Akhirnya Saya Bisa Membedakan Trans Jateng dengan Trans Semarang

Bus Trans Jateng Trans Semarang
Bus Trans Jateng mengambil penumpang di Halte Trans Semarang.

 

Perlu beberapa kali ke Kota Semarang untuk bisa mendalami lebih jauh moda transportasi BRT di kota lumpia ini.

Ini tak lepas dari keunikan BRT di Kota Semarang sendiri yang memiliki dua jenis operator yakni Trans Semarang dan Trans Jateng. Tentu, moda BRT ini sangat berbeda dengan apa yang ada di Jogja dan Jakarta yang hanya dijalankan oleh satu operator saja. Trans Semarang sendiri dikelola oleh Pemkot Semarang sedangkan Trans Jateng dioperasikan oleh Pemprov Jawa Tengah.

Kebingungan saya sebenarnya terletak pada jalur dan halte yang dilalui oleh keduanya. Baik Trans Jateng dan Trans Semarang sama-sama menggunakan bus warna merah saat saya pertama kali mengenalnya. Memang, ada perbedaan gambar yang cukup mencolok yakni gambar burung dan Candi Gedung Songo pada Trans Jateng dan gambar gedung pada Trans Semarang.

Meski demikian, saat saya menunggu bus, entah akan ke mana di suatu halte, dari depan saya masih belum bisa membedakan mana bus Trans Jateng dan mana Bus Trans Semarang. Saya baru bisa membandingkan jika warna bus Trans Semarang yang melintas adalah biru. Sama seperti bus Trans Jogja yang sering saya gunakan.

Halte Trans Semarang
Selfie di Portable Trans Semarang
 

Alasan kebingungan saya yang lain adalah tidak adanya petunjuk rute pada beberapa halte atau portable. Ini berbeda dengan Trans Jogja yang masih menampilkan rute bus yang akan melintas pada halte atau portable tanpa petugas. Jadi, saya masih bisa memperkirakan tempat transit bus lain atau bahkan untuk turun.

Kebingungan lain adalah persinggungan halte Trans Jateng dan Trans Semarang. Ada beberapa halte yang dijadikan tempat pemberhentian keduanya. Namun, ada pula halte yang hanya bisa menjadi pemberhentian Trans Semarang. Makanya, saat saya ingin naik Trans Jateng dan sudah berusaha sekuat tenaga  melambaikan tangan eh busnya ternyata tak berhenti. Alasannya, halte tersebut hanya digunakan untuk naik turun penumpang Trans Semarang.

Halte Trans Jateng Trans Semarang
Wefie di Halte Trans Semarang yang juga digunakan Trans Jateng di Jalan Pandanarang
 

Meski demikian, dari beberapa kebingungan tersebut, akhirnya saya bisa menarik sebuah kesimpulan umum mengenai perbedaan kedua jenis BRT ini.

Pertama dari sisi trayek, Trans Semarang jauh lebih banyak dan menjangkau hampir seluruh wilayah Kota Semarang. Sementara, Trans Jateng Koridor 1 yang sering saya naiki lebih banyak melewati jalan protokol Kota Semarang hingga kemudian bermuara ke Terminal Bawen Kabupaten Semarang. Walau hanya melewati jalur protokol, trayek Trans Jateng lebih panjang. Bahkan kini ada trayek baru sampai ke Kendal.

Dari sisi ukuran bus, saya melihat Trans Semarang kapasitasnya lebih banyak dibandingkan Trans Jateng. Bus Trans Jateng bagi saya sama ukurannya dengan Bus Trans Jogja yang kecil. Sementara, bus Trans Semarang beberapa diantaranya ukurannya sama dengan bus Trans Jakarta. Meski demikian, keduanya memiliki aturan yang sama yakni adanya pemisahan antara penumpang perempuan dan laki-laki. Aturan ini tak saya temukan pada Bus Trans Jogja.

Perbedaan selanjutnya adalah mengenai pembayaran. Trans Semarang sudah bisa menggunakan moda pembayaran nontunai. Sementara, saya belum melihat pembayaran nontunai pada Trans Jateng. 

Bus Trans Semarang di Halte Layur

Perbedaan ini membuat saya sebenarnya lebih nyaman membayar saat berada di Trans Semarang. Saya bahkan pernah membayar menggunakan saldo Gopay dengan hanya 1.750 rupiah saja alias mendapatkan cashback sebesar 50% dari harga tiket normal yakni 3.500 rupiah. Selain Gopay, saya juga pernah membayar tiket Trans Semarang menggunakan LinkAja dan juga mendapatkan cashback dengan jumlah sama. Sementara, saya harus tetap membayarkan tiket dengan uang tunai sebesar 4.000 rupiah saat naik Trans Jateng.

Pembayaran Gopay Trans Semarang
Pembayaran Trans Semanrang dengan Gopay

Sayangnya, pembayaran nontunai Trans Semarang tidak banyak diketahui oleh para penumpang. Saat saya membayar dengan Gopay, ada penumpang yang heran ternyata bisa ya membayar dengan HP. Wah, saya jadi terharu. Ini menandakan bahwa sosialisasi pembayaran nontunai belum terlaksana dengan baik.

Perbedaan selanjutnya adalah mengenai jumlah armada bus. Dari pengamatan saya di lapangan, armada bus Trans Jateng jauh lebih banyak. Makanya, ketika akan naik bus ini di sebuah halte, saya tak perlu menunggu lama. Paling-paling sekitar 10-15 menit.

Hal berbeda saya rasakan ketika naik Trans Semarang pada koridor tertentu. Saya pernah lho menunggu bus Trans Semarang yang akan menuju Cangkiran di Kotalama selama hampir 30 menit. Selama menunggu, saya sudah menjumpai 3 bus Trans Jateng yang melintas di halte tersebut. Ketika hati sudah gembira ada bus yang datang, eh ternyata Trans Jateng lagi.

Bus Trans Jateng Trans Semarang
Seorang calon penumpang Trans Jateng menunggu di sebuah portable di Kotalama

Perbedaan terakhir adalah adanya feeder atau pengumpan pada Trans Semarang. Feeder ini berupa mobil elf/minibus dengan kapasitas terbatas. Keberadaan feeder ini bertujuan untuk memudahkan penumpang yang berada di luar jalur Trans Semarang agar bisa naik angkutan umum tersebut. Saya belum pernah menaikinya tetapi pernah menjumpainya di jalan-jalan kecil Kota Semarang. Fasilitas feeder ini tidak dimiliki oleh Trans Jateng. 

Lumayan ruwet ya petanya haha. Tapi kedua jaringan ini banyak bertemu di sekitar Kotalama dan Balaikota Semarang. - Dinas Perhubungan Kota Semarang

Diantara sekian perbedaan tersebut, bagi saya keduanya sama-sama nyaman. Saya cukup salut dengan petugas Trans Jateng dan Trans Semarang yang ramah saat saya bertanya trayek yang belum saya pahami dengan baik. Mereka pun juga memastikan saya dan penumpang lain duduk atau berpegangan dengan benar sebelum bus melaju.

Pelayanan seperti ini yang saya suka. Sedikit membandingkan dengan Trans Jogja yang sering sekali saya kejedug tiang atau tempat duduk saat baru masuk bus. Pelayanan dengan memerhatikan kenyamanan penumpang seperti ini sebenarnya harus menjadi prioritas. Bagaimana pun keselamatan penumpang adalah hal utama.

Kondektur Trans Semarang (kiri) dan Trans Jateng (kanan)
Kondektur Trans Semarang (kiri) dan Trans Jateng (kanan)

Masalah pendingin udara dan kenyamanan tempat duduk saya rasa sama dengan bus BRT lain. Ini tak lepas dari pabrikan bus tersebut yang saya rasa sama antara Trans Jateng, Trans Semarang, dan Trans Jogja. Benar tidaknya tetapi selama saya menaikinya saya rasa tak ada perbedaan mencolok.   

Itulah beberapa persamaan dan perbedaan antara Trans Jateng dan Trans Semarang. Dua BRT yang sama-sama beroperasi di Kota Semarang. Sejak coroces melanda, saya tidak pernah lagi ke Semarang. Entah bagaimana nasibnya kini yang pasti naik keduanya adalah cara irit paling masuk akal saat berjalan-jalan ke jantung Jawa Tengah itu.

Salam.    

22 comments:

  1. Duh kalo baca bis2 trans ini bikin gondok karna di Surabaya belum ada satupun. Adanya cuma bisa yg bayar pakai sampah 😅

    Aku sempat membaca di sebuah artikel tentang trans jateng dan trans semarang. Sempat terpikir kenapa sampai dobel ya. Akhirnya hari ini terpecahkan misterinya! Salut sih sama pemkot dan pemprov, semangat bgt ya memberi fasilitas sama warganya. Kalau banyak pilihan akomodasi transportasi, yg senang juga warganya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya malah belum sempat naik bus itu mbak keburu coroces huhu

      iya aku awalnya juga bingung mbak tapi ternyata memang ada bedanya
      senang banget jadi warga semarang

      Delete
  2. Keren dong semarang sudah punya transportasi sendiri seperti di Jakarta... tarifnya murah lagi....

    ReplyDelete
  3. Keren ya.. transportasi model begini kapan mampir Flores ya? Hehehe..

    ReplyDelete
  4. Waaahhh baru tahu saya ada dua jenis beda.. Saya pikir waktu ke Semarang cuma ada Trans Semarang saja.. Tahunya ada dua yah..

    Jadi pingin maen ke sana lagi euy.. cuma gimana neh, masih pandemi

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya saya juga tau ada trans jateng pas pertama ke sana Pak

      Delete
  5. Wah, unik banget di Semarang, punya 2 Bus Trans yang berbeda dan trayeknya sering bersinggungan. Baru pertama kali aku tahu mengenai hal ini karena di Jakarta sendiri kan hanya 1 bus Trans ya.
    Bisa nyasar dong kalau nggak tahu adanya 2 bus Trans di daerah Semarang ini wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya di JKT cuma 1
      kalau nyasar si tergantung apes ya mbak hehe

      Delete
  6. Saya yang lama di Jakarta ,sama sekali belum pernah naik trans Jakarta
    Apalai itu trans Jateng dan Trans semarang.
    Kalau aya sebenarnya lebih suka tunai, sebab kalau non tunai otomatis hape harus ful kuota.
    Saya wong jateng, suatu saat harus bisa naik trans jateng

    ReplyDelete
    Replies
    1. ah masak bang
      lha naik apa dong? metromini?

      iya kalau nontunai lebih cepet si
      cuma ya itu klemahannya hehe

      Delete
  7. Ah elah, di Surabaya aja aing blom pernah coba Suroboyo Bus, boro2 cobain yang ini :').

    ReplyDelete
  8. uwah aku belum pernah ke sana
    kan jadi pengen juga ngerasain naik trans semarang atau trans jateng. mana aja deh, boleh. hahaha

    ReplyDelete
  9. owalah karena sama sama merahe ya mas ikrom jadinya susah dibedakan

    nek ijo kuning cem trans jogja lah ketok ya ahhaha

    eh trans jateng armadanya banyak jadi cepet hilir mudike ga bikin penumpang was was nunggu nek pas bar bayar tiket ijik bisa numpak ga keburu buru

    nek sik trans semarang ketoke luih joss ya mas, gede tur nyaman

    btw aku ngguyu bagian mas ikrom terharu amargobada wong sik terheran heran mas ikrom iso bayar go hape alias applikasi hahahha

    aku trayek trayek bus ngene sampe apal pas masih gawe ndek jakarta dulu mas, la wong ben dino metu lapangan mau ga mau kudu golek tumpangan bus ngene iki sik ada halte dan rute rutenya yang mendekati tempat golek berita berada

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak lek liat dari depan twas PD ternyata bukan hehe

      trans jateng memang armadany lebih banyak soale koridore mungkin mek 2 ya beda ambek trans jateng sing sampe 6 lebih

      hahahah ia orange heran aku juga ya heran

      wah ia lek TJ wis paham ya mbak'aku malah mek ngerti koridor 1

      Delete
  10. Mbuh mas, mumet 😂. Aku belum pernah nyobain sih. Dan jujur, paling takut misal disuruh naik bus-bus macam ini. Takut nyasar karena nggak hapal rute.

    Enak ya, bisa bayar pakai dompet digital. Kalau yang BST Solo itu setauku belum bisa. Jadi ya, harus tunai. Tapi kalau sekarang kurangvtahu ding. Udah lama juga nggak pernah naik.

    Oiya, ada trayek baru mas. Dari Purworejo ke kawasan Borobudur. Kayaknya itu masuk Trans Jateng sih setauku. Kemarin pas awal-awal launching gratis, sekarang bayar 4000 rupiah kalung gak salah. Mayan sih, murah. Tapi ya, belum nyoba (lagi) karena masih corona.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahahah aku ngakak

      aku ya takue mas tapi ya kepo tur seneng ae ndeleng wong mumet haha

      BST belum bisa aku pernah nyoba dari beteng ke mana ya sekitar laweyan ato mana gitu dan masih cash 4000 sama kayak Trans jateng

      cuma BST itu enaknya rutenya sampe ke jalan kecil si
      beda sama Trans Jateng atau Trans semarang

      oh iya aku belum nyoba
      pankapan nyoba yuk..

      Delete
  11. Enak ya kalau ke Semarang bisa keliling kota naik Trans Semarang atau Trans Jateng. Dulu ke Semarang tapi belum ada transportasi ini. Makasih info nya mas Ikrom

    ReplyDelete
  12. Enak ya kalau ke Semarang bisa keliling kota naik Trans Semarang atau Trans Jateng. Dulu ke Semarang tapi belum ada transportasi ini. Makasih info nya mas Ikrom

    ReplyDelete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.