Liburan Sendirian ke Banyuwangi (Bagian 5-Habis): Klenteng Hong To Bio dan Perjalanan Pulang

Akhirnya pulaaang.

Lantaran saya terkecoh dengan perubahan zona waktu yang tiba-tiba, maka saya memutuskan untuk menuju tempat wisata lain selepas salat Asar.

Mas Setiawan mengajak saya ke sebuah kelenteng yang ada di Banyuwangi. Kelenteng ini bernama Hoong To Bio. Kebetulan, kelenteng ini berada pada jalur pulang menuju penginapan sehingga tidak memakan banyak waktu untuk ke sana. Kelenteng ini sendiri terletak di Desa Karangrejo Kecamatan Banyuwangi Kota.

Bagian Sebelumnya: Bagian 4

Hampir sama dengan keleteng lainnya, warna merah, oranye, dan kuning mendominasi bangunan ini. Kelenteng ini merupakan bangunan ibadah induk umat Tri Darma yang ada di Kota Banyuwangi. Maka, bangunan ini pun menjadi kelenteng terbesar di sana.

Berdasarkan tutur yang berkembang, kelenteng ini dibangun sekitar tahun 1768 yang berbarengan dengan pemindahan ibukota wilayah Banyuwangi dari Muncar ke wilayah kota saat ini. Namun, pada tahun 2014, kelenteng ini sempat mengalami kebakaran hebat yang menghanguskan hampir 80% bangunannya. Hingga kemudian kelenteng ini dibangun lagi atas bantuan Pemkab Banyuwangi dan berdiri kokoh sampai sekarang.

kelenteng banyuwangi
Bagian depan kelenteng.

Saya tertarik dengan sebuah pagoda besar yang berdiri di sisi selatan kelenteng ini. Terdiri dari lima tingkatan, ada sebuah ornamen yang menggambarkan sebuah labu. Labu ini kerap saya temui pada serial kera sakti karena bentuknya khas. Beberapa ekor naga juga tampak menjadi penghias pagoda ini di bagian atas.

Selain pagoda, ada juga sebuah bedug dan beberapa altar. Dari informasi yang saya dapat, saat kebakaran terjadi, banyak patung dewa dan tempat peribadatan utama hangus dilalap api. Wah sayang sekali padahal tentu patung tersebut sangat bernilai sejarah tinggi.

kelenteng banyuwangi
Bedug dan bagian penting dari kelenteng

Pengelola kelenteng ini amat ramah. Saya diizinkan memotret bagian luar kelenteng ini dengan leluasa. Bahkan, pengelola tersebut ternyata kenal dengan Mas Setiawan karena ia merupakan majikannya di sebuah toko plastik. Saya beruntung sekali banyak mendapatkan akses ke tempat-tempat penting selama berada di Banyuwangi ini.

Selepas puas, kami pun pamit dan memutuskan singgah sejenak di Taman Blambangan. Taman ini berada dekat dengan Taman Sri Tanjung. Di sana, tampak panggung hiburan yang sudah siap menggelar pesta tahun baru 2019. Atau, tepat pada keesokan harinya di saat saya pulang.

Panggung hiburan Taman Blambangan menjelang malam tahun baru 2019
 

Saya tak begitu tertarik dengan persiapan pesta tersebut. Saya malah ingin melihat relief legenda cerita Banyuwangi. Tampak Sri Tanjung yang dibunuh oleh Sidapeksa di sebuah sungai. Saya masih ingat dalam narasi penggalan cerita buku cetak bahasa Indonesia yang saya baca saat SD dulu, Sri Tanjung mengeluarkan darah yang harum. Keharuman darah inilah yang konon menjadi asal mula nama Banyuwangi yang saat itu masih berada dalam wilayah Blambangan. 

Relief taman blambangan
Relief pada Taman Blambangan

Oh ya, selain digambarkan dalam relief Taman Blambangan, cerita ini juga ada pada relief Candi Prambanan. Sayang, saya tak menemukan relief ini kala mengunjungi candi itu. Barangkali, ada yang pernah menemukannya?

Saat asyik melihat relief, eh tiba-tiba gerimis turun lagi. Saya langsung meminta Mas Setiawan untuk mengantar saya kembali ke penginapan. Saya pun berpisah dengannya dan berjanji bertemu kembali esok subuh saat menuju stasiun. Ia saya sewa lagi untuk mengantarkan saya ke Stasiun Karangasem karena tak mungkin ada angkutan sepagi itu.

Nah, selepas masuk ke penginapan, saya mendapati semua tamu di sana sudah pulang. Termasuk beberapa bule yang baru saja surfing kemarin. Sepertinya semua tamu sudah berpindah ke Bali. Itu diamini oleh Mbak-Mbak resepsionis yang berjaga di sisa malam menginap saya.

“Semua sudah ke Bali, Mas. Di sana kan lebih rame".

Eh iya juga ya. Saya pun berdua dengan mbak itu yang ternyata masih kuliah semester 3. Ia menjadi resepsionis karena tak ada kegiatan selama libur kuliah. Saya menjadi teman mengobrolnya hingga pacarnya datang.

Kami banyak bercerita mengenai Banyuwangi, Malang, Jogja, dan lain sebagainya. Mbak itu menyadari bahwa beberapa tahun belakangan memang dunia pariwisata Banyuwangi berkembang amat pesat. Yah walau saat tahun baru banyak wisatawan yang berpindah ke Bali, tetapi menurut Mbaknya, mereka akan kembali selepas tahun baru.

Saya berpamitan untuk mencari makan malam dan untuk sarapan di kereta. Untunglah, masih ada warung yang buka di malam itu. Dua buah nasi ayam goreng tepung pun saya dapatkan. Saya bisa tidur nyenyak.

Eh saya tak memutuskan tidur ding. Lebih tepatnya tertidur sebentar dan bangun sekitar jam 1 pagi. Saya lihat suasana sudah sepi karena Mbak resepsionis sudah pulang. Saya pun memanfaatkan wifi penginapan yang saya gunakan sendirian untuk melihat video You Tube.

Penampakan halaman penginapan yang luas dan nyaman. Sayang, saat itu tinggal saya seorang.

Agak creepy juga sendirian di sana terlebih ditemani lolongan anjing penjaga. Waktu 4 jam sebelum jam 5 pagi serasa lama. Sampai jam 3 pagi saya melihat video hingga saya tetiba mengantuk dan tertidur lagi. Kalau alarm tak berbunyi, bisa-bisa saya bablas dan kehilangan tiket kereta seharga 65 ribu rupiah. Saya bergegas mandi dan menelepon Mas Setiawan. Alhamdulillah ia sudah stand by.

Namun, masalah datang ketika pemilik penginapan yang berjaga dan sudah janji akan membukakan pintu untuk saya belum bangun. Saya maklum sih karena beliau juga baru datang tepat tengah malam dari Bali. Kasihan juga tapi saya kan sedang kepepet.

Saya menelponnya berkali-kali dan untungnya saat Mas Setiawan datang, beliau sudah bangun. Saya pun berterima kasih banyak padanya dan ia pun juga. Saya langsung bergeges keluar dan menuju Stasiun Karangasem yang berjarak 4 km dari penginapan.

Seharusnya, saya naik dari Stasiun Banyuwangi Baru yang ada di dekat Pelabuhan Ketapang. Mas Setiawan tidak sanggup kalau mengantar saya ke sana jadi lebih baik saya naik dari Karangasem. Hanya perlu waktu 10 menit untuk sampai di lokasi dan ternyata stasiunnya masih belum buka. Saya melirik jam masih jam 4 pagi lewat sedikit.

stasiun karangasem banyuwangi
Lah stasiunnya belum buka.

Saya pun duduk dan melihat para petugas stasiun membuka tirai stasiun, menyalakan lampu, dan menyetel komputer.  Dengan mata yang masih sembab, saya amat paham bukan hal mudah melakukan tugas tersebut. Sungguh salut pada mereka.

stasiun karangasem banyuwangi
Masih pada ngantuk ya.
 

Kereta Tawang Alun yang akan saya naiki datang seitar jam 5 pagi. Kereta ini adalah kereta andalan yang melewati  wilayah Daerah Operasi 9 Jember dan Daerah Operasi 8 Surabaya. Tiketnya cepat sekali ludes karena ia adalah kereta satu-satunya yang menghubungkan Malang dengan Banyuwangi.

Saya mendapat kereta nomor 1 dan langsung membuka bekal untuk dimakan. Saya takut kalau keburu basi dan harus membeli makanan dalam kereta. Untungnya makanan tersebut masih enak. Saya makan dengan lahap dan kemudian tertidur pulas sampai kereta tiba di Stasiun Glenmore.

Inilah salah satu stasiun favorit saya karena namanya unik. Selepas stasiun itu, kereta akan mendaki jalur terjal Pegunungan Gumitir dan melewati Terowongan Mrawan yang panjangnya 690 m. Saya hanya bisa berdoa saat kereta cukup terengah mendaki jalur terjal tersebut.  Mata ini baru bisa menikmati pemandangan saat berada di daerah Kalisat Jember. Tampak Gunung Raung yang tampak gagah memagari persawahan. Saya tak bisa tertidur lagi dan bercerita dengan sebuah keluarga yang akan ke Jakarta.

Pemandangan dari balik kereta

Keluarga itu nekat naik kereta api dari Banyuwangi ke Malang lalu disambung naik kereta Matarmaja ke Jakarta. Jika ditotal, mereka akan menghabiskan waktu selama hampir 25 jam di atas kereta! Saya sempat menawarkan untuk istirahat dulu di rumah saya sebelum naik kereta lagi ke Jakarta tetapi mereka menolak. Saya cukup kasihan dengan kedua anak mereka yang masih kecil tetapi rasa-rasanya mereka menikmati sekali perjalanan tersebut. Kedua orangtuanya membeli makanan ringan dengan jumlah banyak.

Pemandangan lagi

Perjalanan selama 8 jam pun akhirnya berakhir di Stasiun Malang Kotalama. Saya berpisah dengan mereka di Stasiun Malang Kotabaru dan langsung pulang. Walau sempat ikut membeli jagung dan makanan lain untuk disantap saat malam pergantian tahun, nyatanya saya tak sanggup lagi bertahan. Saya pun tertidur pulas hingga tahun berganti.

Sekian.

15 comments:

  1. Seru banget perjalanan ke Banyuwanginya Mas.
    Bikin saya pengen traveling ke Banyuwangi juga.

    ReplyDelete
  2. Kalau melihat dari namanya, kenteng Hoong To Bio termasuk klenteng untuk pemujaan dewa bumi.

    Sungguh perjalanan yang panjang jika naik kereta dari banyuwangi ke jakarta. Tapi perjalanan menggunakan kereta api selalu menawarkan pengalaman tersendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas banyak patung dan ornamen dewa buminya

      seru banget kalau naik kereta emang

      Delete
  3. Akhirnya perjalanan di Banyuwangi selesai juga ya Mas?

    Kalau aku bayangkan, ini mirip pas aku main ke Lumajang. Sampean pakai jasanya Mas Setiawan buat ke stasiun, aku dan 3 temanku juga gitu. Kami nyewa 3 tukang ojek buat nganterin ke stasiun di Kec. Klakah, dan jaraknya lumayan juga dari Lumajang kota. Mana g ada kendaraan umum pula.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak akhirnya pulang juga hahaha

      wah iya soalnya gada angkot ya mbak di sana

      Delete
  4. ya ampun mas Ikrom, aku tu pengin banget main ke Banyuwangi :(
    btw nggilani banget naik kereta 25 jam ya, keren sih itu keluarga. aku naik kereta Pwt-Smrang aja kadang udah nggak sabar turun, hhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahah iya 3 jam aja udah pengen turun ya
      emang gokil mereka

      ayo ke bwi mbak

      Delete
  5. Ternyata banyaaaak banget yah yang bisa kita lihat di Banyuwangi, selama ini saya taunya cuma 3 tempat wisata yang terkenal di sana, mas :3

    Terima kasih tulisannya, saya jadi kenal Banyuwangi lebih dalam dan ingin pergi ke sana kalau ada kesempatan. By the way, foto gunung yang mas Ikrom tangkap dari dalam kereta itu bagus bangetttt, kelihatan jelas gunungnya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya makasih mbak eno
      pas banget itu ada gunungnya
      tapi sayang kaca keretanya kotor di tempatku itu

      Delete
  6. Ya ampun mas Ikrom, senengnya sih lagi pandemi gini bisa liburan, aku mah boro2 hahaha.
    Btw aku juga suka banget ke Klenteng, bagus, bangunan danlain2nya menarik banget

    ReplyDelete
  7. mengenai relief yang seperti di candi. Apakah ada hubungan antara agama Kong Hu Chu dan Hindu Budha ya mas?

    ReplyDelete
  8. blambangan, sekilas mirip koyo trek trekan gunung slamet mas, e itu mah bambangan ding

    xixiix, eh aku malah tertarik pas arep balike loh numpak kereta sik pemandangane alas gumitir lewat kaki gunung raung n trowongan, juga pas ndek tasiun glenmore
    nama nama iki tak asing di telingaku pas aku seneng nyari crita kkn desa penari wkwkkw

    eh itu mas nunggu pagi ditunggoni lolongan anjing n dewean kok medeni yo mas hahahah, untung disambi yutuban...n pas bablas merem ora sampe kawanen banget, jadi bisa budal gasik deh ke tasiun

    pulange tumbas jagung rebus pula, jadi kemlecer wkwk

    ReplyDelete
  9. Seru banget ya, suatu saat nanti setelah pandemi berakhir ingin sekali kesini bersama istri 😊

    ReplyDelete
  10. Asyik ya mas Ikrom jalan-jalan ke Banyuwangi.. Pariwisata Banyuwangi memang berkembang pesat terutama panta-pantai nya. Yang terkenal seperti pulau merah. Aku sich belum pernahke pulau merah. Aku sulu pernah ke Banyuwangi ke pantai Grajagan bareng teman-teman kuliah naik kereta ekonomi lamanya minta ampun.Sekarang udah ada kereta api yang ekslusif ke Banyuwangi.
    Pantai di Banyuwangi bagus-bagus kalau di permak dan dieksplor nggak akan kalah dengan pantai di Bali.

    ReplyDelete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.