Kenapa sih Demen Banget Duduk di Kursi Belakang saat Naik Bus ATB?

Ilustrasi


Saat naik bus AC Tarif Biasa (ATB/ekonomi), ada satu fenomena yang cukup menarik perhatian saya.

Kebanyakan penumpang, terutama penumpang pria, lebih memilih duduk di kursi belakang. Padahal, kursi di bagian depan masih kosong dan longgar. Fenomena ini saya amati hampir setiap ada kesempatan saat saya naik bus ATB. 

Pernah suatu ketika, saya memilih duduk di bagian tengah. Saya duduk di kursi dengan penumpang 3 orang. Pada bagian kursi dekat kaca, sudah ada mbak-mbak yang mengisi. Mulanya saya duduk di bagian pinggir.

Namun, karena penumpang sudah banyak yang naik, saya pun berinisiatif untuk bergeser mendekati mbak-mbak tersebut. Jangan berpikir negatif ya. Memang kursi yang saya duduki untuk 3 orang penumpang. Kondektur pun juga menyuruh penumpang untuk bergeser agar penumpang yang baru naik bisa duduk.

Setelah saya bergeser, ada beberapa penumpang pria yang naik. Sudah tahu ada kursi yang kosong di dekat saya, eh mereka malah memilih berjalan ke belakang. Padahal di belakang sudah penuh. Bahkan, ada penumpang yang malah duduk di tangga bus dekat pintu belakang.

Sesuatu yang bagi saya amat tidak nyaman. Barulah kemudian ada ibu-ibu yang naik dan akan duduk di kursi dekat saya. Tentu saya berinisiatif untuk berpindah agar ibu tersebut duduk di tengah.

Beberapa kejadian serupa juga sering alami. Kalau tidak begitu, saat bus masih kosong, kursi bagian belakang pun langsung segera terisi. Menyisakan bagian depan dan tengah yang kosong. Lantas mengapa banyak penumpang memilih duduk di bagian belakang?

Alasan utamanya, bisa jadi mereka ingin full istirahat. Ingin tidur selama perjalanan. Duduk di kursi bagian belakang tidak akan melihat kondisi jalan secara jelas. Mereka bisa tidur seakan di ruangan tertutup dan gelap sehingga jauh lebih nyaman.

Duduk di kursi belakang juga terhindar dari lalu lalang pengamen, pedagang asongan, dan penumpang lain yang berdiri. Belum lagi kondektur bus yang sering wira-wiri menarik tiket penumpang. Makanya, duduk di kursi belakang adalah kunci.

Kalau sopir suka menyetel musik kencang, duduk di kursi belakang juga bisa jadi andalan. Suara musik horeg tidak terdengar begitu jelas. Penumpang pun bisa tidur nyaman dan lelap dan akan terbangun di tempat tujuan.

Walau demikian, saya sangat menghindari duduk di kursi belakang. Alasannya ya karena guncangan bus paling besar ya di bagian belakang. Tubuh rasanya terguncang hebat. Kalau habis makan, saya sering langsung mual. Belum lagi kalau bus tiba-tiba direm mendadak. Alamak, rasanya jantung copot.

Makanya, saya sering heran dengan penumpang yang suka duduk di belakang. Kok mereka kuat ya? Kok mereka bisa tidur dengan nyenyak ya? Apa gara-gara kecapaian setelah seharian bekerja. Kalau saya sih lebih memilih di kursi bagian tengah. Apalagi kalau dekat jendela dan bisa melihat pemandangan. Duh rasanya enak banget untuk tidur.

Kalau kalian sendiri suka duduk di bagian mana?

Post a Comment

Sebelumnya Selanjutnya