Mengenali GRIT dalam Diri Agar Produktif dan Lebih Baik

Sumber Gambar: Instagram Rabiya Mateo. Miss Universe Philippines 2020

Memasuki tahun 2021, beberapa rekan saya mengunggah mengenai GRIT mereka untuk menjalani tahun baru ini.

Sebenarnya, saya memaknai GRIT yang diutarakan oleh Angela Duckworth – profesor psikologi di Universitas Pennsylvania –  lebih kepada ketekunan (perseverance)  gairah (passion) untuk mencapai tujuan jangka panjang. Ibarat kata, GRIT sendiri adalah bahan bakar dan kendali dalam diri kita untuk mengarungi kehidupan dan menjalankan kehidupan kita sebagai manusia.

Bagaimana saya bisa menemukan GRIT?

Sebenarnya, tiap orang memiliki GRIT masing-masing. Mereka pun dapat mengembangkannya agar tujuan yang didapatkannya bisa tercapai. Sayangnya, tak semua orang menemukan GRIT mereka sehingga dalam menjalani kehidupan, rasanya kok ya seperti air mengalir saja.

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah mengunggah tulisan mengenai laporan penilaian karakter yang saya lakukan dalam sebuah lembaga. Dalam laporan tersebut, setidaknya ada tiga keahlian dan profesi yang amat menonjol dalam diri saya.

Ketiga keahlian tersebut adalah bidang seni, tekonologi, audio/visual, dan komunikasi, edukasi dan pelatihan, serta bidang pelayanan masyarakat. Jika diaplikasikan dalam kegiatan sekarang, maka saya menekuni kegiatan menulis blog serta mengajar. Saya pun juga sesekali ikut dalam beberapa kegiatan sosial meskipun tidak secara rutin. Nah, bisa dikatakan, dari hasil penilaian karakter tersebut, saya pun memiliki GRIT yang cukup untuk menjalani aktivitas yang saya lakukan.

GRIT dalam Menulis Blog

Dalam menulis blog misalnya, tanpa ada paksaan pun, kecuali saat saya sakit parah seperti bulan kemarin, saya akan konsisten melakukannya. Bahkan, saat saat sakit pun, rasanya banyak sekali ide yang meledak-ledak yang ingin saya tulis. Kalau tidak ingat kata dokter untuk benar-benar istirahat total, bisa-bisa saya masih memegang laptop dengan kondisi batuk dan pilek yang tak henti-hentinya mendera.

Ini membuktikan bahwa saya tidak bisa lepas dari kegiatan tulis-menulis, terutama menulis blog. Saya pun hanya bisa mencatat sedikit ide apa yang ingin saya tulis. Barulah, saat tubuh saya mulai fit, saya pun kembali mengeksekusi ide tersebut. Walau tidak ada kegiatan ODOP atau pun kegiatan perlombaan yang saya ikuti.

Ketika menulis, saya benar-benar berada pada posisi on fire. Saya seperti Catriona Gray – Miss Universe 2018 – saat berlenggak-lenggok di atas panggung dengan pakaian renang dan selempang negara Filipina. Lepas, tanpa beban, dan seakan ingin melakukannya terus-menerus. Ketekunan dan gairah yang disyaratkan dalam GRIT pun benar-benar saya nikmati. Bukan lagi saya cari.

Bagaimanapun hasilnya nanti, entah dibaca orang atau bagaimana, saya mulai tidak peduli. Yang penting, saya bisa menulis sebaik-baiknya dan apa yang menjadi poin bahasan saya bisa saya sampaikan. Bisa jadi, GRIT dalam menulis ini menjadi resep saya tetap menulis meski sedang sibuk. Lantaran, saya sudah mengalokasikan waktu sekitar 1,5 jam sehari untuk menulis dan minimal 1 jam untuk membaca.

GRIT dalam Mengajar dan Pelayanan Sosial

GRIT selanjutnya yang saya miliki adalah mengajar dan pelayanan sosial. GRIT ini sudah saya miliki sejak kuliah. Meksipun saya berkuliah di jurusan Kimia, tetapi entah mengapa saya senang sekali mengajar dan bersua dengan anak-anak SD. Ketika teman lain memberi tambahan pelajaran untuk anak SMA, saya masih konsisten dengan anak SD.

Walaupun bisa dikatakan mengajar anak SD amat sulit, tetapi saya memiliki ketekunan dan gairah untuk bisa ikut serta mencerdaskan mereka. Saya amat bahagia jika ada siswa saya yag mulanya bandel atau kurang bisa dalam menyerap pelajaran, pada perjalanan waktu bisa mulai berubah.

Ketika mengajar di sekolah dulu, saya begitu antusias dalam mengajar apapun mata pelajarannya, terutama matematika. Entah bagaimana caranya saya selalu mencoba agar siswa saya paham materi matematika yang cukup sulit. Dan, pada titik tertentu, saya amat bahagia jika siswa saya ketagihan materi matematika yang saya ajarkan. Saya benar-benar menemukan GRIT ketika saya bisa secara perlahan menerangkan materi matematika secara perlahan, dari yang amat sederhana hingga yang paling sulit.

Tidak hanya matematika, materi pelajaran yang bukan bidang saya pun juga menjadi GRIT saya. Bahasa Indonesia misalnya. Saya begitu antusias ketika mencoba teknik dari beberapa tutor pelatihan dalam seminar-seminar yang saya ikuti. Semisal, mengajarkan siswa saya dalam menemukan ide pokok sebuah bacaan dan merangkainya menjadi ringkasan yang utuh dengan bahasa mereka sendiri. Pelajaran ini menjadi dasar kegiatan menulis untuk tingkatan selanjutnya.

Saya juga menemuka GRIT ketika mengajarkan kesenian pada siswa saya. Saya memang sempat les piano ketika SMP-SMA dulu tetapi tidak saya kembangkan dengan baik. Ketika mengajar, passion tersebut perlahan bangkit kembali sehingga saya bisa sedikit menularkan pada siswa saya.

Empat Area GRIT

Sebenarnya, ada ada empat area GRIT menurut Duckworth. Pertama, adanya minat yang menggairahkan dan membuat semangat. Ini seperti yang saya jelaskan tadi ada dorongan kuat dalam diri sehingga kita merasa begitu bersemangat ketika melakukannya.

Kedua, ada kemunduran sebagai syarat kesuksesan. Nah, ada kalanya, meskipun kita memiliki minat dalam kegiatan tersebut, kita akan mengalami kegagalan atau kemunduran. Seberapa tahan kita untuk tetap yakin saat berada dalam titik rendah tersebut juga menjadi syarat sebuah GRIT. Apakah kita bisa mengambil pelajaran dari kegagalan kita atau tidak.

Dalam hal menulis, saya sudah beberapa kali ditolak oleh penerbit. Namun, saya tidak kapok untuk mengirimkan tulisan ke penerbit lain. Saya berpikir sekarang saya tidak lagi butuh biaya kirim naskah karena sudah bisa mengirimkan melalui surel. Jadi, apa salahnya mencoba lagi. Dan akhirnya, pada 2020 kemarin, naskah saya diterima oleh sebuah penerbit mayor.

Ketiga, kita mencari aktivitas yang kita lakukan bermakna. Meskipun terlihat sederhana, tetapi bagi saya menulis blog adalah kegiatan yang bermakna. Saya kerap mendapatkan DM dari orang yang ingin menggali informasi lebih atas tulisan yang sudah saya unggah. Dengan begini, saya merasa hidup saya bermakna karena bermanfaat bagi orang lain.

Terakhir, ada rasa percaya dengan menjalani aktivitas yang saya lakukan saya bisa bertumbuh dan lebih baik. Ini amat saya rasakan ketika membandingkan tulisan saya pada tahun-tahun sebelumnya dengan sekarang. Meski belum sempurna, tetapi saya bisa mengatakan ada progress lebih baik karena saya juga belajar dari penulis lain. Saya juga mengikuti pelatihan menulis dan mengikuti siaran live IG dari para penulis saat membahas topik tertentu. Meksipun, untuk melakukan hal ini saya harus benar-benar mencuri waktu.

Itulah sedikit bahasan mengenai GRIT yang saya miliki. Saya juga berpedoman pada peribahasa Alah bisa karena biasa. Sebuah keahlian tidak akan bisa diraih tanpa ketekunan dan dorongan dari dalam.

Bagaimana dengan Anda? Sudahkah menemukan GRIT Anda?    

12 comments:

  1. mungkin profesor asal Penyslevania apa itu yahh ahahaha :D menyebut GRIT itu seperti saya memaknainya sebagai tekad dalam hidup

    ReplyDelete
    Replies
    1. kok penys si mah ahahaha
      iya bener tekad dalam hidup

      Delete
  2. hai mas... happy new year 2021.. maaf ya sebab saya baru berkesempatan untuk singgah di sini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. happy new year mbak anis
      iya mbak saya juga belum singgak ke blognya mbak anis
      cus meluncur ah...

      Delete
  3. Meski cara ini cenderung bisa jadi boomerang, saya rasa perlu membaca lebih lanjut tentang GRIT ini. Salah satu artikel yang saya baca cukup bagus dalam membahasnya, tapi saya belum bisa benar-benar mendefinisikan GRIT ini secara langsung.

    Tulisan yang menarik. Saya jadi tau informasi baru soal GRIT ini. Terimakasih Mas

    ReplyDelete
    Replies
    1. bisa baca bukunya mas biar lebih paham dan direkleksikan atau dipraktikkan secara perlahan karena ini proses mas
      terima kasih kembali

      Delete
  4. Mantap GRIT mas memang pas sekali utk Jd seorang blogger produktif.

    Sama dgn mas Rahul, saya Jd ingin cari tahu lebih lanjut ttg GRIT ini. TFS mas

    ReplyDelete
  5. Saya baru pertama kali ini denger soal GRIT, buku apa yang bagus buat belajar lebih banyak tentang GRIT ya, Mas? :O Saya jadi penasaran juga nih GRIT saya di area apa ya kira-kira, hmmm...

    ReplyDelete
    Replies
    1. benar mbak silakan dibaca bukunya nanti akan bisa merefleksikan sendiri tentang GRIT kita

      Delete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.