Sebelum memulai tulisan ini, saya ingin mengucapkan bela sungkawa terhadap para korban kecelakaan KRL dan KA Argo Bromo di Stasiun Bekasi Timur.
Duka yang sangat mendalam saya haturkan kepada keluarga korban yang tinggalkan oleh mereka yang telah tiada. Sudah kita ketahui bersama bahwa semua korban adalah para perempuan karena lokomotif KA Argo Bromo menabrak kereta wanita di bagian paling belakang.
Saya sangat mengerti, para perempuan yang meninggal atau terluka adalah para pahlawan bagi keluarganya. Ada yang bekerja, kuliah, sekolah, atau menemani anak-anak mereka. Mereka semua adalah perempuan luar biasa yang masih berusaha berjuang di tengah padatnya aktivitas ibukota.
Namun, momen duka ini seakan ternoda dengan pernyataan Ibu Menteri PPA yang menyatakan bahwa seharusnya kereta paling belakang adalah kereta untuk para laki-laki. Bukan untuk kereta perempuan. Pernyataan ini berarti pula mengisyaratkan bahwa laki-laki boleh dikorbankan untuk apa saja, termasuk untuk bersiap menghadapi tragedi paling buruk.
Pernyataan ini sangat menjijikkan. Saya tahu, emansipasi perempuan saat ini sangatlah bagus. Berbagai hak dan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan juga terus disuarakan. Saya sangat setuju dengan hal itu. Akan tetapi, menganggap laki-laki sebagai barang yang bisa dikorbankan begitu saja adalah sebuah hal yang sangat tidak manusiawi.
Laki-laki sering dianggap oleh feminis ekstrem sebagai sosok yang antagonis. Antitesis dan harus mendapatkan tempat yang tidak selayaknya. Laki-laki harus dituntut untuk selalu bisa mengerti semua keadaan, bisa diandalkan 24/7, dan tidak boleh sedikitpun mengeluh atau merasa berat dengan tanggung jawab yang mereka pikul.
Dalam berbagai peristiwa sejarah, terutama perang, seringkali laki-laki harus menjadi garda terdepan untuk menjadi samsak dan korban. Namun, keberadaan mereka dianggap sebagai hal biasa. Sudah lumrah karena memang laki-laki bertugas menjaga negara.
Padahal, dalam kaitannya sebagai manusia, laki-laki juga punya hak yang sama untuk bisa hidup layak dan bahagia. Makanya, usulan memindahkan kereta perempuan ke tengah bukanlah solusi. Usulan bodoh itu hanya akan membuat perdebatan soal emansipasi semakin menajam.
Jika terus dipertentangkan, maka siapa yang harus lebih dikasihani antara laki-laki dan perempuan tidaklah akan pernah selesai. Jawabannya hanya membuat mereka hidup layak dan bahagia sesuai porsinya. Tidak ada yang harus dispesialkan. Untuk itulah, peran negara sangat penting dalam menjaga keseimbangan antara laki-laki dan perempuan. Salah satunya adalah soal keselamatan transportasi umum. Baik laki-laki dan perempuan yang sama soal ini.
Saat Tragedi Bintaro 2 pada 2013, ada seorang teknisi laki-laki yang menyelamatkan banyak perempuan. Kalau ia punya ego tinggi, maka ia tak akan melakukannya. Kisah ini akan terus terkenang walau tak banyak orang mengingatnya. Lucunya, ada beberapa perempuan saat itu - saya masih ingat siapa saja mereka - mengatakan bahwa itu sudah tugasnya. Ia juga mengatakan harusnya mengatakan teknisi tersebut lebih cepat melakukan itu agar lebih banyak perempuan yang terselamatkan.
What the……………?
Ada berbagai kejadian lain yang menunjukkan bahwa laki-laki seakan menjadi sampah yang tak berguna di masyarakat. Padahal, ia sudah berusaha payah melakukan hal terbaik versi dirinya. Lantaran belum memenuhi standar kehidupan yang ditentukan, maka ia dianggap gagal.
Ada adagium juga bahwa laki-laki memang diciptakan untuk bekerja dan mati. Sudah, itu saja. Cinta yang ia dapat dari ibu dan istrinya suka atau tidak adalah cinta bersyarat yang harus dipenuhi dengan upaya yang luar biasa. Bukan cinta tulus yang seharusnya didapat.
Saya agak tidak sependapat dengan hal ini. Namun, saya sering mendapat curhatan dari seorang anak laki-laki yang dituntut banyak hal oleh ibunya. Curhatan suami yang bingung harus berbuat apa lagi agar istrinya bisa bahagia dan merimanya dengan seutuhnya.
Alhasil, banyak laki-laki yang yang akhirnya merasa gagal, tidak percaya diri, dan akhirnya marah dan muak dengan perempuan. Walau diantara mereka bisa berhubungan dengan perempuan, maka efeknya pun juga akan kembali pada perempuan. Banyak juga yang memutuskan untuk tidak berhubungan dengan perempuan sama sekali karena takut mereka menyakiti para perempuan. Mirisnya, akhirnya beberapa dari mereka memutuskan untuk menjalin hubungan dengan sesama laki-laki.
Nah, keseimbangan antara laki-laki dan perempuan sejak kecil adalah kunci. Peran ayah dan ibu dalam porsinya sangat penting. Tidak ada yang harus dominan diantara keduanya. Tidak ada yang harus paling berperan. Semuanya penting untuk membentuk sosok laki-laki yang punya keseimbangan dan kematangan mental.
Emansipasi perempuan adalah hal yang sangat bagus di era sekarang. Walaupun demikian, bukan berarti mengesampingkan peran laki-laki dan menganggap mereka pecundang dan samsak yang bisa diinjak semaunya.

turut berduka :(
ReplyDelete