Lima Alasan Armada Suroboyo Bus dan Feeder Wira-Wiri Tidak Berhenti di Halte untuk Menaikkan Penumpang


Sudah kita ketahui bersama, bahwa Suroboyo Bus dan Feeder Wira-wiri ada dua moda transportasi berbasis Bus Raya Terpadu (BRT).

Walau konsep BRT ini kurang tepat karena tidak memiliki jalur sendiri, tetapi keduanya memiliki pola operasional yang berbeda dengan angkutan konvensional. Keduaya tidak bisa bergenti di sembarang tempat, memiliki halte atau tempat pemberhentian khusus, dan terdapat jadwal yang pasti dari setiap keberangkatan armada.

Perbedaan pola operasional inilah yang membuat Suroboyo Bus dan Feeder Wira-wiri diminati oleh masyarakat Surabaya. Keduanya juga dapat diakses melalui aplikasi sehingga posisi armada yang akan melintas dapat diketahui. Kepastian inilah yang tidak didapatkan oleh angkutan konvensional.

Meski demikian, keluhan sering kali muncul. Banyak penumpang yang sering tidak dilayani dengan baik ketika ada armada yang melintas. Maksudnya, ketika ada armada yang melintas di sebuah halte, armada tersebut tidak berhenti dan langsung tancap gas. Tentu, hal ini membuat penumpang kecewa sehingga kerap mengadu di media sosial.

Walau sudah memiliki SOP terkait kegiatan menaikturunkan penumpang, tetapi ada beberapa kondisi yang membuat Suroboyo Bus dan Feeder Wira-wiri tidak berhenti dan menaikkan penumpang. Apa saja itu?

Pertama, jumlah penumpang di dalam bus atau mobil sudah penuh.

Alasan ini menjadi alasan utama Surobyo Bus dan Feeder Wira-wiri tidak berhenti di halte. Setiap armada memiliki kapasitas masing-masing. Kalau tidak salah, kapasitas penumpang untuk Suroboyo Bus adalah 67 orang dengan 41 tempat duduk dan 25 orang berdiri. Sedangkan, kapasitas maksimal Feeder Wira-wiri untuk armada Hi-Ace (FD01) adalah 14 dan untuk armada Grand Max ( FD02-07) adalah 10 penumpang. Kadang, jika pada kondisi tertentu untuk armada Grand Max 8 orang sudah dianggap penuh.

Kondektur tentu akan menolak penumpang naik di halte jika armada sudah penuh. Selain untuk keamanan, faktor kenyamanan penumpang juga perlu diperhatikan. Setiap armada memiliki kapasitas angkut yang harus dipatuhi. Makanya, biasanya armada akan langsung bablas. Jika tidak, armada tersebut akan berhenti sebentar di halte lalu kondektur memberi tanda bahwa armada sudah penuh dan penumpang bisa menunggu armada di belakangnya.

Kedua, halte atau tempat pemberhentian tidak terlihat

Halte atau tempat pemberhentian Suroboyo Bus dan Feeder Wira-wiri yang tidak terlihat jelas juga menjadi salah satu alasan keduanya tidak berhenti untuk menaikkan penumpang. Beberapa kali, saya pernah tidak disinggahi oleh Feeder Wira-wiri. Usut punya usut, ternyata palang bus stop tempat saya menunggu berada di dekat pohon yang tertutup tiang.

Walau pada aplikasi saya sudah benar menunggu di tempat yang semestinya, tetapi karena terhalang tiang jadinya sopir Feeder wira-wiri menganggap termpat tersebut bukan tempat pemberhentian. Alhasil, saya harus menunggu armada berikutnya.

Kadang, palang bus stop terhalang oleh mobil yang lewat atau parkir. Saya juga beberapa kali tidak terangkut Feeder wira-wiri karena ada mobil yang mau parkir. Akhirnya armada Feeder yang lewat bablas begitu saja.

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan memindah tanda palang bus stop yang tak terlihat. Berkaca pada Surakarta, Dishub di sana kerap ikut armada Feeder BST saat malam hari menjelang berakhirnya pola operasi. Biasanya, mereka menanyakan pada sopir halte mana yang tandanya tidak terlihat jelas agar bisa digeser. Tujuannya, agar tidak terjadi lagi kejadian armada tidak berhenti di sebuah pemberhentian.

Ketiga, human error

Masalah human error menjadi masalah yang kerap menjangikiti para pekerja di bidang pelayanan angkutan umum. Salah satunya adalah sopir yang kurang fokus dalam menjalankan armadanya. Tentu, mereka sudah diberi pembekalan dan pelatihan. Namun, namanya manusia kadang lupa dan jika sudah di jalan konsentrasi mereka akan lebih berfokus pada jalan raya.

Di sinilah peran kondektur sangat penting untuk tetap awas dalam melihat jalan. Meski begitu, kadang kondektur juga melayani penumpang lain seperti menerima pembayaran. Makanya, ketika melewati sebuah halte, bisa saja sopir lupa dan kondektur tidak mengingatkan.

Sayangnya, beberapa kondektur juga kurang sigap dan asyik bermain HP sendiri. Kalau tidak begitu, kadang mereka mengantuk atau tertidur sebentar. Terlebih, jika di dalam armada tidak ada penumpang. Sayar sering melihat kondektur Feeder wira-wiri tertidur karena saya satu-satunya penumpang. Saat berada di sebuah halte dan ada penumpang yang akan naik, maka armada pun bablas.

Keempat, adanya pengalihan arus lalu lintas

Kota Surabaya sering sekali menggelar event. Apesnya, event tersebut menggunakan jalan protokol sehingga armad Suroboyo Bus atau Feeder wira-wiri tidak melewati jalan tersebut. Pada akhir event, ketika jalan mulai dibuka, seringkali armada keduanya belum bisa menaikkan penumpang di sebuah halte. Makanya, saat ada event, lebih baik menunda dahulu naik kedua armada ini karena sering tidak melewati jalan-jalan penting di Surabaya.

Kelima, waktu operasional telah berakhir

Armda feeder wira-wiri atau Suroboyo Bus yang tidak menaikkan penumpang bisa juga disebabkan waktu oeprasional telah berakhir. Sebenarnya, waktu operasional keduanya hingga pukul 9 malam. Namun, mendekati jam tersebut kadang armadanya sudah tidak menaikkan penumpang lagi. Beberapa armada feeder wira-wiri yang melintas di suatu malam yang saya temui memasang tulisan tidak menaikkan penumpang. Artinya, mereka sedang menuju pool akhir dan siap untuk mengakhiri kegiatan hari itu. Untuk itulah, sangat tidak disarankan naik keduanya mendekati waktu jam operasionalnya berakhir.

Nah itulah beberapa alasan Suroboyo Bus dan feeder wira-wiri tidak lagi menaikkan penumpang di sebuah halte. Semoga bisa jadi bahan perbaikan bagi keduanya dan antisipasi kita sebagai penumpang.

Post a Comment

Next Post Previous Post