Belajar Membangun Karakter Fiksi Melalui Plot dari Mas Wisnu “Rahasia Salinem”

Sungguh sebuah keberuntungan bagi saya yang mendapat kesempatan untuk menimba ilmu menulis fiksi dari salah seorang penulis fiksi handal, Mas Wisnu Suryaning Adji.

Menyimak pemaparan dari Mas Wisnu
Penulis Rahasia Salinem ini menjadi narasumber rangkaian Storial Roadshow yang diadakan di Surabaya. Sebenarnya, acara serupa juga dilakukan di Malang dan Jogja. Namun, karena keteledoran saya tidak membaca pengumuman, maka saya harus mengikutinya di Surabaya.

Bertempat Localis Café Surabaya, saya pun datang tepat beberapa menit sebelum acara dimulai. Saya sempat kaget karena Mas Wisnu sendiri yang menyambut saya ketika baru memasuki ruangan pertemuan. Sembari dipandu awak dari Storial, saya pun mengisi buku presensi dan akan dijanjikan akan dimasukkan WAG Storial Surabaya yang nantinya ada kelas menulis bersama Mas Wisnu. Ah, asyik.

Tak lama, acara pun dimulai. Sebelum Mas Wisnu menyampaikan materi, terlebih dahulu Mas Briliant Yotenega atau Mas Ega, selaku pimpinan Nulisbuku.com dan Storial memberikan beberapa pengantar. Ada banyak informasi yang bisa saya dapat dari Mas Ega. Beberapa diantaranya adalah masih rendahnya budaya literasi di kota-kota besar seperti Surabaya. Untuk itu, Nulisbuku dan Storial hadir sebagai jembatan bagi para penulis, terutama penulis pemula agar bisa menayangkan karyanya.

Lalu, giliran Mas Wisnu yang berbicara mengenai pokok pelatihan kali ini. Sebelumnya, Mas Wisnu memberi batasan terlebih dahulu antara dunia fiksi dengan dunia realita. Dunia fiksi adalah dunia yang berjalan dengan imajinasinya sendiri. Walau kadang apa yang ada di dunia fiksi bisa berasal dari realita yang ada, namun tetap saja fiksi berjalan dengan dunianya sendiri. Fiksi bukanlah kisah hidup seorang sebagaimana yang terjadi di realita. Fiksi adalah tempat karakter menjalani hidupnya dalam sebuah garis linier waktu.

Fiksi ya fiksi, jangan dibuat baper dan disandingkan mentah-mentah dengan realita. Untuk itulah, tugas penulis fiksi tidaklah menjadikan fiksi yang ditulisnya menjadi sebuah realita. Menjadi catatan seperti wartawan atau jurnalis. Tugas penulis fiksi hanyalah menjadikan realita sebagai tiruan yang tidak sempurna dalam tulisan fiksinya. Lantas, siapa yang membuat tiruan itu mendekati aslinya?

Jawabannya, tak lain adalah pembaca itu sendiri. Pembaca yang memiliki persepsi, ide, dan bayangan akan sebuah karya fiksi. Di tangan pembacalah garis batas fiksi dengan realita itu terbentuk.

Dari pemaparan awal, saya sudah sangat tertarik. Apalagi Mas Wisnu memberikan materi dengan nada berapi-api. Ya, saya juga ikut bersemangat.

Di dalam cerita fiksi, ada beberapa unsur yang harus dipenuhi. Unsur ini sering kita pelajari dalam pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dulu. Beberapa diantaranya adalah karakter, setting, plot, POV (sudut pandang), dan narator. Dulu, saat belajar fiksi di sekolah, saya mendapat pengajaran bahwa karakter yang menjadi penggerak dalam penulisan karya fiksi. Lewat karakter, maka fiksi akan hidup dan menjadi penggerak unsur lain.

Namun, menurut Mas Wisnu, tidaklah demikian. Karakter fiksi bukanlah sebagai sentral. Justru, pusat karya fiksi adalah dunia dari karakter yang ditulis. Karakter fiksi akan hidup dan berkembang dalam dunianya. Hal ini disebut dengan Teori Diegesis.

Satu poin penting ini akhirnya menjadi poin kesalahan terbesar saya ketika menulis fiksi. Biasanya, saya mendata dulu karakter yang akan saya tulis dan mematuhi karakter tersebut sepanjang penulisan karya fiksi saya. Akibatnya, saya akan terpancung oleh karakter tersebut sehingga menyebabkan karekter lainnya bersifat monofonik. Tak ada yang khas dari berbagai karakter yang saya ciptakan. Semua seakan seragam mewakili suara saya.

Nah makanya, Mas Wisnu tidak menjadikan karakter sebagai pusat penulisan fiksinya. Ia akan menciptakan realitas fiksi yang dibangun oleh cara-cara pandang dan ditampilkan oleh semua unsur. Dan, keseluruhannya disampaikan oleh narator. Mas Wisnu menambahkan, narator yang mengembangkan plot di dalam fiksi adalah kunci. Ah, ini dia!

Makanya, saya paham mengapa beberapa karya fiksi yang begitu booming benar-benar kuat di dalam narasinya. Yang membangun plot sehingga karakter di dalamnya, bisa berkembang dengan asyik. Sangat kontras dengan fiksi yang saya tulis.

Selain menghasilkan karakter yang monofonik, satu hal yang menjadi kesalahan terbesar saya dalam menulis fiksi adalah moral penulis yang mendominasi karya fiksi yang saya tulis. Padahal, menurut Mas Wisnu, moral penulis adalah urusannya sendiri.


Diskusi yang sangat menarik.
Misalkan begini. Saya ingin menulis tentang perselingkuhan di dalam fiksi saya. Bisa dipastikan, karakter yang selingkuh akan merasa bersalah karena dia selingkuh. Tentu, hal ini sesuai dengan apa yang saya yakini bahwa perasaan bersalah akan muncul kalau perbuatan selingkuh itu diakukan. Makanya, dalam penulisan fiksi saya, maka sang karakter akan dihantui rasa bersalah karena dia selingkuh. Padahal, jika karakter fiksi ingin lebih berkembang, maka moral ini jangan dipakai.

Karakter akan merasa bersalah jika ia ketahuan selingkuh. Jika tidak? Ya, jangan….

Pemahaman cukup sulit ini saya cerna perlahan. Saya kemudian membayangkan telenovela Betty la Fea yang beberapa hari ini gemar saya tonton. Sosok Betty yang baik-baik sebenarnya tidak suka menjalin hubungan khusus dengan bosnya, Armando. Tapi, ia tak juga merasa bersalah dan terus mengikuti permintaan Armando untuk mengalihkan aset perusahaan dan juga berselingkuh dengannya. Betty pun luluh meski saya tahu, moral saya dan moral penulis akan membuat plot Betty meminta Armando menghentikan itu semua.

Nyatanya, berkat karakter dan dunia di dalamnya, seperti rekan-rekan Betty yang ternyata mendukung tindakan Betty dan Marcella, kekasih Armando yang juga seakan masa bodoh dan tidak tahu perselingkuhan itu, membuat karakter Betty luar biasa. Liar, dan tak mengikuti apa yang seharusnya terjadi di dunia nyata. Kembali, karakter tokoh bukanlah sebagai sentral tapi ia akan tercipta dengan sendirinya mengikuti dunianya.

Inilah yang juga dilakukan Mas Wisnu saat menulis Rahasia Salinem. Dengan dunia Salinem yang bergitu kompleks, Salinem menjadi pribadi yang begitu unik dengan ciri khasnya berjualan nasi pecel. Kejutan demi kejutan pun muncul meski menurut Mas Wisnu kejutan itu tak begitu saja diberikan pada akhir cerita namun diberikan poin-poin atau klu saat permulaan cerita. Lagi-lagi, saya ternganga.

Selain keterkaitan erat karakter fiksi dengan dunianya dan unsur fiksi lainnya, jangan lupakan pula prinsip tindakan dalam penulisan fiksi. Karakter di dalam fiksi adalah karakter hidup yang melakukan tindakan berdasarkan prinsip ekonomi. Ia akan melakukan sebuah tindakan jika dirasa hasil yang dicapai lebih besar daripada tak melakukan apa-apa atau melakukan tindakan lain. Bisa dipahami?

Nah, satu hal lagi yang paling penting adalah penulis adalah sosok di luar dunia fiksi. Meski menjadi tokoh utama dengan POV “aku”, antara penulis dan tokoh fiksi yang diciptakan adalah dua hal yang berbeda. Janga dicampuradukkan dan diiriskan. Penulis hanya boleh berempati pada karakter sebagai subyek aktif dan memandangnya sebagai obyek pasif sekaligus menghakiminya. Untuk itu, Mas Wisnu memberi tips untuk tidak baper dulu selama naskah belum selesai. Terus menulis dan barulah saat selesai, menangislah sesuai cerita yang sudah ditulis. Terlalu baper saat proses penulisan fiksi akan membuat plot yang dibangun menjadi kurang menarik.

Lalu, bagaimana agar plot menjadi menarik?

Jawabannya kembali kepada karakter fiksi yang harus dibuat dinamis. Dinamis disebabkan sifat dan kepribadian seseorang terus berubah tergantung pada situasi dan kondisi yang dihadapi. Kembali ke sosok Betty, apa yang membuat Betty bisa menikah dengan Armando?


Terima kasih Mas Wisnu.
Tentu bukan azab yang menimpa Marcella atau Patricia dan mendapatkan harta dengan sekejab seperti di sinetron Azab. Sosok Betty berubah dari Betty yang pemalu dan rendah diri menjadi sosok yang kuat dan berani karena ia berhasil dinaikkan semangatnya oleh Ny. Cathalina. Namun, itu bukan satu-satunya. Keadaanlah yang membuat Betty demikian. Keadaan terjepit untuk mempertanggungjawabkan perselingkuhan dan aliran dana perusahaan membuat Betty tangguh dan bisa menghadapi semua.

Di sebuah episode yang menjadi turning point, perubahan karakter itupun terjadi sehingga telenovela ini menjadi menarik. Sekali lagi, jangan buat karakter fiksi dengan membuat daftar sifatnya terlebih dahulu. Buatlah karakter mengikuti plot yang dibangun.

Ah, sungguh, saya begitu dapat ilmu yang bermanfaat di sini. Terlebih, saat saya tahu Mas Wisnu begitu fasih menceritakan buku-buku yang dibacanya dan ia tuangkan dalam bentuk tulisan, langsung, saya merasa kemampuan menulis saya, dalam hal fiksi sangatlah minim.

Semoga ilmunya bermanfaat dan kegiatan lanjutan dengan rekan-rekan Storial Community Surabaya bisa berjalan dengan baik.

Salam.

4 comments:

  1. Penasaran banget dengan karyanya, Kayak apa ya bukunya itu
    Soal karakterm awal mulanya saya juga punya pandangan seperti itu karakter antar tokoh harus benar-benar jelas.
    Ya masih banyak orang yang mengira, dikiranya fiksi itu kisah nyata. Dan "aku" disini dikiranya tokoh atau gambaran penulis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. coba baca di storial masih ada mas

      bisa belajar dari sana

      Delete
  2. Wahhh ternyata sudah ada adacara sebelumnya di yogyakarta yaaa, sempet sih denger infonya kalau ada ngadain di yogyakarta. Tapi kelewatan dan lupa tanggalnya waktu itu.. Jadi yaa gak bisa ikut lagi, kalau misalnya mau lihat infonya itu dimana sih mas kalau ada acara acara storial kek gini

    ReplyDelete
  3. Jadi, setelah buku pertama terbit, langsung bikin buku kedua dengan tulisan fiksi, mas? Mantabh djiwa. Hehehe. *Misal iya, kayaknya tulisan yang jalan-jalan dipantai (yang tentang harta karun ada lagu Chibi Marukochannya kalau nggak salah) sama pas ke Sindu Kusuma Edupark itu, wajib dimasukkin ke buku mas.

    ReplyDelete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.