pengen ke malang aku.

    ReplyDelete
  2. Wah bsk imlek, jadi pengen liat barongsai, btw tetap semangat mas Ikrom, smg bs kurus kembali. hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku gak bisa liat karena ada acara hiks
      wkwkwk amiin

      Delete
  3. pengen banget ke daerah malang...ke kawasan pecinan..seruu dehh kayanyaa

    ReplyDelete
  4. Aku suka dan betah ke malang... Enak banget daerahnya

    ReplyDelete
  5. jadi tambah pengetahuan soal sejarah dan aturan wijkenstelsel nih. Nice share gan

    ReplyDelete
  6. Oh, walikota Malang juga dari etnis Tionghoa....baru tau XD
    Selain dikenal sama kampung warna-warni nya, kawasan pecinan Malang sepertinya juga cocok dijadikan destinasi wisata andalan Kota Malang ini. Apalagi didukung sama bangunan khas berusia tua, Instagramable!

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas walikotanya chinese
      bisa malah saya rekomendasikan kalau mau beli oleh2 sama barang2 khas Malang mending ke Pecinan lebih murah

      Delete
  7. Bagus ya, setiap suku punya spesialisasi usaha yang beda-beda.

    Iiihhh..., fotonya mas Ikrom unyu-unyu deh. Gemes liatnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya punya spesialisasi masing2
      hehehe mask sih mbak?

      Delete
  8. Waktu masih tinggal di Malang selalu lewat daerah ini, tapi gak pernah tau sejarahnya. Baca ulasan ini pengetahuan makin bertambah. Makasih sharingnya

    ReplyDelete
  9. Malang memang gak ada habisnya kalo bahas tentang kawasan wisata sejarah. Seperti Pecinaan ini. Makasih Kang buat sharenya.

    ReplyDelete
  10. Wow, Pasar Besar dulu kala sudah besar yaaa..:D
    Dimana-mana ternyata kawasan Pecinan masih ada dan sudah membaur dengan sekitarnya..

    Btw, kapan kurus lagi Mas Ikrom hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya sudha jadi sentral
      tapi sebenarnya sih awal mulanya di darah pertukangan, depan klenteng itu
      jalan porosnya dimulai dari sana
      hehehe ini masih proses mbak doakan ya

      Delete
  11. sungguh menarik dan menambah pengetahuan buat saya, tanpa harus kesana, saya jadi tahu via artikel diatas. :)

    ReplyDelete
  12. Gong Xi Fa Chai
    Selamat merayakan buat warga yang merayakan. Kepengen mampir ke sini deh kalau ke Malang.

    ReplyDelete
  13. Wah jadi nambah pengetahuan baru nih. Jadi orang tionghoa ini berjualan ini sesuai suku ya. Mungkin hal yang sama juga bisa berlaku di beberapa daerah ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya hampir sama mbak
      mungkin daerah lain lebih banyak dan kompleks sukunya
      kalau di malang kebetulan yang dominan 6 suku tersebut.

      Delete
  14. Malang, denger kota ini jadi pengen balik lagi merantau ke kota ini. Padahal dulu sering maen maen di kawasan pasar besar

    ReplyDelete
  15. Oh dimalang pemimpinnya etnis tiong hua, untung gak didemo ya hehe. Hari ini lg rame gong xi fa cai donk ya disana

    ReplyDelete
    Replies
    1. malah sering didemo mbak, tapi bukan masalah rasis
      lebih ke kebijakannya saja
      iya rame sayang hujan aku gak keluar ke mana2 hiks

      Delete
  16. Selalu suka wi sejarah,termasuk menyusuri pecinan, anak-anak baru dibawa ke pecinan Kota Tua Jakarta

    ReplyDelete
  17. Terakhir ke pecinan malang tuh kira-kira setahun yang lalu deh mas, dan pengen kesana lagi, seru rame dan jajan jajan ganteng disana hihi

    ReplyDelete
  18. Huwowww ternyata ada di mana-mana ya kawasan cina ini
    Hampir di semua kota kayaknya ada

    di Padang pun ada
    di Depok pun ada
    (Taunya itu aja soalnya cuma pernah stay disitu wkwk)

    Kurang foto barongsai lagi atraksi nya nihhh, kan lagi musimm
    Btw itu yg terakhir bahagia banget kayaknya mas ikrom uhuk uhuk uhuk XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya di tiap kota lan ada
      aku gak liat barongsai saolnya ujan males
      kenapa fotonya bahagia?
      karena itu adalah hari yudisium kuliah hehe

      Delete
  19. malaaaangg.. pasar besar..
    haha.. saya sering dah dulu ke area situ..
    jadi kangen malang..
    bang ikrom asli malang kah bang..
    bikin mabar bloger yu bang di malang.. blog "wongcungkup" juga dari malang

    ReplyDelete
  20. Wah jadi pengen ke Bandung dah
    .
    Hmmm itu akibatnya makanya skrang Belanda g lolos pildun

    ReplyDelete
  21. Baru tahu..klo setiap garis keturunan masyarakat tionghoa memiliki spesialisasi bisnis masing2..

    Di Jogja ada kampung yang rata2 masyarakat cinanya bisnis emas..trus ada yang rata2 grosiran mainan... Mungkin asal muasalnya dulu satu garis keturunan yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak grisir mainan juga banyak di sini
      malah ada satu blok jualan mainan semua

      Delete
  22. Pasar besar jaman kolonial asyik banget ya, jauh beda dengan sekarang yang menurut saya terlalu ramai, hahaha.
    Infonya manteb mas, baru tahu kalau ada spesialisasi perdagangan dalam suku cina. Saya kira asal jualan aja, 😁😂

    ReplyDelete
  23. Waah informatif banget nih, ternyata setiap suku tionghoa di malang usahanya beda2 yak..

    ReplyDelete
  24. Setiap kota punya sudut Pecinan sendiri. Thanks for sharing, mas.

    ReplyDelete
  25. Sering ke Malang tapi masih belum hafal jalan. Pernah menginap dekat Pasar Besar Malang. Duh ramainya. Tapi gampang nyari makan.

    ReplyDelete
  26. mampir ke tulisan ini,kembali rindukan Malang. Tempat yang terjangkau untuk berburu kuliner :)

    ReplyDelete
  27. Kawasan pecinan kota Malang salah satu area wajib yang pasti aku sambangi kalo mudik. termasuk aneka kuliner di Eng An Kiong juga :D

    ReplyDelete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.