Traveling adalah Kebutuhan Sekunder yang Harus Dipenuhi

ka maharani new image stasiun semarang poncol
Traveling adalah kebutuhan, bukan gaya-gayaan.

Masih ingatkah materi pelajaran IPS pada tingkat Sekolah Dasar dulu mengenai kebutuhan hidup manusia?


Pastinya, sebuah kalimat berikut akan mengena hingga sekarang. Kalimat itu adalah rekreasi merupakan kebutuhan sekunder manusia. Namanya kebutuhan ya harus dipenuhi. Tidak bisa ditawar-tawar walau urgensinya masih di bawah kebutuhan primer.

Dalam artian yang luas, rekreasi bisa berarti penyegaran kembali badan dan pikiran yang bisa dilakukan dengan hiburan atau pun jalan-jalan. Kalau tidak hiburan – semisal melihat TV atau bernyanyi JKT48 – maka bagi saya traveling adalah cara pemenuhan kebutuhan sekunder itu.

Di sini dapat dipahami bahwa traveling adalah hak setiap orang dan harus dipenuhi jika ingin kesehatan badan dan mentalnya terjaga. Nyatanya, hingga sekarang, masih banyak hal yang bisa jadi menggeser makna dari traveling itu.

Ini semua tak lepas dari peran media sosial yang menggeser persepsi orang akan traveling itu. Beberapa diantaranya adalah traveling harus ke tempat yang keren, harus mahal, harus makan enak, harus bisa dipamerkan di Instagram, dan harus menemukan tempat baru yang bisa jadi tak satu pun manusia lain datang ke tempat itu.

Pergeseran ini nyatanya berdampak serius. Orang banyak yang tidak puas akan perjalanan travelingnya. Padahal, sebenarnya ia bisa menikmati hal-hal sederhana yang tak jauh dari tempat tinggalnya, yang murah, dan bisa membuat bahagia. Ah, ini juga masih terlalu subyektif. Bukankah kadar bahagia orang – terutama dari kegiatan travelingnya – adalah berbeda?

duduk di wisata pujon kidul malang
Memandangi para traveler yang sibuk dengan kegiatan narsisnya. Tiap orang memiliki tujuan berbeda kala melakukan traveling dan itu sah-sah saja.

Mengingat tujuan utama traveling adalah rekreasi yang bisa menyegarkan pikiran, saya tak mau terlalu muluk-muluk saat merencanakan kegiatan ini.


Apa yang saya mampu, baik dari tenaga maupun biaya, ya saya lakukan. Siapa sih yang tidak ingin bisa menaklukan gunung dan tempat ekstrem? Namun, saya sadar bahwa saya punya penyakit GERD dan asma yang bisa saja menyerang. Daripada saya berfokus pada hal-hal yang mustahil, maka saya pun sadar diri. Demikian pula berlibur ke tempat yang jauh seperti ke Kutub Selatan. Siapa juga yang tak ingin melihat penguin dan titik terjauh bumi ini? Tapi saya juga realistis.

Lalu, traveling pun akhirnya menjadi cara bagaimana kita bisa realistis terhadap apa yang akan kita jalani.


Kalau saya realistis akan pergi ke suatu kota dengan adanya situs bersejarah maka saya pun realistis kehidupan saya ya tidak jauh dari benda-benda purbakala. Uniknya, saya malah menikmatinya. Artinya, dengan traveling, kita bisa realistis kepada kehidupan kita sambil menikmati apa yang kita jalani.

candi ngempon semarang
Kalau saya sih lebih suka ke candi yang sepi.

Saat saya bingung dan tersesat mencari candi baru yang belum banyak dijamah orang, saya merasa sangat bahagia. Terlebih, jika saya hanya perlu membubuhkan tanda tangan di buku tamu. Walau saat saya mengunggahnya ke Instagram, bisa jadi foto yang saya dapat jauh kalah keren daripada foto liburan teman yang ke gunung, pantai, atau tempat menarik lainnya. Yang penting saya bahagia kan?


Realistis terhadap tempat yang saya tuju juga berkorelasi dengan peningkatan kemampuan manajerial saya, baik dalam hal keuangan maupun hal teknis lain.


Saya bisa mengatur keuangan jauh lebih baik saat traveling dibandingkan saat di rumah. Saya bisa bangun lebih pagi dan berjalan kaki lebih jauh, bahkan berlari saat traveling. Saya bahkan bisa berkomunikasi dengan orang lain jauh lebih baik saat traveling.


Tak hanya itu, ketika traveling, kepekaan sosial saya bisa bertambah baik.


Saya yang biasanya cuek dengan para pengamen atau pun pengemis yang lewat dan meminta belas kasihan di depan rumah saya karena ya mereka sering berulang datang. Namun, saat traveling, saya bahkan menyiapkan uang receh khusus agar bisa menberi para pengamen atau pengemis di tempat traveling meskipun sebenarnya itu juga tak terlalu baik.

Ketika traveling, saya tentu akan berhubungan dengan orang yang baru saya kenal. Bisa orang jahat maupun orang baik. Saya pernah ditipu oleh calo bus Terminal Giwangan dan dijambret saat baru datang di Stasiun Jakarta Kota. Namun, saya juga pernah ditolong oleh Mas-Mas di Purwokerto dan Bapak-Bapak penjaga hostel di Jakarta saat saya baru kejambretan.

Kalau boleh jujur, saya lebih bahagia mendapat jepretan semacam ini ketika traveling

Intinya, saya belajar banyak bahwa dari kegiatan traveling ini banyak tipe orang yang bisa saya temui.


Bisa saja yang awalnya berinteraksi secara baik lalu akan menjadi jahat. Atau, saat persepsi kita yang awalnya buruk malah sebenarnya orang itu sangat baik. Dari sini, saya belajar banyak bahwa dengan traveling memandang kehidupan tidak bisa serta merta dari satu sisi saja.


Berhubung saya suka menulis, maka kegiatan traveling bisa menjadi lumbung hobi saya bahkan bisa jadi pemasukan.


Saya bisa menjadi kontributor sebuah portal web tentang traveling dan mendapatkan reward dari sana. Meski begitu, saya tidak ingin disebut sebagai travel blogger atau pun travel writer yang begitu bergantung pada penulisan artikel jalan-jalan saja. Entah, yang jelas saya tak ingin terlalu terbebani dan lebih berfokus pada bagaimana saya bisa happy dari kegiatan traveling yang saya lakukan dan dilanjutkan menuliskan ceritanya.

Artikel perjalanan yang saya tulis. Sebenarnya, saya tidak terlalu senang disebut travel blogger atau traverl writer.


Puncaknya, dari kegiatan traveling ini, saya bisa menerbitkan dua buah buku solo.


Satu buku melalui penerbit indie yang sudah terbit dan satu buku melalui penerbit mayor yang dalam proses terbit. Apalagi, dari buku saya yang pertama ada teman yang begitu antusias untuk mengikuti kegiatan traveling saya menggunakan kereta api lokal yang murah meriah. Itu saja sudah membuat saya bahagia.

Untuk itu, saat saya memutuskan untuk menikah di tahun ini (doakan ya), kegiatan traveling ini tidak akan saya akhiri. Saya sudah berkomitmen dengan calon saya bahwa kegiatan ini akan konsisten saya lakukan, tentu dengan bersama-sama keluarga. Entah bagaimana nanti saya mengkoordinasikan keluarga baru saya, yang jelas kegiatan traveling yang saya lakukan tak akan jauh berbeda dengan sekarang. Candi dan museum akan menjadi jujugannya.

Dua buah buku traveling yang saya tulis


Masih ada banyak hal sebenarnya yang bisa dibagi mengenai segala hal terutama manfaat traveling. Yang jelas, tidak perlu memaksakan diri untuk merencanakan traveling. Yang penting kita bisa menjalaninya, menikmatinya, apalagi bisa membaginya dengan lingkungan sekitar.

Bagaimana dengan Anda? Cerita yuk!

7 comments:

  1. Waah mas, kalo buatku, traveling itu bukan sekunder, tapi PRIMER :D. Bisa gila kali kalo aku sampe ga traveling dalam 6 bulan. Targetku tiap THN itu, WAJIB nambah minimal 2 negara baru yg belum prnh aku datangin. Dalam hal ini aku mungkin agak beruntung Krn gajiku bisa seluruhnya utk traveling, Krn kebutuhan lain itu dr suami :D.

    Traveling buatku obat stress. Aku bisa refresh pikiran, aku bisa ketemu org lokal, aku bisa melihat tempat2 yg ga biasa, bisa berbaur dengan budaya mereka, dan semua itu buatku obat. Supaya ga picik, ga bosen, dan menambah wawasan pastinya. Semoga sih sampe aku tua, msh ttp sanggub utk jalan2 begini :).

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah mbak fanny mah keren sungkem dulu ke LN terus hehe

      mbak kalo ada rejeki ke golongannya negara bekas yugoslavia lagi aku penasaran banget hehehe


      iya sih jadi banyak belajar ya dan jadi obat biar enggak bosen juga

      Delete
  2. betul, traveling itu suatu kebutuhan juga walau hrs berdarah2 nabung uang dulu tapi sudahnya puas banget

    ReplyDelete
  3. wahhh keren mas, dari yang hibi travelling, kini sudah menerbitkan 2 buku, salah satunya oenerbit mayor.

    semoga lancar sampe hari H ya mas, justru saat telah menikah, travelling travel sampai berhenti, moment ber 2 dengan pasangan bisa lebih dinikmati dengan melakukan perjalanan, sukses terus mas

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih mas

      amin YRA semoga sukses juga ya mas..

      Delete
  4. hobi yang menyenangkan dan menghasilkan tuh yah ini yah bang, jalan - jalannya dapet hasil nya juga dapet hehe

    ReplyDelete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.