Lebih Dekat dengan Kehidupan TKW Indonesia dari Channel You Tube Mereka

Seorang TKW Indonesia yang bekerja di Taiwan menunjukkan Silver Play Button bersama majikannya. - Isayang123
 

Beberapa hari terakhir, saya cukup banyak menghabiskan waktu istirahat untuk menonton channel You Tube milik beberapa Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Hong Kong dan Taiwan.

Ketertarikan saya bermula ketika ada rekomendasi video masak seorang TKW saat saya menonton channel Farida Nurhan. Setelah mengulik sebentar, ternyata ia adalah seorang TKW yang bekerja di Hong Kong dan mengurus seorang nenek tua. TKW tersebut bernama Andie Kers atau sering dikenal sebagai Mbak Andie.

Saya tertarik dengah Mbak Andie karena dari video yang ia unggah, tampak tangannya amat cekatan memasak berbagai menu untuk majikan dan dirinya. Tidak hanya itu, ketika ia melahap makanan khas Indonesia seperti sambal dan tempe, tetiba nafsu makan saya ikut bertambah. Mbak Andie – dengan segala kesibukannya yang luar biasa – masih menyempatkan waktu untuk membuat video sekaligus berkabar mengenai nasib TKW di perantauan.

Sejak saat itu, sesuai algoritma You Tube, saya mendapatkan beberapa rekomendasi video lain. Ada yang menjaga bayi, menjaga lansia, hingga ada yang khusus merawat hewan. Semuanya bagi saya amat menarik lantaran sejak dulu kala, saya hanya mengenal kehidupan TKW dari sumber “katanya” atau melihat sekilas penampilan mereka saat pulang ke Indonesia.

Beberapa tetangga dan kerabat yang baru pulang dari negara perantauan sering saya lihat mengalami perubahan yang amat signifikan, terutama dari segi penampilan. Tidak hanya itu, mindset mendapat uang banyak pun kerap hinggap meski pekerjaan mereka jika dilihat tidaklah terlalu istimewa. Apa sih (maaf) enaknya menjadi babu di negara orang? Itulah persepsi yang pernah saya miliki dulu.

Akan tetapi, seiring perjalanan waktu dan dengan melihat video yang mereka unggah, saya memiliki pandangan yang lain. Saya beranggapan bahwa gelar pahlawan devisa benar-benar layak bagi mereka. Tidak saja gelar pahlawan devisa bagi tanah air, mereka juga bisa dikatakan menjadi pahlawan bagi negara tempat mereka bekerja. Kalau tidak ada mereka, apa jadinya warga – terutama para lansia – bisa hidup dengan baik. Mengingat, kebanyakan warga di negara tujuan memiliki prinsip hidup kerja kerja kerja kerja kerja saat muda dan bisa jadi sakit saat tua.


Atas alasan itulah, saya kini lebih tertarik melihat kehidupan para TKW daripada mahasiswa, traveler, atau orang yang bisa dikatakan sukses di negara orang. Perjuangan berdarah-darah para TKW yang mencari sesuap nasi untuk keluarganya di Indonesia begitu membuat saya terlecut kembali untuk bersyukur masih bisa bekerja dengan layak di Indonesia. Tidak hanya itu, spirit yang mereka berikan mengenai kecintaan terhadap pekerjaan membuat saya menaruh hormat pada mereka.

Mbak Andie misalnya. Walau awalnya ia sempat tidak cocok dengan sang majikan – seorang nenek tua – yang begitu cerewet, seiring berjalannya waktu ia berhasil dekat dengan sang nenek. Mbak Andie mencoba untuk ikhlas mengambil hati sang nenek agar hubungan dengannya baik dan ia bisa bekerja dengan baik. Menurut saya, tidak mudah lho memgambil hati orang tua yang kebanyakan sudah memiliki sifat kembali seperti anak-anak.

Tidak jarang, dengan uangnya sendiri, Mbak Andie memasakkan makanan khas Indonesia yang disukai sang nenek. Belum lagi, ketika nenek sakit dan tak mau makan, Mbak Andie pun dengan susah payah berusaha melakukan yang terbaik agar sang nenek bisa makan. Dan saat sang nenek memiliki nafsu makan kembali, rasanya jerih payahnya terbayarkan. Bercerita sambil makan sambal saat malam hari, adalah perayaan kecil atas keberhasilannya.

Lain Mbak Andie lain pula Mbak Tina XL. TKW yang bekerja di Taiwan ini bagi saya cukup kocak karena omongannya yang ceplas-ceplos. Namun, itu malah membuatnya bisa bertahan dari tekanan kerja dan hidup di negara yang hingga kini masih belum diakui kemerdekaanya itu. Saya mendapatkan pelajaran bahwa meski secara pendidikan para TKW tidaklah tinggi – kebanyakan tidak mengenyam hingga bangku SMA – tetapi mereka dikarunai kecerdasan yang luar biasa.


Itu terlihat dari mbak Tina yang mengerti apa saja yang harus ia lakukan dengan cekatan. Ia bisa mengatasi krisis yang terjadi terutama ketika sang majikan – seorang kakek tua yang setengah lumpuh – berada pada kondisi yang tidak baik. Ia juga memiliki teknik yang tepat ketika harus membopong sang kakek dari tempat tidur ke tempat makan atau kamar mandi.Dengan menggunakan korset agar tidak kenser alias peranakan turun, ia amat cekatan melakukan hal itu.

Saya melihat wajah lelahnya di depan kamera masih terpampang nyata. Akan tetapi, wakaj lelah itu seakan hilang dengan tawa dan celotehannya saat bercerita. Mbak Tina kerap memberikan guyonan atas masalah yang dihadapinya. Kadangkala, ia mengajak sang kakek bercuap-cuap dalam bahasa Indonesia agar ketegangan yang ia rasakan bisa berkurang.

Pelajaran penting bagi saya dan terutama bagi TKW yang akan bekerja di Taiwan adalah  mengenai kapan ia harus menurut pada sang majikan dan kapan harus bisa speak up. Mbak Tina juga menekankan, jika ia dikomplain atas pekerjaannya dan memang benar demikian, ia akan meminta maaf serta berusaha untuk memperbaiki. Namun, jika ia merasa benar, ia mengatakan tidak ada salahnya memberikan pemahaman yang baik kepada sang majikan.

Bagi Mbak Tina pemahaman ini penting karena seringkali ia mengalami kondisi yang dilema. Di satu sisi, keluarga dari kakek menuntut memasak dengan takaran tertentu. Di sisi lain, takaran tersebut tidak disukai oleh sang kakek atau bahkan dilarang oleh dokter. Makanya, bisa berkomunikasi dengan sang majikan adalah kunci. Untuk itulah, penguasaan bahasa asing yang lancar juga menjadi senjata agar para TKW bisa bertahan dengan baik.

Kegiatan nge-vlog yag dilakukan oleh para TKW tersebut biasanya diketahui dan mendapatkan izin dari majikan. Mereka pun juga tidak mengunggah kegiatan yang bersifat amat privasi bersama sang majikan dan hanya menceritakan secara garis besarnya saja. Yang terpenting, masyarakat tahu sekilas kehidupan mereka yang seringkali mendapatkan label “katanya”.

Kegiatan lain yang saya sukai adalah ketika mendapatkan izin libur. Dari mereka, saya baru tahu kalau tidak semua majikan di negara tempat mereka bekerja mengizinkan libur secara rutin dalam satu minggu. Ada yang baru setengah tahun bahkan ada yang baru satu tahun. Untunglah, kedua TKW yang saya lihat videonya tersebut memiliki jadwal libur rutin tiap bulannya.

Mbak Tina menggunakan waktu liburnya untuk me time dengan sang suami yang kebetulan juga bekerja di sebuah pabrik di Taiwan. Sang suami sendiri tinggal di sebuah mess yang tak jauh dari rumah majikan Mbak Tina. Mereka kerap makan bersama dan jalan-jalan bersama layaknya sepasang kekasih yang sedang pacaran.

Sementara, Mbak Andi biasanya berkumpul bersama teman-teman TKW di Victoria Park untuk makan bareng. Ditemani Kak Grace sahabatnya, mereka juga kerap mengadakan berbagai acara sesama TKW asal Indonesia. Tidak jarang, untuk menjalin kekerabatan, mereka juga mengadakan kegiatan sosial bersama Overseas Filipino Worker (OFW). Terutama, saat ada TKW dan OFW yang mengalami masalah. Entah oknum agensi yang tidak taat kontrak, dituduh mencuri, disiksa majikan, overstay, atau bahkan sakit keras seperti kanker. 

 


Para pahlawan devisa asal Indonesia dan Filipina bahu-membahu membuat semacam shelter yang berfungsi menampung para TKW dan OFW sementara waktu. Mereka pun mengumpulkan donasi berupa bahan pokok dan keperluan lain hingga mereka bisa mendapatkan haknya dan bisa kembali pulang ke negaranya dengan selamat. Kekompakan pekerja asal dua negara ini membuat saya salut. Di negara perantauan, mereka tidak berkompetisi melainkan saling bekerja sama agar para korban tidak berjuang sendiri. Atau, hingga negara bisa turun tangan terhadap nasib mereka mengingat merekalah salah satu sumber pendapatan dua negara tersebut.


Sebagai penutup, dari video yang diunggah para TKW saya juga bisa mengerti sedikit perbedaan antara Hong Kong dan Taiwan. Semisal, masyarakat Taiwan yang lebih suka mengendarai sepeda motor listrik untuk bepergian. Sementara, masyarakat Hong Kong akan memanfaatkan MRT dan transportasi umum lain untuk bepergian. Banyaknya pabrik di Taiwan juga membedakannya dengan Hong Kong yang lebih didominasi oleh perkantoran. Mungkin lain kali, saya akan mengulas lebih dalam hubungan kedua negara belum merdeka itu dalam hal usaha lepas dari Tiongkok Daratan (RRC).

Jadi, dengan melihat perjuangan para pahlawan devisa negara itu, masihkah kita memandang sebelah mata kerja keras mereka?

 

15 comments:

  1. Jangan dooong, kita nggak boleh remehkan para pahlawan devisa tersebut hehehe, beberapa mba saya mantan TKW juga mas, ada yang Malaysia, ada pula yang Singapore dan Hong Kong. Mereka semua terbukti punya mindset yang lebih bagus ketika mulai bekerja dengan saya, salah satunya mindset untuk terus belajar ~ tipe-tipe pekerja keras 😁

    Terus, dulu mungkin ada yang berpikir, TKW atau TKI itu kerjanya kasar, rendah, dan lain sebagainya, padahal nggak selalu begitu, I mean, nggak semua TKI kerja sebagai pembantu, ada pula yang kerja di pabrik seperti suami mba Tina itu ~ hehehe, di Korea sendiri, banyak menggunakan tenaga TKI (disebutnya PMI) tapi untuk kerja pabrik, bukan kerja sebagai pembantu rumah tangga. Dan ada beberapa mas mba yang kerjanya niat banget, nggak kenal lelah, bahkan kadang ambil dua shift agar dapat gaji tambahan, sebulan bisa pegang gaji over than 5 million won, around 60-an juta. Jadi nggak bisa kita pandang sebelah mata, karena mereka berjasa pada devisa negara dan tentunya keahlian mereka sangat diperhitungkan, makanya negara lain pakai mereka 😍

    Mba saya yang mantan TKW Hong Kong pernah bilang, kenapa Hong Kong suka pakai orang Indonesia sebagai asisten rumah tangga atau penjaga lansia, karena skill orang Indonesia ini bagus sebagai ART ~ jadi secara nggak langsung diperhitungkan, meski mungkin for some people, ah itu hanya pekerjaan biasa. Well, menurut saya, kerja as ART nggak biasa, susah bangetttt, jadi saya salut sama orang seperti mba Tina, mba Andie dan semuanya, yang mau terus bertahan 😆 Yang penting seperti yang mas Ikrom bilang, semoga semua TKI/TKW bisa menjaga diri dan speak up ketika dibutuhkan 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak makanya steoretip yg kurang baik itu harus diubah
      karena mereka berjuang banget dan bertahan buat keluarga
      keputusan bekerja di LN sudah mereka pikirkan dan tentu engga mudah
      makanya salut sama yang masih bertahan dan bisa jaga diri dengan baik ya mbak

      Delete
  2. Oh, iya aku keingetan dulu aku saat punya channel yutub sering saling bwrinteraksi komentar dengan para TKW juga TKI di China juga Hong Kong.
    Lihat video mereka banyak hal menyenangkan diekspos juga aktivitas mereka sehari-hari.
    Rata-rata mereka bercerita majikan mwreka manusiawi dan dianggap dari bagian keluarga sendiri dengan gaji yang layak.

    Tau gitu, dulu milih kerja jadi TKI saja ya ..., gaji jauh lebih besar daripada standar gaji di Indo.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya sekarang banyak dari mereka yang buat YT
      bagus juga si mas biar tau ya kabar mereka

      iya seneng kalau punya majikan baik
      wah iya si mas gaji di sana lebih besar hehe

      Delete
  3. Awalnya aku kira kerjaan tkw itu gampang dan pasti menghasilkan banyak uaang dan lupa memperhatikan perjuangan mereka disana.

    Aku sering nontohln youtube tki di korea, dan itu mereka banting tulang banget buat kerja. Harus disiplin dan menjalankan rutinitas yang itu2 mulu. Kadang ada meyg kerjaanreka bisa dikatakan gak layak dikerjakan oleh perempuan. Salut aja buat tkw atau tki d luaran sana

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya salut banget dengan kegigihan mereka ya mbak

      Delete
  4. Saya mungkin sudah sangat paham bagaimana kehidupan dan perjuangan para TKW ini mas, karena ibu saya sendiri juga dulu seorang TKW. Kebanyakan TKW itu mungkin adalah seorang ibu. Mereka dengan berat hati meninggalkan kampung halaman, keluarga, dan anak-anaknya demi masa depan yang lebih baik. Hidup menjadi TKW pun tidak selalu mulus, bahkan sebagian ada yang kena tipu calo gelap dan jadi korban Human Trafficking, sebagian lagi ada yang dijadikan 'simpanan' majikannya. Sekembalinya dari negeri seberang, yang pintar memanage uang maka dia derajat hidupnya akan naik, tapi tak sedikit yang uang hasil jerih payahnya habis tak bersisa. Memang menarik sih untuk melihat lebih jauh kehidupan mereka. Tulisan yang bagus mas Ikrom.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah salut untuk ibunya mas
      dan memang banyak yg rela engga pulang bertahun tahun
      dan banyak pula yg habis entah untuk apa
      yang jelas perjuangan mereka benar benar layak untuk diapresiasi

      Delete
  5. Sangat kagum sekali lah untuk orang-orang yang bekerja keras diluar sana, tetangga saya ibunya TKW diluar negeri, sudah sangat lama sekali tidak pulang hanya untuk anaknya yang bisa kuliah hingga s2.. Smngt terus buat orang-orang diluar sana, kalian luar biasa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah hebat tetangganya mas
      semoga saja ilmu anaknya juga berkah

      Delete
  6. keren keren tenan para tkw ini ya mas...sungguh salut aku dengan kegigihan mereka mengais rejeki sampai ke negara tetangga

    terlebih walau tamatan ada yang tidak nyampe SMA tapi kok yo dianugerahi kecerdasan yang luar biasa...cepet nyantol aka mudengan...rung tentu aku yen ke luar negeri cepet mudeng bahasa dan lain sebagainya

    terlebih untuk mbak yang ngopeni manula dan sanggup mbopong mbarang loh...ckckckxk...salut tenan padahal wNita...bener bener strong ngopeni simbah simbah sing mpun sepuh dan telaten merawatnya

    dan aku salute lagi pada bisa bikin vlog sehingga bisa mnularkan kisah kisah mereka yang inspiratif walaupun dengan seabreg kesibukan di dunia nyata 😄

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak mereka bner2 menginspirasi
      dan jadi motovasi buat cekatan dalam bekerja apapun kondisi kita ya

      Delete
  7. Gak dong, Maaaaaaaas. Soalnya aku sendiri punya dua teman yang bekerja jadi TKI di Korea dan Jepang. Dan dua-duanya bekerja di pabrik. Jadi gak semuanya yang kerja di luar negeri adalah ART.😄

    Kalaupun yang ART, aku juga gak memandangnya sebelah mata, mas. Pekerjaan mereka baik, membutuhkan skill yang bagus, dan butuh kesabaran dan keuletan. Kita-kita yang di sini mungkin saja gak mampu untuk melakukan sebaik yang mereka kerjakan di luar sana. Apalagi mereka juga membantu meningkatkan devisa negara. Jadi mulia banget yang mereka lakukan saat ini.😆

    Dan lagi aku salut banget dengan jiwa persahabatan mereka, saling tolong menolong yang mereka lakukan kepada sesama pekerja yang ada di sana. Semoga saja mereka selalu diberikan kesehatan dan lancar terus rezekinya. Aamiin.🤗

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak solidaritas mereka bagus banget dan layak dicontoh
      terutama jika ada diantara mereka yang sedang tertimpa masalah

      Delete
  8. aku inget nih, pernah nonton tapi sekilas dan nggak merhatiin nama akunnya.
    aku suka video yang seperti ini, perjuangan mereka di luar sana, semangatnya, dan masih bisa sharing cerita yang inspiratif juga
    gini ini yang bikin aku merasa tertampar juga, semangatku kalah dengan mereka semua. pokoknya keren keren dan keren buat pejuang devisa ini
    nanti pas yutuban lagi aku coba buka bukain lagi

    ReplyDelete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.