Cerpen | Hadiah Lebaran

 

Anak-anak itu berlari kencang menuju rumah mereka masing-masing. Sembari berlari, mereka terus mengejek seorang pria yang tengah duduk di sebuah bekas warung.

Berada cukup jauh di belakang mereka, aku sempat ragu untuk melewati bangunan berdinding gedhek itu. Ibu mewanti-wantiku agar aku hati-hati saat melewatinya. Ia berkata, kalau aku tidak berani, lebih baik aku menunggu bersama Pak Satpam di sekolah. Menunggu ibu yang sedang bekerja hingga ia bisa menjemput.

Kulihat sesosok pria yang berteriak seperti kesetanan itu membawa sebuah tongkat kayu besar. Tak berselang lama, ia menatapku.

Aku terkejut dan mulai melangkahkan kaki ke belakang. Berharap ia tak mengejarku, tiba-tiba ia tersenyum kepadaku. Lambaian tangan segera ia berikan dan menjadi tanda agar aku tidak takut.

"Ke sini. Ayo kamu ke sini," ajakan itu ditujukan kepadaku.

Aku masih takut. Ingin rasanya menangis. Kalau tak ingat ini bulan puasa, aku sudah akan menangis sekencang-kencangnya.

Pria itu tahu aku ketakutan. Ia lalu medekatiku dan melemparkan tongkatnya. Ia tak akan memukulku. Aku yakin itu.

Aku jadi sedikit tenang. Namun, bau menyengat yang hinggap kemudian kembali membuatku tak nyaman.

"Kamu mau pulang?" pria itu bertanya.

Aku hanya mengangguk. Ia lantas menggandeng tanganku dan membawaku ke bangunan lapuk tempatnya tinggal. Aku masih mematung dan tak tahu apa yang harus kulakukan. Tapi, selangkah demi selangkah, aku mulai mendekati pria itu.

Di depanku, kini pria berbaju lusuh dengan kain sarung yang melintang tampak mulai mencari sesuatu di dalam warung itu. Rambutnya acak-acakan dan aku bisa bertaruh kalau ia tak pernah keramas untuk berapa tahun. Beberapa puntung rokok tercecer di sekitar lantai warung itu.

Tak lama kemudian, ia mengeluarkan sepasang sepatu yang tak asing bagiku.

"Itu sepatuku. Dari mana kau mendapatkannya?" Aku bertanya dan segera meraih sepatuku.

Ia hanya tersenyum dan tak menjawab. Sepatu itu segera berpindah ke tanganku.

Lalu ia bercerita, berkat menemukan sepatu itu, kini ia punya proyek besar. Ia menyebutnya proyek untuk membuat istana baru. Istana ini nantinya bisa aku gunakan juga untuk bermain.

"Di mana istana itu?" tanyaku.

Ia menjawab ya di sini. Aku tak percaya. Di mana?

Mana mungkin warung kecil ini bisa menjadi istana?

Ia segera tahu akan keraguanku. Lantas, ia mengajakku ke bagian belakang warung itu dan menunjukkan hasil kerja kerasnya.

Aku takjub. Di sana, ada sebuah mainan kapal-kapalan yang terbuat dari kayu. Ada pula sebuah mainan kuda, sebuah kolam pemancingan kecil, dan beberapa patung. Dulu, ketika warung ini masih buka, yang kuingat di bagian belakang itu hanyalah pekarangan kosong yang sering digunakan untuk tempat kencing beberapa pembeli. Aku sempat bertanya kepada ibuku apa begitu cara orang dewasa saat buang air kecil.

Aku mau mencoba mainan-mainan itu. Tapi, ini sudah mulai sore. Ibu pasti mencariku dan aku harus segera pulang untuk bersiap berbuka puasa.

Aku lantas pergi. Ia hanya menatapku dan melambaikan tangannya yang nampak keriput. Tiba-tiba, aku ingin kembali ke tempat itu lagi.

Esok harinya sepulang sekolah, aku melihatnya kembali sambil membawa tongkat kayu untuk menghalau anak-anak itu. Entah kenapa, kali ini aku tidak takut. Lagi-lagi, ia melemparkan tongkat itu saat mengetahui kedatanganku dan melambaikan tangannya padaku.

Aku tersenyum dan mendektinya.

"Apa yang kau buat hari ini?" tanyaku.

Ia hanya menjawab akan membuat roket. Aku sempat tak percaya lagi kalau ia melakukan hal itu. Tapi, ketika aku masuk ke pekarangan belakang warung itu, tampak sebuah kerangka dari bambu-bambu yang sudah menyerupai roket. Aku heran kapan ia mengerjakannya. Padahal, kemarin benda itu masih belum nampak.

"Itu sungguhan roket?" tanyaku.

Seperti biasanya, ia hanya mengangguk. Tak lama, ia segera meneruskan pekerjaannya membuat roket itu. Setinggi dua kali orang dewasa, roket itu bisa dimasuki oleh dua anak seumuranku. Ia membuat sebuah pintu kecil yang bisa terbuka dengan bantuan pengait kawat yang ia pasang di bagian depan.

"Aku mau masuk". Tiba-tiba keinginan itu timbul. Lantas, aku masuk ke dalam roket itu dan menemukan beberapa pernak-pernik dari botol bekas yang sudah dicat tergantung di dalamnya. Pernak-pernak itu tertata rapi dengan beberapa gambar ornamen dari kayu yang juga tergantung.

Wah, ini keren sekali. Anak-anak itu pasti menyesal sering mengejeknya. Padahal, ia bisa membuat roket sebagus ini.

Beberapa saat kemudian, ia membawa sebuah tas kresek berisi gorengan. Ada pisang goreng, singkong goreng, dan beberapa potong roti goreng. Dengan santainya ia mengambil sebuah pisang goreng dan memakannya dengan lahap.

"Kamu tidak puasa?" tanyaku heran.

Ia menggeleng dan memberikan beberapa gorengan itu kepadaku agar aku mengambilnya satu. Untuk apa puasa katanya. Ia beralasan, orang seperti dirinya malah tidak boleh berpuasa.

"Kenapa bisa begitu?" tanyaku kemudian.

Ia tak menjawab. Aku disuruh bertanya kepada guru agamaku. Ia mengatakan itu sambil terus memakan beberapa gorengan dengan lahap.

Ia menikmati potongan gorengan demi gorengan seakan tak ada beban. Ah, sungguh enak menjadi dirinya. Bisa tidak puasa dan membuat mainan.

"Aku mau main lagi." kataku. Aku tak ingin melahap gorengan itu karena aku sudah berjanji untuk tetap berpuasa.

Tak berselang lama, aku mulai masuk dan keluar mainan roket buatan itu. Menaiki kuda dan kapal, hingga aku merasa bosan kembali. Saat kudekatinya yang tengah membuat sebuah patung dada sesosok wanita dari kayu, aku bertanya siapa ia. Aku tak pernah tahu tokoh kartun seperti itu. Apa ia sosok kartun yang baru tayang di televisi atau bioskop. Ah rasanya tidak mungkin.

 Kalaupun pernah ada, mungkin teman-temanku sudah bercerita.

"Ini putri kahyangan", katanya singkat. Putri kahyangan? Siapa dia?

Ah sudahlah, aku tidak ambil pusing. Aku masih ingin mencoba menaiki mainan kuda kayu itu. Enak sekali rasanya bisa berayun-ayun sambil ditemani sepoi angin yang berembus dari pohon-pohon di pekarangan itu.

Hari demi hari di sisa Ramadan itu terus kuhabiskan bersamanya. Tak ada siapa-siapa di rumah. Ayah ibuku sering pulang sore. Bermain dengan anak-anak itu? Ah aku tidak suka. Mereka bahkan mengataiku gila beberapa hari terakhir ini. Padahal, aku kan tidak gila. Guru di sekolahku saja bilang aku pintar.

Bahkan, kemarin, ketika aku bertanya kenapa pria di bekas warung itu boleh tidak puasa sedangkan aku tidak, guru agamaku malah berdebat denganku. Jawaban darinya sungguh tak memuaskan. Pokoknya, aku harus berpuasa. Tapi kenapa ia boleh? Padahal, ia juga sama sepertiku. Ia juga bermain bersamaku. Ia juga sudah dewasa.

Pertanyaan itu tak segera terjawab. Hari demi hari di pertengahan puasa berganti menjadi penghabisan bulan ini.

Hingga tibalah hari perpisahan itu tiba. Masih kuingat, beberapa hari sebelum Idulfitri, aku harus berpisah dengannya. Hari terakhir masuk sekolah dan aku mulai berniat  untuk datang ke warungnya . Tapi, kulihat ia merapikan beberapa pakaiannya dan barang-barang pribadinya yang lain.

"Kamu mau ke mana?" tanyaku keheranan.

Akan ke kampung halaman, ia menjawab dengan lirih sambil menatap beberapa mainan dan patung yang sudah ia rampungkan. Termasuk, patung wanita putri kahyangan yang baru kemarin ia pahat.

"Lantas, apa yang akan kau lakukan di sana?"

Ia berkata, ia akan membuat ayam bakar. Ia akan memotong ayam itu menjadi beberapa bagian untuk diberikan kepada anak-anak yang mau bermain bersamanya di sana.

"Wah aku mau. Nanti sisakan untukku ya."

Ia hanya mengangguk dan kembali mengemasi barang-barangnya. Spontan, aku mulai mendapatkan ide untuk memberinya hadiah spesial.

"Kau tunggu dulu sebentar, aku pulang dulu mengambil hadiah untukmu!"

Lagi-lagi, ia hanya mengangguk sambil terus mengemasi barang-barangnya.

Aku berlari ke rumah dan mencari bibi. Memintanya untuk membuka kamar almarhum kakak laki-lakiku yang meninggal beberapa tahun yang lalu. Bibi masih bingung dengan permintaanku. Tapi, ia akhirnya menuruti keinginanku lantaran aku terus uring-uringan.

Kucari sebuah kaos yang begitu disenangi mendiang kakakku. Baju berwarna putih dengan sebuah gambar kartun. Aku segera berlari menuju bekas warung  itu. Aku ingin memberinya hadiah. Kata guruku, menjelang Idulfitri adalah saat paling baik untuk memberi kepada orang tedekat yang membutuhkan. Aku rasa, ia adalah orang yang paling tepat menerima hadiah itu.

Untunglah, ia belum pergi. Ia menutup pintu bekas warung itu dan akan beranjak berjalan meninggalkan tempat yang ia tinggali selama ini.

"Ini untukmu. Ini hadiah Idulfitri. Nanti saat labaran kau pakai, ya!" pintaku.

Ia tersenyum simpul dan memasukkan baju pemberianku ke dalam tasnya. Aku senang sekali meski harus berpisah dengan teman baruku ini.

Ia berjalan menjauhiku dan terus menjauh.

Saat kembali pulang, tiba-tiba nampak sekilas sebuah kertas dengan tulisan tangan tertempel di dekat dinding warung itu. Kuambil kertas itu dan kubaca isinya.

"Teruslah bermain di sini. Nanti akan kukirim ayam bakar yang aku potong".

Aku sangat gembira. Artinya, ia akan kembali lagi dan bisa bermain bersamaku. Dan tentunya, kami akan makan ayam bakar bersama. Sungguh, ini momen Idulfitri yang paling berkesan untukku.

Tak terasa, hari Idulfitri pun tiba. Keluarga besarku berkumpul di rumahku. Aku yang biasanya tak menikmati kegembiraan itu, sejenak bisa larut dalam kebahagiaan karena menemukan teman baru. Meski, ia kini sedang pulang kampung. Aku sudah tak sabar menunggunya kembali.

Para orang tua mengobrol seputar kehidupan mereka dan aku masih terpaku melihat berita arus mudik dan arus balik. Pikiranku menerawang kepadanya yang tengah pulang kampung.

Lalu, tiba-tiba berita beralih kepada berita kriminal pembunuhan. Dan aku tercengang. Ada sosoknya di sana. Ia diborgol dengan didampingi Bapak Polisi.

"Ma itu Atim, Ma. Itu temanku!"

Sontak, teriakanku membuat keluarga besarku kaget.

Mereka mulai melihatku dengan tatapan aneh. Ibuku lalu mendekapku dan mulai mengajakku masuk ke kamar.

"Iya, Ma. Itu Atim, Ma. Baju itu pemberianku kemarin. Baju kakak yang ada gambarnya Rugrats! Aku mau ke sana, Ma!"

Ibuku terus menyeretku ke kamar dan ia lalu mengunci pintu kamar dengan segera.

Aku menangis hebat dan terus menggedor pintu hingga semua orang di rumahku pergi satu per satu. Aku terus menangis hingga tak lagi bisa bangun.

Entah, berapa lama aku tertidur. Tapi kini aku tidak berada di kamarku lagi. Aku ada di rumah sakit dengan selang infus menempel di tanganku.

Kulihat di sekeliling, ada ayah yang menungguku sedang membaca koran.

Di halaman depan koran itu, tertulis sebuah berita dengan judul besar:

"Mutilasi di Malam Idulfitri".

Tulisan itu sangat jelas dan berpadu dengan gambar Atim yang masih mengenakan kaos dariku. Tak tahu lagi harus berbuat apa, tubuhku sangat lemah. Aku kembali tidur dan bermimpi bermain bersamanya sambil menikmati potongan ayam bakar yang sangat lezat. Mimpi itu terlihat nyata.

10 comments:

  1. ketika ada kakek tua yang bisa ngapa-ngapain gitu aku teringat sama film The Little Prince.. tapi ternyata akhirnya begitu T.T

    ReplyDelete
    Replies
    1. oh ya the little prince aku inget film itu mas

      Delete
  2. Walah, endingnya. Berharapnya happy ending. Ternyata sungguh tidak terduga. Hiiks
    Cerpen yang bagus mas. :D

    ReplyDelete
  3. Kalo aku perhatikan, mas Ikrom ini suka membuat cerpen dengan tema gelap, contohnya cerpen hadiah lebaran ini. Sepertinya Atim itu orang dengan gangguan jiwa ya, kalo ada anak baik maka ia akan baik, tapi kalo anaknya mengejek maka akan seperti ending nya yang tulisannya besar.😱

    ReplyDelete
    Replies
    1. eh iya saya juga baru nyadar suka nulis tema ginian hahaha

      wah mas agus selalu tepat kalau nebak cerpen saya :)

      Delete
  4. eeee....ampe speechless ga bisa ngomong apa apa

    apiiik mas...hahhahaha

    aku serasa kayak baca cerpen cerpen pas ku rajin baca majalah horison dulu huhu

    eh curigaku kok ayam bakar itu bagian dari tubuh mutilasi itu ya huahhahahahha

    horror tenan si atim ki

    beliau ga waras kan..kan makan gorengan amarga ga puasa...tapiiii...jangan jangan yang dimytilasi itu adalah...eh dudu anake si bibi kan...nek anake bibi bukane ninggale wes sue ya...tar takcermati sekali lagi coba hihi

    btw kaos rugrats..iki kartun ning global tipi kan wkakakak

    ReplyDelete
    Replies
    1. walah mosok se mbak haha
      kukira ini cerpen yang gagal

      iki bien terinspirasi dari kasus wong edan sing mutilsi nang pasar besar

      hahah duduk lah mbak beda cerita tapi plot twiiste sampeyan bisa juga masuk akal

      iya iku kartun horor bayi bayi nang global TV bien sadurunge spongebob

      Delete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.