Ketika Saya Sakaw Makan Koloke

koloke Jalan Buah-buahan malang
Koloke di warung dekat rumah saya

Makanan khas Tionghoa atau lebih dikenal dengan nama chinese food sebenarnya adalah jenis makanan yang tidak terlalu saya suka.

Alasannya, banyak chinese food yang berminyak dan menggunakan penyedap masakan buatan yang tidak begitu saya gemari. Walau tentu itu tergantung dari siapa yang memasaknya, tetapi seringkali saya mendapatkan chinese food yang sungguh berminyak dan bermicin. Penyakit GERD yang saya derita pun kambuh.

Anehnya, ada pengecualian masakan chinese food yang malah saya menggemarinya.

Tak lain adalah koloke. Sebenarnya, makanan ini juga menjadi makanan yang terlarang untuk saya konsumsi karena rasanya yang asam. Tetapi, karena saya suka, maka sensasi GERD yang muncul selepas makan makanan ini pun saya kesampingkan. Terlebih, rasa masakan ini tidak hanya asam namun juga manis dan gurih serta tidak pedas. Koloke pun menjadi makanan favorit saya untuk bersantap.

Tak hanya itu, bahan utama koloke adalah fillet ayam. Siapa sih yang tidak senang dengan fillet ayam. Teksturnya empuk dan membuat ketagihan. Tak hanya fillet ayam, koloke juga berisi berbagai macam sayuran yang cukup lengkap seperti wortel, timun, buah nanas, dan kadang kacang kapri. Jarang sekali ada sawi yang membuat lambung saya luka. Makanya, jika dibandingkan nasi mawut atau makanan chinese food lain, makan koloke masih amanlah.

Makan koloke pun menjadi sebuah reward bagi diri saya selepas melakukan sesuatu. Entah mengerjakan pekerjaan sulit, memenangkan lomba blog, atau saat akhir pekan. Alasannya, untuk membeli koloke, saya tidak bisa membeli di dekat rumah saya atau kos saya. Perlu tenaga ekstra mencari warung yang menjual koloke. Ini tidak seperti membeli mie pangsit atau angkringan. Tidak semua penjual nasi goreng di pinggir jalan menjual koloke.

koloke Mie ekspress DTC Wonokromo
Koloke di DTC Surabaya

Sebenarnya, bahan utama koloke tidak selalu fillet ayam.

Malah, di negara asalnya Tiongkok, daging babi menjadi andalan koloke. Saya tidak mungkin makan daging babi sehingga di Indonesia kebanyakan koloke dibuat dari daging ayam.

Tetapi, saya pernah menemukan koloke dari udang tepung. Biasanya, koloke jenis ini saya temukan pada resepsi pernikahan mereka yang berasal dari kalangan menengah ke atas. Di gedung besar atau aula. Ada juga koloke dari jamur bagi mereka yang vegetarian. Rekan saya yang rumahnya di Surabaya kerap memasak koloke dari jamur.

Nah, ada beberapa tempat makan yang menjadi favorit saya dalam membeli koloke.

Di Malang, ada sebuah tempat makan bernama Ikana yang terkenal menjual makanan chinese food dengan ukuran jumbo. Satu porsi koloke dihargai sekitar 45.000 rupiah.

koloke nasi goreng sma dempo
Koloke di SMA Dempo

Walau mahal, itu sebanding dengan porsinya.

Kalau dimakan sendiri tidak akan sanggup. Saya sering membungkusnya dan saya gunakan untuk makan sendiri selama tiga sampai empat hari berturut-turut. Fillet ayam dan kuahnya dibungkus terpisah sehingga bisa saya masukkan kulkas lalu saya hangatkan. Tidak ada anggota keluarga lain di rumah saya yang suka koloke. Makanya, kalau saya sudah beli koloke, selama itu pula saya harus menghabiskannya sampai tak bersisa sendirian.

Selain Ikana, Depot 77 yang berada di Sawojajar juga menjadi incaran saya. Hanya saja rasa manis bumbu koloke di depot ini cukup dominan sehingga perut cepat kenyang. Favorit saya yang lain adalah sebuah tenant di food court Mitra Plaza. Di sini, koloke yang dijual lebih mirip bola-bola ayam karena bentuknya yang bundar. Bumbunya lebih asam dan ada sayur brokolinya sehingga membedakannya dengan menu koloke di tempat lainnya.

Ada juga warung pinggir jalan di dekat SMAK St. Albertus (SMA Dempo) yang menjual koloke dengan enak. Warung ini memang terkenal akan masakan chinese food-nya. Tak heran koloke juga menjadi menu andalannya.

Kalau sedang transit di Surabaya, menu koloke di pujasera DTC Wonokromo menjadi andalan saya. Hanya dengan 20.000 rupiah, saya bisa membeli nasi koloke dan mendapatkan teh hangat. Selepas turun dari KA Logawa sekitar jam setengah 3 sore, saya pun berjalan sebentar di DTC dan memesan menu ini sekitar jam setengah 5. Sekalian menunggu kereta api ke Malang yang berangkat jam 6 sore. Sayangnya, bumbu koloke di tempat ini cukup sedikit.

Paket koloke dan capjay

Uniknya, saya cukup kesulitan menemukan menu koloke di Jogja.

Kalau ada paling di Mall seperti Sleman City Hall atau Jogja City Mall. Di tenant yang memang khusus menjual aneka masakan chinese food seperti Solaria. Ada pengalaman unik ketika saya membeli koloke di sebuah tempat di Sleman. Tidak perlu saya sebutkan persisnya ya.

Kala itu, bersama rekan saya, saya mampir ke warung nasi goreng. Kala mata melihat menu, ada koloke di sana. Dan harganya sangat murah yakni 15.000 rupiah saja. Padahal, biasanya menu koloke dijual di atas 20.000 rupiah.

Praktis, karena saya sakaw koloke lantaran sudah lama tidak memakannya, saya pun memesan satu porsi dengan tambahan nasi. Begitu masakan datang, eh ternyata bahan utamanya bukan fillet ayam melainkan cireng. Iya, cireng atau bisa dibilang hanya tepung kanji yang kenyal dibentuk bola-bola. Itu pun tidak ada tambahan lain semisal nanas atau wortel. Saya pun ngakak bersama teman saya. Ya iyalah, ada harga ada rupa. Tapi tak masalah, namanya rezeki harus dimakan dan untungnya bumbunya enak.

Makanya, dalam memilih menu koloke yang akan saya beli, saya memerhatikan dua hal.

Harga yang dijual menjadi patokan. Koloke yang benar-benar isi fillet ayam akan dijual dengan harga cukup mahal dan tidak mungkin di bawah 20.000 ribu. Selain itu, saya juga melihak situasi dan kondisi. Jika ingin dibawa pulang, maka saya membeli koloke yang tidak sepaket dengan nasi. Syukur-syukur yang porsinya jumbo seperti Ikana. Jadi, meski harganya mahal, saya bisa memakannya berhari-hari. Jika dihitung-hitung pun lebih irit.

Kalau saya hanya ingin makan di tempat, maka saya memilih paket koloke dengan nasi. Atau, sekalian dengan the hangat yang biasanya dijual seharga 20.000-30.000 rupiah. Harga ini sama dengan makan di restoran cepat saji seperti KFC atau McD. Malah lebih murah ya. Makanya, daripada membeli makan di restoran cepat saji, kalau ada pilihan makan koloke lebih baik saya makan koloke.

Lalu, mengapa saya tidak mencoba memasak sendiri?

Bahan dan cara masak yang sulit menjadi alasan saya tidak melakukannya. Ada teknik tertentu dalam meracik ayam fillet dan sausnya. Ada banyak bahan yang harus ditakar sedemikian rupa agar menghasilkan aroma dan rasa yang mantap. Itu bagi saya susah dan lebih baik saya membeli jadi saya.


Koloke cireng

Dulu saya pernah membeli bahan koloke siap masak seharga 20.000 ribu untuk 4 porsi. Tetapi, bagi saya bumbunya kurang nendang sehingga saya tidak membeli lagi. Padahal, cara memasaknya cukup praktis tinggal menggoreng ayam fillet dan memanaskan bumbunya. Lagi-lagi, lebih baik saya membeli jadi saja. Tetapi, kalau ada rekomendasi koloke siap masak yang enak dan murah, bolehlah bagi ke saya.

Itulah sedikit cerita saya mengenai koloke. Saya kemarin baru sakaw koloke setelah 3 bulan tidak memakannya. Untunglah, ada sebuah warung pinggir jalan di dekat rumah yang menjual koloke seharga 35.000 rupiah. Bisa saya makan untuk 2 hari berturut-turut.

 

 

8 comments:

  1. Baru jam 10.35 Wita, tapi gara-gara baca seputar makanan Koloke ini saya jadi lapar...

    ReplyDelete
  2. Oalaaah ini ayam masak saus asam manis ya mas :D. Aku sempet bingung td denger namanya koloke. Malah ga pernah denger itu. Tp pas baca penjelasanmu, lgs ngeh inikan ayam saus asam manis :D.

    Aku juga sukaaaa. Tp sama kayak kamu, mnding beli aku mas. Drpd gagal dan ga enak :p. Sayang bahannya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak asam saus manis kan lebih banyak disebut koloke hehe

      soalnya bahannya banyak dan cara olahnya sulit ya mbak

      Delete
  3. hahahah baca ini saya jadi menemukan apa yang bakal saya beli buat lauk makan malam nanti.
    Kolokeee..
    Di depan kompleks ada yang jualan dan lumayan enyaakk :D

    ReplyDelete
  4. Mas takirain ini fillet ikan dori, jebul fillet ayam
    Kelihatan nyam banget iki loh sepiring koloke, gluk gluk, #ngelih mode on

    Eh tapi sama dong, aku juga nek abis ngerjain challenge tentang sesuatu hal yang butuh effort njur berhasil biasane aku kasih reward buat diri sendiri buat makan enak wkwkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. fillet ayam mbak hehe

      iya enak banget lo ini aku mesti imbuh hahahahah

      bener biar puas yaaa

      Delete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.