Mencoba Lebih Simpel dalam Mengelola Uang Tunjangan Hari Raya (THR)


Sudah 3-4 tahun ini saya tidak menerima uang Tunjangan Hari Raya (THR).

Alasan saya tidak menerima uang THR adalah karena saya tidak lagi bekerja di bawah kendali orang lain atau instansi tertentu. Saya bekerja mandiri atas usaha saya sendiri. Meski tidak mendapat THR, bukan lantas mengecilkan hati saya dalam menyambut Hari Raya Idulfitri.

Tidak jarang, orang tua siswa saya memberi uang lebih ketika membayar les sebagai uang THR. Kalau tidak begitu, biasanya mereka memberi saya paket parcel lebaran atau pakaian sebagai tanda pemberian THR. Tentu, saya amat bersyukur dengan pemberian mereka yang sering tidak saya duga.

Setiap bulan, saya juga menyisihkan uang saya untuk kebutuhan Idulfitri. Saya membuat rekening khusus di sebuah bank yang memiliki ATM dengan pecahan uang nominal 20.000. Saya melakukan ini dengan tujuan sebagai jaga-jaga jika saya tidak mendapatkan uang baru menjelang Idulfitri.

Untuk apa uang tersebut?

Tentu saja, uang tersebut saya gunakan untuk memberikan galak gampil, salam tempel atau angpao kepada sepupu/keponakan yang masih kecil dan belum bekerja. Bagi saya, memberi uang ini tidak hanya sekadar tradisi tahunan. Pemberian ini juga berarti bentuk syukur atas apa yang saya peroleh selama setahun.

Keluarga dekat menjadi prioritas saya dalam memberikan uang tersebut karena kami memiliki ikatan yang erat dan tidak setiap hari berkumpul. Bagi saya, menyisihkan dan memberikan galak gampil semacam ini adalah sebuah kebahagiaan. Dulu, ketika saya masih kecil sangat bahagia menerima uang tersebut yang bisa saya gunakan untuk membeli mainanan atau kebutuhan lain. Kini, melihat mereka menerima uang tersebut, rasanya saya juga ikut gembira terutama jika ada keluarga saya yang sudah yatim sedari kecil.

Alokasi anggaran yang tak kalah penting adalah untuk zakat fitrah dan sedekah. Bulan Ramadan adalah bulan mulia yang merupakan waktu tepat untuk bersedekah dan mengeluarkan zakat. Uang THR juga saya sisihkan untuk keduanya yang menjadi prioritas tahunan. Zakat fitrah berupa beras sebanyak 2,5 kg menjadi sesuatu yang saya dahulukan. Barulah kemudian sedekah sesuai kemampuan saya.

Untuk zakat fitrah, biasanya saya menyalurkannya ke masjid di sekitar rumah saya. Untuk sedekah berupa kebutuhan pokok, biasanya saya memberikan pada mereka yang telah membantu saya tetapi masih hidup di bawah garis kemiskinan. Beberapa diantaranya adalah tukang becak yang menyeberangkan saya di jalan raya. Saya memang memiliki fobia ketika menyeberang sehingga keberadaan mereka sangat membentu. Sebagai ucapan terima kasih, saya biasanya memberikan bingkisan bahan kebutuhan pokok beberapa hari sebelum lebaran dari uang THR kepada Bapak tersebut.

Jika kewajiban untuk orang lain terpenuhi, maka saatnya saya memenuhi kebutuhan pribadi dari uang THR. Waktu lebaran bisa menjadi waktu yang tepat untuk mengganti barang pribadi yang sudah tidak layak. Terutama pakaian, sandal, dan beberapa barang penting lain.

Meski sebenarnya kegiatan ini tidak harus dilakukan saat Idulfitri, tetapi karena saya ada waktu dan uang yang lebih, maka saya melakukannya pada waktu menjelang lebaran. Di samping itu, biasanya pada waktu-waktu menjelang Idulfitri banyak sekali obralan pakaian yang dilaksanakan. Tidak hanya itu, banyak pula saudara atau teman yang menawarkan  barang dagangannya. Tidak jarang, saya membeli saja dari mereka. Ya, hitung-hitung melariskan dagangan mereka. Saya berpinsip bahwa pakaian atau bahan sandang lain yang saya beli tidak harus mahal. Namun, yang penting awet dan tahan lama serta nyaman saya kenakan.

Kalau masih ada sisa THR da nada kesempatan libur, maka saya menggunakan uang THR untuk liburan. Kebetulan, setiap Idulfitri, saya memiliki waktu libur sebanyak 2 minggu sama dengan anak-anak sekolah. Waktu libur yang amat panjang itu bisa saya gunakan untuk menjelajah ke tempat-tempat tertentu.

Sayang, dengan pengetatan perjalanan akibat covid-19, kini saya lebih memilih untuk liburan di sekitar rumah saja. Kalau tidak, saya menyewa hotel atau penginapan untuk staycation. Walau tidak menjelajah seperti tahun-tahun sebelumnya, yang penting saya bisa liburan.

Sebelum bekerja kembali, saya juga kerap memanfaatkan waktu untuk pijat refleksi dan perawatan kulit. Lumayan juga sekalian menghilangkan stres. Malah, dengan tidak pergi jauh akibat covid, saya lebih bisa meluangkan anggaran THR untuk dua kegiatan tersebut.

Saat libur lebaran sudah habis dan uang THR masih ada, maka saya pun menyisihkannya untuk kegiatan menabung. Biasanya sih, sekitar 30-40% dari uang THR yang masih tersisa. Saya memang bukan orang yang gemar menghabiskan uang THR sampai ludes. Sayang saja jika semuanya ludes tak tersisa padahal kebutuhan di waktu mendatang masih banyak.

Uang sisa THR ini juga kadang saya gunakan untuk ikut arisan daging, arisan kue, atau arisan lain yang hasilnya bisa saya ambil pada lebaran tahun mendatang. Saya ikut ibu saya yang sudah lama bergabung dengan arisan tersebut. Biasanya, saya hanya perlu membayar antara 5.000 hingga 10.000 rupiah per minggu untuk arisan tersebut. Lumayan pada lebaran tahun berikutnya saya tidak perlu lagi pusing mencari bahan kebutuhan lebaran karena sudah saya beli lama dan seringkali diantarkan oleh penyelenggara arisan.

Sebenarnya, mengelola uang THR itu simpel. Bagaimana kita bisa memprioritaskan mana yang menjadi kewajiban kita. Barulah, setelah semua kewajiban kita tunaikan, maka kebutuhan dan keinginan kita bisa dipenuhi. Asalkan, masih dalam batas wajar dan tidak kalap menghabiskan uang THR bahkan sampai meminjam demi gengsi semata.

Kalau Anda sendiri bagaimana mengelola uang THR Anda? Cerita yuk..

 

10 comments:

  1. Saya belum tau sih THR nya ntar dialokasikan kemana.
    Paling untuk hal-hal penting aja, karena lebaran kali ini juga nggak mudik.

    ReplyDelete
  2. Rencana keuangannya bagus banget, semua sudah diatur porsinya. Jadi gak akan takut bakal ada uang yang "menguap"

    ReplyDelete
  3. aku baru tahu mas salam tempel di situ disebute galak gampil...pabcen rasane seneng nek bisa ngasih ponakan kecil kecil ya mas apa maneh sing wes yatim huhu...serasa melu bahagi raketang nggo jajan bakso opo buku hehehe

    aku baru ngerti samoean phobia nyebrang...sehingga minta bantuin tukang becak nyebrangke...podo sih aku juga wedian nek nyebrabg dalam gede...tapi biasane nek lagi mlaku dewe ada acara nyebrang nyuwun bantuin pak ogah wkwkwkkw...

    arisan kue? menarik juga ini mas...arisane ket sue ntar kalau dapey lebaran tahun berikute tinggal dianter...biasane kue kuene apa aja tih mas ikrom...kok aku jadi kepow ama kuenya ya..m#dasar si mbul makanaaan aja pikirannya wkwkkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak namanya galak gampil embuh apa artie hahahaha
      seneng banget opo maneh bien lek oleh 1000 yo koyo wakeh rasane

      aku sejak kecelakaan pas SMA dadi phobia nyebrang wkkwkw
      makane disebrangno pas nggowo motor utawa pas mlaku karo bapak tukang becake

      kuene reno reno mbak mulai jajan blak macam konghuan wafer astor
      keciput
      iso di mix karo sirup
      modele paketan ngunu kari milih
      lah kok malah promosi wkwkwkwk
      lumayan tapi pas riyoyo ora bingung golek jajan wis diterno ambek sing nggae arisan

      Delete
  4. banyak setujunya sama mas Ikrom, mengelola THR sama halnya dengan mengelola gaji, asal tau mana yang kudu diprioritaskan lebih dulu
    apalagi sejak pandemi nggak pergi kemana mana dari taun lalu, jadi sisa THR ditabung atau sebagai dana darurat

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah benar mbak sama kayak mengelola gaji ya jangan lupa dana darurat

      Delete
  5. Duit THR gw, gw pake buat renov rumah


    Wkwkwkwkwk

    ReplyDelete
  6. Mas Ikrom tos dulu kita yg beli Sandang alias baju pas lebaran doang.. hihi..

    Btw setuju sama Mas Ikrom.. sebenrnya THR itu bukan tambahan uang yang mesti dihabiskan.. pola pikir yg kaya gini mesti diperbaiki sih.. 😅

    Sisihin dlu buat prioritas.. sisanya baruu dehh masuk tabungan atau reward for ourself..

    ReplyDelete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.