Night at The Museum Festival; Serunya Melihat Teatrikal Perang 10 November dan Mengunjungi Museum Malam Hari

Acara Night at The Museum Tugu Pahlawan


Dalam rangka memperingati HUT Kota Surabaya ke-730, Pemkot Surabaya menggelar berbagai kegiatan.

Salah satunya adalah Night at The Museum Festival. Dari namanya saja ada kata museum dan nigh. Jika diartikan, maka kunjungan ke museum saat malam hari. Nah, melihat pengumuman yang diberikan oleh Pemkot Surabaya, saya langsung kepincut untuk datang di acara tersebut.

Saya penasaran, bagaimana sih rasanya mengunjungi museum saat malam hari. Biasanya, kan datang saat siang atau pagi hari. Saya ingin merasakan sensasi ke museum malam-malam. apakah menakutkan melihat benda dan patung yang dipajang atau biasa saja.

Museum yang dibuka sampai malam hari adalah Museum Monumen Tugu Pahlawan. Ternyata, tidak hanya museumnya saja yang dibuka, tetapi ada banyak rangkaian kegiatan yang diselenggarakan di sana. Ada bazar makanan dan minuman jadul serta teatrikan perang di Surabaya. Wah, yang terakhir ini yang membuat saya kepincut. Bagaimana sih rasanya melihat perang-perangan dari dekat?

Naik Suroboyo Bus ke Tugu Pahlawan

Saya pun membeli tiket secara online pada website Dinas Pariwisata Kota Surabaya. Jika hanya masuk ke lapangan Tugu Pahlawan saja, maka tiketnya adalah 5.000 rupiah saja. Jika ingin masuk ke museumnya, maka pengunjung harus merogoh kocek sebesar 8.000 rupiah lagi. Meski saya sudah pernah masuk ke museumnya berkali-kali, tetapi saya masih ingin mencoba saat malam hari.

Mulanya, saya niat akan berangkat dari kontrakan saya di daerah Wiyung selepas asar. Lantaran habis membuat konten, saya kecapaian dan ketiduran. Baru bangun setengah 4 sore. Alhasil, saya kelabakan dan meminta rekan satu kontrakan untuk mengantarkan saya ke Halte Suroboyo Bus di RS Darmo. Sebenarnya yang bersangkutan mau saja mengantarkan saya ke Tugu Pahlawan dengan imbalan satu cup kopi kekinian, tetapi saya memilih naik bus saja agar bisa merasakan sensasi naik transportasi umum.

Saya turun di Halte Pasar Turi Kencana yang berada di seberang Tugu Pahlawan. Ternyata, saya bersama rombongan orang-orang yang akan menuju Tugu Pahlawan juga. Kami ternyata punya tujuan sama. Bahkan ada sepasang pasutri paruh baya yang rumahnya di Wonocolo sudah niat malam mingguan di Tugu Pahlawan. Ada juga anak-anak mahasiswa Unesa Ketintang yang heboh dengan aneka rupa gadgetnya. Berkat mereka, saya bisa menyeberang bersama.

Rombongan dari Suroboyo Bus

Untung saja saya sudah membeli tiket jadi tak perlu antre beli tiket lagi. Saya tinggal menunjukkan kode QR tiket online saya ke petugas. Setelah salat maghrib, saya pun langsung menuju museumnya karena takut nanti tetinggal acara teatrikal. Saya pending dulu jajan di pasar jadul.

Indahnya....

Antusiasme Masyarakat Surabaya

Rupanya pengunjung museum juga cukup banyak. Saya malah salah sangka mengira tempat tersebut akan sepi dan menakkutkan. Malah, seperti Pakuwon Mall pindah. Banyak cece-cece dan koko-koko yang sengaja hadir untuk malam mingguan di museum. Mereka sangat antusias untuk bisa menikmati suasana berbeda daripada setiap akhir pekan hang out ke Mall.

Berkunjung di museum saat malam hari ada sensasi sendiri

Demikian pula anak-anak sekolah, mahasiswa, orang tua dengan anaknya yang rela antre masuk ke museum. Baru kali ini saya menyaksikan sebuah museum bisa seramai itu. Kata salah satu cece yang menunggu antre, dia sengaja mengganti acara nonton di bioskop demi datang ke Tugu Pahlawan. Ia sangat penasaran melihat museum malam-malam dan teatrikan. Wah, salut, Ce!

Saya pun masuk dan menikmati koleksi dalam museum. Mulai peninggalan Bung Tomo, peninggalan senjata TNI, dan lain sebagainya. Nah, saya juga sempat masuk ruang pemutaran film pendek yang saat itu terbagi pemutarannya dalam beberapa sesi. Biasanya kalau datang ke sini saat pagi atau siang, pemutaran film menunggu ada rombongan yang datang.

Koleksi pertempuran 10 November

Setelah puas berkeliling museum, saya pun keluar dan memutuskan untuk membeli es dawet dan es sinom. Duh, rasanya Surabaya yang panas perlu diguyur dengan yang segar-segar. Masih ada waktu sebelum pertunjukan teatrikal yang akan dilaksanakan sekitar jam setengah 8 malam. saya pun duduk dan melihat banyak pedagang makanan minuman jadul. Mulai ronde, jenang, angsle, dan lain sebaganya.

Petugas museum menjelaskan mengenai koleksi museum

Semakin malam semakin banyak yang datang

Pihak Pemkot Surabaya bahkan menyediakan tikar dan meja di lapangan Tugu Pahlawan. Ditemani temaram lampu templek dan pemandangan Tugu Pahlawan, rasanya malam itu sangat semarak. Kapan lagi bisa bernostalgia di sana.

Sayang, saya tak kebagian tempat duduk dan akhirnya duduk di taman. Namun, hal itu tak masalah karena saya lebih tertarik mengamankan hot seat untuk melihat pertunjukan. Tempat yang saya incar akhirnya saya dapatkan. Saya duduk di barisan paling depan sehingga bisa melihat para penampil dengan jelas.

Santai dulu....

Kisah Heroik Mulyono dan Sarirejo

Sebelum pertunjukan, ada nyanyian keroncong dulu dari anak-anak muda Surabaya. Lalu, disusul MC yang tampil menjelaskan bahwa acara ini pertama kali digelar. Melihat antusiasme masyarakat Surabaya tidak tertutup kemungkinan acara ini akan digelar secara berkala.

Nikmati wedangan dulu.

Tak lama kemudian, teatrikal pun digelar. Teatrikal ini bercerita mengenai dua sahabat bernama Mulyono dan Sarirejo yang berperang melawan sekutu. Cerita dibuka saat mereka masih kecil, saat masa penjajahan Belanda. Mereka bermain tembak-tembakan dan bersumpah akan mengusir Belanda dari tempat tinggal mereka.

Cerita berlanjut dengan kedatangan Jepang yang menyiksa para wanita untuk dijadikan budak seks. Keduanya juga sempat dikejar oleh tentara Jepang tetapi mampu lolos. Cerita berlanjut dengan kekalahan Jepang dalam perang dan kemerdekaan Indonesia.

Masih banyak masyarakat Surabaya saat itu yang tidak tahu berita kemerdekaan. Bisa dibayangkan kalau di Surabaya saja tidak tahu, bagaimana di daerah lainnya?

Lalu, Inggris pun datang dengan membonceng NICA. Cerita berlanjut dengan penyerangan Arek-Arek Suroboyo ke markas Inggris. Terbunuhnya Jendral Mallaby pun turut diceritakan. Peristiwa yang memantik kemarahan Inggris sehingga mereka mengultimatum masyarakat Surabaya.

Akhirnya perang besar pun terjadi dan banyak Arek-Arek Suroboyo yang meninggal. Mulyono dan Sarirejo mulanya masih selamat. Mereka tidak mau mengungsi keluar dari Surabaya dan tetap bersumpah tetap tinggal di kampung mereka. Ketika Inggris membombardir kampung mereka, keduanya pun gugur. Nama keduanya pun diabadikan menjadi sebuah nama kecamatan di Surabaya yakni Kecamatan Mulyorejo.

Meski sebentar, tapi penonton sangat puas dengan teatrikal tersebut. Sayangnya penerangan di panggung cukup gelap sehingga wajah pemainnya tidak terlalu jelas. Walau demikian, untuk event yang jarang digelar, pertunjukan tersebut sangat apik. Semoga saja pertunjukan ini tetap eksis dan diadakan berkala agar ada hiburan yang bisa diandalkan.

1 Comments

  1. seru banget ke museum malam-malam, jadi inget sama film night at the museum
    dulu aku kesini pas siang, jadi pengen cobain sensasi berkunjung ke museum di malam hari
    Kalau rame kayak gini, meskipun dateng sendirian, ya tetep seru seru aja

    ReplyDelete
Next Post Previous Post