Empat Hari Tiga Malam di Puerto Rico (aka Purwokerto) – Bagian 2

Perjalanan saya menjelajahi Purwokerto sampai di Jembatan Serayu yang menjadi penghubung Kecamatan Banyumas dan Purwokerto.

Jembatan ini menghubungkan dua sisi yang dibatasi Sungai Serayu yang begitu panjang dan lebar. Keterkejutan saya tampak ketika menemukan pasar yang cukup kumuh dengan aktivitas di dalamnya. Pasar tersebut adalah Pasar Banyumas. Saya terkejut karena berbeda sekali dengan pasar-pasar di Purwokerto yang sudah mengalami moderninasi walau masih berstatus tradisional.

Pasar Banyumas
Pasar Banyumas

Pasar Banyumas ini juga berdiri di tepi jalan yang cukup rusak, macet, dengan bau menyengat yang khas. Keberadaan Pasar Banyumas yang seakan tak terawat ini semakin meneguhkan pemahaman saya bahwa disparitas antara Banyumas dan Purwokerto benar adanya. Mantan ibukota ini kini seakan tenggelam dengan ibukota baru yang semakin maju.

Baca juga:  Empat Hari Tiga Malam di Puerto Rico (aka Purwokerto) – Bagian 1

Landmark yang Jadi Penanda Bekas Kejayaan

Agar lebih mengetahui dampak tersebut, saya lalu menuju Alun-alun Banyumas yang tak jauh dari pasar tersebut. Di dalam alun-alun tersebut, ikon pesawat terbang masih kokoh berdiri. Sayangnya, lantaran hari menuju terik, suasananya cukup sepi. Tak banyak pedagang yang berjualan. Padahal, saya ingin sekali merasakan dawet khas di sana.

Alun-alun Banyumas ini juga mengikuti penataan layaknya alun-alun di Pulau Jawa. Ada bangunan masjid di sebelah barat, kantor pemerintahan di sebelah utara, gedung kejaksaan di sebelah timur, dan kegiatan ekonomi di sebelah selatan. Oh ya, gedung kejaksaan yang berdiri di sisi timur alun-alun ini ternyata masih beroperasi.

Alun-alun Banyumas
Alun-alun Banyumas

Padahal, di Purwokerto juga ada gedung tersebut. Jadi, di Kabupaten Banyumas sendiri ada dua gedung kejaksaan yang berdiri. Satu digunakan untuk willayah di sisi utara Kali Serayu dan satu lagi yang berada di Kecamatan Banyumas ini digunakan untuk wilayah di sebelah selatan Kali Serayu.

Jejak kejayaan Banyumas sebagai mantan ibukota juga terekam jelas pada bekas pendapa Bupati Banyumas yang kini menjadi kantor kecamatan. Sayangnya, orang yang tidak memiliki kepentingan seperti saya dilarang untuk masuk. Padahal, saya ingin melihat bekas pendapa si Panji, benda pusaka pendopo Bupati Banyumas yang sudah dipindahkan ke Purwokerto.

Kantor Kecamatan Banyumas yang dulunya adalah Pendopo Bupati Banyumas

Menurut buku yang saya baca, perpindahan tersebut dilakukan memutar tidak melewati Kali Serayu agar menghormati kepercayaan orang jawa. Berkat perpindahan tersebut, sah sudah ibukota Banyumas berpindah dari Banyumas ke Purwokerto. Oh ya alasan perpindahan tersebut karena sudah ada jalur kereta api menuju Purwokerto yang saya napaktilasi di bagian sebelumnya. Perdagangan melalui kereta api menuju Purwokerto jauh lebih mudah dan ramai dibandingkan melalui transportasi air Sungai Serayu di Banyumas. Perpindahan ini terjadi sekitar tahun 1936-1937.

Masjid Agung Nur Sulaiman Banyumas yang berada di sisi barat alun-alun
Masjid Agung Nur Sulaiman Banyumas yang berada di sisi barat alun-alun

Di dekat bekas pendapa bupati tersebut, berdiri pula bekas rumah Bupati Banyumas yang disebut Kepangeranan Banyumas. Rumah ini sendiri tidak lagi digunakan karena Bupati Banyumas kini tinggal di Purwokerto. Menurut informasi yang berdedar, rumah ini kini menjadi museum tempat penyimpanan benda dan arsip bersejarah ketika ibukota Kabupaten Banyumas masih berada di wilayah Kecamatan Banyumas. Sayang seribu sayang, saat saya mau masuk, ternyata musum tersebut tutup. Apes banget ya saya hari itu.

kepangeranan Banyumas
Kepangeranan Banyumas, bekas kediaman Bupati Banyumas


Nama Bupati Banyumas terakhir sebelum terjadi perpindahan ibukota

Akhirnya, saya pun memutuskan untuk kembali ke Purwokerto. Saya meninggalkan Banyumas yang begitu mengena di hati saya. Betapa jalur kereta api dan pemindahan ibu kota akhirnya bisa mematikan keramaian dan kemajuan sebuah wilayah. Tidak ada lagi keramaian bandar di tepi Sungai Serayu seperti cerita yang berkembang. 

 

Seorang pedagang daun pisang melintas tanpa alas kaki menuju Pasar Banyumas

Tak ada lagi denyut ekonomi yang signifikan di Banyumas seperti yang dituturkan banyak orang sebelum perpindahan ibukota. Kini, kemajuan pesat itu beralih ke Purwokerto yang kian maju dengan banyak gedung bertingkat.

Menemukan Bekas Bangunan Pabrik Gula 

Perjalanan saya dari Banyumas ke Purwokerto kini melewati Kecamatan Sokaraja yang dikenal sebagai sentra kuliner dan oleh-oleh di Kabupaten Banyumas. Sebelum saya tiba di pusat kuliner tersebut, saya melewati sebuah bekas bangunan Pabrik Gula Kalibagor. Pabrik gula ini dulu dikenal sebagai pabrik gula besar yang akhirnya tutup sekitar tahun 1996-1997.

Bekas bangunan pabrik gula tersebut masih kokoh berdiri. Banyak cerobong asap yang  masih berdiri tegak, baik di di bagian penggililingan maupun penguapan. Katanya sih, ketika pabrik ini ditutup, banyak sekali penjarahan di sana. Cerita menjadi ngeri karena para penjarah itu konon disebut-sebut mengalami musibah besar akibat kegiatan itu. Mulai dari kecelakaan, sakit parah, hingga usahanya bangkrut.

Bekas Pabrik Gula Kalibagor
 

Selain bangunan bekas pabrik, ada juga beberapa bekas rumah dinas terbengkalai yang kini ditumbuhi semak belukar. Gaya bangunan rumah dinas tersebut sama seperti rumah dinas pabrik gula lainnya. Seragam, dengan gaya art deco khas berjajar di seberang pabrik. Tidak jarang, bagunan tersebut juga kerap digunakan sebagai ajang uji nyali pemburu konten.

Bekas Rumah Dinas Pabrikm Gula Kalibagor

Beberapa kilometer dari pabrik gula tersebut, saya melintasi Pasar Sokaraja yang amat ramai. Bahkan lebih ramai dari Banyumas. Saya tertarik dengan aktivitas jual beli satwa – terutama burung – di pasar tersebut. Aktivitas tersebut sampai berada di pinggir jalan raya sehingga menimbulkan kemacetan.

Pedagang burung dan kelinci di Pasar Sokaraja

Ada banyak tempat oleh-oleh pula di Sokaraja. Oleh-oleh paling khas adalah gethuk goreng. Berhubung saya tidak suka beli oleh-oleh, maka kegiatan ini saya skip. Mungkin jika nanti akan pulang saya baru beli di Purwokerto saja. Melihat keramaian ini, saya jadi yakin bahwa Sokaraja adalah tempat penting di wilayah Kabupaten Banyumas selain Purwokerto dan Banyumas. Letaknya yang berada di dataran rendah cukup luas dan menghubungkan Purwokerto, Purbalingga, dan Banyumas membuat Sokaraja sangat strategis.

Pusat Oleh-oleh di sekitar Pasar Sokaraja

Ketika sudah masuk Kota Purwokerto kembali, sebenarnya saya ingin mengunjungi museum BRI. Saya penasaran dengan inisiasi perbankan Indonesia yang dimulai dari kota ini. Naas masih menaungi saya. Tempat tersebut malah tutup. Padahal hari itu adalah hari Sabtu yang berpeluang besar dikunjungi oleh wisatawan. Kadang saya heran dengan waktu operasional tempat bersejarah yang kerap tutup di hari Sabtu dan Minggu. 

Museum BRI Purwokerto

Menikmati Gerimis Hujand di Purwokerto

Dimas pun mengajak saya ke Rita Mall karena gerimis mulai turun. Saya manut saja dan ternyata baru saja masuk hujan turun dengan deras. Kami pun mencari makan di sana. Bagi saya Rita Mall cukup besar untuk ukuran sebuah kota.  Tenant-nya pun lengkap. Malah bagi saya, Rita Mall masih jauh lebih lengkap dan besar dibandingkan mall terbesar di Kediri atau Sidoarjo. Maklum, saya kerap membandingkan kemajuan sebuah kota dari jumlah mall dan seberapa lengkap tenant mall tersebut.

Halte BRT Trans Jateng Purwokerto-Purbalingga

Selepas hujan mulai reda, saya memutuskan kembali ke penginapan. Saya ingin beristirahat sebentar. Dimas mengajak saya ke sebuah tempat indah pada malam harinya dengan catatan jika tidak hujan. Saya pun manut dan kemudian saya tidur sebentar. Ketika bangun, hujan masih turun.

Suasana Rita Mall Purwokerto

Saya merasa lapar dan tetiba melihat ada semacam warung lesehan di seberang penginapan. Saya pun memesan tempe mendoan di sana. Kapan lagi bisa makan tepe mendoan di tempat asalnya, Puerto Rico. Saya memesan paket tempe mendoan seharga 8.500 rupiah. Ditambah teh panas, menyantap tempe hangat dan pedas itu semakin paripurna terlebih cuaca di sana sedang dingin akibat rintik hujan. 

Makan tempe mendoan dulu

Kenikmatan saya semakin paripurna karena saat itu bertepatan dengan acara lomba fashion show dan menggambar anak-anak TK-SD di warung lesehan itu. Lucu juga ya melihat mereka yang sedang berlenggak-lenggok di atas panggung kecil yang biasanya digunakan oleh pemilik warung lesehan untuk hiburan electone. Khayalan saya pun semakin menjadi-jadi saat melihat pola mereka melalukan opening number.

Kiara Ortega…. Purwokertoooo…. Eh Puertooo Ricoooooo

Selepas Asar, Dimas mengabarkan bahwa tempat wisata yang akan kami datangi cuacanya sedang cerah. Saya pun setuju dan bersiap dandan ganteng sebelum ke sana untuk melakukan berbagai sesi pemotretan. Kapan lagi coba mumpung di Puerto Rico.

Jadi, tunggu kelanjutannya ya…

8 comments:

  1. jujur cakap, saya tak pernah dengar nama kota ini. tapi terasa sedih pula bila mas mengatakan, "Betapa jalur kereta api dan pemindahan ibu kota akhirnya bisa mematikan keramaian dan kemajuan sebuah wilayah."

    rasanya di negara lain pun mengalami perkara sama...

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini di Jawa Tengah (Central Java) mbak
      Dekat Semarang

      iya benar sekali jadi sepi

      Delete
  2. Bekas pabrik gula rata-rata bangunan art deco dan cukup menyeramkan ya mas Ikrom, di Jatibarang Brebes ada bekas pabrik gula dan suasananya memang cocok untuk uji nyali.😁

    Baru tahu kalo Purwokerto itu ibukota baru dari Banyumas, kirain aku itu kota masing-masing, ternyata masih satu daerah ya. Kalo ingat Banyumas ingatku pada dawet Ireng khas Banyumas.😃

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas ngeri deh huhu

      aku juga baru ngeh pas datang ke sini
      malah aku mau cari kantor walikotanya engga ada hahahha
      iya dawet ireng enak banget tuh

      Delete
  3. Aku yg kebingungan Purwokerto ibukota apa.. haha, ternyata maksudnya Purwokerto ibukota Banyumas.. hahaha. Aku nggeh malah Ibukota Jawa Tengah.. 😆😆

    Sayang banget yah Pabrik Gulanya... mana ada cerita penjarahan lagi.. hhmm. Saya jadi teringat Pabrik Gula Madukismo di Jogja...

    Rita Mall ini ada dimana2 di Kota Jateng ya.. wkwkw.. aku kalau mudik sering lihat. Tapi nggak pernah masuk..

    ReplyDelete
    Replies
    1. ibukota jawa tengah kan semarang mas hehe

      iya sayang banget itu peninggalan sejarah banget lo
      oh ya madukismo tapi itu masih terawat

      huum rita mall penguasa jateng haha
      di kota2 lain juga banyak
      aku baru sekali itu masuk

      Delete
  4. aku baru tau kalau Banyumas adalah mantan ibukota.
    aku kira kayak kota kabupaten biasa gitu
    kalau jalan kayak gini seru juga, jadi bisa lihat lihat bekas bangunan zaman dulu yang masih berdiri, meskipun beberapa ada yang nggak terawat dengan baik
    tenang banget kayaknya ya mas Ikrom kota Banyumas ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. banyak yang belum tau kok mbak
      aku dulu juga gitu eh ternyata malah PWT ibukota banyumasnya

      iya mbak hening tenang karena yang ramai sekarang di Purwokertonya

      Delete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.