Belajar Memotret di Embung Malangsuko Tumpang

Embung Malangsuko
Embung Malangsuko

Saya masih terus belajar menggunakan kamera mirrorless yang saya gunakan.

Sebenarnya, saya lebih senang menggunakan kamera pro summer karena tak banyak pengaturan yang harus saya lakuan. Akan tetapi, saya masih penasaran jika tidak bisa menggunakan kamera ini dengan baik.

Berhari-hari saya menunggu hujan reda untuk bisa keluar rumah. Walau melanggar anjuran yang seharusnya dilakukan, tetapi saya mencoba meminimalisasi untuk pergi ke tempat sepi dan tak banyak orang. Yang penting, saya bisa belajar memotret dengan kamera yang saya gunakan.

Saya memilih Tumpang sebagai tempat memotret di hari Minggu. Ini tak lepas banyak tempat wisata baru yang masih belum diserbu para penggila foto. Asli, jika saya sudah berhadapan dengan banyak orang yang gemar berfoto, lebih baik saya pulang. Sebagus apa pun tempat itu.

Selepas sarapan pukul 7 pagi, saya langsung tancap ke gas ke bagian timur Kota Malang. Saya bahagia mendapati batas kota dan kabupaten di daerah Cemorokandang sudah memiliki jalan yang mulus. Pasar Sayur di daerah Kedung Boto masih sepi. Entah karena akan dilakukan PSBB atau memang baru ramai saat siang, yang jelas tak saya temukan satu pun pedagang sayur yang dulu pernah beramai-ramai membuang sayur jualannya karena pemerintah membatasi aktivitas mereka.

Saya langsung menggeber motor ke Desa Slamet, Kecamatan Tumpang. Jalan menuju Lembah Tumpang yang pernah saya kunjungi pun masih teringat jelas. Saya memilih jalan tersebut karena ada beberapa wisata air yang terdapat di sekitar Lembah Tumpang.

Mula-mula, saya menuju pemandian Sumberingin. Akan tetapi, pemandian tersebut tutup. Hanya ada beberapa anak kecil yang mencoba masuk melalui sela-sela pintu masuk. Terbersit keinginan untuk mencoba apa yang dilakukan oleh anak-anak itu, saya masih memiliki pikiran waras. Bagaimana dengan motor saya?

Dua anak di bawah umur melongok teman-temannya yang bisa masuk ke dalam pemandian Sumberingin.

Akhirnya, saya pun kembali ke jalan raya karena wisata tersebut cukup singup alias creepy. Siapa tahu ada genderuwo yang menghampiri saya keluar dari pohon bamboo. Saya memutuskan ke tempat wisata lain yang bisa jadi sudah buka.

batas desa Tumpang
Jalan menuju TKP
 

Wisata tersebut adalah Embung Malangsuko. Ternyata, tempat itu masih buka meski tak ada petugas loket yang menjaga. Untungnya, ada beberapa orang yang berjualan di sekitar tempat parkir. Jadi, saya merasa aman.

Untuk masuk ke embung ini, jika ingin memancing sebenarnya dikenakan tiket sebesar 10 ribu rupiah. Lantaran saya hanya berfoto saja, maka saya pun gratis memasukinya. Padahal, banyak sekali fasilitas yang ada di embung ini.

Embung Malangsuko


Fasilitas-fasilitas tersebut antara lain gazebo, tempat memancing, warung, spot selfie, dan sepeda air. Saya baru tahu kalau embung ini baru dibuka pada 2019. Biasanya, dijadikan spot untuk mengunggu matahari terbenam. Lah, saya malah datang saat pagi hari. 

Embung Malangsuko
Biasaya dijadikan spot foto ketika matahari terbenam

Spot selfie

Embung Malangsuko
Para pemancing asyik dengan kegiatannya
 

Meski demikian, saya tak merasa salah waktu saat datang ke danau mini tersebut. Bagi saya, kondisi cuaca yang mendung malah membuat saya tertantang untuk mengabadikan tempat ini. saya mulai memotret dengan berbagai setelan, mulai advance, panorama, wajah, dan sebagainya. Dari sekian setelan tersebut, saya cenderung suka menggunakan mode advance dan panorama.

Embung Malangsuko
Memotret kebun jagung dengan mode advance

 
Embung Malangsuko
Memotret kebun jagung dengan mode panorama

Air danau mini ini tampak merefleksikan obyek di sekitarnya dengan cukup sempurna. Pencahayaan pun bagi saya cukup pas lantaran saya biasanya kacau jika menggunakan mode lain. Tidak hanya itu, saya lebih cepat menyetel pemfokusan lensa dibandingkan mode lain. Jujur, saya memang belum paham untuk mengatur lensa yang dapat diganti tersebut. Bagi teman-teman yang paham masalah fotografi terutama yang pernah menggunakan kamera Fujifilm XA10 bisa bantu dengan komentar ya.

Embung Malangsuko
Saya selalu suka melihat refleksi obyek di air

Meskipun bagi saya embung ini cukup bersih, tetapi masih ada saja beberapa sampah yang berceceran. Padahal, di sekitar embung sudah terdapat banyak tempat sampah. Para pemancing pun mulai berdatangan. Entah, ikan apa yang mereka pancing karena saya lihat dari atas kok isinya ikan mas koki. Apapun itu, sepertinya memancing di Embung Malangsuko ini adalah kegiatan asyik untuk melepas penat. Sepi dan sunyi.

Embung Malangsuko
Saya suka tempat sepi

 
Embung Malangsuko
Tempat sepi tempat mencari inspirasi

Saya berjalan sebentar ke arah kebun jagung milik warga. Tak sampai 30 menit saya menghabiskan waktu di sana karena lagi-lagi saya harus ke tempat lain. Ada beberapa sumber lagi sebenarnya yang bisa saya kunjungi. Namun, saya masih enggan ke sana karena bisa saja tempat wisata tersebut masih tutup. Jadi, saya pun kembali ke Malang dengan hati gembira karena telah berwisata ke tempat yang sepi, murah bahkan gratis, dan bersih.

 

6 comments:

  1. Memang bedanya panorama sama advance di pengaturan kamera apa mas? Saya soalnya kalo foto sukanya pakai hape terus, pakai setelan pabrik jadinya tidak terlalu paham masalah foto.

    Harusnya mas Ikrom ke pemandian sumberingin saja, siapa tahu memang ada penampakan dan kena foto, kan lumayan biar viral.😆

    Tempat mancingnya sepi ya, tapi malah enak kalau sepi, aku juga ngga betah kalo tempatnya ramai.

    ReplyDelete
    Replies
    1. tutup mas hahaha kan itu ada fotonya
      sayang banget si padahal aku pengen banget ke sana itu

      Delete
  2. Horee Mas Ikrom bentar lagi jadi fotografer.. ada yang ketularan.. hahahaha

    Saya tidak punya Fuji X10, kamera saya Canon 700D saja. Cuma, saya ngerti sih dikit-dikit soal fotografi (punya 2 blog fotografi kecil soalnya disana tempat saya menulis terkait potret memotret. Saya masukkan link salah satunya di bawah nama, siapa tahu bisa dimanfaatkan). Maaf ya mas.. siapa tahu bisa dimanfaatkan

    Kalau memperhatikan foto-foto di atas, maaf lancang ya mas, saran saya

    * untuk landscape seperti yang mas potret di atas, salah satu hal terpenting adalah memastikan garis horison luru mas.. Beberapa foto di atas, garis horisonnya sedikit miring. Mungkin bisa diaktifkan pemakaian grid atau garis kotak-kotak yang biasa ada di kamera digital (grid ini adalah alat bantu menerapkan Rule of Thirds)

    * saya pikir untuk landscape sebaiknye dibandingkan memakai fitur panorama bisa merubah aspek rasionya menjadi 16:9 atau yang rasionya besar di lebar. Jadi kesannya lebar. Kalau memakai fitur panorama biasanya agak cembung (o ya mas menggeser kamera kah saat memakai fitur panorama? karena fitur ini digunakan biasanya dengan menggeser kamera setelah menekan tombol shutter)

    * foto mas terkesan gelap, mungkin bisa diatur ISO atau shutter speednya. Biasanya foto landscape memakai aperture kecil (contoh F 5.6 - F 11) dengan shutter speed "lama" antara 1/30 . Dengan begitu detail bisa didapat dan cahaya tidak terlalu gelap.

    * kalau memakai fitur dari pabrik, bisa memakai yang berlambang gunung, ini tanda landscape (bukan panorama). Maaf saya tidak tahu apakah di fuji xa10 ada simbol ini atau tidak. Ini fitur dengan setting untuk landscape

    * di foto daun bercaption "saya suka tempat sepi" karena temanya "tempat" baiknya yang dijadikan blour/bokeh itu daunnya sedangkan tempatnya jelas. Bisa diatur dengan mengatur jarak fokus saat memotret (lebih dekat ke daun) atau mengatur aperture.

    Itu saja dulu saran saya mas..

    Maaf kalau tidak berkenan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pak, saya malah terbantu sekali
      makasih lo komennya sampe saya copy ke notepad hahahahahah

      untuk yang lain saya pelajari dulu karena memang saya batu pegang beberapa kali dan saya payah kalau masalah fotografi
      biasanya pakai pro summer jadi tinggal cekrek otomatis ga bisa diubah

      saya cuma masih riweh masalah garis lurus karena mata saya yang silinder banyak
      pakai bantuan grid masih saja miring
      mungkin harus lebih sabar lagi ya
      di setiap foto mesti saya edit pakai photoscape biar lurus beberapa malah parah banget pak miringnya haha

      oke sekali lagi makasih
      biasanya saya ada temen yg jago foto kayak di pantai itu pak jadi hasilnya bagus
      kalau sendiri si ya gini hasilnya wkwk

      Delete
    2. Semangat mas..mata saya silinder 2 1/2 mas..

      Jangan pake photoscape mas. Ngelurusinnya ribet Pake Picasa mas nanti ada grid yang bisa bantu membuat lurus horison..🙏

      Delete
    3. saya sioinder 4 pak huhuhu parah banget ya

      iya saya juga pernah coba pakai picasa dan tetap aja masih miring huhu
      biasanya dibantu sama teman baru bisa lurus
      (nasib astigmatisme wkwk)

      Delete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.