Persimpangan Budaya yang Kaya di Keraton Kasepuhan Cirebon

Setelah sempat tersasar menuju arah Terminal Harjamukti, Abang Ojek akhirnya menurunkan saya di dekat sebuah lapangan yang dipagari pedagang makanan.
 
Gerbang Keraton Kasepuhan
Bukan Orang Cirebon asli, itulah alasan Abang Ojek tak tahu salah satu tempat penting di kota ini. Tidak mau menyalahkan, saya berjalan mencari tempat penting itu.Keraton Kasepuhan, sebuah tempat bersejarah yang hingga kini masih berdiri megah. Tak sengaja, saya menemukan sebuah masjid dengan arsitektur gapura cukup unik.

Terbuat dari bata merah dengan ornamen huruf arab di bagian atas serta ornamen gapura di bagian tengah, membuat bagian depan masjid ini sayang untuk tidak dipotret. Masjid Agung Sang Cipta Rasa, nama masjid unik dengan tujuh muazin kala salat jumat berlangsung.

Gerbang Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon
Sempat terpikir untuk masuk, namun niat ini saya urungkan. Saya hanya punya waktu singkat untuk mengunjungi 4 keraton di kota ini. Sambil sejenak berpikir, akhirnya saya memperoleh sebuah kesimpulan. Biasanya, posisi masjid berada di sebelah barat Alun-Alun/lapangan.

Posisi keraton seharusnya berada di sebelah selatan. Maka, tanpa menggunakan aplikasi G-map, saya mencoba berjalan ke arah selatan. Dan benar saja, bangunan yang saya ingin tuju sudah tampak di depan mata.


Suasana lengang di sekitar lapangan
Di dekat pintu masuk bangunan itu, beberapa pria berjejer dengan seragam baju daerah. Sekilas, mereka tampak mengenakan "baju manten", begitu kalau boleh saya sebut pakaian adat dari Jawa. Ah bukan, saya pernah melihat baju dengan atasan berwarna putih ini dipakai sepupu dari Bandung yang mengenakannya saat prosesi pernikahan adat Sunda.

Yang jelas, saya bisa memastikan bahwa ada satu yang khas dari baju itu. Mereka mengenakan kain bermotif batik mega mendung untuk bawahannya. Jadi, ini baju adat khas mana? Sejenak, pertanyaan mengenai apakah kebudayaan Jawa atau Sunda yang dominan di Cirebon saya simpan dahulu.

Selepas membeli tiket masuk seharga 15 ribu rupiah, saya masuk ke lingkungan keraton. Baru berjalan beberapa meter, seorang pria yang mengenakan baju adat tadi langsung menghampiri saya.

Ia menanyakan maksud kedatangan saya. Mencoba diplomatis, saya hanya menjawab ingin mengunjungi dan sedikit belajar sejarah di keraton itu. Lantas, ia menawarkan diri untuk memandu saya agar perjalanan saya bisa lebih bermakna.

Walau terbersit keraguan, akhirnya saya mengiyakan. Lebih baik saya menggunakan jasanya karena saya takut memotret di tempat terlarang.

Pengalaman buruk ketika mengunjungi Keraton Pakualaman telah memberi saya pelajaran bahwa menjaga perilaku saat di keraton adalah sebuah kewajiban. Dan, perjalanan mengunjungi keraton pun dimulai.

Kami masuk dari gapura keraton yang terbuat dari teracota, sejenis batu bata kuno yang sering saya temukan di situs Purbakala Trowulan, Mojokerto. Saya pun menyimak penjelasan pemandu ini.

Menurutnya, Keraton Cirebon adalah keraton unik karena merupakan yang tertua diantara keraton di Jawa. Bergaya bentar, gapura ini menjadi ciri khas Kota Cirebon. Sekolah, pasar, gang-gang kampung, kantor polisi, gardu PLN, hingga pusat perbelanjaan menggunakan gapura model ini. Sehari di Cirebon, saya merasakan peresapan kebudayaan yang begitu dalam. 
Mung ana ing Cirebon bae, Jeh!
Satu per satu bagian dari area gerbang depan dijelaskan oleh sang pemandu. Sesekali, saya menyela penjelasannya karena kecepatan bicaranya yang cukup tinggi. Mencoba mengurai makna satu per satu filosofi bangunan di area itu, saya kembali takjub.

Kreteg pangrawit, lawang sanga, pancaratna, dan pancaniti ada di sana. Beberapa bagian dengan fungsi yang berbeda-beda, mulai menerima tamu, melatih prajurit, dan tempat pengadilan. Perencanaan arsitektur yang sungguh matang.

Gerbang Siti Hinggil dengan undakan
Kamipun menuju bagian siti hinggil, sebuah komplek dengan ketinggian tanah yang lebih tinggi dibanding daerah sekitarnya. Mirip konsep pada candi, ada cukup banyak bagian yang diterangkan oleh sang pemandu.

Lagi-lagi, karena kecepatannya saat menerangkan, saya tak bisa menangkap dengan baik. Namun, ada satu hal yang menarik perhatian saya. Di keraton itu ada lingga yoni. Ya, salah satu simbol agama Hindu yang sering saya temukan di bangunan candi ada di sana.

Lingga yoni di bagian siti hinggil

Mande Semar Tinandu, slah satu bagian di Siti Hinggil yang melambangkan dua kalimat syahadat.
Pendapa Pengada, tempat pejabat panca lima seperti wedana.
Beranjak ke dalam, sebuah bangunan yang sering saya lihat di buku pintar atau Buku RPUL tampak di hadapan. Berdinding kayu dan beberapa diantaranya berterali, saya masih belum percaya kalau itu bangunan Musholla. Ya, area yang memiliki nama Tajug Agung ini menarik perhatian saya karena terdapat bagian untuk memarkir kuda yang disebut halaman Pengada. Di halaman itu, dulunya terdapat sumur untuk memberi minum kuda.


Akhirnya, saya tiba di bagian utama Keraton Kasepuhan. Taman Dewandaru, tempat favorit para pengunjung mengabadikan momen menjadi perhatian saya. Duduk di salah satu bangku, saya meminta pemandu memotret saya. Sebelumnya, ia meminta saya memegang meja di bangku itu.
"Adem, Tah?" sang pemandu bertanya.
Taman Dewandaru. Iya, adem, Jeh!

Singo Edan diapit dua patung Macan Putih, lambang kebesaraan Pajajaran
Iya, meja dari batu itu dingin. Sangat kontras dengan suasana panas di sekitarnya. Di tengah penjelasan mengenai benda-benda di sekitar taman itu, hati saya mendadak menjadi tenang. Suasana sepi keraton yang tak banyak pengunjung di hari libur itu membuat saya serasa menjadi raja sehari.

Pohon soko yang menjadi lambang suka hati mungkin membuat hati saya gembira. Tapi, saya diingatkan oleh penjelasan pemandu bahwa sebenarnya taman ini sebagai pangeling atau pengingat agar manusia bisa keluar dari kegelapan menuju terang. Kegelapan yang disemukan dengan kebahagiaan duniawi sebenarnya menjadi pangeling agar kita bisa segera keluar dan mencari berkah ilahi.

Puas berfoto di area itu, saya diajak menuju bagian utama keraton. Sang pemandu menceritakan asal-usul pendirian Kesultanan Kasepuhan Cirebon yang didirikan Pangeran Cakrabuana. Sejenak, saya cukup asing mendengar nama itu. Lantas, sang pemandu menyebutkan nama lain dari sosok yang sangat dihormati itu.
"Walangsungsang, sapa ngerti bli weruh!"
Otak saya segera bekerja. Aha, saya tahu nama itu.

"Kakaknya Kian Santang. Anak pertama Prabu Siliwangi. Anak keduanya namanya Rara Santang. Mereka tiga bersaudara!" pekik gembira saya terdengar kencang.
Untung, saya segera tersadar dan memelankan suara. Wajah lucu aktor cilik Alwi Assegaf yang memerankan sosok Kian Santang langsung terbayang.Sambil menyimak pemandu menjelaskan silsilah raja-raja Pajajaran, Sunan Gunung Jati, dan Sultan-sultan Cirebon yang sangat panjang, saya akhirnya membuat kesimpulan unik mengenai Cirebon.

Tak lagi memperdebatkan apakah Jawa atau Sunda. Bagi saya, pemahaman mengenai asal-usul raja-raja Pajajaran di kesultanan ini dengan kebudayaan Jawa yang sebenarnya cukup unik membuat saya yakin. Cirebon akhirnya membentuk budaya baru diantara persimpangan dua budaya itu.

"Jadi, sudah bisa membuat kesimpulan, Mas. Cirebon itu Jawa atau Sunda?" sang pemandu mencoba membuka sedikit diskusi dengan saya.
"Iya, Mas. Sekarang saya mengerti Cirebon itu ya Cirebon, Jeh!"
Kamipun tertawa. Sebuah pelajaran baru yang saya dapat. Jauh-jauh dari Malang seakan tak sia-sia. Saya hanya bisa memotret bagian dalam bangunan utama keraton dari luar. Sang Sultan sedang ada acara di luar jadi saya tak bisa sowan. Tapi, saya diberi kesempatan untuk bertemu salah seorang sesepuh keraton.

Sang pemadu mengarahkan saya ke sebuah rumah yang masih berada di kompleks keraton. Rumah itu kelihatan teduh dengan serambi depan yang berjejar kursi sofa. Sambil memelankan suara, saya diminta menunggu oleh pemandu sembari ia memanggil sesepuh yang dimaksud. Ia juga menyarankan saya supaya menyiapkan diri saat sang sesepuh nanti datang dan sudah siap dengan permintaan saya mengenai apa yang ingin saya capai.

Suasana mendadak tegang. Saya bisa merasakan dari keringat yang keluar dari kening saya meski hawa sejuk rumah itu sangat dominan. Cukup lama saya menanti kedatangan sang sesepuh. Setelah cukup lama, sang pemandu datang kembali membawa sebotol air mineral dan sebotol kecil minyak wangi.
"Nanti ini dipakai ya, Mas. Selepas salat," kata pemandu itu.
Air mineral dan minyak wangi
Saya mengangguk dan mengiyakan pula membayar uang pengganti untuk kedua benda itu. Tak lama, sang sesepuh datang. Dibantu berjalan, beliau lantas duduk tepat di depan saya.

Sebuah petuah yang berisi anjuran agar saya tidak meninggalkan salat lima waktu. Beliau akan memandu doa keselamatan bagi diri saya dan Keraton Kasepuhan kepada Yang Kuasa. Hanya perantara, itulah yang beliau tekankan karena bagaimanapun segala kehendak hanya dari Sang Pencipta.

Ritual doa pun dimuai. Saya berkonsentrasi untuk memohon ampun terlebih dahulu dan meminta apa yang saya inginkan. Namun, rasa pasrah yang saya besarkan dalam diri karena tak semua keinginan itu akan terkabul dengan segera. Butuh kesabaran. Tak lama, doapun segera saya akhiri. Saya pamit kepada sang sesepuh dan dipandu kembali oleh pemandu untuk meninggalkan rumah itu. Beberapa pengunjung rupanya baru datang dan akan meminta bantuan doa yang sama.

Persimpangan budaya yang unik, Cirebon
Sambil berjalan, saya mencoba mengulik kembali mengenai eksistensi keraton ini. Walau bukan sebagai daerah istimewa layaknya Keraton Yogyakarta, keraton ini masih cukup penting. Tak sekedar penjaga budaya, nostalgia akan sejarah panjang Cirebon adalah salah satu hal yang bisa saya dapat. Walau terbersit sedikit keraguan tentang minimnya pengunjung di keraton ini, saya mendapat banyak pelajaran.

Orang-orang Cirebon yang banyak melambangkan sesuatu dari berbagai benda untuk dijadikan pegangan hidup adalah nilai luhur yang sangat tinggi. Akulturasi budaya yang sangat kental membuat Cirebon adalah daerah yang seharusnya jadi garda terdepan pariwisata Indonesia. Namun, sudahkah hal itu terwujud?

Terima kasih. Ayo ke Cirebon, Jeh!
Lambaian tangan dari pemandu kala saya meninggalkan kompleks keraton seakan menyiratkan pesan agar saya datang kembali dengan orang terdekat dalam jumlah banyak.

Saya tak bisa berjanji karena mereka tak begitu antusias ketika saya bercerita tentang Cirebon. Ah sudahlah, saya masih ingin menikmati kota ini sambil berburu pertunjukan unik yang juga membuat alasan saya datang ke kota ini, Sintren. Akankah saya berhasil mendapatkannya?

15 comments:

  1. Perjalanan panjang penuh makna ya kang. Cirebon adalah sebuah Kota yang sarat dengan sejarah dan budaya, memiliki keunikan tersendiri yang sangat sayang untuk dilewatkan.

    Cirebon ya Cirebon, yang pasti, warisan budaya yang ada didalamnya patut kita jaga dan lestarikan, agar terhindar dari kepunahan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah benar mas
      cirebon yang kaya dari hasil persimpangan budayanya

      Delete
  2. wah ke cirebon ya mas, kemana saja di sini, tahu gitu saya bisa jadi guidenya

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah boleh bu nanti saya kabri ya klo ke sana lagi

      Delete
  3. Saya tau, pasti doanya minta jodoh yah, wkwkwkwk

    Om, kok tambah tua sih om, ahhahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. hmm anak durhaka beraninya bilang begitu

      Delete
  4. Letak lokasi kotanya yang berbatasan dengan Jawa Barat dan Jawa Tengah jadi asimilasi kebudayaan yang unik ya.

    Demikian juga desain gapura keraton Kasepuhan dan ada arca lingga yoni, menguatkan adanya campuran dari agama Hindu.

    Sayangnya, pengunjungnya kok sepi, ya ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah itu mas yang membuat unik
      diantara dua kebudayaan besar
      sayangnya memang kok ada yang salah dengan pariwisatanya
      harusnya bisa serame Jogja
      wong keratonnya ada 4 loh

      Delete
  5. Aaahh gue pernah kesini.. Kebetulan foto-foto nya masih ada dan gue lagi inget-inget foto gue itu dimana lokasinya, ternyata di keraton kasepuhan ini. Dulu emang sepi yang datang, tapi buat gue sih enjoy banget. Tapi kayaknya ga ditawarin jasa guide kayak mas Ikrom, tapi gue akhirnya tau sejarah kesultanan cirebon dari tulisan
    mas ikrom , ada hubungannya ama kian santang ternyata. Hahaha. BTW itu parfum sama air mineral doa, apakah diminta bayar ataukah seikhlasnya aja? Dan itu biaya hidup sesepuh keraton dari mana yah apa mas Ikrom sempet nanya-nanya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas sepii banget
      padahal banyak catatan sejarah penting
      ini ditwarin aja dan kebetulan mau tau info banyak yah aku minta aja
      biar ada cerita daripada sendirian
      ada biaya pengganti tapi seikhlasnya mas
      klo masalah dana ada dari Kemendagri
      setiap keraton ada
      cuma mereka diberi tugas untuk jaga budaya dan promosi wisata
      beda dengan jogja yang boleh memerintah
      itu aja sigh

      Delete
  6. Akupun lebih suka ditemani pemandu kalau ke keraton,mas. Karena banyak ceritanya, bahkan yang tidak ada di buku. Lengkap, sampai bingung mencerna saking banyak ceritanya.

    btw, aku jadi ingat teman kuliahku dari Cirebon, kalau ngomong diakhiri dengan "jeh".

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak behind storynya yang lengkap dan asyik
      akhiran jeh yang buat unik
      khas cirebon

      Delete
  7. Worth to visit kan ya? Keknya kamu bnyk nulis cirebon. Biasae sejarah tmpt lokal referensiku kamh soAle hehhee

    Masuk list dulu ah

    ReplyDelete
    Replies
    1. sangat
      ada 4 keraton
      gua sunyaragi
      liat sintren
      klo mau ke pantai kejawananan
      cuma jangan berkespektasi rame ya
      sepi wiwiw

      Delete
  8. Minta doa cepet dikasih jodoh ajah hahaha..mantap de. Rencana aku th depan mau ke sini sama sekolah anakku. Ada 4 keraton ya. Sayang deh sepi begini jarang oengunjung. Padahal mempelajari sejarah kita sendiri itu keren loh.

    ReplyDelete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.