Menikmati Semarang Utara dengan Segala Keunikannya

Semarang Utara
Semarang Utara

Halo-Halo, bagaimana kabar kalian semua?

Kalau kabar saya lagi kurang baik karena baru saja sembuh dari sakit demam, batuk, dan pilek. Jadi, lagi-lagi blog ini terbengkalai untuk beberapa saat.

Kali ini, saya mau bercerita mengenai Semarang. Sebelumnya mohon maaf, yang akan saya ceritakan bukanlah wisata instagramblenya melainkan beberapa tempat yang memuat bulu kuduk agak gimana begitu. Tulisan ini terinspirasi setelah saya melihat video dari Asumsi mengenai “red district” di Semarang yang mengupas sebuah daerah yang kerap terjadi tawuran dan tindak kejahatan.

Bagi saya, Semarang itu unik karena bagaikan dua kota yang dijadikan satu. Ada Semarang Atas da nada Semarang Bawah. Seperti kota-kota lainnya, saya juga memilih tempat penginapan yang amat murah. Saking murahnya, saya akhirnya baru sadar bahwa tempat menginap saya dulu ternyata tak jauh dari “red district” tersebut.

Tempat yang saya maksud berada di wilayah Semarang Utara. Saya mulai dari daerah Stasiun Semarang Poncol yang menjadi jujugan saya untuk turun. Lantaran, hostel yang saya sewa hanya berjarak 500 meter dari sana.

Daerah dekat Stasiun Poncol atau yang dikenal dengan Jalan Imam Bonjol sudah dikenal lama sebagai kawasan prostitusi. Bukan hanya Semarang saja sih, Malang juga sama. Di dekat Stasiun Malang dikenal pula sebagai tempat PSK mangkal. Makanya, saat saya berjalan kaki selepas magrib menuju penginapan, beberapa wanita setengah baya tampak duduk di sebuah toko yang baru saja tutup.

Saya melihat mereka sibuk dengan ponsel sambil sesekali membetulkan make up yang belum tertata rapi. Eh ketika saya bertanya, mereka respect lho. Dan saat saya bingung arah menuju hostel, mereka malah memberi tahu saya dengan jelas. Tidak satu kata pun keluar dari mulut mereka untuk menawari saya hal-hal aneh. Tentu, saya pun berterima kasih dan mereka meneruskan aktivitasnya kembali. 


Di dekat tempat mereka mangkal, ternyata banyak juga hotel kelas melati. Yang saya heran, hotel-hotel tersebut tak terdaftar di aplikasi pemesanan. Padahal, harganya murah-murah juga. Tahu gitu saya kan bisa menginap di sana sekalian melihat dari dekat aktivitas para PSK tersebut. Halah.

Hostel tempat saya menginap juga punya cerita. Tapi bukan hostelnya melainkan hotel di seberangnya. Meski namanya keren, dari luar kelihatan creepy. Kusam dan entah apakah ada penghuninya. Saat saya membaca ulasan mengenai hotel tersebut di Google Map, eh saya malah mendapatkan informasi bahwa hotel tersebut pernah dijadikan tempat bunuh diri seorang pemuda yang sedang depresi.

Saya jadi makin parno tapi kepo. Akhirnya, pada suatu kesempatan saat saya berjalan-jalan malam di sekitar Pasar Johar, saya mencoba mendekati hotel tersebut dan sebenarnya biasa saja dalamnya. Cuma bagian luarnya saja yang tak terawat.

Bergeser ke Jalan Pemuda, saya selalu takjub dengan para tukang pijat yang menggelar lapak di pinggir jalan. Tentu, mereka semua adalah laki-laki dan yang dipijat adalah laki-laki. Baru kali itu, hanya di Semarang, saya menjumpai aktivitas pijat memijat di pinggir jalan. Mereka menggelar lapak di sekitar Mall Sri Ratu yang kini sudah tutup. Saya masih sempat ke mall tersebut untuk mencari ATM.

Bagi saya yang hobi pijat, saya sedikit tertantang untuk pijat juga di pinggir jalan. Namun, saya mengurungkan niat. Selain takut masuk angin, apa iya saya telanjang dilihat banyak orang yang berlalu lalang. Kan engga lucu. Meski demikian, bagi saya ini seru aja sih. Antara yang memijat dan yang dipijat benar-benar luar biasa. Saya tidak tahu apakah mereka masih diizinkan praktik di masa pandemi sekarang untuk menjalankan aktivitasnya. Yang pasti, apa yang saya saksikan saat itu, benar-benar membuat saya ternganga.

Bergeser ke arah Layur,  saya juga menemukan sebuah penginapan murah seharga 40 ribu. Namun, kali ini saya mendapatkan private room meski amat sempit. Senangnya, ruangannya ber-AC dan dapat Pop Mie plus air mineral. Tentu, kamar mandinya adalah kamar mandi luar. Bagi saya itu sudah jauh lebih dari cukup. 

Penginapan murah semarang layur
Lumayan kan fasilitasnya

Masalah fasilitas penginapan, tak perlu saya ceritakan. Yang menjadi fokus saya adalah sebuah bangunan yang berdiri tepat di sebelah penginapan. Bangunan itu tampak jadul, kusam, dan sangat khas dengan ketakterawatannya. Saya semakin penasaran karena ada petunjuk usaha salon dan cetak foto yang berada di bangunan tersebut.  

Bangunan lawas yang unik

Keunikan lainnya adalah banyak bangunan di sekitar penginapan yang ternyata pondasinya sudah ambles karena pengaruh naiknya permukaan air laut. Ini mengingatkan saya pada kisah Stasiun Samarang yang merupakan stasiun kereta api tertua di Indonesia. Bekas stasiun tersebut kini digunakan sebagai pemukiman warga.

Nah di daerah sekitar penginapan saya juga banyak rumah yang pondasinya ambles. Rumah-rumah ini biasanya memiliki dua lantai dan lantai pertama menjadi amat pendek karena amblesnya pondasi. Menurut sebuah penelitian, setiap tahun tanah di bagian utara Kota Semarang mengalami penurunan tanah sebesar 8 cm. Penurunan ini disebabkan lantaran kawasan Semarang Utara merupakan dataran rendah yang jenis tanahnya adalah tanah aluvium muda. 

Bangunan masjid kuno di Semarang Utara

Tanah jenis ini akan mengalami pemampatan berkala. Selain pemampatan berkala, jumlah pemukiman yang semakin padat membuat penurunan tanah terus terjadi. Fenomena semacam ini malah yang menjadi daya tarik wisata bagi saya yang tak saya dapatkan, baik di Malang maupun di Yogyakarta.

Melintasi kawasan Semarang Utara dengan berjalan kaki, saya harus terbiasa dengan hawa panas yang menyengat dan kadangkala bau anyir yang menyeruak. Bau ini dari sungai atau parit yang menggenang. Beberapa kampung memang sudah bagus menata lingkungannya tetapi ada beberapa yang masih saya lihat kumuh. Yah memang dekat dengan laut dan pelabuhan dengan berbagai aktivitas manusia yang menyesakinya. Walau begitu, saya tetap senang dengan suasana jadul yang masih terasa berkat banyaknya bangunan kuno yang masih dibiarkan berdiri.

Saya pernah mengajak rekan saya untuk jalan-jalan ke Semarang. Dalam persepsinya, Semarang adalah kota yang tertata rapi seperti pada Lawang Sewu, Simpang Lima, dan Tugu Muda. Ketika ia saya ajak ke sekitar Pasar Johar, eh dia protes dan menyesal datang ke Semarang. Saya malah tertawa riang dan menyatakan bahwa justru bagian Kota Semarang seperti inilah yang membuat saya kangen. Eksotik dan tak saya dapatkan di kota lain. 

Seorang ibu yang sedang menjaga anaknya sambil merokok. Saya cuma kasian sama anaknya yang ikut menghisap asap rokok. Itu saja sih.

Benar, saya selalu kangen dengan Semarang apa pun kondisinya.  Walau saya harus bertemu tukang pijat di tepi Jalan Pemuda, para PSK dan mucikari yang mangkal di dekat Stasiun Poncol. Atau, para pemuda yang sedang minum minuman keras di sebuah gang ketika saya lewat. Persis seperti yang dinarasikan dalam video yang saya tonton.

Apa yang saya paparkan ini bukanlah untuk menjelekkan Semarang. Tiap kota pasti punya sisi baik dan buruk. Malang misalnya banyak yang mengira sejuk dan bagus tamannya tetapi banyak juga lho bagian yang bobrok. Demikian pula Jogja yang tak hanya Jalan Malioboro saja. Ada yang sudah kenal Sarkem kan.

Saya suka Seamrang karena banyak tempat terbengkalai yang punya cerita asyik dan pastinya horor.

Saya hanya ingin menunjukkan ketika kita mengunjungi sebuah kota, bisa saja tak sesuai ekspektasi kita. Lantaran, tiap kota ada sisi baik dan buruknya. Yang terpenting, kita tetap menikmati apa yang khas dari kota tersebut yang tak kita dapatkan di kota kita. Itulah esensi dari kita jalan-jalan. Semisal, kulinernya atau mungkin keramahan orangnya. Dan juga, tetap waspada di tempat baru juga menjadi hal utama.

Oh ya, bicara makanan khas Semarang, saya malah senang dengan gorengannya, terutama heci atau weci. Menurut saya paling enak sih dibandingkan di Malang. Dan pastinya murah. Jadi, kapan kita ke Semarang lagi?

Sepertinya menunggu kasus covid-19 melandai dulu.


25 comments:

  1. waaaaah ketinggalan adoh...ntar aku maratonan nyicil mas hihi
    maklum wingi aku juga ngkes mriyang hihi

    weci ki bakwan apa udu yo...


    ah semarang...

    ah red district...dulu jadi tempat sering tawuran n sekarang banyak mangkal psk bahkan mucikari di eper jalan...ya setiap kota memang punya sudut sudut ceritanya dewe yo.. tapi betul mas, psk tetep manusia ya...kalau ditanya hal serius ya tetep nunjukin jalan tanpa towo towo dagangane hohoho

    oiya...tapi saran nek nginep kelas melati malah medeni e mas, kan sering digrebeg ngko hahahhahahah #kakehan nonton patroli deh gw wkwkkwk

    enakan tetep nek nginep yang uda nampang di booking online nek aku mah..

    btw sik bangunan bekas itu ngeri abis yo mas, tapi gurat2 kejadoelan dan mistisnya membuat jiwa penyuka horror storyku meronta ronta #halah hahhaahahha

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwk iya ya mbak meedeni lek digrebek
      bangunanne ancen banyak yg creepy tapio bagus buat foto foto mbak

      Delete
  2. Mas Ikrom, hola 😁 Semoga cepat sembuh, mas ~ hehehe.

    By the way, baru kali ini saya lihat sisi lain kota Semarang, as usual, mas Ikrom suka bahas yang creepy-creepynya juga 🤣 Padahal selama ini, yang saya lihat, lebih banyak soal keindahan Semarang. However, saya setuju sama mas Ikrom, setiap kota pasti ada bagian cantiknya dan nggaknya. Sama seperti Bali hahahaha 😆

    Ohya mas Ikrom, bangunan-bangunan yang ditinggalkan itu memang dibiarkan begitu saja kah? Kok sampai berakar dan banyak tanamannya. Semenjak saya di Bali, saya sudah jarang lihat bangunan terlantar soalnya mas. Ada sih pasti ada, cuma memang nggak sebanyak di kota lainnya, atau mungkin nggak kelihatan, bisa jadi sayanya yang nggak fokus hahahaha. Namun, ada satu bangunan yang cukup fenomenal, yaitu hotel punyanya Tommy Soeharto, yang stop pembangunannya ditahun 1998. Terus sampai sekarang akhirnya nggak dilanjutkan. Setiap saya ke Bedugul pasti lewat hotel ini, seraaaam 🙈

    Ohya mas saya penasaran, heci weci itu apa? Sejenis martabak, kah? 😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. amin makasih mbak
      wah saya penasaran sama hotelnya Tommy sepertinya dulu pernah lewat
      pasti seram banget tuh mbak

      ini ote ote kalau beberapa orang bilang seperti di gambar terakhir mbak hehe

      Delete
  3. Halo mas Ikrom, semoga sekarang sudah sembuh dari sakitnya ya.😀

    Iya, aku pernah baca memang Semarang bagian Utara itu tanahnya selalu amblas tiap tahun. Agak ngeri juga ya, berarti kalo 12 tahun hampir semeter turunnya.

    Banyak juga ya bangunan kuno yang tidak terawat, mungkin Pemda Semarang tidak ada dana untuk melestarikannya.

    Wow, nginap dekat hotel yang ada orang bunuh diri memang bikin parno, tapi untungnya ada mbak mbak pinggir jalan yang ramah biarpun dandanan nya mencolok ya.🤣

    ReplyDelete
    Replies
    1. amin makasih mas
      iya ini jadi maslaah lingkungan juga
      di jakarta juga ya pokoknya daerah pesisir

      iya mas parno banget hotelnya huhu

      Delete
  4. Halo Mas gimana Kabarnya?? Sudah sehat kah??
    Aku belum pernah main ke Semarang Utara.. wkwkw Padahal pernah tinggal disitu selama 3 tahun lebih. Hahah Kudet emnk..

    Iyupss betul sekali mas... Setiap Kota punya sisi baik dan buruk.. Banyak kenangan banget selama tinggal di Semarang. Jadi sampai sekarang pun hawanya masih pengen ke Semarang terus. heheh

    Mungkin karena Semarang itu salah satu tempat yg jadi Kota andalan para penjajah dulu makanya banyak bangunan lama dan Kuno..

    ReplyDelete
    Replies
    1. yah lumayan mas udah agak mendingan

      wah masak belum pernah mas hehe

      iya banyak kenangan banget di semarang meski banyak bangunan creepyinya hehe

      Delete
  5. Mas Ikrom, minum madu dan istirahat yang cukup yaa.. sehat2 atuh, kan kita mau daftar pejen ih, jangan sakit yaaa.. eheheh
    btw aku kl ke Semarang jarang banget jalan2 malam mas, kalau siang paling juga ketempat yang ramai, hhhh
    iya sih sepakat, setiap kota ada sisi lainnya ya. kl ke Jogja malah sering banget masuk sarkem karena nemenin doi kerja, aku suka masuk sarkem karena bikin otakku pecah penuh pertanyaan, wkwkwk.. lah malah bahas sarkem, btw kl ke Semarang lagi aku mau nyobain weci ah

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah iya habis ini Miss Universe lo ya heheh

      iya mbak aku juga ga berani malam malam banget tajut hihi

      kalau sarkem aku malah gapernah cuma tau aja si sekilas
      makasih mbak ini rutin minum madu aku

      Delete
  6. Aku pengomentar yang keenam mendoakan mas Ikrom saat ini sudah fit kembali kesehatannya.

    Lihat 'penampakan'fito losmen, aku langsung makjLeb .. dan fiiiix .. kalau aku sendirian nginep disana ngga bakalan beraniii .. ,hahaha.

    Cerita tukang pijat di jakanan, aku keingetan ada beberapa bedeng dadakan di pinggir jalan raya samping rel kereta stasiun Jatinegara Jakarta.
    Disana ngga cuma ada beberapa tukang pijat laki-laki yang melayani laki-laki tapi juga campur aduk dengan gelaran pasar pakaian, alat dapur, obat kuat, dll. Dan campur hiruk pikuk suara dari lapak vcd.
    Aktivitasnya mulai sore hari sampai menjelang subuh.

    Aku tau lokasi itu karena aku typenya kan penasaran, sengaja kubelain datang kesana cukup jauh dari rumah kontrakanku di Tebet dan sengaja berlama-lama di area sana buat ngamati aktivitas.
    Seru juga dolan nyeleneh kayak gitu ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. amin terima kasih mas

      wah ada jga ya di JKT aku jadi penasaran
      iya mas seru juga dapat insight baru hehe

      Delete
  7. Beci..atau weci...apakah itu. Ngertiku lumpia doang... Apakah itu sama dengan istilah gorangannya Jogja (tempe, bakwan, dkk)

    Semarang..? Lama nggak dolan ke luar kota. Nunggu Korona reda..we, kok ya Ndak turun2. Beneran deh, 9 bulan terakhir mainku cuma ke tempat2 sepi...was2 klo di kerumunan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. ote ote mbak kalau orang YK bilangnya
      iya sama ini aku juga ga berani keluar dulu masih parno huhu

      Delete
  8. Wah seru wisata ke Semarang, banyak bangunan tua peninggalan sejarah.
    Walapun saya orang Jawa tapi belum pernah menginjakkan ke Kota Semarang, semoga suatu saat nanti bisa menjelajah dari Jawa bagian timur sampai bagian barat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. seru banget amin saya doakan bisa ke jawa tengah dan jawa timur

      Delete
  9. lekas sembuh mas Ikrom.

    Suka dengan ceritanya, eksplor banyak tempat baru dan ngungkap banyak cerita yang belum tentu bisa ditemukan secara umu. Paling lucu pas bahas soal kang pijit di pinggir jalan. Astaga... bisa-bisanya... tapi unik dan cukup bikin ternganga juga sih hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. amin makasih mas
      iya saya juga kaget kok bisanya tapi seru sih hehe

      Delete
  10. Hi Kak Ikrom, gimana kabarnya sekarang? :D

    Unik banget jalan-jalan ke Semarang ya~ ada jasa pijat di pinggir jalan sampai ke bangunan-bangunan lawas yang sepertinya horror. Harus panggil Jurnal risa ke sana untuk diulik nih 🤭

    ReplyDelete
    Replies
    1. lumayan enakan mbak
      iya nih buat uji nyali asyik ya hihi

      Delete
  11. ya, unik.... sepertinya banyak bangunan bersejarah.
    mantap....
    thank you for sharing

    ReplyDelete
  12. Melihat kota dari sisi yang berbeda, seru juga kayaknya Mas.
    Karena nggak selamanya kota itu baik atau buruk doang.

    ReplyDelete
  13. aku suka juga dengan bangunan kuno seperti ini dan di semarang banyak banget yang bisa diexplore.
    di satu sisi tentu saja bangunan bangunan kuno disana potogenic asal pintar ambil potonya
    pengenn bisa blusukan ke jalan jalan kecil di semarang sana, belum keturutan nih mas ikrom
    aku suka weciiiiiiiii, aku jadi penasaran sama weci khas semarang, kira kira sama ga ya dengan weci yang biasa aku beli di malang dulu atau di jember sekarang

    ReplyDelete
  14. di dekat stasiun poncol seringnya aku menyebut dengan sebuta wisata malam. Setiap malam banyak psk yang menanti pelanggannya di sekitar stasiun. Itu sudah berlangsung lama.

    Masjid yang mas ikrom foto itu namanya masjid menara atau masjid layur. Dahulunya menara masjid itu difungsikan sebagai mercusuar sebagai panduan kapal-kapal yang melintas di pelabuhan. masjid juga sudah amblas dari dari bentuk semulanya..hehhehee

    Di semarang bagian utara memang banyak bangunan khas eropa. Hal itu disebabkan karena dekatnya wilayah semarang utara dengan pelabuhan semarang yang menjadi pintu masuk utama perdagangan dan transportasi. Sehingga untuk memudahkan pergerakan logistik, akhirnya banyak bangunan yang dibangun di sana. Saat ini banyak bangunan yang mengalami kerusakan. bukannya tidak dirawat, tapi biaya perawatan bangunan peninggalan jaman kolonial tidak murah tidak boleh asal. Apalagi jika bangunan itu sudah termasuk ke dalam cagar budaya. Mesti dilakukan dengan arahan dan panduan para ahli.

    Area masjid bisa disebut kampung melayu. Dahulunya banyak orang-orang melayu yang bermukim di sana. hidup bergerombol dan akhirnya membentuk sebuah perkampungan.
    yang bikin semarang unik itu sejak dari dulu semarang dihuni oleh lima etnis yang hidup secara rukun dan berdampingan hingga sekarang. Mulai dari etnis pribumi, arab, tionghoa, eropa, dan gujarat.

    ayo mas ke semarang lagi. banyak cerita yang bisa dibahas tentang semarang :D

    ReplyDelete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.