Sehari di Kota Seribu Candi

Dengan modal tabungan gaji sebagai GTT, untuk pertama kalinya saya melakukan perjalanan keluar kota seorang diri. 


Bukit Breksi akhir 2015. Belum ada ukiran, belum ada pedagang, dan ada serangan pengunjung narsis.
Lebih tepatnya, sih keluar provinsi. Saat itu sedang liburan semester ganjil. Saya memohon-mohon kepada rekan di sekolah yang bertugas mengerjakan Laporan BOS agar menjadwal ulang pengerjaan tugas kami. Ini momen paling berkesan sekaligus membahagiakan jadi saya tak mau melewatkannya. Saya akan liburan ke Yogyakarta. Seorang diri tanpa ada satu pun rekan yang menemani.

Belum mahir benar melakukan perjalanan solo, saya bisa dianggap cukup gagap. Saya sekenanya melakukan booking penginapan. Saat itu belum marak ojek daring. Saya hanya menemukan sebuah jasa ojek berbasis nomor telepon yang merupakan ojek berargo pertama di kota ini. Bukan ojek online berbasis aplikasi yang kini marak.

Singkat cerita, ternyata penginapan saya jauh dari pusat kota. Tepatnya, saya mendapat sebuah hostel di daerah Kentungan, Ring Road Utara. Kalau ke Malioboro ya lumayanlah. Lumayan membuat mengelus dada. Makanya, saya lebih memilih berjalan-jalan ke arah utara. Dan pucuk dicinta, aneka candi tercecer di sana.

Operator ojek pun saya hubungi untuk memastikan apakah mereka menyediakan armada yang bisa mengantar saya. Dewi fortuna pun masih bernaung. Satu armada bisa mereka siapkan. Harga masih sesuai argo dan akan ada potongan biaya karena saya menyewa jasa mereka dalam satu hari. Sekitar pukul 8 pagi, saya benar-benar dijemput oleh seorang pengemudi.

Senangnya, ia berinisiatif memberikan nama candi-candi yang bisa saya jelajahi hari itu. Ada sekitar sepuluh candi dengan rute yang tak terlalu jauh. Tak menyangka mendapat kejutan itu, saya sangat bersemangat. Ternyata, jalan-jalan sendirian itu enak juga.

Candi pertama yang kami datangi adalah Candi Sambisari. Berada tak jauh dari Bandara Adisucipto, candi ini terletak di bawah permukaan tanah. Benaman abu vulkanik Gunung Merapi yang cukup lama membuatnya berada pada posisi tersebut. Di sini, kita bisa melihat sebuah candi utama didampingi oleh tiga candi perwara. Kompleks candi ini dipagari oleh dua lapisan tembok besar yang mengelilinginya. Kalau melihat sekilas tembok itu, saya jadi ingat permainan Red Alert. Sungguh arsitektur yang hebat. Tak jauh di seberang Candi Sambisari, saya pun tiba di Candi Kalasan.

Candi Sambisari di bawah permukaan tanah
Bercorak agama Buddha, bangunan menjulang tampak dari pinggir Jalan Raya Solo-Jogja. Sayang, candi ini mengalami kerusakan parah. Pengunjung hanya diperbolehkan berjalan hingga selasar candi. Selebihnya, larangan untuk menaiki tubuh candi terpampang jelas. Jadi, tak banyak aktivitas yang bisa saya lakukan.

Candi Kalasan
Candi ketiga yang kami tuju adalah Candi Sari. Kami harus menyeberang lagi untuk mencapai candi ini. Sama halnya dengan Candi Kalasan, candi ini juga bercorak agama Buddha. Bedanya, jika Candi Kalasan berbentuk layaknya sebuah kubus dengan tubuh yang gemuk, maka Candi Sari bertubuh ramping seperti sebuah balok yang terdapat tiga buah bilik di dalamnya. Candi ini masih terkait erat dengan Candi Kalasan. Jika Candi Kalasan digunakan sebagai tempat pemujaan, maka Candi Sari lebih berfungsi sebagai bangunan asrama untuk para pendeta.



Candi Sari
Dari Candi Sari, saya memutuskan tidak menuju Candi Prambanan. Pengunjung begitu penuh di hari itu. Menyesaki ruang demi ruang pelataran candi. Bus-bus pariwisata pun juga tak kalah banyak. Saya berpikir jika nanti mengunjungi candi ini, maka saya tak bisa leluasa menjelajahinya. Lebih baik saya melewatkannya. Toh, saat SD dulu saya sudah pernah ke sini. Maka, pengemudi ojek saya pinta menuju candi lagi yang terdekat dari Candi Prambanan. Kami akhirnya ke Candi Plaosan dan menyeberang dari Prambanan Jogja menuju Prambanan Klaten. Sama-sama Prambanan tapi beda provinsi, Je! Unik kan?

Kompleks candi Buddha ini ternyata luas juga. Ada dua kompleks yang dimiliki candi ini, yakni Plaosan Lor dan Plaosan Kidul. Sayangnya, hanya kompleks Candi Plaosan Lor yang bagian utamanya masih utuh. Di kompleks Plaosan Kidul, ceceran arca tampak menggunung. Gempa Jogja yang mengguncang 2006 lalu juga turut membuat kehancuran candi-candi ini kian parah. Ditambah semburan abu vulkanik Gunung Merapi yang begitu hebat, saya masih beruntung bisa melihat beberapa candi yang masih untuh.
Candi Plaosan
Selepas puas bermain petak umpet di Candi Plaosan, kami menuju Candi Sojiwan. Candi ini berada tak jauh dari Stasiun Brambanan, sebuah stasiun kecil yang hanya melayani pnumpang KA Prambanan Ekspres (Pramek). Walau hanya memiliki sebuah candi besar, namun candi ini kaya akan relief. Ada sekitar 19 relief yang menggambarkan berbagai cerita dongeng yang kebanyakan berupa fabel. Bagian yang paling saya suka adalah relief tentang seekor kera yang berhasil mengelabuhi seekor buaya di sungai sehingga ia bisa menyeberangi sungai tersebut. Reliefnya cukup jelas terbaca!

Candi Sojiwan
Matahari tepat di atas kepala ketika akhirnya saya memutuskan untuk rehat dahulu di sebuah rumah makan. Menurut pengemudi ojek, masih ada sekitar empat candi lagi yang tersisa. Tiga diantaranya berada di puncak bukit dengan jalur yang cukup ekstrem. Saya mulai parno. Namun, sang pengemudi memastikan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Kami langsung menuju Candi Ratu Boko untuk melanjutkan trip. Jalan menuju candi yang masih merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno ini memang benar-benar ekstrem. Berliku dengan sudut kemiringan tajam, peringatan untuk menggunakan gigi satu pada tiap kendaraan yang lewat terbaca dengan jelas. Saya bahkan sedikit frustasi lantaran jalan seekstrem itu dilewati bus-bus pariwisata dengan ukuran besar.



Candi Ratu Boko
Rata-rata, pengunjung dari Candi Prambanan juga menuju ke candi ini dengan tiket terusan. Jadi, mereka mendapatkan diskon untuk menuju dua candi tersebut. Pengemudi ojek tidak turut serta. Saya dipersilakan masuk sendiri karena tiket masuk yang mahal. Berbeda dengan candi-candi sebelumnya yang hanya membutuhkan tiket masuk sebesar 2 ribu rupiah, harga tiket masuk Candi Ratu Boko cukup mahal. Dua puluh ribu rupiah. Tentu, harga itu sebanding dengan fasilitas di dalamnya.

Taman-taman yang lebih terawat, aneka fasilitas penunjang sepeti resort, kafe, dan tempat ibadah telah tersedia. Belum lagi, ada sarana audio visual tempat menyaksikan sejarah Kerajaan Mataram layaknya bioskop. Semuanya tersaji lengkap yang bisa dinikmati pengunjung. Saya sendiri lebih memilih mengabadikan momen di kompleks candi yang merupakan bekas istana ini. Ada ribuan arca, bekas pendapa, hingga kolam pemandian yang tersebar di lahan yang cukup luas.

Mengelilingi bekas istana ini ternyata cukup menguras energi juga. Belum lagi, beberapa bagian memuat anak tangga yang membuat jantung berdegup lebih kencang. Semua lelah terbayar dengan hamparan bukit hijau yang memagari kompleks istana ini. Orang dulu hebat ya kalau memilih istana. Untuk mencapainya butuh perjuangan. Dan kala berada di kompleks istananya, pemandangan yang ada benar-benar memukau.

Mengingat harga tiket yang cukup mahal, jadi saya memutuskan cukup lama untuk berada di sini. Sekira 30 menit kemudian, barulah saya kembali ke parkiran. Pengemudi ojek masih setia menunggu saya di sana. Ia pun lantas meminta saya untuk bersiap dengan jalur yang lebih ekstrem. Baik, saya siap. Tergantung abang ojek saja. Menuruni jalur dari Candi Ratu Boko cukup menantang juga. Sama dengan ketika kami harus menaiki bukit ini. Bus-bus pariwisata juga kerap muncul tiba-tiba di sebuah tikungan. Untunglah, kami selamat dan telah berada di persimpangan jalan antara Prambanan dan Piyungan. Perjalanan selanjutnya kami lanjutkan menuju Desa Sambirejo.

Desa Sambirejo merupakan desa yang cukup banyak memuat peninggalan sejarah. Desa ini sendiri berada di puncak bukit yang saya lihat dari Candi Ratu Boko tadi. Sebelum menuju ke puncak bukit, pengemudi ojek menepikan motornya di sebuah gang buntu. Ternyata, di ujung gang itu terdapat sebuah candi. Bayunibo namanya. Dalam bahasa Jawa, Banyunibo berarti air yang menetes.


Candi Banyunibo
Entah dari mana air tersebut berasal, yang jelas saya merasa daerah di sekitar candi cukup lembab. Beberapa peladang juga hilir-mudik membawa hasil perladangan mereka. Artinya, Dusun Cepit, Bokoharjo, tempat candi ini berada merupakan daerah yang subur. Sayang, tak ada petugas jaga di candi itu. Saya hanya masuk sebentar dan mengabadikan candi yang hanya memiliki satu buah candi utama ini.

Tibalah saatnya saya menuju Candi Ijo. Ini adalah candi tertinggi se-Provinsi DIY. Hampir 15 menit perjalanan dari Candi Banyunibo harus saya tempuh. Jalan terus mendaki hingga tak ada satupun jalan mendatar yang harus dihadapi pengemudi ojek. Sebelum mencapai candi, saya melihat sebuah bukit kapur yang cukup besar. Bukit ini bernama Tebing Breksi. Saat itu, saya tidak menemukan keasyikan ketika melihat bukit kapur yang masih polos itu. Belum ada pahatan. Belum ada foto di Instagram yang dipajang dan belum ada banyak bus-bus wisata yang hilir mudik di jalan menanjak itu.

Tak jauh dari Bukit Breksi, Candi Ijo pun tampak. Saat itu, belum ada banyak pengunjung yang datang. Saya hanya perlu mengisi buku tamu. Belum ada pula peringatan larangan penggunaan drone yang saya temukan di tempat ini kala menemani rekan yang datang ke mari beberapa waktu kemudian.

Pelan-pelan, saya menaiki anak tangga menuju pelataran candi.Rasa takjub langsung hinggap ketika tergambar jelas Kota Jogja dari ketinggian. Indah sekali. Walau demikian, saya belum menemukan candinya. Ternyata, saya harus berjalan beberapa meter lagi agar sampai di pelataran candi. Mengingat kompeks candi yang berundak, tenaga ekstra pun harus disiapkan agar kuat menaiki anak tangga yang cukup curam.


Candi Ijo masih sepi dan asyik untuk dibuat bersantai lama tidak seperti sekarang
Sesampainya di kompleks candi, saya cukup takjub dengan tiga candi utama yang masih kokoh. Semuanya berbadan chubby dengan relief yang masih cukup jelas. Di depan ketiga candi itu, masih berdiri kokoh juga tiga candi lain berukuran lebih kecil. Sayangnya, banyak ruang candi-candi tersebut yang telah kosong. Tak tampak lagi lingga dan yoni layaknya pada candi bercorak Hindu pada umumnya. Sayang, saya sedang diburu waktu. Seharusnya saya ke sini dulu. Jadi, kunjungan ke Candi Ijo pun harus saya akhiri.

Sebelum pulang, ternyata masih ada Candi Barong yang belum dikunjungi. Dari Candi Ijo, kita bisa menggunakan jalan pintas. Sayang, jalannya benar-benar rusak parah. Berbatu dan terjal, pengemudi ojek sampai kewalahan mengemudikan motornya. Sesekali, kami hampir terjatuh lantaran batuan besar yang menghadang perjalanan kami. Pengemudi ojek sebenarnya belum tahu persis lokasi candinya. Ia hanya mengikuti papan petunjuk jalan kecil yang terpasang.

Hampir 20 menit perjalanan, tanda-tanda keberadaan candi belum tampak. Tetiba, saya melihat seorang nenek tua yang memikul karung berisi batu kapur berjalan pelan ke arah kami. Melihat pemandangan itu, saya jadi malu. Menyerah dengan keadaan bukanlah pilihan. Kami menepi dan mencoba bertanya pada sang nenek tentang tujuan kami. Ternyata, masih sekitar 3 kilometer lagi untuk bisa sampai ke Candi Barong!

Baik, saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Pengemudi ojek pun kembali memacu motor. Sesekali, saya melihat penambang batu dengan karung-karung besar berjalan dari sebuah bukit kecil. Desa ini memang kaya akan SDA batu kapur. Makanya, saat saya melihat rumah joglo dengan dinding kayu reot di kanan dan kiri jalan membuat saya semakin setuju dengan salah satu artikel di sebuah blog berjudul Terbungkus Pesona, Kemiskinan Yogyakarta Tertinggi Se-Jawa. Gemerlap pariwisata Jogja seakan tak dinikmati banyak warganya. Atau memang, falsafah nrimo ing pandum, makaryo ing nyoto benar-benar merasuk di hati mereka.

Simbah pengambil batu

Candi Barong




Yang jelas, hingga motor yang saya naiki sampai di Candi Barong, keinginan saya untuk menjelajah candi tak sesemangat pada awalnya. Saya hanya sebentar memotret candi yang juga menyuguhkan atraksi luar biasa ini. Saya lantas kembali ke wilayah kota dengan melewati sebuah resor eksklusif yang ditata rapi. Dengan jarak tak jauh dari jalan makadam tadi, bungkusan pesona itu memang benar adanya. Terlihat sangat kontras di tanah seribu candi.

***

Tulisan ini menjadi bagian buku solo saya bertajuk "Just a Railtrip" untuk ulasan mengenai Daerah Operasi 6 Yogyakarta yang akan terbit bulan Agustus nanti.

2 comments:

  1. Candi Ijo dan candi Ratu Boko tuh mas buat berburu sunset kece banget. Kalau menjelang senja dia tempat itu full manusia hahahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba
      tapi saya lebih suka candi barong karena sepi hehe

      Delete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.