Kemarin, saya melihat video pengalaman horor di channel RJL 5.
Pengalaman ini diceritakan oleh seorang mas-mas saat ngekos di Semarang. Ia ngekos saat kuliah dulu sekitar tahun 2011an. Sata itu, ia tinggal di lingkungan kos-kosan yang bisa dibilang angker. Dalam penuturannya, diceritakan bahwa ia dihantui oleh banyak sosok yang bergentayangan.
Mulai anak kecil, wanita, genderuwo, dan lain sebagainya. Walau takut, tapi ia memutuskan untuk bertahan di kos tersebut karena murah. Ia ngekos di sana hingga lulus kuliah. Ia hanya menduga rumah kosnya digunakan sebagai tempat pesugihan pemilik kos yang juga berprofesi sebagai dukun mayit dan dukun manten.
Nah, diantara cerita mas tadi, saya malah tertarik dengan salah satu cerita pada bagian kamar mandi. Kamar mandi di kos tersebut menggunakan penerangan lampu bohlam kuning yang jadul. Padahal, sebagian besar lampu saat ini menggunakan lampu TEL putih yang lebih terang dan hemat energi.
Teman satu kosnya pernah mengganti lampu kamar mandi tersebut dengan lampu TEL putih. Anehnya, tak lama kemudian, lampu tersebut meledak dan rusak. Setelah itu, mereka diberi tahu oleh ibu pemilik kos agar lampu kamar mandi tetap dibiarkan seperti itu dan jangan diganti. Mereka pun menurut dan tidak lagi mengganti lampu kamar mandi walau sering muncul penampakan.
Nah, saya tertarik dengan lampu kamar mandi ini karena mirip dengan kos-kosan milik teman saya di Jogja yang pernah saya tumpangi selama seminggu. Kos-kosannya cukup bagus. Lampu penerangan di kamar juga terang. Letaknya juga berada di dekat jalan raya, malah dekat terminal Trans Jogja.
Namun, lampu kamar mandi di sana juga sama dengan yang diceritakan mas-mas tadi. Menggunakan lampu bohlam kuning jadul. Tak hanya itu, entah apa alasannya, lampu kos diletakkan diantara dua kamar mandi. Jadi, penerangan kamar mandi digabung. Satu lampu diletakkan pada lubang diantara dua kamar mandi.
Alhasil, saat mandi, BAK, atau BAB rasanya remang-remang. Yah lumayan horor juga apalagi bapak teman saya senang menyetel lagu jawa. Untung saja ia sangat ramah dan kadang duduk di dekat kamar mandi. Entah ia melakukan ritual atau tidak saya enggak masalah karena sudah diberi tumpangan. Saya hanya kurang nyaman jika di kamar mandi dalam kondisi remang-remang.
Saya pun juga pernah bertanya kepada teman saya kenapa kok lampu kamar mandinya tidak diberi lampu TEL putih. Kan lebih terang dan hemat energi. Kata teman saya, ia dan bapaknya sudah sering mengganti dengan lampu TEL putih. Namun, tak lama lampu-lampu tersebut juga rusak.
Teman saya juga mengatakan mungkin di sana ada simbah yang menunggu. Bulu kuduk saya pun berdiri. Untung saja saat itu hari terakhir saya di sana. Simbah tersebut kata teman saya tidak mengganggu dan menampakkan diri. Hanya mengawasi siapa saja yang sedang mandi. Walah.
Saya juga tidak pernah dihantui atau merasa takut saat di sana, terutama di kamar mandi. Yah mungkin setiap kali saya ke kamar mandi, bapak teman saya ada di sekitar sana jadi saya merasa tidak sendirian.
Modelan penerangan lampu seperti ini juga sering saya temui, terutama di kamar mandi tempat wisata atau musala. Saya pernah hampir kepeleset gara-gara penerangan minim seperti ini. Entah alasannya apa, yang jelas jika sebelum masuk kamar mandi, alangkah baiknya kita berdoa karena kamar mandi adalah tempat makhluk halus di manapun juga.
