Kembang Kempis Lyn K, Ujung Tombak Transportasi Umum ke Tanjung Perak

Deretan armada lyn K terparkir di Terminal Tanjung Perak Surabaya.

Sejak diberhentikannya operasional bus P4 jurusan Bungurasih-Tanjung Perak PP, praktis kini penumpang yang akan menuju Tanjung Perak dari luar Kota Surabaya mengalami kesulitan. 

Biasanya, mereka menggunakan bus yang dioperasikan oleh Damri tersebut untuk menuju pelabuhan terbesar di Jawa Timur itu. Selain bus P4, beberapa rute lain juga sudah tak beroperasi sejak 2022 lalu. Entah, apa alasan dari penutupan tersebut hingga kini belum jelas.

Alhasil, penumpang kapal yang akan menuju Tanjung Perak harus oper sebanyak sekali untuk sampai pelabuhan. Pertama, mereka harus naik Suroboyo Bus dari Bungurasih dan turun di Halte Indrapura. Di halte yang tak jauh dari Gedung DPRD Jawa Timur tersebut, penumpang harus oper lyn K warna putih untuk menuju Terminal Tanjung Perak. Sesampainya di Terminal Tanjung Perak, penumpang harus berjalan kaki melewati jalan yang penuh ranting pohon berguguran untuk sampai di pintu keberangkatan penumpang.

Tentu, opsi naik transportasi umum ini sangat kurang nyaman. Saya sendiri pernah mencobanya beberapa waktu yang lalu. Kala mengantar rekan yang akan bertolak ke Makassar, saya mencoba untuk naik Suroboyo Bus dan lyn K. Satu-satunya cara untuk menuju Tanjung Perak saat ini selain naik ojek online tentunya.

Menaiki Suroboyo Bus tak ada masalah yang berarti. Ujian baru datang saat oper lyn K. Sebenarnya, saat baru turun dari Suroboyo Bus, sudah ada beberapa armada lyn K yang berjajar rapi sedang ngetem menunggu penumpang. Saya kira, saya harus naik dari armada yang sedang berjajar tersebut. Namun, tiba-tiba ada sebuah armada yang datang dengan sopir yang meneriakkan Tanjung Perak.

Mendengar teriakannya itu, saya pun langsung bergegas naik. Daripada menunggu armada yang ngetem lebih baik cari yang segera berangkat. Tanpa ba bi bu, sang sopir langsung mempercepat laju mobil menuju ke arah Jalan Rajawali. Saya kira, ia akan ngetem di persimpangan jalan tersebut dengan Jalan Perak Barat. Dugaan saya salah. Ia malah terus memacu mobilnya menuju dermaga Tanjung Perak. Menembus Jalan Perak Barat tanpa berhenti sekalipun.


Ia hanya mengomel soal ponselnya yang ketlisut entah di mana. Sambil menyetir, ia merogoh saku dan kolong mobilnya. Saya agak was-was karena truk-truk kontainer mulai memenuhi jalan. Apes sedikit saya tak tahu apa yang akan terjadi. Untung saja, tak lama lyn yang saya tumpangi sudah sampai di Terminal Tanjung Perak. Jarak yang cukup dekat membuat perjalanan tak terlalu lama.

Mulanya, saya membayar dengan uang 5.000 rupiah. Akan tetapi, sang sopir meminta lagi dan akhirnya saya membayar 10.000 rupiah. Ya antara ikhlas dan tidak Ikhlas. Saya tidak ikhlas karena setahu saya, ongkos lyn di Surabaya 5.000 rupiah. Namun, saya ikhlas karena saya melihat kondisi lyn saat itu yang sepi dan saya menjadi satu-satunya penumpang. Apalagi, sopir tidak ngetem sama sekali. Satu hal yang masih bisa saya apresiasi.

Gapura Surya Nusantara

Saya tak tahu apalah memang begitu pola operasionalnya. Jadi, mereka tetap jalan berapa pun jumlah penumpang di dalam lyn yang mereka kemudikan. Saat saya kembali dari Tanjung Perak untuk menuju ke Stasiun Gubeng, sang sopir pun langsung berjalan. Tanpa ngetem dan saya diturunkan di Halte Rajawali untuk oper Suroboyo Bus. Agar saya tidak diminta tambahan ongkos lagi, maka saya membayar dengan uang 10 ribu rupiah. Lagi-lagi, saya juga menjadi satu-satunya penumpang di lyn tersebut.

Surabaya North Quay


Berkaca dari peristiwa ini, saya jadi bertanya jika lyn K menjadi tulang punggung transportasi umum menuju Tanjung Perak, mengapa keberadaanya seakan dibiarkan kembang kempis. Cuma saya tidak heran karena nasib lyn lain, yang belum dijadikan Feeder wira-wiri juga serupa. Dibiarkan bertahan apa adanya entah sampai kapan. Padahal, mereka bisa jadi ujung tombak transportasi umum yang bisa diandalkan.

Entah nantinya ada bakal ada Trans Semanggi menuju Tanjung Perak, yang jelas kini penumpang butuh kenyamanan. Apalagi, melihat kondisi Terminal Tanjung Perak yang bisa dibilang menyedihkan, rasanya opsi naik ojek online adalah solusi terbaik. Bagaimana tidak, semisal ada penumpang yang membawa barang bawaan banyak harus berjalan kaki cukup jauh dengan ranting pepohonan yang jatuh, tentu mereka akan berpikir ulang.

Post a Comment

Next Post Previous Post