Menebak Sumber Dentuman Misterius di Wilayah Kota Malang

Langit mendung di Kota Malang. Foto diambil dari loteng rumah

Dentuman itu masih terdengar hingga sekarang.

Bahkan ketika saya menulis artikel ini, dentuman itu membuat kaca kamar saya sedikit bergetar. Meskipun intensitasnya jauh berkurang dibandingkan pada awal kemunculannya, tetap saja dentuman ini membuat saya dan warga Malang lainnya panik.

Ketenangan warga Malang seakan terusik pada Selasa malam. Saat itu, suara dentuman keras yang begitu kencang didengar oleh hampir sebagian besar wilayah Malang. Dentuman ini mulanya saya kira hanya petir biasa. Lantaran, saat ini sedang musim hujan dan bisa saja petir menyambar kapan pun.

Saya yang antara terjaga dan mengantuk dini hari itu tak terlalu mempedulikan dentuman itu. Saya tidak membuka jejaring sosial dan asyik melihat tayangan TV Filipina favorit saya. Hingga pagi menjelang, saya masih mendengar samar dentuman itu dan WAG kerabat pun mulai heboh. Pertanyaan muncul:

Dari mana asal dentuman tersebut?

Beberapa spekulasi menyatakan bahwa dentuman tersebut berasal dari aktivitas vulkanik gunung berapi. Setidaknya, ada tiga gunung yang dijadikan “tersangka” asal muasal dentuman. Ketiga gunung tersebut adalah Gunung Bromo, Gunung Semeru, dan Gunung Raung.

Namun, pihak terkait langsung membantah jika dentuman itu bukan berasal dari ketiga gunung tersebut karena dari pos pemantauan, tak ada tanda-tanda adanya erupsi atau peningkatan aktivitas selama awal Februari. Meskipun, pada beberapa minggu sebelumnya, Gunung Raung dan Gunung Semeru sedang mengalami peningkatan. Terlebih, Gunung Semeru yang bahkan memuntahkan awan panas hingga beberapa kilometer.

Saya sendiri juga yakin jika dentuman itu bukan berasal dari aktivitas gunung berapi. Alasannya, dentuman gunung berapi biasanya terjadi kontinyu dalam beberapa waktu dan kemudian berhenti. Lalu, dentuman akan kembali lagi kontinyu cukup lama hingga semua material vulkanik termuntahkan. Tanda dentuman ini beberapa kali saya dengar ketika Gunung Merapi mengalami erupsi akhir 2020 lalu. Saat itu, erupsi kecil Merapi membuat dentuman kerap saya dengar diiringi dengan material vulkanik yang mengarah ke wilayah dekat ruko saya di pinggir aliran Sungai Krasak.

Nah, dentuman kali ini terdengar singkat dengan jeda tiap dentuman sekitar 5 detik. Maka, saya mulanya berkeyakinan jika dentuman itu adalah petir biasa karena memang saat ini curah hujan sedang mengalami kenaikan signifikan. Wajarlah jika hujan setiap hari turun dengan deras maka petir akan datang dan menyambar meski kondisi langit sedang cerah.

Hipotesis saya ini akhirnya terbukti dengan adanya informasi dari BMKG bahwa telah terjadi fenomena thunderstorm di wilayah Malang Raya. Alasan ini juga dibuktikan dari peta intesitas petir di wilayah Jawa Timur yang cukup banyak. Wilayah Jawa Timur lain seperti Pasuruan, Sidoarjo, dan Surabaya juga tengah mengalami curah hujan tinggi bahkan beberapa diantaranya terjadi banjir besar.

Nyatanya, informasi dari BMKG itu tidaklah membuat banyak masyarakat Malang puas. Mereka masih saja meributkan apa gerangan yang membuat kaca rumah mereka bergetar. Terlebih, suara dentuman baru didengar ketika malam hari. Meski logika saya mengatakan jika saat malam hari tak banyak polusi suara yang timbul, tetap saja keanehan ini masih menarik untuk diperbincangkan.


Ada dugaan bahwa ada semacam latihan militer yang membuat suara dentuman itu terdengar. Namun, jikalau benar, tentu pihak militer - dalam hal ini TNI - akan memberikan keterangan. Kala di Jogja, saya pernah mendengar  TNI AU memberikan informasi bahwa akan ada latihan terbang personelnya di Lanud Maguwo. Makanya, saat saya masih kos di Blok O dulu, tiap malam saya sudah puas mendengar suara pesawat hilir mudik. Nah, pada kasus dentuman ini, TNI dan Polri juga sudah membantah bahwa ada latihan militer di wilayah Malang. Saya juga percaya pada mereka karena sudah kerap memberi peringatan dan imbauan kepada warga jika benar-benar ada latihan militer.

Spekulasi liar pun bermunculan ketika dentuman itu muncul kembali. Mereka yang masih penasaran karena pada saat malam hari sedang tidak turun hujan dan langit cerah. Hujan biasanya turun saat sore hingga petang menjelang. Kala malam mulai beranjak, langit pun kembali cerah dan saat itulah dentuman terdengar.

Adanya benda ruang angkasa menjadi spekulasi berikutnya. Bisa saja, ada meteor atau benda langit yang jatuh. Namun, spekulasi ini dibantah juga oleh LAPAN yang menyatakan bahwa meteor jatuh kecil kemungkinannya di tempat yang sama. Dan jika ada meteor yang jatuh, pasti akan terlihat apalagi suara dentuman dekat dengan pemukiman warga. 

Jika melihat dan menyimak informasi dari warga, kemungkinan sumber dentuman utama berada di sebelah barat Gunung Bromo. Ini hanya spekulasi.

Ada pula yang menyatakan bawa sedang ada aktivitas dari dalam perut bumi entah apa aktivitas yang dimaksud. Pun demikian, ada aktivitas manusia yang membuat suara dentuman itu terdengar. Lalu, aktivitas manusia seperti apa yang membuat dentuman itu terdengar begitu jelas? Bukankah suara pabrik tak mungkin sekuat itu dentumannya? Dan mengapa dentuman keras itu berlangsung menjelang tengah malam dan mulai menurun saat pagi hari?

Hingga kini, saya tidak berani menyimpulkan dan berspekulasi selain meyakini informasi dari BMKG. Bagi saya, penjelasan adanya thunderstorm masih cukup masuk akal. Saya teringat suara dentuman pada film Twister yang masih terngiang jelas. Pun demikian dengan cover sebuah majalah yang saya baca di akhir tahun 1999. Cover itu memperlihatkan badai di sebuah negara –entah negara mana – yang bagi saya saat itu amat mengerikan.

Makanya, saya memilih berdoa saja dan mematikan ponsel sambil menarik selimut dan berharap semua baik-baik saja. Ada banyak fenomena di dunia yang tidak bisa dijelaskan secara sederhana. Walau jujur, mengarungi malam dengan suara dentuman yang tidak jelas cukup membuat siapa saja tak bisa tidur dengan nyenyak. Sama tidak nyenyaknya saat saya mendengar suara gaduh seperti drum band di malam hari saat berada di Jogja. Lagi-lagi, semuanya serahkan saja pada Tuhan. Bukankah lebih baik demikian?

Selamat tidur.

22 comments:

  1. Sebagai tetangga kabupaten, sempet rame juga diperbincangan orang kantor. Dan sepupuku yang tinggal di Malang juga sempet update. Pendapatku sih sama kayak Mas Ikrom, thunderstorm lebih masuk akal.

    ReplyDelete
  2. Waduh, awal tahun ini kok banyak banget bencana alam, ya.
    Sekarang ditambah lagi ada suara musterius di Malang ..., apa mungkin pengaruh dari suara dari dalam perut bumi akibat beberapa gunung erupsi bersamaan ya, mas ?.
    Tercatat ada 4 atau 5 gunung berapi aktif bersamaan.
    Ngga kebayang kalau meletus bersamaan gimana seremnya.

    Semoga semua keadaan aman-aman saja.

    ReplyDelete
  3. Ajaib juga ya, Mas Ikrom. dentumannya ada, bendanya tiada. Selamat berakhir pekan.

    ReplyDelete
  4. Semoga baik-baik saja ya semua teman2 di sana.. Kemarin saya sempat berpendapat kalau itu ada aktifitas dari dalam perut bumi.. Yah saya kait-kaitkan dengan Lapindo. Kebayang kan sekian lama lumpurnya muncrat, tentu bagian dalamnya berongga (siapa tahu perlahan runtuh), Ehhh ternyata yang benar malah adanya thunderstorm...

    ReplyDelete
    Replies
    1. amin iya ada yang mengaitkan dengan lapindo
      semoga saja tidak

      Delete
  5. Oh...dentuman itu berhari-hari to? Tak pikir sehari aja..pas jd TT tweeter itu. Dan blm ketauan itu apa sampe sekarang? Ngeri yaa...takutnya bunyi dr dalam bumi. Ngeri klo alam smpe marah..

    ReplyDelete
  6. kalau saya yang alaminya pasti sukar untuk lelapkan mata��

    ReplyDelete
  7. yups...masuk akal spekulasinya...
    setuju, kita hanya bisa berdoa....mudah mudahan semuanya baik baik saja.... aamiin

    ReplyDelete
  8. fenomena alam ini pernah terjadi sebelumnya dan sempat viral.. buat nebak letaknya rasanya cukup sulit kalo sekedar diterka hehe

    ReplyDelete
  9. Semoga memang ga ada apa2 dan hanya suara guruh yaa mas. Agak serem sih memang. Aku blm pernah denger suara letusan gunung api. Cuma ngebayangin aja selama ini. Pernah baca pas krakatau meletus THN 1883 katanya suara sampai terdengar ke Australia dan Srilanka.

    Aku jujur ga bisa bayangin mas, sekeras apa kalo bisa kedengaran sampe kesana :o. Apa ga budeg itu telinga yaaa, setidaknya yg tinggal di Indonesia. Kalo yg Deket gunung mah, udah pasti ga selamat.

    Btw, serius denger suara drumbband di Jogja?? Hahahahaha ngeriiii... Nyai lagi jalan2 Ama pasukan kali yaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya serem banget mbak apalagi pas kenceng dan bikin geter

      aku cuma skli kalau suara drum band
      engga tau si sumbernya dari mana katanya si gitu
      ahahahah
      ini udah jadi rumor lama

      Delete
  10. Thunderstorm mungkin Mas.. haha..
    Skrang yah di tempat saya sering hujan petir.. itu kaalu geluduk gede menyambar.. kaca jendela goyang2 kaya wuhhh.. hahah

    ReplyDelete
  11. Aku pernah mendengar dentuman gunung Kelud meletus tahun 2014 silam, mas. Dentumannya keras sekali dan berkali-kali. Itu juga terjadinya di tengah malam. Bener-bener mencekam banget saat itu. Apalagi listrik sampai padam. Pas keluar rumah, yang terlihat hanya gelap, petir menyambar-nyambar secara terus-menerus, dan kalau kita nyalain senter ke arah luar rumah, bisa dilihat kalau diluar hujan deras. Tapi hujannya bukan air, melainkan pasir. Ngeri banget pokoknya pas ingat waktu itu 😱. Gak kebayang gimana perasaan warga yang rumahnya lebih dekat lagi dengan gunung Kelud..

    Tapi semoga saja yang di Malang hanya suara petir biasa ya, Mas. Jangan sampai terjadi yang gak diinginkan di sana. Sudah cukup Indonesia terkena banyak bencana di awal tahun ini. Jangan sampai nambah lagi di Malang, atau daerah lainnya lagi.😭

    ReplyDelete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.